cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Histiositosis Sel Langerhans Bulan Ginting Munthe
Sari Pediatri Vol 4, No 1 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2148.375 KB) | DOI: 10.14238/sp4.1.2002.13-20

Abstract

Histiositosis sel Langerhans (HSL) adalah penyakit akibat proliferasi sel Langerhans diberbagai jaringan organ. Penyakit ini mempunyai gejala klinis yang bervariasi menyerupaipenyakit lain sehingga diagnosisnya menjadi sulit. Sampai saat ini penyebabnya secarapasti belum diketahui, terakhir diketahui lesi pada penyakit ini menunjukkan klonalitas.Diagnosis ditegakkan berdasarkan kriteria The Histiocyte Society yaitu presumptive,designated dan definitive HSL jika pada pemeriksaan mikroskop elektron ditemukangranula Birbeck. Tatalaksana penyakit ini tergantung pada jumlah sistem organ yangterlibat. Bila melibatkan multisistem pada umumnya menggunakan rejimen prednisolon,vinblastin dan etoposid dengan dosis dan jangka waktu yang berbeda-beda karena belumada rejimen baku. Prognosis dipengaruhi oleh usia, disfungsi organ dan respons terhadappengobatan.
Manifestasi Gastrointestinal Akibat Alergi Makanan Sukmawati Sukmawati; Hendra Santoso; I Kompyang Gede Suandi
Sari Pediatri Vol 7, No 3 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.152 KB) | DOI: 10.14238/sp7.3.2005.132-5

Abstract

Alergi makanan adalah bagian dari reaksi simpang makanan yang didasari proses imunologis.Berbagai mekanisme pertahanan saluran cerna baik imunologik dan non imunologikmemegang peran penting dalam mencegah terjadinya alergi makanan. Berdasarkan prosesimun yang mendasari, terjadinya alergi makanan dibedakan menjadi tiga jalur yakni reaksiyang diperantarai IgE (IgE mediated), yang tidak diperantarai IgE (non-IgE mediated),dan mekanisme campuran yang melibatkan IgE dan non IgE. Gejala gastro intestinalakibat alergi makanan sangat bervariasi dari perasaaan nyeri, mual, muntah, diare,malabsorpsi dan kehilangan protein hingga terjadi gangguan pertumbuhan. Umumnyaalergi makanan akan menghilang pada umur 5-6 tahun kecuali, kacang tanah dan alergiterhadap sejenis ikan laut dan kerang-kerangan
Karakteristik Klinis Trauma Kepala pada Anak di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta Msy Rita Dewi MS; Irawan Mangunatmadja; Yeti Ramli
Sari Pediatri Vol 9, No 5 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.5.2008.354-8

Abstract

Latar belakang. Cedera kepala merupakan salah satu penyebab anak dibawa ke rumah sakit. Pada umumnyatrauma terjadi karena kecelakaan lalu lintas. Di Amerika sekitar 300.000-400.000 anak dirawat karenacedera. Di Indonesia hanya ada data sporadis.Tujuan. Mendapatkan gambaran karakteristik klinis pada anak dengan cedera kepala di RS Dr. CiptoMangunkusumo.Metode. Studi deskriptif retrospektif dengan data sekunder diambil dari data catatan medik dari bulanJanuari 2004 - Juli 2005.Hasil. Selama kurun waktu penelitian ditemukan jumlah kasus trauma kepala pada anak usia <15tahun 503 kasus. Usia terbanyak antara umur 6-10 tahun, rasio laki-laki: wanita adalah 1.7: 1. Keluhanterbanyak adalah nyeri kepala (25,6%), dan muntah (20,9%). Mekanisme cedera banyak yang tidakdiketahui (61,6 %). Skala koma Glasgow (SKG) 13-15 yang paling banyak dijumpai (91,8%), gangguansaraf kranialis dan gangguan motorik (1,2%), dan Jejas hematom 9,5%. Pemeriksaan radiologiksederhana jarang dikerjakan. Enam puluh persen pemeriksaan rawat inap, 61% dan 36,4% hiduptanpa cacat.Kesimpulan. Kasus trauma kepala pada anak usia <15 tahun, lebih sering terjadi pada anak laki-lakidibanding anak perempuan kelompok usia terbanyak antara 6-10 tahun. Fraktur tengkorak dan perdarahanintrakranial jarang terjadi pada anak-anak
Infeksi Jamur Sistemik pada Pasien Immunocompromised Djajadiman Gatot
Sari Pediatri Vol 3, No 4 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.4.2002.242-6

Abstract

Dalam keadaan normal relatif sedikit spesies jamur yang patogenik. Akan tetapi padabeberapa keaaan tertentu seperti defisiensi imun (immunocompromised) beberapa spesiesjamur dapat menyebabkan infeksi, terutama pada pasien dengan keadaan defisiensi imun(immunocompromised). Beberapa kondisi yang dapat menimbulkan keadaanimmunocompromised antara lain ialah neutropenia, adanya kerusakan pada imunitasseluler dan humoral, perubahan pada sawar fisik, gizi buruk, adanya obstruksi danperubahan flora bakteri. Secara klinis infeksi jamur dibagi menurut tempat infeksi danjenis patogenesisnya. Keadaan yang perlu mendapat perhatian khusus ialah infeksi jamursistemik karena dapat meningkatkan angka mortalitas. Ada beberapa faktor yangmenyebabkan jumlah kasus infeksi jamur sistemik bertambah pada kelompok pasienyang berbeda. Kelompok pasien ini perlu diketahui sehingga diagnosis dapat ditegakkandan pencegahan infeksi jamur dapat dilakukan sehingga diharapkan dapat menurunkanangka morbiditas dan moralitas.
Obstructive sleep apnea syndrome pada Anak Bambang Supriyatno; Rusmala Deviani
Sari Pediatri Vol 7, No 2 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.2.2005.77-84

Abstract

Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) adalah suatu sindrom obstruksi total atauparsial jalan nafas yang menyebabkan gangguan fisiologis yang bermakna dengan dampakklinis yang bervariasi. Prevalensi OSAS adalah 0,7 – 10,3%. Beberapa keadaan dapatmerupakan faktor risiko OSAS seperti hipertofi adenoid dan atau tonsil, obesitas,disproporsi sefalometri, kelainan daerah hidung. OSAS pada anak berbeda dengan dewasabaik faktor risiko maupun tata laksananya. Manifestasi klinis OSAS pada anak adalahkesulitan bernafas pada saat tidur, mendengkur, hiperaktif, mengantuk pada siang hari,dan kadang-kadang enuresis. Diagnosis OSAS secara definitif menggunakanpolisomnografi yaitu adanya indeks apnea atau hipopnea lebih dari 5. Sebagai alternatifdiagnosis adalah menggunakan kuesioner Brouillette dkk, observasi dengan video, ataumenggunakan pulse oksimetri. Tata laksana OSAS pada anak adalah pengangkatanadenoid (adenoidektomi dan/atau tonsilektomi). Angka keberhasilannya cukup tinggiyaitu sekitar 75%. Selain itu diet untuk penurunan berat badan pada obesitas, sertapengunaan CPAP (continuous positive airway pressure). Komplikasi yang dapat terjadiadalah gangguan tingkah laku, kelainan kardiovaskular, dan gagal tumbuh.
Peran The Early Language Milestone Scale sebagai Uji Tapis terhadap Anak dengan Keterlambatan Bicara yang Diduga Disebabkan oleh Gangguan Pendengaran Sensorineural Nia Niasari; Hartono Gunardi; Ronny Suwento; Sudigdo Sastroasmoro
Sari Pediatri Vol 9, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.515 KB) | DOI: 10.14238/sp9.4.2007.281-4

Abstract

Latar belakang. Salah satu penyebab keterlambatan bicara adalah gangguan pendengaran. Brain evokedresponse audiometry (BERA) memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dalam mendeteksi gangguanpendengaran, namun alat dan biaya pemeriksaan cukup mahal, dan tidak tersedia di pusat pelayanankesehatan primer di daerah terpencil. The early language milestone scale (ELMS) diharapkan mempunyaisensitivitas dan spesifisitas yang baik sebagai uji tapis keterlambatan bicara yang disebabkan oleh gangguanpendengaran, karena mengandung unsur auditory receptive dan auditory expressive.Tujuan. Membandingkan sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif (NDP), nilai duga negatif (NDN),rasio kemungkinan positif (RKP), dan rasio kemungkinan negatif (RKN) ELMS dalam mendeteksi gangguanpendengaran dengan baku emas BERA.Metode. Penelitian uji diagnostik ELMS dengan baku emas BERA di Departemen IKA dan Pusat KesehatanTelinga dan Gangguan Komunikasi (PKTGK) Departemen THT FKUI-RSCM. Pengambilan sampel secarakonsekutif dari bulan Februari sampai Agustus 2006, terkumpul 42 subjek dengan usia 12 sampai 47 bulan.Hasil. Sensitivitas 93% (IK95%:92 sampai 94), spesifisitas 15% (IK95%:5 sampai 26), NDP 71%(IK95%:57 sampai 85), dan NDN 50% (IK95%:35 sampai 65). Hasil RKP 1 dan RKN 0,5.Kesimpulan. Mengingat spesifisitas yang rendah, ELMS tidak dapat digunakan sebagai uji tapis keterlambatanbicara yang diduga disebabkan gangguan pendengaran sensorineural.
Hipertensi Krisis pada Anak Sudung O. Pardede
Sari Pediatri Vol 11, No 4 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.44 KB) | DOI: 10.14238/sp11.4.2009.289-97

Abstract

Hipertensi krisis adalah keadaan gawat darurat yang memerlukan penanganan segera. Hipertensi krisisdibedakan atas hipertensi emergensi dan hipertensi urgensi. Hipertensi emergensi berarti hipertensi yangdisertai kerusakan organ target sedangkan hipertensi urgensi merupakan hipertensi yang tidak disertaikerusakan organ target. Umumnya hipertensi pada anak adalah hipertensi sekunder, dan penyebab hipertensikrisis yang paling sering adalah penyakit renoparenkim dan renovaskular. Hipertensi krisis terjadi melaluibeberapa mekanisme antara lain melalui sistem renin angiotensin, overload cairan, stimulasi simpatetik,disfungsi endotel, dan obat-obatan. Sebagai keadaan gawat darurat, prinsip tata laksana hipertensi krisisadalah menurunkan tekanan darah secepatnya untuk mencegah kerusakan organ target. Penangananhipertensi krisis meliputi pemberian antihipertensi onset cepat, mengatasi kelainan organ target (otak,jantung, retina), mencari dan menanggulangi penyebab hipertensi, serta terapi suportif. Antihipertensi yangsering digunakan adalah labetalol, nikardipin, natrium nitroprusid, diazoksida, hidralazin, fenoldopam,klonidin, sedangkan di Indonesia, antihipertensi yang digunakan untuk tata laksana hipertensi krisis adalahklonidin, nifedipin, natrium nitroprusid, dan nikardipin. (
Bakteriuria Asimtomatik pada Anak Sekolah Dasar Laki-laki dan Perempuan Usia 9-12 tahun Sondang M. Lumbanbatu; Rusdidjas Rusdidjas; Rafita Ramayati; Ramona Tobing
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.875 KB) | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.67-71

Abstract

Bakteriuria asimtomatik adalah bakteriuria bermakna pada anak yang kelihatan sehattanpa gejala klinis infeksi ginjal dan saluran kemih. Tujuan penelitian ini untuk melihatperbedaan dan prevalensi bakteriuria asimtomatik pada anak sekolah dasar usia 9 – 12tahun menurut jenis kelamin. Telah dilakukan penelitian secara studi cross sectionaldeskriptif terhadap urin murid sekolah dasar laki-laki dan perempuan usia 9 – 12 tahundi Kecamatan Medan, Tuntungan, Medan yang dipilih secara acak pada bulan Januarisampai Maret 2001. Kriteria eksklusi apabila dijumpai anak dengan gejala infeksi salurankemih, enuresis nokturnal atau diurnal, sedang menderita kelainan anatomi danfungsional saluran urogenital yang dapat dideteksi secara klinis. Sampel yang diambiladalah urin pagi pancar tengah dan dibiakkan di Laboratorium Mikrobiologi FK-USUMedan. Bakteruria bermakna bila ditemukan > 100.000 koloni bakteria per ml urin.Dari 200 anak (137 perempuan, 63 laki-laki) dijumpai 16 bakteriuria bermakna terdiridari 14 (7%) perempuan dan 2 (1%) laki-laki, berbeda bermakna (p<0,05). Jenisbakteriuria E. coli 6, Staphylococcus epidemidis 6, Staphylococcus aureus 2, Klebsiella 1,dan Pseudomonas 1. Kesimpulan, adanya perbedaan bermakna bakteriuria asimtomatikpada anak sekolah dasar laki-laki dan perempuan usia 9-12 tahun, dengan kumanpenyebab terbanyak E. coli dan Staphylococcus epidermidis.
Peran Alergi Makanan dan Alergen Hirup pada Dermatitis Atopik Sjawitri P Siregar
Sari Pediatri Vol 6, No 4 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.177 KB) | DOI: 10.14238/sp6.4.2005.155-8

Abstract

Sensitisasi makanan dan aeroalergen memegang peran pada patogenesis penyakit atopikseperti dermatitis atopik (DA), rinitis alergik dan asma. Dermatitis atopik merupakansuatu penyakit kronik yang tidak dapat disembuhkan 100% dan sering mengalamieksaserbasi, serta menimbulkan masalah pada orang tua dan dokter. Banyak faktor yangberperan pada DA, baik faktor eksogen atau endogen maupun kombinasi keduanya.Faktor genetik merupakan salah satu faktor yang berperan pada DA. Faktor eksogenseperti makanan aeroalergen banyak dilaporkan sebagai pencetus timbulnya DA. Masihterdapat perbedaan pendapat mengenai makanan sebagai penyebab tetapi terdapat buktibahwa bila makanan dihindarkan gejala dermatitis membaik. Susu sapi memprovokasigejala DA pada usia bayi1 dan 30% DA disebabkan alergi susu sapi2.Alergen hirup seperti tungau debu rumah berperan pada patogenesis DA, terutamapada anak; hal ini berdasarkan beberapa pengamatan klinis, uji kulit dan IgE spesifikyang tinggi serta terdapat perbaikan gejala klinis DA setelah penghindaran tungau deburumah.3 Alergen makanan lebih berpengaruh pada usia bayi kurang dari 1 tahunsedangkan aeroalergen pada usia di atas 2 tahun.4 H asil penelitian di Departemen IKARSCM menunjukkan bahwa DA pada anak dengan onset kurang dari 1 tahun yangtelah tersensitisasi telur dan aeroalergen akan meningkatkan risiko alergi saluran napasdi kemudian hari sampai sepuluh kali lipat
Gambaran Epidemiologi Infeksi Nosokomial Aliran Darah pada Bayi Baru Lahir Fatima Safira Alatas; Hindra Irawan Satari; Imral Chair; Rinawati Rohsiswatmo; Zakiudin Munasir; Endang Windiastuti
Sari Pediatri Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.2.2007.80-6

Abstract

Latar belakang. Infeksi nosokomial (IN) pada bayi baru lahir sampai saat ini masih merupakan masalahserius di setiap rumah sakit karena dapat meningkatkan morbiditas, mortalitas, lama dan biaya rumahsakit serta risiko kecacatan pada bayi yang terinfeksi.Tujuan penelitian. Mengetahui gambaran epidemiologi, pola kuman dan resistensi mikroorganisme penyebabIN aliran darah (INAD) pada bayi baru lahir di ruang rawat Divisi Perinatologi Departemen IKA RSCM.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian prospektif deskriptif dengan desain studi seksi silang diruang rawat Divisi Perinatologi IKA RSCM.Hasil. Insidens INAD pada bayi baru lahir yaitu 34,8 infeksi per 100 pasien baru atau 50 infeksi per 1000kelahiran dengan case fatality rate 27,4% dari seluruh kasus INAD (2) Infeksi bakteri gram negatif (GN)merupakan bakteri terbanyak dengan kuman terbanyak Acinetobacter calcoaceticus 28,8% (3) Sensitivitasbakteri GN terhadap antibiotika lini pertama dan kedua rendah sedangkan lini ketiga yaitu meropenemdan lini keempat yaitu siprofloksasin cukup baik yaitu masing-masing 66,67 – 100%.Kesimpulan. Angka kejadian dan case fatality rate INAD pada bayi baru lahir masih cukup tinggi. Infeksibakteri gram negatif masih merupakan penyebab terbanyak

Page 43 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue