cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Hubungan antara Kadar High Density Lipoprotein dengan Derajat Sepsis Berdasarkan Skor Pediatric Logistic Organ Dysfunction Emi Yulianti; Antonius H. Pudjiadi; Mardjanis Said; E.M. Dady Suyoko; Hindra Irawan Satari; Pramita Gayatri
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.041 KB) | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.116-21

Abstract

Latar belakang. Sepsis masih merupakan penyebab kematian terbesar di Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Peran high density lipoprotein(HDL) pada keadaan sepsis mengikat dan menetralisir lipopolisakarida (LPS), menghambat adhesi molekul dalam kaskade inflamasi, dan sebagai antioksidan.Tujuan. Mengetahui profil HDL pada anak sepsis serta mengetahui hubungan kadar HDL dengan derajat sepsis berdasarkan skor pediatric logistic organ dysfunction (PELOD). Metode.Studi potong lintang pada anak sepsis di PICU Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) usia 1 bulan- 18 tahun antara April-Agustus 2011.Hasil. Didapatkan 34 subjek, dengan sebaran terbanyak pada kelompok usia <2 tahun (19/34). Terdapat hubungan antara kematian dengan skor PELOD >20 (p=0,000). Lima dari 7 pasien dengan skor PELOD >20 ditemukan mempunyai kadar HDL rendah (p=1). Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara kematian dengan kadar HDL (p=0,248). Terdapat korelasi lemah berbanding terbalik antara kadar HDL dengan skoring PELOD tetapi tidak bermakna secara statistik (r =-0,304, p = 0,080)Kesimpulan. Pasien sepsis dengan skor PELOD tinggi cenderung memiliki kadar HDL rendah.
Peran Vasodilator pada Gagal Jantung Anak Sri Sofyani
Sari Pediatri Vol 3, No 4 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.4.2002.213-21

Abstract

Vasodilator dapat menurunkan tahanan vaskular sistemik dengan memperlebar pembuluhdarah arteriol (mengurangi afterload) dan/atau menurunkan preload (tekanan pengisianventrikel kiri dengan venodilatasi) terbukti berperan dalam penanganan gagal jantungkongestif. Pada pasien gagal jantung berat, jika pengobatan konvensional tidak adekuatmaka penggunaan vasodilator sangat bermanfaat. Pada anak, pemberian vasodilatordiindikasikan pada keadaan tidak responsif terhadap pengobatan konvensional, padapersiapan operasi, keadaan menunggu saat operasi jantung, pasca operasi jantung danjika diperlukan penurunan preload dan/atau after load. Pada makalah ini dibahas beberapajenis vasodilator yang sering dipakai pada gagal jantung anak
Usia Awitan Pubertas dan Beberapa Faktor yang Berhubungan pada Murid SD di Kota Padang Eka Agustia Rini; Elza Desdamona
Sari Pediatri Vol 9, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.639 KB) | DOI: 10.14238/sp9.4.2007.227-32

Abstract

Latar belakang. Beberapa penelitian mendapatkan kecenderungan usia awitan pubertas akhir-akhir inimenjadi lebih cepat dari beberapa tahun yang lalu. Banyak faktor yang mempengaruhinya antara lain ras,indeks massa tubuh (IMT), tingkat sosial ekonomi, penyakit kronis dan sebagainya.Tujuan. Mengetahui rerata usia awitan pubertas anak laki-laki dan perempuan di daerah urban dan sub-urbankota Padang, mengetahui apakah IMT dan tingkat sosial ekonomi berhubungan dengan usia awitan pubertas.Metode. Penelitian cross sectional study dilakukan terhadap 400 murid SD di kota Padang yang dipilihsecara multistage random sampling meliputi daerah urban dan sub-urban. Tingkat maturasi pubertasditentukan berdasarkan skala Tanner, IMT berdasarkan BB/TB2.Hasil. Rerata usia awitan pubertas anak laki-laki di daerah urban 132,50 ± 10,65 bulan (11,04 tahun),sub-urban 133,25 ± 9,13 bulan (11,1 tahun), anak perempuan di daerah urban 129,13 ± 11,71 bulan(10,76 tahun), sub-urban 134,41 ± 9,08 bulan (11,2 tahun). Secara statistik tidak ada perbedaan bermaknausia awitan pubertas anak laki-laki dan perempuan di daerah urban dan sub-urban. Tidak ada hubunganyang bermakna antara IMT dan tingkat sosial ekonomi dengan usia awitan pubertas, meskipun didapatkananak dengan IMT yang lebih tinggi dan tingkat sosial ekonomi cukup lebih cepat memasuki usia awitanpubertas dibandingkan dengan IMT yang lebih rendah dan tingkat sosial ekonomi kurang.Kesimpulan. Rerata usia awitan pubertas anak laki-laki 11,06 tahun, rerata usia awitan pubertas anakperempuan 10,95 tahun. Tidak terdapat perbedaan bermakna usia awitan pubertas anak laki-laki danperempuan antara daerah urban dan sub-urban. Tidak ditemukan hubungan antara usia awitan pubertasdengan IMT dan tingkat sosial ekonomi.
Infeksi Saluran Napas Akut pada Balita di Daerah Urban Jakarta Kholisah Nasution; M. Azharry Rully Sjahrullah; Kartika Erida Brohet; Krishna Adi Wibisana; M. Ramdhani Yassien; Lenora Mohd. Ishak; Liza Pratiwi; Corrie Wawolumaja; Bernie Endyarni
Sari Pediatri Vol 11, No 4 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.884 KB) | DOI: 10.14238/sp11.4.2009.223-8

Abstract

Latar belakang. Infeksi saluran napas akut (ISPA) merupakan penyebab terpenting morbiditas dan mortalitas padaanak terutama usia 6-23 bulan. Beberapa faktor dianggap berhubungan dengan ISPA antara lain, jenis kelamin,usia balita, status gizi, imunisasi, berat lahir balita, suplementasi vitamin A, durasi pemberian ASI, pendidikanibu, pendapatan keluarga, crowding, pajanan rokok, serta pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu terhadap ISPA.Tujuan. Mengetahui angka prevalensi ISPA pada balita di Rukun Warga (RW) 04 Pulo Gadung sertafaktor-faktor yang berhubungan.Metode. Penelitian potong lintang yang dilakukan pada 103 subjek menggunakan guided questionnaire yangvalid dan reliable untuk mengetahui apakah terdapat diagnosis ISPA dalam satu bulan terakhir pada anakusia 6 bulan–59 bulan serta faktor-faktor yang berhubungan, di RW 04 Kelurahan Pulo Gadung, JakartaTimur, pada bulan Desember 2008.Hasil. Prevalensi ISPA pada balita 40,8%, didapatkan hubungan bermakna antara pajanan asap rokok(p=0,006) dan riwayat imunisasi (p=0,017) dengan prevalensi ISPA pada balita. Namun tidak didapatkanhubungan antara jenis kelamin, usia, status gizi subjek, tingkat pendidikan responden, pendapatan keluarga,crowding, jumlah rokok, suplementasi vitamin A, durasi ASI total dengan prevalensi ISPA pada balita.Kesimpulan. Prevalensi ISPA pada balita cukup tinggi dan terdapat hubungan bermakna antara pajananasap rokok dan riwayat imunisasi dengan prevalensi ISPA pada balita
Peran Penambahan DHA pada Susu Formula Helena Anneke Tangkilisan; Hesti Lestari
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.392 KB) | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.147-51

Abstract

Pertumbuhan otak yang pesat dalam masa pacu tumbuh otak membutuhkan bahan60% lemak, diantaranya Docosahexaenoic acid (DHA) yang merupakan asam lemak takjenuh ganda rantai panjang omega 3. Umumnya susu formula yang beredar saat initidak mengandung asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang dengan atom karbonlebih dari 18. ASI bukan hanya mengandung asam oleat (18:2n-6) dan asam linolenat(18:3n-3) tapi juga mengandung asam arakidonat (20:4n-6) dan DHA (22:6n-3). Padamasa janin, DHA dan asam arakidonat didapatkan melalui transfer plasenta. Setelahlahir, diperoleh dari diet atau melalui sintesis pemanjangan rantai dan desaturasi dariasam linoleat dan linolenat. Bayi yang hanya minum susu formula sepenuhnya tergantungpada sintesis endogen dari asam lemak tak jenuh rantai panjang. Penelitian menunjukkandalam korteks cerebri terdapat kadar DHA yang lebih tinggi pada bayi yang mendapatASI dibandingkan dengan yang minum susu formula tanpa DHA. Terdapat perbedaantumbuh kembang antara bayi yang mendapat ASI dan yang mendapat susu formulatanpa DHA. Penambahan DHA dalam komposisi dengan kadar seperti pada ASI telahdirekomendasikan oleh banyak lembaga kesehatan.
Peran Suplementasi Mineral Mikro Seng Terhadap Kesembuhan Diare W Dharma Artana; Sudaryat Suraatmaja; K Nomor Aryasa; IKG Suandi
Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.354 KB) | DOI: 10.14238/sp7.1.2005.15-8

Abstract

Seng termasuk golongan mineral mikro yang sangat esensial bagi tubuh, diabsorpsi diusus halus, terutama pada bagian proksimal jejunum. Defisiensi seng dapat menimbulkanbeberapa keadaan seperti akrodermatitis, alopesia, rabun senja, gangguan tumbuhkembang, gangguan sistem reproduksi, atrofi serta kerusakan mukosa usus halus denganmanifestasi diare, dan menurunnya respons imun. Mineral mikro seng berperan sebagaianti oksidan mempengaruhi absorpsi air dan natrium, meningkatkan metabolismevitamin A, mencegah defisiensi enzim disakaridase, memperbaiki sistem imun, sertasebagai ko-faktor enzim. Maka WHO menganjurkan pemberian suplementasi mineralmikro seng pada pasien diare untuk mempercepat kesembuhan, mencegah terjadinyakomplikasi seperti diare berkepanjangan maupun gizi buruk dan bersifat relatif tidaktoksis.
Pengaruh Kadar Feritin Serum terhadap Fungsi Ventrikel Kiri pada Thalassemia Mayor yang Mendapat Transfusi Multipel Renny Suwarniaty; Teddy Ontoseno; Bambang Permono; Sudigdo Sastroasmoro
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.178-84

Abstract

Latar belakang. Thalassemia adalah penyakit darah yang bersifat diturunkan, transfusi darah secara teraturmerupakan satu-satunya cara untuk memperpanjang hidup.Tujuan. Untuk mengetahui pengaruh kadar feritin serum terhadap fungsi ventrikel kiri pada pasienthalassemia mayor yang mendapatkan transfusi multipel.Metode. Penelitian dengan rancang bangun cross sectional. Dilakukan di Divisi Hematologi - OnkologiRS Dr Sutomo Surabaya dari bulan Agustus-November 2006. Pengambilan sampel secara konsekutif,dibagi menjadi 3 kelompok berdasarkan jumlah transfusi darah yang telah diterima.Hasil. Subjek penelitian 61 anak rerata kadar serum feritin pada kelompok 1: 768,7, kelompok 2: 2338,8,kelompok 3: 5207,3. Hasil ekokardiografi EF < 64% kelompok 1: 3 dari 18 anak (16,7%), kelompok 2: 2dari 15 anak (13,3%), kelompok 3: 8 dari 28 anak (28,6%). Rasio E/A < 1,5 kelompok 1: 6 dari 18 anak(33,3%), kelompok 2: 3 dari 15 anak (20,0%), kelompok 3: 12 dari 28 anak (42,9%). Rasio E/A > 2,5kelompok 1: 1 dari 18 anak (5,6%), kelompok 2: 1 dari 15 anak (6,7%), kelompok 3: 4 dari 28 anak(9,8%). Dengan analisis regresi logistik, ternyata tidak ada hubungan bermakna antara kadar feritin serumdengan gangguan fungsi ventrikel kiri pada subyek penelitian. (p > 0,05)Kesimpulan. Terdapat hubungan antara lama transfusi dengan rasio E/A yang > 2,5, namun tidakdidapatkan hubungan antara kadar serum feritin dengan gangguan fungsi ventrikel kiri pada pasientallasemia mayor yang mendapatkan transfusi secara multipel.
Nefritis Purpura Henoch Schonlein Marissa Tania Stephanie Pudjiadi; Taralan Tambunan
Sari Pediatri Vol 11, No 2 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.553 KB) | DOI: 10.14238/sp11.2.2009.102-7

Abstract

Nefritis Henoch-Schonlein adalah purpura Henoch Schonlein (PHS) dengan keterlibatan ginjal. Manifestasinefritis Henoch-Schonlein antara lain hematuria mikroskopik, hematuria makroskopis, proteinuria, sampaigagal ginjal kronik. Patogenesis PHS belum diketahui secara pasti, namun secara umum diakibatkan olehdeposisi imun kompleks akibat polimer IgA1 pada kulit, saluran gastrointestinal, dan kapiler glomerulus.Klasifikasi nefritis Henoch-Schonlein berdasarkan The International Study of Kidney Disease in Childrenterbagi atas enam kelas. Purpura Henoch Schonlein umumnya bersifat self-limiting dan hanya memerlukanterapi simtomatik. Keterlibatan ginjal diobati sesuai dengan manifestasi yang terjadi. Keterlibatan ginjalmaupun rekurensi tidak dapat diprediksi dari gambaran histologi, sehingga diperlukan pemantauan jangkapanjang.
Faktor Determinan Klinis pada Malaria Anak Parwati SB; Simplicia MA; Ismoedijanto Ismoedijanto
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.106-14

Abstract

Wabah malaria ditemukan di berbagai tempat di Indonesia, antara lain di pantaiselatan Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur, namun penyebaran penyakit terbesarterdapat di daerah luar Jawa-Bali kawasan timur. Masalah malaria bersifat localspecific. Manifestasi malaria pada anak berbeda dan kurang spesifik dibanding orangdewasa, dan belum ditemukannya definisi klinis berupa keluhan dan atau gejalaklinis malaria pada anak di daerah endemis tertentu. Hal ini menyebabkanoverdiagnosis dan overtreatment untuk malaria dan kemungkinan terabaikannyapengobatan untuk penyakit lain. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keluhandan atau gejala klinis yang dapat digunakan sebagai determinan klinis malaria padaanak. Hasil penelitian ini berguna bagi pasien demam atau riwayat demam dalamsatu minggu terakhir, dan yang berada di daerah endemis malaria. Dilakukan suatustudi cohort yang merupakan penelitian gabungan kuantitatif dan kualitatif berlokasiKabupaten Sikka- NTT, selama bulan Mei-Juni 1999. Di antara 165 anak yangmemenuhi kriteria inklusi, 79 pasien (47,9%) dengan definitif malaria dan 86 pasienbukan malaria (52,1%), sebagian besar pasien adalah kelompok umur 1-4 tahun(64,6%) Dari analisis gabungan antara uji Kai-kuadrat dan metode Delphi terdapatkesesuaian mengenai keluhan dan gejala klinis malaria yang prominen, namunmengingat insidensi penyakit malaria pada tiap kelompok umur, determinan klinispada penelitan ini paling cocok diterapkan pada kelompok umur 1-4 tahun yaitusplenomegali, menggigil, pucat, dan hiperpireksia. Perlu dilakukan studi serupa didaerah endemis lain.
Peran Imunoterapi pada Alergi Sengatan Lebah Ahmad Faisal; H.M. Sjabaroeddin Loebis
Sari Pediatri Vol 6, No 3 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.3.2004.104-9

Abstract

Lebah termasuk famili Apidae dari ordo Hymenoptera dari kelas Insekta. Alergiakibat sengatan lebah dapat berupa reaksi lokal maupun sistemik yang dapatmenimbulkan efek ke berbagai organ sampai menyebabkan kematian. Imunoterapiadalah pengobatan dengan cara menyuntikkan alergen kepada pasien dengan tujuanmengurangi atau mengeliminasi respon alergi. Imunoterapi alergi sengatan lebahdiindikasikan pada keadaan anafilaksis yang disebabkan oleh sengatan lebah, distresjantung dan paru setelah sengatan, adanya IgE spesifik terhadap bisa lebah,kemungkinan terpajan ulang terhadap lebah, serta kesanggupan dari pasien.Imunoterapi alergi sengatan lebah terbukti efektif dan bermanfaat pada penangananalergi sengatan lebah.

Page 57 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue