cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Penilaian Perkembangan Anak Usia 0-36 bulan menggunakan Metode Capute Scales Martin Hertanto; Nahla Shihab; Maelissa P. Ririmasse; Nashrul Ihsan; Maulina Rachmasari; M. Triadi Wijaya; Melyarna Putri; Rini Sekartini; Corrie Wawolumaja
Sari Pediatri Vol 11, No 2 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.912 KB) | DOI: 10.14238/sp11.2.2009.130-5

Abstract

Latar belakang. Proses pertumbuhan dan perkembangan anak amatlah penting. Mengetahui secara dini gangguan perkembangan diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih baik. Berbagai metode untuk mendeteksi gangguan perkembangan pada anak, antara lain metode Capute Scales (CAT/CLAMS) adalah uji tapis spesifik menilai kemampuan komunikasi dan fungsi kognitif untuk anak berusia 0-36 bulan.Tujuan. Mengetahui hubungan antara beberapa faktor risiko terjadinya gangguan perkembangan dengan status perkembangan anak usia 0-36 bulan.Metode. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang. Pemeriksaan dilakukan terhadap 75 anak di RW 03, Kelurahan Pulo Gadung menggunakan skrining CAT/CLAMS dan pertanyaan tersebut diajukan kepada ibu. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling.Hasil. Diperoleh status perkembangan normal sebesar 84%, suspek gangguan perkembangan 13,3%, gangguan komunikasi 3%, dan tidak ditemukan subjek yang mengalami retardasi mental. Sejumlah faktor risiko yang diteliti adalah jenis kelamin, pemberian ASI eksklusif, urutan anak, usia ibu saat hamil, pendidikan ibu atau pengasuh, jumlah anak, jumlah penghasilan keluarga dan bentuk keluarga. Secara statistik tidak ada faktor risiko yang bermakna.Kesimpulan. Jenis kelamin laki-laki, tidak mendapat ASI eksklusif, ibu dengan tingkat pendidikan tinggi, jumlah anak lebih dari dua, bentuk keluarga inti mempunyai kecenderungan lebih besar menderita status perkembangan yang tidak normal. Namun tidak dapat dibuktikan hubungan bermakna secara statistik antara faktor-faktor yang diteliti dengan status perkembangan anak.
Intoleransi Laktosa pada Anak dengan Nyeri Perut Berulang Elizabeth Yohmi; Aswitha D. Boediarso; Badriul Hegar; Pramita G. Dwipurwantoro; Agus Firmansyah
Sari Pediatri Vol 2, No 4 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.4.2001.198-204

Abstract

Sakit perut berulang (SPB) merupakan masalah yang sering ditemukan pada anakterutama dalam hal pendekatan diagnosis dan tatalaksana. Sebagian besar penyebabSPB adalah gangguan fungsional dan hanya sebagian kecil (10%) yang disebabkan olehkelainan organik. Intoleransi laktosa dilaporkan merupakan penyebab SPB terbanyakpada anak berusia di atas 5 tahun. Intoleransi laktosa terjadi akibat ketidakmampuanlaktase menghidrolisis laktosa yang masuk ke dalam usus halus. Manifestasi klinis yangdiperlihatkan sangat bervariasi seperti mual, muntah, sakit perut, kembung, sering flatusdan diare. Berbagai pemeriksaan penunjang dapat digunakan untuk mendiagnosiskeadaan intoleransi laktosa. Uji hidrogen napas merupakan alat diagnostik pilihan saatini, karena bersifat non invasif dan mempunyai nilai sensitifitas dan spesifisitas yangtinggi, serta sangat mudah dan aman dilakukan pada anak. Biopsi usus masih merupakanuji diagnostik baku emas untuk mengukur aktivitas laktase. Prevalens intoleransi laktosadi berbagai tempat di dunia sangat beragam. Ras dan pola hidup dalam mengkonsumsisusu/produk susu dilaporkan berperan pada aktivitas laktase. Di Indonesia, prevalensintoleransi laktosa pada anak pernah dilaporkan dengan memperlihatkan peningkatanprevalens sesuai dengan bertambahnya usia, tetapi prevalens intoleransi laktosa padaanak yang menderita SPB belum pernah dilaporkan.
Penggunaan Metilxantin pada Bayi Prematur dengan Apne Idiopatik Susprawita Sari; Guslihan Dasa Tjipta; Dachrul Aldy
Sari Pediatri Vol 6, No 3 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.3.2004.129-33

Abstract

Apne idiopatik pada bayi prematur terjadi tanpa faktor predisposisi yang teridentifikasi.Insidens apne idiopatik bervariasi, berbanding terbalik dengan usia gestasi. Awitan apneidiopatik biasanya terjadi pada hari kedua sampai hari ketujuh kehidupan, jarang padahari pertama. Diagnosis dibuat berdasarkan gejala klinis. Apne pada bayi prematur yangbukan disebabkan oleh faktor yang teridentifikasi dapat diobati dengan metilxantin(kafein, teofilin). Metilxantin merangsang ventilasi melalui mekanisme sentral ataudengan peningkatan kekuatan diafragma. Kafein lebih disukai daripada teofilin karenakafein mempunyai beberapa keuntungan dan efek samping yang lebih sedikit. Pemberianobat harus disertai monitoring konsentrasi plasma dan klinis yang hati-hati.
Penilaian PEDS pada Anak Usia 6-72 bulan Hesti Lestari; Rini Sekartini
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.865 KB) | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.7-12

Abstract

Latar belakang. Pemantauan tumbuh kembang secara berkala sangat penting untuk mendeteksi secaradini penyimpangan perkembangan anak. Tahap awal penapisan perkembangan dapat melibatkan orangtuadan setelah diketahui anak memerlukan evaluasi lebih lanjut, dilakukan uji tapis yang lebih rinci dankompleks. Salah satu instrumen uji tapis yang peruntukkan pada orangtua adalah parents evaluation ofdevelopmental status (PEDS).Tujuan Penelitian. Penelitian bertujuan untuk mengetahui penggunaan PEDS sebagai alat uji tapisperkembangan anak dan mengetahui sebaran kekhawatiran orangtua pada aspek perkembangan yang dinilaidalam kuesioner PEDS.Metode. Penelitian deskriptif potong lintang dilakukan pada 82 anak sehat berusia 6-72 bulan di YayasanBalita Sehat, Jakarta pada bulan Agustus 2006 sampai dengan September 2006. Pengisian kuesioner ujitapis perkembangan PEDS dilakukan dengan cara wawancara.Hasil. Dari 82 anak yang diteliti, 16 (19,5%) anak termasuk dalam langkah A yaitu kelompok risikotinggi untuk mendapatkan masalah perkembangan dan memerlukan rujukan untuk evaluasi lebih lanjut.Langkah B yaitu 33 (40,2%) anak termasuk kelompok risiko sedang dan memerlukan skrining, stimulasidan pemantauan lanjut, kelompok risiko rendah 14 (17,1%) anak termasuk langkah C memerlukanbimbingan tingkah laku dan 19 (23,2%) anak termasuk langkah E yaitu berisiko rendah dan hanya perlupemantauan rutin.Kesimpulan. Kelompok risiko tinggi dan sedang kelainan perkembangan pada penelitian ini lebih tinggidari penelitian lain. Hal yang mungkin berperan adalah tingginya kekhawatiran orangtua terhadap penyakitdan masalah kesehatan lainnya yang dalam uji tapis PEDS merupakan indikator bermakna adanya gangguanperkembangan
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Bronkiolitis Akut Ida Bagus Subanada; Darmawan B Setyanto; Bambang Supriyatno
Sari Pediatri Vol 10, No 6 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.6.2009.392-6

Abstract

Latar belakang. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya bronkiolitis akut. Seperti halnya usia, jenis kelamin, lahir kurang bulan, berat lahir rendah, jumlah keluarga serumah, status gizi, air susu ibu (ASI), paparan asap rokok, riwayat atopi, dan imunisasi BCG.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara ASI, paparan asap rokok, riwayat atopi, dan BCG dengan bronkiolitis akut.Metode. Desain potong lintang, data didapat dari rekam medis pasien yang dirawat. Analisis data dengan metode univariat dan multivariat, tingkat kemaknaan α=0,05 (IK95%).Hasil. ASI dan paparan asap rokok tidak berhubungan dengan bronkiolitis akut, sedangkan riwayat atopi pada orangtua, parut BCG, dan jenis kelamin berhubungan dengan bronkiolitis akut{RP 20,41 (IK95% 1,09;333,33), p=0,043, RP 0,23 (IK95% 0,07; 0,79), p=0,019, dan RP 3,42 (IK95% 1,10;10,64), p=0,034)}.Kesimpulan. Riwayat atopi pada orangtua, parut BCG, dan jenis kelamin berhubungan dengan bronkiolitis akut.
Permasalahan Diagnostik Sindrom Alagille Purnamawati SP; Sander T
Sari Pediatri Vol 2, No 3 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.936 KB) | DOI: 10.14238/sp2.3.2000.132-8

Abstract

Sindrom Alagille (SA) adalah suatu kelainan yang diturunkan secara autosomal dominanakibat defek pada gen JAG1 di kr20p12. Gen ini diekspresikan di berbagai sistem denganmanifestasi mayor kolestasis kronik, kelainan jantung, mata, tulang vertebra, dan bentukwajah yang khas. Umumnya disertai pula dengan manifestasi minor seperti gangguantumbuh-kembang, perdarahan intrakranial, gangguan ginjal dan pankreas. Diagnosispasti berdasarkan pada gambaran histopatologi hati berupa paucity of the interlobularbile ducts. Prognosis umumnya tergantung pada beratnya kelainan hati dan/atau jantung.Penyebab mortalitas lainnya adalah perdarahan intrakranial akibat kelainan vaskularsusunan saraf pusat. Terapi suportif dietetik dan medikamentosa diberikan untukmeringankan komplikasi kolestasis kronik. Sebagian pasien membutuhkan terapi definitifberupa transplantasi hati. Kasus yang dilaporkan adalah anak perempuan berusia 22bulan yang menderita kolestasis sejak usia 2 bulan. Kemungkinan SA tidak dipikirkansejak awal karena tidak ditemukan penampakan wajah yang khas. Pemeriksaan selanjutnyamenunjukkan adanya bile duct paucity dengan sirosis dan hipertensi portal (ringan),embrio-tokson posterior, defek septum atrium, gangguan tumbuh-kembang dan kelainanginjal. Prognosis kasus ini tidak baik mengingat telah terjadinya komplikasi sirosis. Dilain pihak, diperlukan pemantauan ketat untuk mengantisipasi perdarahan varises,perdarahan intrakranial dan fraktur berulang. Pruritus yang hebat tidak berhasil diatasidengan terapi medikamentosa sehingga akan memperburuk kualitas hidup anak. Padakolestasis intrahepatik, perlu dipikirkan kemungkinan SA, terutama bila ditemukanberbagai kelainan sistem organ lainnya.
Kelainan Kardiovaskular pada Sindrom Gawat Nafas Neonatus Ramona Tobing
Sari Pediatri Vol 6, No 1 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.237 KB) | DOI: 10.14238/sp6.1.2004.40-6

Abstract

Sindrom gawat napas neonatus(SGNN) atau respiratory distress syndrome (RDS)merupakan penyebab morbiditas utama pada anak. Sindrom ini paling banyak ditemukanpada BBLR terutama yang lahir pada masa gestasi < 28 minggu. Penyebab terbanyak(SGNN) adalah penyakit membran hialin (PMH) yang terjadi akibat kekurangansurfaktan. Kelainan paru ini membawa akibat pada sistem kardiovaskular sepertiterjadinya pengisian ventrikel kiri yang menurun, penurunan isi sekuncup, curah jantungyang menurun, bahkan dapat terjadi hipotensi sampai syok. Resistensi pembuluh darahparu yang meningkat dapat menimbulkan hipertensi pulmonal persisten. Pada bayiyang sembuh dari PMH dapat terjadi duktus arteriosus persisten (DAP). Pemeriksaanpenunjang radiologis, laboratorium, EKG dan ekokardiografi sangat diperlukan untukmembantu menegakkan diagnosis RDS. Tata laksana penyakit ini sangat tergantungpada tingkat gangguan kardiovaskular yang terjadi.
Kesiapan Fisik dan Pengetahuan Remaja Perempuan Sebagai Calon Ibu dalam Membina Tumbuh Kembang Balita dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya Wan Nedra; Soedjatmiko Soedjatmiko; Agus Firmansyah
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.3.2006.209-17

Abstract

Latar Belakang. Dua puluh satu persen penduduk Indonesia adalah remaja. Hanya11,6% lulusan SMU yang melanjutkan ke perguruan tinggi, yang tidak melanjutkanantara lain memasuki jenjang perkawinan, padahal perkawinan pada usia muda sangatmengundang risiko yang tidak bisa diabaikan. Mereka yang memasuki jenjangperkawinan, umumnya mempunyai kesiapan fisik dan pengetahuan yang belum memadai,sehingga perlu disiapkan. Seorang ibu yang mempunyai pengetahuan yang baik akanmenghasilkan tumbuh-kembang balita yang baik pula, khususnya dalam tiga tahunpertama usia anak.Tujuan Pustaka. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kesiapan fisik, dan pengetahuanremaja perempuan terhadap tumbuh kembang balita.Metoda. Penelitian merupakan studi analitik potong lintang pada remaja perempuansiswi SMU di 7 sekolah di Jakarta Timur, yang dilaksanakan Januari 2006 sampai Maret2006. Setelah mendapat persetujuan penelitian maka dilakukan pemeriksaan fisis danpengambilan sampel darah untuk pemeriksaan hemoglobin. Selanjutnya responden mengisikuesioner untuk mengetahui pengetahuan mereka tentang tumbuh kembang balita.Hasil. Dari 300 responden diperoleh rerata umur 17,2 tahun, suku Jawa 40,2 % danumumnya tinggal dengan orang tua (75,7%). Responden yang anemia sebanyak 25,36%,gizi kurang 18,5%, gizi baik 74,4%, gizi lebih 4,7%, dan obesitas 2,3%. Sumber informasiyang berhubungan dengan masalah tumbuh kembang balita hanya 13,6% berasal darisumber formal yaitu orang tua, guru dan tenaga kesehatan. Remaja yang berpengetahuantinggi didapatkan sebanyak 19%, pengetahuan sedang 33%, dan pengetahuan rendah48%. Remaja yang tidak siap menjadi calon ibu secara fisik didapatkan pada 42,3%.Kesiapan pengetahuan didapatkan pada 63,7% remaja, sedangkan kesiapan fisik danpengetahuan yang memadai didapatkan pada 31,3%. Tidak ada hubungan antara kesiapanresponden untuk menjadi calon ibu dengan demografi keluarga dan sumber informasi.Kesimpulan. Lebih dari separuh remaja (57,7%) telah mempunyai kesiapan fisik untukmenjadi calon ibu. Kesiapan pengetahuan remaja terhadap materi tumbuh kembang balitasebesar 63,7 %. Tingkat kesiapan fisik dan pengetahuan remaja menjadi calon ibu sebesar31,3%. Tidak ada hubungan antara karakteristik keluarga dan sumber informasi dengankesiapan remaja perempuan SMU di Jakarta Timur untuk menjadi calon ibu.
Ketuban Pecah Dini dan Demam Intrapartum Sebagai Faktor Risiko Sepsis Neonatorum Onset Dini Naufal Sastra Negara; Setya Wandita; Purnomo Suryantoro
Sari Pediatri Vol 10, No 5 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.701 KB) | DOI: 10.14238/sp10.5.2009.351-6

Abstract

Latar Belakang. Sepsis neonatorum onset dini masih merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang penting pada neonatus. Beberapa studi menunjukkan bahwa faktor maternal berhubungan dengan peningkatan risiko sepsis neonatorum onset dini. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah ketuban pecah dini dan demam intrapartum.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara ketuban pecah dini dan demam intrapartum terhadap peningkatan risiko sepsis neonatorum onset diniMetode. Penelitian kohort dilakukan secara prospektif selama 2 tahun, antara bulan Januari 2006 sampai dengan Desember 2007 di Instalasi Maternal-Perinatal RS. Dr.Sardjito, Yogyakarta. Neonatus yang terpapar ketuban pecah dini dan/atau demam intrapartum dimasukkan dalam penelitan dan diikuti selama 72 jam. Kriteria eksklusi adalah kelainan bawaan dan/atau lahir dari ibu yang mendapatkan antibiotik intrapartum. Diagnosis sepsis dinilai dalam 72 jam pertama kehidupan berdasarkan kriteria klinis dan konfirmasi biakan positif. Pengukuran hubungan antara paparan dan sepsis ditampilkan dengan risiko relatif (RR) dan interval kepercayaan 95% (IK 95%).Hasil. Didapatkan 5,3% dari 190 neonatus dengan paparan ketuban pecah dini (RR 1,76; IK 95% 0,71-4,37), 12,8% dari 47 neonatus dengan paparan demam intrapartum (RR 4,26; IK 95% 1,55-11,7), dan 12,9% dari 31 neonatus dengan paparan ketuban pecah dini yang disertai demam intrapartum (RR 4,31; IK 95% 1,38-13,5) berkembang menjadi sepsis onset dini secara klinis yang disertai konfirmasi hasil biakan positif. Analisis stratifikasi berdasarkan maturitas kehamilan dan berat badan lahir, diikuti dengan penghitungan menggunakan statistik Mantel-Haenszel, menunjukkan hasil yang tidak berbeda secara bermakna. Meskipun demikian. risiko relatif ketuban pecah dini pada kelompok neonatus cukup bulan dan/atau berat badan lahir cukup tidak meningkat secara bermakna (RR 1,12; IK 95% 0,44-2,86 dan RR 1,33; IK 95% 0,57-3,84).Simpulan. Demam intrapartum merupakan faktor risiko independen sepsis onset dini, sementara ketuban pecah dini meningkatkan risiko secara bermakna pada kelompok neonatus kurang bulan dan berat badan lahir rendah.
Diaper Rash dan Teknologi DermaCream Siti Aisah Boediardja
Sari Pediatri Vol 3, No 1 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.1.2001.36-41

Abstract

Diaper rash atau ruam popok sering dijumpai dalam praktek sehari-hari, namun seringkali tidak menjadi masalah karena dianggap ringan. Kelainan tersebut lebih sering terjadi pada bayi yang sering ngompol dan diare. Namun, sering terjadi salah diagnosis karena diaper rash, sebenarnya hanya merupakan simptom klinis, dan mirip dengan berbagai penyakit kulit lain yang sering dijumpai di daerah popok antara lain dermatitis seboroik, napkin psoriasis, kandidiasis, penyakit Leterrer Siwe, dan akrodermatitis enteropatika. Kunci keberhasilan pengobatan diaper rash, adalah senantiasa menjaga kulit bayi tetap kering, yaitu dengan mengganti popok setiap kali ngompol atau mengganti disposable diaper bila daya tampung popok sudah tercapai. Teknologi baru disposable diaper dengan DermaCream (mengandung petrolatum) yang dilapiskan di atasnya terbukti mampu mengurangi frekuensi terjadinya diaper rash.

Page 55 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue