cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Pengaruh Pemberian Air Susu Ibu Terhadap Kadar Glukosa Darah pada Bayi Cukup Bulan Tanty Febriany T; Djauhariah A Madjid; Dasril Daud
Sari Pediatri Vol 8, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.4.2007.276-81

Abstract

Latar belakang. Air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik bagi bayi. Salah satu kendalapemberian ASI yang dicantumkan dalam Strategi Nasional Peningkatan Pemberian ASIsampai tahun 2005 adalah pemberian minuman lain sebelum ASI “keluar”. Walaupunbeberapa penelitian telah membuktikan bahwa pada bayi sehat yang diberi ASI tidakdijumpai adanya hipoglikemi, pemberian prelacteal feeding masih sering dijumpai dibeberapa rumah sakit karena adanya kekhawatiran ketidakcukupan ASI diawal kehidupanbayi. Karenanya perlu dilakukan penelitian untuk membuktikan bahwa dengan pemberianASI pada bayi cukup bulan yang sehat diharapkan tidak ada kejadian hipoglikemi.Tujuan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai pengaruh pemberian ASI terhadap kadarglukosa darah (KGD) pada bayi cukup bulan (BCB), dengan membandingkan kadar glukosadarah bayi cukup bulan sesuai masa kehamilan (SMK) dan kecil masa kehamilan (KMK) yangmendapat ASI dan yang mendapat ASI dan susu formula atau hanya mendapat susu formula.Metoda. Penelitian ini adalah penelitian kohort prospektif pada bayi cukup bulan yanglahir di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Dr. Wahidin Sudirohusodo dan RSIA St FatimahMakasar pada periode penelitian mulai 1 Oktober 2005 sampai 31 Desember 2005.Subyek 294 bayi memenuhi kriteria.Hasil. Kadar Gula darah (KGD) BCB SMK kelompok ASI segera setelah lahir dan setelah24 jam tidak mengalami perubahan yang bermakna dengan nilai rata-rata 66,52 mg/dlmenjadi 63,88 mg/dl (p>0,05). Perbandingan kadar glukosa darah BCB SMK kelompokkontrol segera setelah lahir dan 24 jam mengalami perubahan yang bermakna dengannilai rata-rata 71,67 mg/dl menjadi 75,39 mg/dl (p<0,05). Pada BCB KMK kelompokASI perbandingan KGD segera setelah lahir dan setelah 24 jam mengalami perubahanyang sangat bermakna dengan nilai rata rata 60,68 mg/dl menjadi 54,04 mg/dl (p<0,01).Sedangkan BCB KMK kelompok kontrol perbandingan nilai rata rata KGD segera setelahlahir dan 24 jam kemudian tidak mengalami perubahan yang bermakna dari 66,76 mg/dlmenjadi 65,88 mg/dl (p>0,05) Terdapat 1 bayi kelompok ASI BCB SMK dan 3 bayikelompok ASI BCB KMK yang mempunyai KGD < 40 mg/dl setelah 24 jam.Kesimpulan. Perbandingan kadar glukosa darah segera setelah lahir dan 24 jamkemudian pada BCB SMK kelompok ASI tidak mengalami perubahan yang bermakna,sedangkan perbandingan kadar glukosa darah segera setelah lahir dan 24 jam kemudianpada BCB KMK kelompok ASI mengalami penurunan yang bermakna. Tidak ditemukanhipoglikemi simptomatik pada penelitian ini.
Pemberian Steroid pada Purpura Henoch-Schonlein serta Pola Perbaikan Klinis di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM Jakarta Mulya Safri; Nia Kurniati; Zakiudin Munasir
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.268-71

Abstract

Latar belakang. Purpura Henoch-Schonlein (PHS) merupakan penyakit vaskulitis yang relatif sering pada anak. Selama periode tahun 1998-2003 di Departemen IKA RSCM terdapat 23 kasus PHS. Pengobatan lebih bersifat simtomatik dan suportif. Pemberian steroid selama 5-7 hari menjadi pilihan pada gejala klinis yang berlanjut. Belum diketahui perjalanan penyakit pasien PHS yang mendapat terapi simtomatis maupun yang mendapat terapi steroid.Tujuan. Mengetahui pola perbaikan klinis pasien PHS di Poliklinik Anak RSCMMetode. Dilakukan penelitian deskriptif, Juli-Desember 2006, subjek penelitian kasus PHS di Poliklinik Alergi-Imunologi Anak RSCM.Hasil. Didapatkan 10 kasus baru dengan usia rerata 5 tahun 4 bulan. Perbandingan laki-laki dan perempuan 1:4. Seluruh subjek mempunyai gejala purpura dan nyeri sendi. Nyeri perut didapatkan pada 9 subjek, keterlibatan ginjal 3, hipertensi dan hematuria 1, proteinuria 3, leukositosis dan trombosis pada 6 dan 3 subjek. Tujuh subjek mendapat imunomodulator. Perbaikan gejala berupa purpura, nyeri perut, nyeri sendi dan nefritis terjadi setelah 2 minggu, sisanya sebelum 2 minggu. Leukositosis dan trombosis membaik setelah 1-2 minggu. Tujuh subjek mendapat steroid setelah 1 minggu timbul gejala, 3 subjek mendapat triamsinolon dan sisanya metil prednisolon. Nyeri perut paling cepat menghilang pada subjek yang mendapat triamsinolon, sedangkan purpura pada yang mendapat metil prednisolon.Kesimpulan. Terjadi peningkatan kasus PHS selama delapan bulan terakhir tahun 2006. Perbaikan gejala klinik mayoritas terjadi setelah 2 minggu mendapat pebgobatan steroid. Hal ini diperkirakan berhubungan dengan terlambatnya terapi steroid akibat pasien berobat dan penggunaan imunomodulator yang marak saat ini.
Pendekatan Klinis Berbagai Kasus Neurologi Anak yang Membutuhkan Pemeriksan Pencitraan Irawan Mangunatmadja
Sari Pediatri Vol 5, No 2 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.2.2003.85-90

Abstract

Kelainan saraf pada bayi dan anak relatif sering ditemukan, hampir 20 – 30% pasienrawat inap maupun rawat jalan merupakan kasus neurologis.1 Pada umumnya anak dibawaoleh orang tua berobat akibat gangguan fungsional yang dialaminya, gangguanperkembangan, gangguan kesadaran, kelumpuhan ekstremitas, kelumpuhan saraf otak,kejang dan lain-lain. Anamnesis terarah tentang riwayat penyakit, perkembangan,pemeriksaan fisis pediatrik, pemeriksaan neurologik yang teliti akan sangat membantumenentukan diagnosis fungsional, gangguan anatomik, dan perkiraan etiologik kelainansaraf yang dihadapi.1 Untuk menegakkan diagnosis pasti diperlukan pemeriksaanpenunjang paling sederhana sampai yang paling canggih, seperti transiluminasi kepala,pemeriksaan darah tepi, cairan serebrospinalis, elektroneurofisiologi (elektroensefalografi,potensial cetusan, dan elektromiografi), pemeriksaan pencitraan, patologi anatomi danlain-lainnya.
Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Episode Infeksi Saluran Pernapasan Akut pada Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan Rocky Wilar; J. M. Wantania
Sari Pediatri Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.137 KB) | DOI: 10.14238/sp8.2.2006.154-8

Abstract

Latar belakang. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan penyakit yang seringdiderita oleh anak-anak. Gangguan hemodinamik pada penyakit jantung bawaan (PJB)dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan yang berulang. Banyak faktor risiko yangberhubungan dengan terjadinya ISPA.Tujuan penelitian. Mengetahui episode dan lamanya ISPA pada anak dengan PJBdan faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya ISPA tersebut.Metoda. Jenis penelitian ini adalah studi longitudinal (prospektif), sejak 10 Nopember2004 sampai 10 Juni 2005 pada 47 anak yang menderita PJB (29 tipe non sianotik dan18 tipe sianotik) yang berusia 6 bulan sampai 12 tahun. Diagnosis PJB berdasarkan atasanamnesis, pemeriksaan fisik, EKG dan ekokardiografi. Diagnosis ISPA berdasarkananamnesis dan pemeriksaan fisik. Dilakukan kunjungan rumah tiap bulan pada pasienuntuk mengevaluasi episode dan lamanya ISPA. Kriteria inklusi tidak menderita kelainanbawaan yang lain (misalnya bibir sumbing), berdomisili di kota Manado dan mendapatpersetujuan dari orang tua/wali. Analisis statistik menggunakan analisis deskriptif, regresilinear sederhana dan multipel.Hasil. Terdapat perbedaan episode dan lamanya ISPA antara PJB non sianotik dan PJBsianotik (p<0,001). Terdapat hubungan antara episode ISPA dengan umur dan statusgizi (p<0,001). Terdapat hubungan antara lamanya ISPA dengan tipe PJB (p<0,01).Kesimpulan. Episode ISPA pada pasien PJB lebih sering dibandingkan dengan anak normal.Episode ISPA pada PJB sianotik lebih sering dibandingkan PJB non sianotik. Pasien PJBsianotik apabila mengalami ISPA lebih lama dibanding PJB non sianotik. Umur danstatus gizi sangat berhubungan dengan episode ISPA pada anak-anak dengan PJB.
Nefropati Diabetik pada Anak Sudung O. Pardede
Sari Pediatri Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.1.2008.8-17

Abstract

Nefropati diabetik adalah nefropati akibat diabetes melitus yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjalyang progresif, hipertensi, proteinuria, dan tanda-tanda insufisiensi ginjal kronik lainnya. Diperkirakanpada 30%-50% pasien diabetes melitus tergantung insulin (DMTI) akan terjadi kelainan ginjal setelah5-15 tahun kemudian. Deteksi nefropati diabetik dilakukan dengan pemeriksaan mikroalbuminuria. Tatalaksana nefropati diabetik terdiri dari pengobatan mikroalbuminuria, menanggulangi hipertensi, dan tatalaksana diabetes melitus. Pemberian penghambat angiotensin converting enzyme dan pengendalian tekanandarah akan memperlambat progresivitas nefropati diabetik. Penghambat angiotensin converting enzyme akanmengurangi kerusakan glomerulus dengan mempertahankan tekanan kapiler glomerulus dalam keadaannormal. Tata laksana diabetes melitus meliputi pengontrolan gula darah, perbaikan kebiasaan hidup, pemberianinsulin.
Pemantauan Kerusakan Sendi pada Anak Hemofilia Berat: Peran Pemeriksaan Muskuloskeletal (HJHS), Ultrasonografi Sendi dan Kadar C-Terminal Telopeptide of Type II Collagen Urin Teny Tjitra Sari; Novie Amelia Chozie; Djajadiman Gatot
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.725 KB) | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.234-40

Abstract

Hemartrosis dan artropati hemofilik merupakan morbiditas utama hemofilia. Patogenesis artropati hemofilik masih belum diketahuidengan jelas, diduga meliputi proses degenerasi dan inflamasi. Deteksi dini tahap awal artropati hemofilik sebelum timbul gejalaklinis sangat diperlukan untuk mencegah progresivitas kerusakan sendi. Pemeriksaan muskuloskeletal dengan metode skoringHemophilia Joint Health Score (HJHS) sensitif untuk mendeteksi artropati hemofilik tahap dini. Ultrasonografi sendi memilikisensitivitas yang baik dalam mendeteksi artropati tahap dini, berbiaya lebih murah dan lebih praktis dibanding MRI. Peran petandabiologis kerusakan sendi seperti kadar C-terminal Telopeptide of Type II Collagen (CTX-II) urin sebagai penunjang diagnostikartropati tahap dini dan evaluasi keberhasilan terapi masih memerlukan penelitian lebih lanjut sebelum dapat digunakan dalampraktek sehari-hari. Tinjauan pustaka ini membahas patofisiologi dan pemantauan artropati hemofilik secara klinis, radiologisdan pemeriksaan petanda biologis kerusakan sendi.
Pola Penyakit Malaria pada Anak Di RSU Manna, Bengkulu Selatan Hindra Irawan Satari
Sari Pediatri Vol 4, No 3 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp4.3.2002.141-6

Abstract

Penyakit malaria sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan yang perludiperhatikan di negara kita, karena penyakit ini masih termasuk dalam kelompok limabesar pola penyakit anak di Puskesmas, demikian pula di Rumah Sakit Umum MannaBengkulu Selatan. Untuk mengetahui pola penyakit malaria pada anak yang di rawatRSU Manna, dilakukan penelitian retrospektif dari dokumen medik pasien yang dirawatdari tanggal 1 Januari 1990 sampai dengan 31 Desember 1992. Dalam kurun waktutersebut telah dirawat 122 anak pasien malaria, tetapi dari jumlah tersebut hanya 68pasien (55,7%) yang memenuhi syarat penelitian yang terdiri atas 41 pasien anak laki-laki(60,3%) dan 27 pasien anak perempuan (39,7%). Semua pasien diobati sesuai denganpedoman pengobatan yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan R.I. Empat pasiendi antaranya meninggal dunia (5,9%). Kelompok umur yang terbanyak adalah kelompokumur 1-4 tahun (38,2%), sedangkan parasit penyebab terbanyak adalah Plasmodiumvivax (58,8%). Manifestasi klinis adalah demam (100%), diikuti oleh muntah (39,7%),sedangkan menggigil bukan merupakan gejala yang terbanyak (32,3%). Hepatomegalidan mencret ditemukan pada 33,9% pasien, sedangkan splenomegali didapatkan pada8,7% pasien. Pada penelitian ini tampak pedoman pengobatan dari DepartemenKesehatan R.I. masih menunjukkan hasil yang baik.
Vulvovaginitis pada anak Sudung O. Pardede
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.75-83

Abstract

Vulvovaginitis merupakan masalah ginekologi yang paling sering ditemukan pada anakdan remaja, tetapi umumnya masih kurang mendapat perhatian di kalangan dokterspesialis anak. Vulvovaginitis dapat disebabkan infeksi bakteri, virus, jamur, protozoa,cacing, benda asing, trauma, reaksi alergi, atau merupakan bagian dari penyakit sistemik.Vulvovaginitis bakterialis dapat berupa vulvovaginitis non spesifik dan spesifik.Vulvovaginitis non spesifik biasanya terjadi pada pasien dengan higiene perineum yangburuk, dan vulvovaginitis bakterialis spesifik terutama disebabkan Gardnerella vaginalis.Pengeluaran sekret vagina sering merupakan gejala klinis yang membawa anak berobatke dokter. Gejala lain vulvovaginitis adalah pruritus, sering berkemih, disuria, atauenuresis. Dalam tata laksana vulvovaginitis, perlu diperhatikan higiene perineum, tidakmengenakan pakaian yang ketat, menggunakan sabun yang lunak, dan memelihara vulvatetap bersih, sejuk, dan kering. Pengobatan vulvovaginitis tergantung pada penyebabnya.Vulvovaginitis bakterialis dapat diterapi dengan antibiotik seperti amoksisilin atausefalosporin. Infeksi jamur diterapi dengan anti jamur imidazol, mikonazol, klotrimazol,dan nistatin. Vulvovaginitis trikomonads diterapi dengan metronidazol. Krim estrogentopikal atau salep polisporin dapat membantu.
Faktor Risiko Kejadian Distres Pernapasan pada Anak dengan Pneumonia Karel Anggrek; Ari Lukas Runtunuwu; Audrey Wahani; Lusiana Margaretha
Sari Pediatri Vol 9, No 6 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.445 KB) | DOI: 10.14238/sp9.6.2008.391-7

Abstract

Latar belakang. Distres pernapasan pada pneumonia merupakan kegawatan medis pada anak yang seringterjadi akibat berbagai faktor.Tujuan. Mengetahui faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian distres pernapasan padaanak dengan pneumonia.Metode. Desain penelitian analitik observasional, cross sectional. Subjek penelitian adalah semua anakpneumonia berusia 2-24 bulan yang dirawat di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSU Prof. Dr. R.D.KandouManado Juni - Nopember 2005. Subjek dibagi menjadi kelompok pneumonia dengan dan tanpa distrespernapasan.Hasil. Dari 68 kasus pneumonia, didapatkan 35 (51,5%) disertai distres pernapasan dan 33 (48,5%)tanpa distres pernapasan. Lama pendidikan ayah, lama pendidikan ibu, jumlah leukosit saat masuk rumahsakit, lama sakit di rumah, keluarga perokok dan hasil biakan darah mempengaruhi terjadinya distrespernapasan pada anak dengan pneumonia.Kesimpulan. Lama pendidikan ayah, lama pendidikan ibu, jumlah leukosit, lama sakit di rumah dankeluarga perokok mempengaruhi terjadinya distres pernapasan pada anak dengan pneumonia. Secarabersama-sama faktor lama sakit di rumah, keluarga perokok dan hasil biakan mempunyai hubungan dengankejadian distres pernapasan pada anak dengan pneumonia
Kekebalan dan Keamanan setelah Mendapat Imunisasi Hepatitis B Rekombinan pada Anak Remaja Eddy Fadlyana; Kusnandi Rusmil; Novilia S Bachtiar
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.87-92

Abstract

Latar belakang. Berdasarkan riwayat implementasi program imunisasi Hepatitis B di Jawa Barat, diperkirakan anak periode remaja akhir (15–18 tahun) belum terlindungi terhadap infeksi Hepatitis B.Tujuan. Menilai kekebalan dan keamanan pasca imunisasi 3 dosis vaksin Hepatitis B rekombinan pada anak remaja sehat yang belum pernah mendapat imunisasi Hepatitis B.Metode. Penelitian intervensi dengan label terbuka terhadap remaja usia 15–18 tahun yang belum pernah mendapatkan imunisasi Hepatitis B, diberikan 3 dosis (1,0 ml=20 µg of HBsAg) Hepatitis B rekombinan secara intramuskular pada daerah lengan atas dengan interval waktu 1 bulan. Respons antibodi diukur menggunakan Chemiluminescent Microparticle Immunoassay (CMIA) Architect ausab reagent kit on architect i 1000sr, dilakukan pra dan 28 hari pasca dosis ke-3 vaksinasi. Reaksi lokal dan kejadian sistemik dicatat pada buku catatan harian selama 28 hari pasca tiap imunisasi. Hasil. Selama periode penelitian didapatkan seratus lima puluh subyek dengan Hbs Ag negatif. Dari jumlah tersebut 112 (75,3%) dengan kadar anti-HBs <10 IU/ml, dan pasca mendapat 3 dosis imunisasi kekebalan terhadap hepatitis B tercatat pada 95,5% remaja; GMT 682,65 (495,11–941,24) mIU/mL. Tidak ditemukan reaksi serius pasca imunisasi dan semua vaksin dapat diterima dengan baik.Kesimpulan. Pemberian 3 dosis vaksin Hepatitis B rekombinan memberikan kekebalan yang tinggi dan aman diberikan pada remaja sehat.

Page 42 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue