cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 1 (4) 2012" : 11 Documents clear
Jumlah Koliform Pada Telur Itik yang Mengalami Proses Pengasinan dan Penyimpanan MANULLANG, MARGARET ANASTASIA; SUARJANA, I GUSTI KETUT; RUDYANTO, MAS DJOKO
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (4) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.549 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh proses pengasinan dan lama penyimpanan telur itik berasal dari UKM Mulyo Mojokerto ditinjau dari jumlah koliform. Sampel telur itik yang dipergunakan berasal dari UKM Mulyo di Ds. Modopuro, Mojokerto. Rancangan penelitian yang dipergunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2x4x3, dengan 2 faktor perlakuan yakni faktor pertama meliputi telur itik dan telur itik dalam proses pengasinan. Sedangkan faktor kedua yakni faktor waktu penyimpanan yang dimulai dari hari ke 1, 8, 15 dan 22 (4 kali pengamatan). Setiap kombinasi diulang sebanyak 3 kali dengan menggunakan 1 butir telur. Data yang diperoleh ditransformasikan ke log Y, kemudian dianalisis dengan Sidik Ragam dan apabila didapatkan hasil yang berbeda nyata dilanjutkan dengan Uji Duncan. Untuk mengetahui seberapa eratnya hubungan antara pengasinan dan lama penyimpanan telur itik terhadap jumlah koliform digunakan uji Analisis Regresi Korelasi. Hasil penelitian menunjukkan proses pengasinan pada telur itik berbeda sangat nyata (P<0,01) menurunkan jumlah koliform. Lama penyimpanan telur itik pada hari ke-1 sampai hari ke-15 mengalami peningkatan yang berbeda sangat nyata (P<0,01) dan pada hari ke-22 mengalami penurunan yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Adanya interaksi yang terjadi antara pengasinan dan lama penyimpanan pada telur itik terhadap jumlah koliform dilakukan berdasarkan Analisis Regresi.
Tampilan Broiler Betina yang Diinjeksi Kombinasi Tylosin dan Gentamicin KOMALASARI, NUR; SAMPURNA, I PUTU; KOMANG ARDANA, IDA BAGUS
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (4) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.38 KB)

Abstract

Daging broiler dipilih sebagai salah satu alternatif, karena kita tahu bahwa  broiler sangat efisen diproduksi. Kendala yang dihadapi peternak saat ini adalah tingginya harga pakan dan kompleksitas penyakit yang muncul dikalangan peternak. Penggunaan antibiotik di bidang peternakan sudah sangat luas, baik sebagai imbuhan ransum maupun untuk tujuan pengobatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh injeksi kombinasi tylosin dan gentamicin terhadap performan broiler betina. Ternak yang digunakan dalam penelitian broiler strain CP 707 Produksi PT. Charoen Pockphard Jaya Farma sebanyak 24 ekor betina yang dipelihara selama 35 hari. Pada hari kesebelas ayam dikelompokkan secara acak menjadi 4 kelompok, yang setiap kelompoknya berjumlah 6 ekor. Ransum yang diberikan pada penelitian ini yaitu ransum starter dan finisher CP 11 produksi PT. Charoen Pockphard Jaya Farma, Surabaya. Penelitian ini menggunakan antibiotik kombinasi tylosin dan gentamicin dengan dosis 0,1 ml, 0,2 ml, dan 0,3 ml. Injeksi kombinasi tylosin dan gentamicin 0,1 ml, 0,2 ml, dan 0,3 ml tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap berat badan, pertambahan berat badan, dan konversi ransum. Sedangkan lama pemeliharaan (hari) berpengaruh sangat  (P<0,01) terhadap berat badan, pertambahan berat badan, dan konversi ransum.
Pengaruh Pemberian Isoflavon terhadap Peroksidasi Lipid pada Hati Tikus Normal RETNO, TYAS; WIDYASTUTI, SRI KAYATI; SUARSANA, NYOMAN
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (4) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.935 KB)

Abstract

Pengaruh pemberian isoflavon terhadap peroksidasi lipid pada hati tikus normal bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian isoflavon terhadap peroksidasi lipid pada hati tikus normal, Dengan adanya asupan antioksidan ini diharapkan dapat menurunkan hasil akhir MDA yang dihasilkan oleh reaksi peroksidasi lipid dari radikal bebas, sehingga dapat digunakan untuk acuan bagi pencegahan pada penyakit degeneratif khususnya pada organ hati serta dapat menghambat terjadinya penuaan dini pada sel atau organ.Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap ( RAL ) dengan 5 perlakuan dan masing-masing terdiri dari 3 ulangan. Variabel yang diamati yaitu perubahan peroksidasi lipid pada masing-masing perlakuan. Data dari hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam (ANOVA). Jika hasil analisis berbeda nyata (P<0,05) akan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa isoflavon pada dosis 1,3 mg isoflavon mempunyai aktivitas antioksidan sebesar 32,59 % 2,6 mg isoflavon sebesar 52,37% , 3,9 mg isoflavon sebesar 68,21 % , 5,2 mg isoflavon sebesar 82,32% dan 6,5 mg isoflavon sebesar 92,74%. Hasil analisis kadar MDA hati menunjukkan bahwa isoflavon dapat menurunkan kadar MDA pada hati tikus normal. Kadar MDA pada hati tikus yang diberi isoflavon dosis 1,2,4 dan 6 mg/200/BB/hari/oral masing masing (44.75 picomol/g), (42.81 picomol/g), (40.95 picomol/g), (40.75 picomol/g), sedangkan pada tikus normal kadar MDA sebesar (44.57 picomol/g). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa isoflavon mempunyai aktivitas antioksidan IC50 pada konsentrasi 2,45 mg isoflavon sehingga pemberian isoflavon dapat menurunkan kadar Malonaldehida (MDA) pada kelompok tikus normal. Kadar isoflavon terbaik yang dapat menurunkan kadar MDA adalah pada pemberian dosis 6 mg/200/BB/hari/oral.
Prevalensi dan Distribusi Cacing Pada Berbagai Organ Ikan Selar Bentong FRISKA TAMBA, MORI; DAMRIYASA, I MADE; ADI SURATMA, NYOMAN; THEISEN, STEFAN
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (4) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.704 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan distribusi cacingpada berbagai organ ikan selar bentong (Selar crumenophthalmus) yangdipasarkan di Kedonganan, Badung. Sampel yang digunakan adalah 35 ekor ikan selar bentong (Selar crumenophthalmus) yang berasal dari pasar ikan Kedonganan. Ikan diperiksa di laboratorium secara kasat mata yang dilanjutkan dengan pemeriksaan dibawah mikroskop. Selanjutnya data mengenai distribusi cacing pada berbagai organ yang didapat dalam penelitian dapat digunakan rancangan penelitian Crosss Sectional Study yang dilaporkan secara deskriptif. Hasil pengamatan terhadap sampel adalah ditemukannya 4 jenis parasit cacing, yaitu dari filum cacing Nemathelminthes (Anisakis spp, Camallanus spp, dan Acanthocephala) dan Plathyhelminthes (Digenea). Cacing Anisakiss spp ditemukan pada organ rongga perut, usus, pylorik, perut, dan gonad. Hal ini diakibatkan karena Anisakis spp pada ikan selar bentong (Selar crumenophthalmus) masih berupa larva yang hidupnya motil sehingga bisa berpindah tempat. Sedangkan Anisakis spp dewasa terdapat pada mamalia laut (lumba-lumba dan paus), dimana cacingnya sudah bersifat dormant/ menetap pada jaringan otot. Organ alami Camallanus spp adalah pada organ usus, tetapi dalam penelitian ini cacing Camallanus spp ditemukan pada organ gonad. hal ini disebabkan karena adanya migrasi cacing. Acanthocephala merupakan cacing berkepala duri, karena kekhasan tubuhnya yang memiliki proboscis yang dilengkapi dengan kait. Dalam penelitianini Acanthocephala ditemukan pada organ usus. Serta cacing lainnya dari filum Plathyhelminthes yaitu Digenea. Dimana Digenea memiliki ciri yang khas yaitu mempunyai oral sucker dan ventralsucker. Anisakis spp merupakan cacing yang paling banyak ditemukan yaitu 83,8% dari total jumlah cacing yang ditemukan. Sedangkan cacing Camallanus spp dan Acanthocephala merupakan parasit cacing yang paling sedikit ditemukan yaitu sekitar 0,95%. Serta cacing lainnya adalah Digenea yaitu sekitar 14,3%.
519 Penambahan Bovine Serum Albumin pada Pengencer Kuning Telur terhadap Motilitas dan Daya Hidup Spermatozoa Anjing HANNY ADNANI, LUH PUTU DHATU; BEBAS, WAYAN; BUDIASA, MADE KOTA
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (4) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.357 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan Bovine SerumAlbumin (BSA) pada bahan pengencer kuning telur fosfat terhadap motilitas dan daya hidupspermatozoa anjing lokal Kintamani yang disimpan pada suhu 4o C. Penelitian inimenggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan. Masing-masingperlakuan terdiri dari T0 (semen yang diencerkan dengan fosfat kuning telur tanpa ditambahdengan BSA dan berperan sebagai kontrol), T1 (semen yang diencerkan dengan fosfat kuningtelur ditambah dengan 0,5 % w/v BSA), T2 (semen yang diencerkan dengan fosfat kuningtelur ditambah dengan 1 % w/v BSA) dan T3 (semen yang diencerkan dengan fosfat kuningtelur ditambah dengan 1,5 % w/v BSA). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 6 kali,sehingga jumlah sampel yang digunakan adalah 24 sampel. Pengamatan dilakukan padamotilitas dan daya hidup spermatozoa. Motilitas spermatozoa diamati dengan melihatpergerakan spermatozoa yang progresif dan dihitung dalam satuan persen. Daya hidupspermatozoa diamati dengan cara pengecatan menggunakan eosin negrosin citrate. Denganteknik pengecatan ini, spermatozoa yang masih hidup akan terlihat bening dan tidakterwarnai. Sedangkan sperma yang mati akan tercat berwarna merah. Data yang diperolehdianalisis dengan analisis ragam, jika hasilnya berbeda dilanjutkan dengan uji wilayahberganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata motilitas spermatozoa padaperlakuan T0, T1, T2 dan T3 masing-masing 41,50±1,378, 52,83±2,229, 79,67±2,733 dan76,00±2,280 yang diamati setelah 48 jam penyimpanan spermatozoa pada suhu 4o C. Rataratadaya hidup spermatozoa pada perlakuan T0, T1, T2 dan T3 masing-masing 52,83±1,472%, 66,33±2,160%, 90,33±1,862% dan 84,33±2,787% yang diamati setelah 48jam penyimpanan spermatozoa pada suhu 4o C. Uji statistik menunjukkan bahwa perbedaankonsentrasi BSA berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap motilitas dan daya hidup spermatozoaanjing lokal Kintamani. Selanjutnya dilanjutkan dengan uji Duncan yang menjabarkan bahwaperlakuan T0, T1, T2, dan T3 menunjukkan perbedaan persentase motilitas dan daya hidupspermatozoa yang nyata (P< 0,05).
Nilai Hematokrit, Kadar Hemoglobin, dan Total Eritrosit Ayam Pedaging yang Diinjeksi Kombinasi Tylosin dengan Gentamicin PUTRIANI, SARI; SOMA, I GEDE; ARDANA, IDA BAGUS KOMANG
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (4) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.838 KB)

Abstract

Penelitian ini menggunakan sampel darah dengan antikoagulan Ethylene Diamine Tetra Acetat (EDTA) yang diambil dari 24 ekor ayam pedaging dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan pada hari ke 14 dan hari ke 24. Parameter yang diamati adalah nilai hematokrit, kadar hemoglobin, dan total eritrosit. Cara pengambilan sampel adalah dengan mengambil darah pada vena axilla ayam pedaging yang dimasukkan dalam tabung Ethylene Diamine Tetra Acetat (EDTA) kemudian dilakukan pemeriksaan terhadap nilai hematokrit, kadar hemoglobin, dan total eritrosit. Hasil pemeriksaan nilai hematokrit, kadar hemoglobin, dan total eritrosit dilakukan di Laboratorium Patologi Klinik Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Data dianalisis dengan Uji Sidik Ragam dilanjutkan dengan Uji Rentangan Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa injeksi kombinasi tylosin dengan gentamicin pada ayam pedaging tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap nilai hematokrit, kadar hemoglobin, dan total eritrosit ayam pedaging.
Seroprevalensi Infeksi Toxoplasma gondii pada Babi di Lembah Baliem dan Pegunungan Arfak Papua YOGA LOKANTARA, I PUTU; DAMRIYASA, I MADE; DWINATA, I MADE
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (4) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.846 KB)

Abstract

This study aims to determine the presence of Toxoplasma gondii in pigs at the Baliem Valley and at the Mountains of Arfak Papua. Using the Indirect test Haemaglutination Asay, Primary Cellognost * Toxoplasmosis ? H (IHA reagent Toxoplasmosis), Reagent Buffer, Buffer Serum, Toxoplasmosis Control Serum, positive (IgG), Toxoplasmosis Control Serum, negative, and Pig Serum. The results showed the presence of Toxoplasma gondii in pigs at the Baliem Valley is (75.9%) and at the Mountains of Papua Arfak amounts (25%),
Polimorfisme Lokus Mikrosatelit RM185 Sapi Bali di Nusa Penida MUHAMMAD, ZAKIATUN; PUJA, I KETUT; WANDIA, I NENGAH
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (4) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.244 KB)

Abstract

Polimorfisme pada suatu populasi sering kali digunakan sebagai salah satu indeks keragaman genetik. Sifat polimorfik ini ditentukan dengan mengidentifikasi jumlah alel pada suatu populasi. Dengan adanya identifikasi jumlah alel maka akan dapat ditentukan frekuensi alel dan nilai heterozigositas suatu populasi. Sampel berupa darah sapi dari populasi sapi bali (Bos Sondaicus) di Nusa Penida. Sebanyak 21 sampel darah sapi bali digunakan sebagai sumber DNA. Pengekstraksian sampel darah menggunakan QIAamp DNA Blood Mini Kit produk QIAGEN. Amplifikasi lokus mikrosatelit DRB3 menggunakan dengan teknik PCR dengan suhu annealing 580C. Produk PCR yang merupakan suatu alel dipisahkan melalui elektroforesis pada gel acrilamid 7% dan dimuculkan dengan pewarnaan perak. Hasil penelitian polimorfisme lokus mikrosatelit RM185 pada 21 ekor sapi bali di Nusa Penida teridentifikasi 7 alel yaitu 76 pb, 84 pb, 86 pb, 90 pb, 98 pb, 100 pb, dan 104 pb. Genotip pada setiap individu bersifat heterozigot. Alel 86 pb merupakan frekuensi alel tertinggi dengan nilai frekuensi 0,31. Sedangkan nilai frekuensi alel terendah adalah alel 76 pb dengan nilai frekuensi alel 0,02. Keragaman genetika populasi sapi bali di Nusa Penida dengan penanda molekuler lokus mikrosatelit RM185 memiliki nilai heterozigositas ? = 0,804.
Beban Cemaran Bakteri Escherichia Coli pada Daging Asap Se’i Babi yang Dipasarkan di Kota Kupang UMBU RAZA, EMILIUS MELIANO; SUADA, KETUT; MAHATMI, HAPSARI
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (4) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (888.132 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui beban cemaran bakteri Escherichia coli pada daging se’i babi yang dipasarkan di kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diambil dari enam tempat pembuatan daging se’i babi secara tradisional yang tersebar di kelurahan Oebufu, Oebobo dan Baun. Se’i merupakan daging asap khas kota Kupang yang diasapi menggunakan kayu Kosambi (Schleichera oleosa, Merr). Hasil penelitian untuk setiap lokasi diperoleh sebagai berikut (1) Bambu Kuning–Oebobo sebesar 210 MPN/gr (2) Green Garden–Oebufu sebesar 150 MPN/gr (3) Baun sebesar 210 MPN/gr (4) Petra-Oebufu sebesar 7,2 MPN/gr (5) Pondok Sawah-Oebufu sebesar 3,6 MPN/gr dan (6) Aroma-Oebobo sebesar 14 MPN/gr. Jumlah kandungan bakteri Escherichia coli dari keenam sampel, sudah melebihi batas maksimum cemaran bakteri Escherichia coli pada daging asap.
Cakupan Vaksinasi Anti Rabies pada Anjing dan Profil Pemilik Anjing Di Daerah Kecamatan Baturiti, Tabanan TARIGAN, IVAN M; SUKADA, I MADE; PUJA, I KETUT
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (4) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.245 KB)

Abstract

Rabies merupakan salah satu penyakit yang bersifat zoonosis yang dapat menyerang manusia dan hewan berdarah panas dan dapat menyebabkan kematian. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan hewan yang positif rabies. Bali merupakan salah satu daerah di Indonesia yang bebas rabies, namun semenjak kasus gigitan anjing positif rabies November 2008 di daerah Ungasan, Badung maka Bali dinyatakan sebagai daerah tertular rabies. Dalam hal ini Pemerintah Bali telah melakukan tindakan-tindakan dalam menanggulangi kasus rabies yang semakin menyebar luas di Bali. Akan tetapi, karena semakin luasnya daerah yang tertular rabies menunjukkan bahwa Pemerintah Bali belum maksimal dalam penanganan penyakit ini. Penelitian ini menggunakan metode observasional study, dengan melakukan pengumpulan data mengenai sosio-ekologi anjing dan profil pemilik anjing. Data mengenai sosio ekologi anjing meliputi: karakteristik anjing, terutama mengenai cakupan vaksinasi dan faktor resiko pada anjing yang tidak divaksin serta jumlah populasi anjing. Sedangkan data mengenai profil pemilik anjing meliputi: karakteristik keluarga, persepsi tentang penanganan rabies, pengetahuan tentang rabies dan vaksinasi, pengalaman dan pengetahuan tentang gigitan anjing. Dari penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut : cakupan vaksinasi di Banjar Pekarangan 79,4% dan Banjar Abianluang diperoleh hasil 67%, rata-rata hasil cakupan vaksinasi kedua Banjar tersebut 73,2%. Masih banyaknya masyarakat tidak memvaksin anjing dikarenakan belum cukup umur 5 orang, tidak dapat ditangani 11 orang, pemilik sibuk ketika waktu vaksin 22 orang dan pemilik acuh terhadap vaksinasi sebanyak 3 orang. Informasi mengenai rabies yang ada di masyarakat, didapat hasil sebanyak 274 orang mengetahui rabies dapat menginfeksi semua hewan mamalia, 251 orang mengetahui rabies dapat terjadi setiap waktu, dan 264 orang mengetahui rabies dapat dipengaruhi oleh faktor anjing. Sumber informasi didaerah tersebut, didapatkan hasil sebanyak 276 orang dari Pemerintah, sebanyak 243 orang mendapatkan informasi dari televisi, dan sebanyak 163 orang dari koran. Keberhasilan dalam pemberantasan rabies tidak akan berhasil jika hanya dengan vaksinasi dan eliminasi saja bila tidak dipadu dengan cara pemeliharaan anjing yang benar, sehingga perlu dilakukannya program pendidikan kepada masyarakat tentang bagaimana cara memelihara anjing yang baik, dengan membatasi pergerakan anjingnya (dengan cara diikat atau dikandangkan) serta perlunya meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya pemberian vaksinasi anti rabies, terutama pada anjing-anjing muda.

Page 1 of 2 | Total Record : 11