cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Penggunaan Granulocyte Colony-Stimulating Factor pada Pasien Tumor Padat yang Mengalami Neutropenia Rosary Rosary; Hikari Ambara Sjakti
Sari Pediatri Vol 11, No 6 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.707 KB) | DOI: 10.14238/sp11.6.2010.428-33

Abstract

Infeksi yang terkait dengan neutropenia pasca kemoterapi merupakan salah satu penyebab morbiditas danmortalitas yang cukup sering pada pasien kanker. Neutropenia pasca kemoterapi selain akan memperpanjanglama rawat dan meningkatkan risiko infeksi, juga menyebabkan tertundanya pemberian kemoterapi danpengurangan dosis kemoterapi. Hal ini secara tidak langsung akan mempengaruhi kesintasan pasien.Hematopoietic growth-stimulating factor adalah sitokin yang mengatur proliferasi, diferensiasidan fungsi sel hematopoietik. Penggunaan granulocyte colony-stimulating factor (G-CSF) dan granulocytemacrophagecolony-stimulating foctor(GM-CSF) saat ini banyak diteliti pada pasien kanker yang berisikomengalami neutropenia. Pemberian G-CSF pada manusia menyebabkan peningkatan neutrofil yangbersirkulasi karena berkurangnya masa transit dari sel induk menjadi neutrofil matur, oleh karenanyazat ini sering dipakai untuk mengatasi neutropenia. Tujuan penulisan untuk mengetahui kegunaanyapada pasien tumor padat yang mengalami neutropenia.
Evaluasi Klinis Pengobatan Epilepsi dengan Karbamazepin pada Anak Pratiwi Andayani; Taslim S Soetomenggolo; Sri Rezeki S Hadinegoro
Sari Pediatri Vol 2, No 3 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.3.2000.126-31

Abstract

Untuk melihat efektivitas karbamazepin, dilakukan penelitian pemakaian karbamazepinpada pasien epilepsi jenis bangkitan parsial dan umum di Bagian IKA FKUI-RSCM.Penelitian ini merupakan studi kuasi-eksperimental dengan desain pre dan post test.Karbamazepin dapat menekan bangkitan epilepsi pada 20 (86,9%) kasus. Sebelas diantaranya adalah epilepsi jenis bangkitan umum, dan 9 kasus lainnya epilepsi jenisbangkitan parsial. Gambaran EEG sebagian besar kasus adalah abnormal. Dosis reratakarbamazepin yang dapat memberantas bangkitan epilepsi 15,95mg/kgBB/hari. Kadarterendah karbamazepin plasma yang dapat menekan bangkitan epilepsi adalah 1,215ug/mL, dengan kadar rerata 5,74ug/mL. Kebanyakan efek samping yang terjadi ringan dantidak menetap. Efek samping yang berat yaitu sindrom Steven Johnson terdapat pada 3kasus.
Iktiosis Lamelar pada Anak dengan Riwayat Bayi Kolodion Suraiyah Suraiyah; Soepardi Soedibyo; Siti Aisah Boediardja
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1211.968 KB) | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.32-8

Abstract

Abstrak. Seorang anak perempuan, usia 3 tahun dengan keluhan kulit yang mengelupas terus menerus(rujukan dari bagian kulit dan kelamin, untuk mengevaluasi adakah kelainan metabolik bawaan). Adanyariwayat bayi lahir dengan kulit terbungkus plastik, mengkilap, transparan disertai kelainan bentuk dauntelinga yang kecil dan kelopak mata terangkat keatas. Tidak terdapat konsanguitas dalam keluarga. Kulitpada seluruh tubuh mengelupas secara kontinyu, gatal dan berbau tidak sedap. Luka/ lecet akibat bekasgarukan pada kulit sehingga terbentuk jaringan parut tebal dan berakibat terjadinya kontraktur pada jarijaritangan. Pada pemeriksaan fisis ditemukan kulit kepala yang tebal berkeropeng, ektropion, alopesiasikatrik dengan bentuk mulut normal. Pada kedua telinga didapatkan hipoplasi kartilago aurikula. Padakulit tampak skuama kasar, lebar, berwarna kecoklatan dengan eritroderma ringan. Pemeriksaanlaboratorium didapatkan hemoglobin 11,4 g/dL, leukosit 10.100/μL, tombosit 431.000/μL. Biopsi kulitdidapatkan hiperkeratosis, sumbatan keratin, akantosis dan papilomatosis ringan disertai pelebaranpembuluh darah dan serbukan sel radang ringan pada dermis. Ikltiosis lamelar adalah genodermatosisyang biasanya diturunkan secara resesif autosomal, adanya konsanguitas meningkatkan risiko terjadinyakasus ini.. Anamnesis dan penilaian klinis sangat penting dalam menegakkan diagnosis tetapi diagnosispasti ditegakkan berdasarkan biopsi kulit
Efikasi Obat Kloroquine, Kina, Artesunate-SP, Artesunate-Amodiaquine, Artesunate-Lumafentrin pada Anak Malaria Falciparum di BLU RSUP Prof. Dr. RD. Kandou Manado Suryadi Nicolaas Napoleon Tatura
Sari Pediatri Vol 10, No 6 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.6.2009.417-23

Abstract

Latar belakang. Malaria falciparum masih merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kesakitan pada anak-anak dan orang dewasa di negara-negara tropis. Di Indonesia, dilaporkan Plasmodium falciparum telsh resisten terhadap obat – obat anti malaria, terutama kemungkinan terjadi early treatment failure (ETF).Tujuan. Untuk mengetahui efikasi dan early treatment failure (ETF) obat anti malaria (OAM) yaitu kloroquin (CQ), kina, artesunat-SP(AS-SP), dan artesunate-amodiaquin(AS-AQ) serta artesunate- lumafentrin(AS-L) pada anak dengan malaria falciparum.Metode. Penelitian deskriptif retrospektif� �� � � � � � � � � � � . Populasi adalah bayi dan anak usia 1 bulan-14 tahun yang terdiagnosis dengan malaria falciparum dan mendapat OAM. Data diperoleh dari rekam medis Bagian Anak BLU RSUP Prof Dr. RD. Kandou Manado sejak Maret 2007 sampai Maret 2009. Data dikelompokkan berdasarkan jenis obat anti malaria yang digunakan oleh pasien selama 3 hari (3x24jam), kemudian dinilai waktu bebas parasit dalam darah pasien serta ETF. Hitung parasit menggunakan metode semikuantitatif. Data dianalis dengan metode Kaplan-Meier menggunakan SPSS 17.Hasil. Efikasi obat anti malaria dalam 3 hari sebagai berikut, AS-L 100%, AS-SP 100%, AS-AQ 97%, CQ 85%, dan kina 81%. Terdapat ETF obat kina 19%, CQ 15% dan AS-AQ 3%. Parasite negative rate dalam 24 jam AS-SP 0,6, AS-L 0,6, AS-AQ 0,89, Kina 0,35 dan CQ 0,54.Kesimpulan. Artesunate-lumafentrin dan artesunate-SP merupakan obat anti malaria falciparum pilihan. Artesunate-amodiaquine sangat baik menurunkan angka parasit dalam 24 jam I. Telah terjadi ETF pada kloroquine, kina dan arteunate-amodiaquine.
Inkontinensia Urin pada Anak Taralan Tambunan
Sari Pediatri Vol 2, No 3 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.906 KB) | DOI: 10.14238/sp2.3.2000.163-9

Abstract

Secara umum gangguan berkemih yang disebut mengompol dapat dibagi dalam duakelompok yaitu enuresis dan inkontinensia urin. Enuresis dianggap sebagai akibatmaturasi proses berkemih yang terlambat, umumnya tidak ditemukan kelainan organikyang nyata sebagai penyebab. Inkontinensia urin didefinisikan sebagai pengeluaran urinyang terjadi tanpa kontrol (involunter) meskipun si pasien berusaha sekuat mungkinmenahannya, kencing bisa menetes dan tidak lampias, terjadi seketika. Dalam kenyataansehari-hari, tidak mudah membedakan enuresis dengan inkontinensia urin. Inkontinensiaurin lebih sering bersifat kronik dan progresif. Klasifikasi dapat disusun berdasarkanetiologi, kelainan pola berkemih maupun berdasarkan tingkat lesi neurologik. Pendekatandiagnostik yang lebih mutakhir didasarkan pada hasil pemeriksaan miksiosistoureterografidan urodinamik yang menggolongkan inkontinensia dalam dua bagian yaituinkontinensia fungsional dan organik. Dalam periode 11 tahun di Bagian Ilmu KesehatanAnak FKUI-RSCM Jakarta (1989-2000) tercatat 18 kasus inkontinensia urin, 9 diantaranya tergolong dalam buli-buli neurogenik akibat spina-bifida. Masalah utama yangdihadapi ialah ISK berulang dan gagal ginjal kronik. Penanganan yang baik dan tepatharus dimulai dari upaya diagnostik yang akurat. Prioritas utama ialah pemeliharaanfungsi ginjal, pemberantasan infeksi berulang dengan memperhatikan kondisi neurologisyang diderita. Kerjasama antar disiplin seperti urologi, pediatri dan rehabilitasi mediksangat diperlukan, namun di atas segalanya, perhatian, kesabaran dan dedikasi untukmenolong pasien sangat penting agar kualitas hidup pasien dapat ditingkatkan.
Mikropenis Supriatmo Supriatmo; Charles D Siregar
Sari Pediatri Vol 5, No 4 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.347 KB) | DOI: 10.14238/sp5.4.2004.145-9

Abstract

Jumlah kasus mikropenis tidak diketahui secara pasti, diduga tidak semua pasienberobat. Dalam penanganan mikropenis, terapi hormonal dengan testosteronmerupakan pilihan utama. Terapi testosteron 25 mg intramuskular setiap 3 minggu,4 dosis, dapat langsung diberikan sebelum pemeriksaan kadar testosteron darah.Jika tidak terjadi penambahan panjang penis, pemberian terapi hormonal dapatdiulangi satu siklus lagi. Terapi operatif dipertimbangkan pada kasus yang gagal denganterapi hormonal. Sebaiknya pasien mikropenis diberi pengobatan dalam pengawasanahli endokrinologi anak.
Penggunaan Antibiotik pada Terapi Demam Tifoid Anak di RSAB Harapan Kita Amar W Adisasmito
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.3.2006.174-80

Abstract

Latar belakang. Insidens demam tifoid di Indonesia cukup tinggi (>100 kasus per100.000 populasi per tahun). Insidens pada anak usia 3-6 tahun adalah 1307 per 100.000populasi per tahun, dan 1172 pada usia 7-19 tahun. Chloramphenicol sampai saat inimasih merupakan obat pilihan lini pertama untuk terapi demam tifoid pada anak.Antibiotik lain yang dipergunakan untuk terapi demam tifoid anak adalah cotrimoxazole,cefixime dan ceftriaxone.Tujuan penelitian. Untuk mengevaluasi aspek pemberian antibiotik berdasar berbagaisituasi klinis pada terapi demam tifoid anak di ruang Rawat Inap Anak, DepartemenAnak, RSAB Harapan Kita, Jakarta.Metoda. Penelitian dengan desain deskriptif-retrospektif telah dilakukan di DepartemenAnak, RSAB Harapan Kita, Jakarta dari 1 Januari hingga 31 Desember 2004 Kriteriainklusi adalah pasien berusia antara 1 bulan sampai 18 tahun, gejala klinis sesuai demamtifoid, dan diagnosis pasti berdasar hasil biakan darah dengan metoda Bac-tect, positifSalmonella typhi. Data diperoleh dari rekapan laboratorium Mikrobiologi dan rekammedik pasien. Korelasi antara ketepatan dosis antibiotik dan lama rawat atau length ofstay (LOS) dievaluasi menggunakan program Excell.Hasil. Sebanyak 31 pasien memenuhi kriteria inklusi. Dari 31 pasien yang ditelitiditemukan bahwa pasien demam tifoid terbanyak adalah usia 6-10 tahun, diikuti usia 1– 5 tahun. Sensitifitas dan spesifisitas uji Widal terhadap uji Bac-tect rendah atau tidakmemadai, sehingga uji Widal disini tampaknya bukanlah uji yang baik dalam menegakkandiagnosis demam tifoid. Komplikasi terjadi pada 7 dari 31 pasien, terdiri dari pneumoniadan perdarahan saluran cerna. Ditemukan seluruhnya 1 kasus relaps dari 31 pasien.Tampaknya tidak ada perbedaan yang nyata antara rata-rata lama rawat dan ketepatandosis antibiotik yang diberikan.Kesimpulan. Antibiotik terbanyak yang dipakai adalah golongan chloramphenicol danceftriaxone intravena. Tidak ada hubungan yang nyata antara pemberian antibiotikdengan dosis kurang terhadap lama rawat pasien, tetapi tentunya masih banyak faktorlain yang dapat mempengaruhinya.
Pengetahuan Sikap, dan Perilaku Ibu Terhadap Sirkumsisi pada Anak Perempuan Dian Milasari; Dyah Tunjungsari; Elisa Harlean; Erick Wonggokusuma; Faisal Adam; Henry Riyanto; Rini Sekartini; Corry Wawolumaya
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.57 KB) | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.242-5

Abstract

Latar belakang. Situasi mengenai pola sirkumsisi (sunat) perempuan di Indonesia masih belum banyak diketahui, sehingga mengakibatkan kurang pengetahuan masyarakat Indonesia. Beberapa tahun terakhir WHO telah menyatakan menentang segala bentuk medikalisasi sirkumsisi perempuan.Tujuan. Mengetahui pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu mengenai sirkumsisi pada perempuan di Jakarta.Metode. Desain penelitian cross-sectional dengan menggunakan metode convenient sampling. Data diperoleh dari kuesioner yang diisi sendiri oleh para ibu (self administered questionnaire).Hasil. Hampir seluruh responden melakukan sirkumsisi pada anak perempuan mereka 97,2% dari 106 orang responden. Agama merupakan alasan utama melakukan sirkumsisi 61,2%. Surat edaran dari Departemen Kesehatan RI mengenai larangan bagi tenaga medis untuk melakukan sirkumsisi pada anak perempuan tidak diketahui oleh sebagian besar responden (83%). Orang tua atau teman menjadi sumber yang paling berkesan untuk melakukan sirkumsisi 34%. Sedangkan dari tenaga medis, informasi yang paling berkesan datang dari perawat atau bidan 21,7%. Sebagian besar sirkumsisi dilakukan pada usia di bawah 5 tahun. Bidan merupakan pelaku sirkumsisi pada sebagian besar anak 73,9%. Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan rendah (87,7%), sikap kurang (90,6%), dan perilaku kurang (78,3%).Kesimpulan. Hampir seluruh anak perempuan responden disirkumsisi (97,1%). Mayoritas responden memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang kurang mengenai sirkumsisi pada anak perempuan (87,7%, 90,6%, dan 78,3%). Sirkumsisi dilakukan seluruhnya pada usia di bawah 5 tahun, terutama karena alasan agama. Pelaku sunat pada anak perempuan adalah bidan. Delapanpuluhtiga persen responden tidak mengetahui tentang surat edaran Departemen Kesehatan mengenai larangan medikalisasi sunat pada perempuan.
Diagnosis dan Tata Laksana Sifilis Kongenital Mutiara Siagian; Rinawati Rinawati
Sari Pediatri Vol 5, No 2 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.2.2003.52-7

Abstract

Seorang bayi perempuan yang menderita sebagai sifilis kongenital dilahirkan oleh ibudengan diagnosis sifilis stadium II yang tidak mendapat pengobatan. Pada umumnyadidapatkan hepatosplenomegali, ikterus, kelainan kulit, pseudoparalisis, anemia,trombositopenia maupun monositosis, pada pemeriksaan fisik maupun laboratoriumnamun, manifestasi klinis tersebut tidak ditemukan pada kasus ini. Hal ini sesuai dengankepustakaan yang menyatakan bahwa 50% bayi dengan sifilis kongenital asimtomatik.Pemeriksaan mikroskopik lapangan pandang gelap tidak dilakukan karena tidakdidapatkan bahan pada bayi berupa sekret hidung maupun serum dari lesi kulit.Pemeriksaan radiologi didapatkan gambaran radio luser di metafisis tulang femur kanandan kiri disertai penebalan korteks, penebalan korteks juga tampak di humerus kanan;kelainan ini sesuai dengan sifilis kongenital. Pasien ini diobati dengan penisilin prokain75 000 U/kali intra muskular satu kali sehari selama sepuluh hari. Pemantauan secaraklinis dan pemeriksaan serologis perlu dilakukan secara berkala. Pada usia 51 hari, tidakdidapatkan kelainan. Keadaan umum baik, didapatkan kenaikan berat badan 27 gram/hari, dan penambahan tinggi badan 8 sentimeter dalam 51 hari. Pemantauan selanjutnyayang diperlukan adalah pemeriksaan klinis setiap bulan sampai bulan ke-3, kemudianbulan ke-6 dan ke-12 sesudah pengobatan dan pemantauan serologi VDRL direncanakanpada bulan ke-3 dan ke-6 untuk menilai keberhasilan terapi yang diberikan. Denganterapi yang adekuat diharapkan komplikasi sifilis kongenital dini dan lanjut tidak terjadi.
Pola Kuman, Sensitifitas Antibiotik dan Risiko Kematian oleh Kuman Staphylococcus coagulase Negatif pada Sepsis Neonatorum di RS DR Moewardi Surakarta Yulidar H; Sri Martuti; Sunyataningkamto Sunyataningkamto
Sari Pediatri Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.406 KB) | DOI: 10.14238/sp8.2.2006.122-6

Abstract

Latar belakang. Sepsis neonatorum merupakan penyebab kematian tertinggi padaneonatus. Sebagai pedoman antibiotik yang akan diberikan diperlukan data pola kumansecara berkala. Beberapa Negara telah melaporkan infeksi Staphylococcus coagulasenegative (CoNS) yang merupakan kuman komensal kulit, sebagai penyebab sepsisneonatorum awitan lambat.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola kuman dan jenis antibiotikyang sensitif pada bayi sepsis yang dirawat di bangsal neonatus RS Dr. MoewardiSurakarta dan risiko kematian oleh Staphylococcus coagulase negatif (CoNS).Metoda. Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan mengambil data dari rekammedis bayi yang dirawat di bangsal neonatus RS Dr. Moewardi (RSDM) Surakarta.Data diambil dari bulan Desember 2004 sampai Desember 2005 dengan diagnosis sepsis,didapatkan hasil kultur kuman positif.Hasil. Didapatkan 49 data dengan kuman positif. Kuman penyebab sepsis didapatkanberturut-turut Enterobacter sebagai penyebab terbanyak 42,9%, diikuti olehStaphylococcus dan Citrobacter masing-masing 18,4%, Streptococcus dan Serratia6,1%, Pseudomonas dan Klebsiella 4,1%. Pada kelompok kuman Enterobactermeropenem merupakan antibiotik dengan sensitifitas paling tinggi (73,7%) dansensitifitas terhadap sefepim 38,1%. Angka kematian secara keseluruhan 57,1%. Padakelompok kuman Enterobacter, Staphylococcus dan Citrobacter angka kematianberturut-turut 57,1%, 33,3% dan 77,8%. Risiko kematian oleh kuman CoNSdibandingkan dengan kuman gram negatif RR 5,5 dengan tingkat kepercayaan 95%(0,97;31,45). Risiko kematian terhadap Staphylococcus aureus juga tidak berbedabermakna.Kesimpulan. Kuman yang paling sering ditemukan pada bayi sepsis di bangsal neonatusRSDM Surakarta adalah Enterobacter. Angka kematian masih tinggi 57,1% dan tidakterdapat perbedaan bermakna pada risiko kematian CoNS dibandingkan dengan kumangram negatif dan Staphylococcus aureus.

Page 44 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue