cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Kesulitan Belajar pada Anak Sekolah dengan Riwayat Berat Lahir Sangat Rendah Adillida Adillida; SM Manoeroeng; Iskandar Z. Lubis
Sari Pediatri Vol 5, No 3 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.3.2003.127-30

Abstract

Angka kehidupan bayi berat lahir sangat rendah semakin meningkat. Bagaimanaperkembangan bayi berat lahir sangat rendah ini di dkemudian hari masih menjadipertanyaan. Sebagian laporan mendapatkan bahwa terdapat berbagai gangguanperkembangan berupa kesulitan belajar dan gangguan tingkah laku pada anak-anaktersebut. Diperlukan suatu intervensi dan strategi penanganan untuk meningkatkankualitas hidup anak tersebut di kemudian hari.
Kasus Kekerasan pada Anak Sekolah (School Bullying) Fiva A Kadi; Eddy Fadlyana
Sari Pediatri Vol 8, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.247 KB) | DOI: 10.14238/sp8.4.2007.316-21

Abstract

Abstrak. School bullying atau kekerasan pada anak di sekolah adalah situasi/ keadaanyang seorang anak mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman atau kakakkelasnya berupa bentuk tindakan kekuasaan secara berulang dan intensif yangmenyebabkan nyeri atau ketidaknyamanan pada anak lain. Hal ini dapat terjadi diberbagai tingkat sekolah, mulai sekolah Taman Kanak-kanak sampai perguruan tinggi.Dilaporkan seorang anak perempuan berusia 7 tahun datang ke poli Tumbuh KembangPediatrik Sosial RS Hasan Sadikin dengan keluhan utama sering pusing pada pagi harisetiap akan pergi ke sekolah, yang mulai dirasakan dalam 3 bulan terkahir. Tidak disertaidengan keluhan demam, mual, muntah, kejang ataupun penurunan kesadaran dan tidakdidahului dengan trauma kepala. Pasien mengalami tekanan dari teman-temannya dikelasnya berupa ejekan atau perintah yang membuat penderita tidak nyaman, malaspergi ke sekolah, sering pusing jika di sekolah atau mau pergi ke sekolah, prestasi belajarmulai menurun. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien sadar dan kontak adekuat,tampak malu dan bergantung pada ibunya serta kurang percaya diri. Tidak ditemukankelainan neurologis. Pemeriksaan EEG dan CT scan dalam batas normal. Pemeriksaanpraskrining dengan KMME (kuesioner masalah mental emosional) didapatkan adanyamasalah mental emosional. Penderita dirujuk ke bagian psikiatri dan didapatkan bahwapenderita mengalami depresi. Depresi pada anak dapat disebabkan adanya kekerasanpada anak sekolah (school bullying). Penatalaksanaan harus dilakukan secarakomprehensif yang melibatkan keluarga dan lingkungan.
Hubungan antara Kadar Albumin dan Kalsium Serum pada Sindrom Nefrotik Anak Dina Garniasih; Julistio T. B. Djais; Herry Garna
Sari Pediatri Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.2.2008.100-5

Abstract

Latar belakang. Salah satu komplikasi sindrom nefrotik (SN) adalah gangguan metabolisme mineral, yaitu hipokalsemia, yang dapat menyebabkan tetani, gangguan pembentukkan tulang, dan penyakit tulang metabolik. Penyakit SN merupakan kelainan glomerulus yang ditandai dengan proteinuria, hipoalbuminemia, dan edema. Pada proteinuria, protein-binding berukuran sedang ikut terbuang. Setengah jumlah kalsium total serum berikatan dengan protein (terutama albumin), akibatnya hipoalbuminemia yang terjadi pada anak SN dapat menyebabkan hipokalsemia.Tujuan. Penelitian untuk mengetahui hubungan antara kadar albumin dan kalsium serum pada anak SN.Metode. Penelitian dengan rancangan cross-sectional terhadap 43 anak SN yang memenuhi kriteria inklusi dan diambil secara consecutive admission yang berobat/dirawat di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS dr. Hasan Sadikin Bandung mulai bulan Juli sampai September 2007 kemudian dilakukan pemeriksaan kadar albumin dan kalsium serum. Untuk melihat keeratan hubungan antara kadar albumin dan kalsium serum dilakukan analisis dengan menggunakan uji korelasi Pearson, serta untuk melihat bentuk hubungannya dilakukan analisis regresi linier.Hasil. Subjek terdiri dari 33 (77%) anak laki-laki dan 10 (23%) anak perempuan, berusia rata-rata 6,80 (SB 3,39) tahun. Diperoleh hasil rata-rata kadar albumin serum 1,50 (SB 0,377) g/dL, dan kalsium serum 7,27 (SB 0,772) mg/dL. Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan korelasi (r=0,547) yang sangat bermakna (p=0,000) antara kadar albumin dan kalsium serum. Hasil analisis regresi menunjukkan hubungan linier yang positif antara kadar albumin (x) dan kalsium serum (y), dengan persamaan Ý = 5,59 + 1,12 x.Kesimpulan. Semakin menurun kadar albumin serum pada anak yang menderita sindrom nefrotik, semakin menurun kadar kalsium serum.
Perbedaan Tingkat Kemandirian Anak Usia Prasekolah yang Mengikuti Program Sekolah Full Day Dibandingkan dengan Half Day Dina Rismawati; Mei Neni Sitaresmi; Ratni Indrawanti
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.378 KB) | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.185-9

Abstract

Latar belakang. Tujuan orangtua memasukkan anak pada program sekolah full day adalah untuk memenuhi kebutuhanperkembangan anak khususnya kemandirian. Hubungan antara tingkat kemandirian anak usia prasekolah dengan keikutsertaandalam program sekolah full day masih terdapat kontroversi.Tujuan. Mengetahui perbedaan tingkat kemandirian anak usia prasekolah yang mengikuti program sekolah full day dibandingkandengan half day.Metode. Rancangan penelitian potong lintang dengan besar sampel 116 anak usia 36 sampai 60 bulan pada 7 kelompok bermaindi Yogyakarta. Data dianalisis dengan menggunakan independent t test dan regresi linier.Hasil. Skor kemandirian anak usia prasekolah yang mengikuti program sekolah full day lebih tinggi dibandingkan dengan halfday 115,67+15,90 vs 109,98+18,28 (IK95%: -0,61-11,99; p=0,07). Skor kemandirian anak yang mendapat stimulasi adekuatlebih tinggi dibandingkan dengan stimulasi tidak adekuat 116,59+15,78 vs 104,11+17,71, (IK95%: 5,92-19,04; p<0,001). Skorkemandirian anak dengan ayah berpendidikan tamat perguruan tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan berpendidikan menengah114,40 +17,35 vs 104,28+14,64, (IK95%: 1,50-18,74; p=0,022).Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan bermakna tingkat kemandirian anak usia prasekolah yang mengikuti program sekolah fullday dibandingkan half day. Anak dengan stimulasi adekuat dan ayah berpendidikan tamat perguruan tinggi mempunyai tingkatkemandirian lebih tinggi dibandingkan anak dengan stimulasi tidak adekuat dan ayah berpendidikan menengah.
Gambaran Klinis Asidosis Tubulus Renalis pada Anak Sudung O. Pardede; Partini P. Trihono; Taralan Tambunan
Sari Pediatri Vol 4, No 4 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp4.4.2003.192-7

Abstract

Asidosis tubulus renalis merupakan penyakit yang jarang dijumpai, mempunyaimanifestasi klinis yang tidak spesifik; ditandai dengan asidosis metabolik hiperkloremik,senjang anion plasma dan laju filtrasi glomerulus normal. Gambaran klinis dapat berupagangguan pertumbuhan, anoreksia, muntah, konstipasi, diare, dehidrasi, dan poliuria.Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif deskriptif terhadap pasien asidosistubulus renalis primer maupun sekunder di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCMJakarta antara tahun 1975-1995. Selama 20 tahun didapatkan 12 kasus asidosis tubulusrenalis yang terdiri dari 6 anak laki-laki dan 6 perempuan. Usia saat diagnosis ditegakkanantara 4 bulan sampai 11 tahun, rerata 5 tahun 2 bulan. Asidosis tubulus renalis distalmerupakan jenis yang paling sering ditemukan yaitu 8 pasien, sedangkan asidosis tubulusrenalis proksimal 4 pasien. Gangguan motorik tungkai bawah merupakan keluhan utamayang paling sering ditemukan yaitu pada 9/12 pasien (7 pasien tidak dapat berjalan ataulumpuh dan 2 pasien dengan tulang bengkok dan fraktur). Muntah-muntah disertaidehidrasi merupakan keluhan utama pada 2 pasien sedangkan gagal tumbuh pada 1pasien. Malnutrisi dengan berat badan < P3 NCHS didapatkan pada 10 pasien sedangkangangguan pertumbuhan dengan tinggi badan < P3 NCHS didapatkan pada 11 pasien.Sebagai kesimpulan, asidosis tubulus renalis merupakan penyakit yang sangat jarangdengan manifestasi klinis yang tidak spesifik sehingga diagnosis seringkali terlambat.Gangguan motorik tungkai bawah merupakan keluhan utama yang paling seringditemukan.
Pengenalan Acquired Immunodeficiency Syndrome pada Pasien Anak Ditinjau dari Bidang Kedokteran Gigi Anak Essie Octiara; Miftakhul Cahyati; Virmala Indah Aulia
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.3.2006.231-7

Abstract

Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakityang disebabkan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). 1 Di dunia pada tahun2002 sebanyak 3,2 juta anak telah terinfeksi HIV. Penularan HIV/AIDS pada anakdapat terjadi antara lain melalui tranfusi darah serta oleh ibu yang terinfeksi kepada bayiyang dikandungnya. Manifestasi pada rongga mulut merupakan salah satu gejala yangpertama kali timbul dan paling dapat dipercaya akan adanya infeksi HIV pada anak, danhal ini penting dalam mendiagnosis awal infeksi HIV serta dalam memberikan upayaintervensi dini. Manifestasi oral pada pasien anak dengan infeksi HIV berupa infeksijamur, virus, bakteri, neoplasma ataupun lesi idiopatik. Peran dokter gigi anak dalampreventif kesehatan mulut bagi pasien anak HIV antara lain melakukan supervisi semuapemberian makanan dengan botol, managemen medikasi yang kariogenik, sertamelakukan sealant dan pemberian fluor secara sistemik dan topikal.
Paralisis Periodik Hipokalemik pada Anak dengan Asidosis Tubulus Renalis Distal Elsye Souvriyanti; Sudung O. Pardede
Sari Pediatri Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.72 KB) | DOI: 10.14238/sp10.1.2008.53-9

Abstract

Paralisis periodik hipokalemik merupakan kelainan yang relatif jarang ditemukan, tetapi berpotensi menimbulkangejala klinis yang dapat mengancam jiwa. Dilaporkan satu kasus PPH yang disebabkan asidosistubulus renalis distal pada anak perempuan usia 14 tahun yang datang dengan keluhan kelemahan ototekstremitas akut berulang, dicetuskan oleh muntah-muntah, latihan fisik yang berat dan makan makananyang banyak mengandung karbohidrat. Pada pemeriksaan fisis ditemukan penurunan kekuatan motorik,penurunan refleks tendon, tanpa disertai penurunan kesadaran. Pada pemeriksaan laboratorium menunjukkanhipokalemia, asidosis metabolik hiperkloremik, senjang anion plasma normal, dan senjang anionurin yang positif. Pasien diterapi dengan kalium dan natrium bikarbonat dengan hasil perbaikan.
Terapi Inhalasi pada Asma Anak Bambang Supriyatno; Heda Melinda D Nataprawira
Sari Pediatri Vol 4, No 2 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.916 KB) | DOI: 10.14238/sp4.2.2002.67-73

Abstract

Pemberian obat pada asma dapat berbagai macamn cara yaitu parenteral, per oral, atauperinhalasi. Pemberian per inhalasi adalah pernberian obat secara langsung ke dalamsaluran nafas melalui penghisapan. Pernberian obat secara inhalasi mempunyai beberapakeuntungan yaitu obat bekerja langsung pada saluran nafas, onset kerjanya cepat, dosisobat yang digunakan kecil, serta efek samping yang minimal karena konsentrasi obat didalam darah sedikit atau rendah. Pemberian aerosol yang ideal adalah dengan alat yangsederhana, mudah dibawa, tidak mahal, secara selektif mencapai saluran nafas bawah,hanya sedikit yang tertinggal di saluran nafas atas serta dapat digunakan oleh anak,orang cacat atau orang tua. Namun keadaan ideal tersebut tidak dapat sepenuhnya tercapaidengan adanya beberapa keuntungan dan kerugian masing-masing jenis alat terapiinhalasi. Terapi inhalasi dapat diberikan dengan inhaler dosis terukur (metered doseinhaler=MDI), MDI dengan bantuan spacer, nebulizer, intermitten positive pressurebreathing, rotahaler, atau diskhaler. Jenis terapi inhalasi di atas mempunyai keuntungandan kerugian masing-masing. Keberhasilan terapi inhalasi ditentukan oleh indikasi, carapemilihan obat, jenis obat, dan cara pemberiannya. Pada asma anak, baik tatalaksanaserangan (Pereda, reliever) maupun tatalaksana jangka panjang (pengendali, controller)sangat dianjurkan penggunaan secara inhalasi. Penggunaan terapi inhalasi merupakanpilihan tepat pada asma karena banyak manfaat yang didapat seperti onset kerjanyacepat, dosis obat kecil, efek samping minimal, dan langsung mencapai target. Namundemikian, terapi inhalasi ini mempunyai beberapa kendala yaitu tehnik dan carapemberian yang kurang tepat sehingga masih banyak yang tidak menggunakannya.Dengan mengetahui hal di atas diharapkan pengobatan asma mencapai kemajuan yangcukup berarti.
Hepatoblastoma di Rumah Sakit Dr. Ciptomangunkusumo Jakarta: peran kemoterapi preoperatif Ringoringo HP; Endang Windiastuti; Djajadiman Gatot
Sari Pediatri Vol 7, No 4 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (937.984 KB) | DOI: 10.14238/sp7.4.2006.207-13

Abstract

Latar belakang: hepatoblastoma adalah tumor yang jarang ditemukan, namunmerupakan tumor ganas primer hati yang paling banyak pada masa kanak-kanak. Sejakdiperkenalkan rejimen kemoterapi untuk penanganan hepatoblastoma, angkakelangsungan hidup pasien meningkat.Tujuan penelitian: untuk mengetahui profil hepatoblastoma anak di DepartemenIlmu Kesehatan Anak RS Cipto Mangunkusumo Jakarta dan menilai efektifitaskemoterapi preoperatifBahan dan Cara: sampel penelitian adalah semua pasien hepatoblastoma baru yangdirawat di Divisi Hematologi Onkologi Departemen IKA FKUI RSCM, Pebruari 1999sampai dengan Pebruari 2005. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran histopatologijaringan tumor. Sebelum mendapatkan kemoterapi, dilakukan pemeriksaan kadar alfafeto protein serum (AFP) dan pemeriksaan radiologis untuk menentukan stadiumpenyakit. Semua pasien mendapat kemoterapi menurut protokol PLADO yang terdiridari sisplatin (80 mg/kgBB/hari) dan doksorubisin (30 mg/kgBB/hari). Evaluasi responspengobatan dilakukan setelah pasien mendapat kemoterapi minimal sebanyak 2 siklus,berupa pemantauan klinis, pemeriksaan kadar AFP, dan pemeriksaan USG / CT scanabdomen. Operasi pengangkatan tumor dilakukan bila setelah pemberian kemoterapimassa tumor dianggap dapat direseksi.Hasil: selama kurun waktu 6 tahun terdapat 14 pasien hepatoblastoma rentang usiaantara 3 bulan sampai 54 bulan, dengan median 7 bulan. Enam pasien laki-laki dan 8pasien perempuan. Semua pasien datang dengan keluhan utama perut yang semakinmembesar. Kadar AFP meningkat pada semua pasien dengan median 323 ng/ml.Pemeriksaan USG, CT scan dan MRI abdomen menunjukkan massa tumor ditemukanpada kedua lobus hati pada 7 pasien, sedang pada 7 pasien lainnya massa tumor hanyapada 1 lobus. Semua pasien datang pada stadium III. Biopsi hati yang dilakukan,menunjukkan gambaran histopatologi jenis epitelial fetal (9), epitelial mesenkimal (2),epitelial fetal-embrional (1), dan 1 jenis mesenkimal. Pada 1 pasien konfirmasi diagnosishanya berdasarkan pemeriksan CT scan abdomen dan kadar AFP. Pemberian kemoterapipreoperatif (protokol PLADO) pada 8 pasien menunjukkan respons yang cukup baik,yang ditandai oleh pengecilan massa tumor dan penurunan kadar AFP.Kesimpulan: Umumnya pasien hepatoblastoma datang dalam stadium lanjut danpemberian kemoterapi preoperatif menunjukkan respons yang baik untuk selanjutnyadapat dilakukan tindakan pembedahan.
Efektivitas dan Keamanan Kombinasi Terfenadin dan Pseudoefedrin pada Anak Rinitis Alergika Nahrawi Nahrawi; Zakiudin Munasir; Abdul Latief
Sari Pediatri Vol 9, No 5 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.5.2008.299-303

Abstract

Latar belakang. Kombinasi terfenadin dan pseudoefedrin telah terbukti efektif mengatasi rinitis alergikatetapi sejak diketahui efek kardiotoksik terfenadin, diperlukan penilaian lanjutan keamanannya padaanak.Tujuan. Mengetahui tingkat keamanan dan efektivitas kombinasi terfenadin dan pseudoefedrin padaanak rinitis alergika.Metode. Penelitian open trial, tanpa kontrol dengan desain before and after. Pasien rinitis alergika denganelektrokardiografi (EKG) normal, diberikan pengobatan kombinasi terfenadin dan pseudoefedrin 5 hari,kemudian penilaian gejala klinis, reaksi simpang dan EKG ulang pasca pengobatan.Hasil.: Lima puluh empat pasien (70,1 %) dengan skala penilaian pengobatan baik, 20 (26%) denganskala sangat baik, dan tidak ditemukan perburukan. Tidak ditemukan perbedaan interval Q-T dan Q-Tcsebelum (0,33 detik dan 0,41 detik) dan sesudah pengobatan (0,33 detik dan 0,41 detik). Pada sebagianbesar pasien (94,8%) tidak dijumpai reaksi simpang.Kesimpulan. Kombinasi terfenadin dan pseudoefedrin pada anak rinitis alergika terbukti aman dan efektif.Sebagian besar pasien tidak ditemukan reaksi simpang dan tidak ditemukan dampak kardiotoksik

Page 56 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue