cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 3 (5) 2014" : 11 Documents clear
Prevalensi Trematoda pada Sapi Bali yang Dipelihara Peternak di Desa Sobangan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung Putra, Rencong Dwi; Suratma, Nyoman Adi; Oka, Ida Bagus Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (5) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.731 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian pada sapi bali yang dipelihara di Desa Sobangan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung untuk mengetahui hubungan perbedaan pemberian pakan (pemberian hijauan saja dibandingkan pemberian hijauan dan konsentrat) terhadap prevalensi infeksi dan jenis-jenis cacing trematoda yang menginfeksi. Sampel penelitian berupa feses sapi bali berjumlah 100 sampel, 50 sampel berasal dari sapi yang hanya diberi pakan hijauan dan 50 sampel dari sapi yang diberi pakan hijauan dan konsentrat. Sampel tinja diperiksa dengan metode konsentrasi sedimentasi dan untuk membedakan telur Fasciola spp dengan Paramphistomum spp dilakukan dengan metoda Parfit dan Bank dengan modifikasi. Parameter yang diamati adalah morfologi dan warna telur cacing untuk mengetahui jenis cacing trematoda yang menginfeksi sapi. Untuk membedakan prevalensi infeksi cacing terhadap sapi yang diberikan pakan hijauan dengan hijauan yang ditambahkan konsentrat dianalisis menggunakan analisis khi-kuadrat. Prevalensi infeksi trematoda pada sapi bali di Desa Sobangan sebesar 27%. Prevalensi infeksi cacing Fasciola spp sebesar 36% dan cacing Paramphistomum spp sebesar 18 %. Setelah dianalisis dengan khi-kuadrat terdapat hubungan nyata (P<0,05) antara jenis pakan hijauan yang ditambahkan konsentrat lebih sedikit terinfeksi dibandingkan sapi bali yang diberikan pakan hijauan. Jenis cacing trematoda yang menginfeksi sapi bali adalah Fasciola spp dan Paramphistomum spp.
Kualitas Daging Sapi Wagyu dan Daging Sapi Bali yang Disimpan pada Suhu 4oC Andini, Mita; Swacita, Ida Bagus Ngurah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (5) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.79 KB)

Abstract

Dalam memenuhi permintaan akan daging, pemerintah menyediakan daging sapi impor, salah satunya adalah daging Wagyu dan daging sapi Bali. Kedua daging ini memiliki kandungan gizi yang berbeda meliputi protein, lemak, karbohidrat, dan kadar air. Untuk mempertahankan kualitas daging maka dilakukan penyimpanan pada suhu dingin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan kadar gizi pada daging Wagyu dan daging sapi Bali selama penyimpanan pada suhu dingin 4oC. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2x6 yaitu dua jenis daging (Wagyu dan sapi Bali) dengan lama penyimpanan pada suhu dingin 4oC.  Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein daging Wagyu dan daging sapi Bali selama penyimpanan 4oC tidak berbeda nyata (P>0.05). Terjadi interaksi yang nyata (P<0.05) antara daging Wagyu dan daging sapi Bali dengan lama penyimpanan 4oC terhadap kadar lemak, karbohidrat dengan kadar air daging sapi.
Identifikasi Jenis Cacing Nematoda Pada Saluran Gastrointestinal Kuda Penarik Cidomo di Kecamatan Selong, Lombok Timur Setiawan, Dyta Kharis; Dwinata, I Made; Oka, Ida Bagus Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (5) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.068 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian Identifikasi jenis cacing nematoda pada saluran gastrointestinal kuda penarik cidomo di Kecamatan Selong, Lombok Timur.  Penelitian ini menggunakan 50 sampel feses kuda yang diambil dari Pasar Umum Pancor, Kecamatan Selong, Lombok Timur. Sampel feses diperiksa dengan metode apung dan identifikasi telur berdasarkan morfologinya. Hasil penelitian didapatkan kuda terinfeksi cacing tipe strongil yang terdiri dari Cyathostomes spp, Triodontophorus spp, Strongylus spp dan cacing Strongyloides westeri, Oxyuris equi, Parascaris equorum. Hasil pemeriksaan ditemukan 49 sampel positif terinfeksi cacing nematoda dengan angka prevalensi sebesar 98%. Setelah diidentifikasi lebih lanjut kuda terinfeksi Strongylus spp 76%, Cyathostomes 56%, dan Triodontophorus spp 32%, sedangkan prevalensi Strongyloides westeri 12%, Oxyuris equi 6% dan Parascaris equorum 2%.
Umur Sapi Bali Betina yang Disembelih pada Rumah Pemotongan Hewan di Bali Masyita, Nurul; Suada, I Ketut; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (5) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.263 KB)

Abstract

Sapi potong dalam masyarakat Indonesia mempunyai peran yang cukup banyak, antara lain sebagai penghasil daging, sumber lapangan pekerjaan maupun sebagai tabungan. Tingginya tingkat permintaan daging yang tidak sesuai dengan laju peningkatan produksi menyebabkan ketersediaan daging dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan. Salah satu faktor yang memengaruhi ketersediaan daging yaitu dilakukannya pemotongan sapi betina produktif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui rataan umur sapi betina yang disembelih di rumah pemotongan hewan pemerintah dan swasta serta mengetahui manakah yang memiliki persentase pemotongan betina produktif paling tinggi. Penelitian ini menggunakan masing-masing 50 sampel mandibula sapi bali betina dari RPH Negeri dan RPH Swasta di Banjar Bersih Darmasaba. Pengamatan dilakukan berupa pendugaan umur sapi betina yang dilihat berdasarkan waktu erupsi gigi sapi tersebut. Hasil penelitian menunjukan rataan umur sapi betina yang dipotong di RPH Negeri yaitu umur 1,5-2,0 tahun (10%); 2,5-3,0 tahun (4%); 3-4 tahun (46%); 5 tahun (36%); 7 tahun (2%); 9 tahun (2%) sedangkan pada RPH Swasta di Banjar Bersih Darmasaba yaitu umur <1,5 tahun (10%); 1,5-2,0 tahun (22%); 2,0-2,5 tahun (20%); 2,5-3,0 tahun (12%); 3-4 tahun (24%); 5 tahun (12%). Simpulan yang dapat ditarik bahwa persentase pemotongan sapi bali betina produktif lebih tinggi pada RPH swasta (100%) dibandingkan RPH yang unit pelaksanaannya oleh pemerintah (98%).
Ekstrak Akar Tuba (Derris Elliptica) Efektif Membunuh Pinjal (Siphonaptera) Kucing Secara In Vitro Setiawan, Pradipta Hendra; WANTO, SIS; Merdana, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (5) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.592 KB)

Abstract

Ekstrak akar tuba mengandung racun alami yang disebut rotenon yang dapat dipakai sebagai antiektoparasit. Penggunaan akar tuba sebagai antiektoparasit belum banyak dilaporkan, oleh karena itu dilakukan uji in vitro efektifitas akar tuba. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui manfaat dan efektifitas ekstrak akar tuba kadar terhadap pinjal (Siphonaptera) kucing. Sebanyak 40 pinjal (ukuran yang sama) dibagi menjadi empat kelompok, masing-masing kelompok berisikan 10 pinjal kemudian ditaruh dalam cawan petri yang dialasi kapas. Masing-masing kelompok disemprot dengan menggunakan 0% (aquadest), 1%, 2%, dan 3% ekstrak akar tuba. Pengamatan dilakukan pada menit ke-5, 10, 15, 20, 25, dan 30 terhadap jumlah pinjal yang mati.     Hasil menunjukan bahwa  kadar 1% angka mortalitas 10% pada pinjal pada menit ke-5, 30% pada menit ke-15, 70% di menit ke-20, 80% menit ke-25, 100% pada menit ke-30. Perlakuan konsentrasi 2% menunjukkan angka mortalitas 20%  pada menit ke-5, 30% di menit 10, 70%  di menit ke-15 dan 100% di menit ke-30 sedangkan pada perlakuan konsentrasi 3% angka mortalitas sebanyak 50% di menit ke-5, 80% di menit ke-10, 90% di menit 15 serta 100% di menit ke-20. Dari hasil penelitian dapat  disimpulkan bahwa ekstrak akar tuba efektif membunuh pinjal kucing.
Kualitas Daging Se’i Babi Produksi Denpasar Aman, Emerensia Patryconsitha; Suada, I Ketut; Agustina, Kadek Karang
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (5) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.072 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas daging se’i babi produksi Denpasar yang diambil dari dua tempat produksi dan pemasaran daging se’i babi di kota Denpasar yaitu Gimbo di Imam Bonjol dan Max di Teuku Umar. Parameter yang digunakan dalam menentukan kualitas daging se’i babi tersebut meliputi daya ikat air (DIA), pH, kadar air, dan cita rasa. Analisis data menggunakan uji T berpasangan. Hasil analisis statistik menunjukkan daya ikat air, pH dan cita rasa daging se’i babi produksi kedua tempat produksi tersebut tidak berbeda nyata (P>0,05). Sedangkan kadar air daging se’i babi produksi Gimbo (34.850) berbeda sangat nyata (P<0,01) dengan daging se’i babi produksi Max (29.082). Melihat kualitas daging se’i babi produksi Gimbo dan Max yang cukup baik, diharapkan produsen dapat mempertahankan dan meningkatkan lagi kualitas daging se’i babi yang diproduksi sehingga kualitasnya menjadi lebih baik lagi.  
Identifikasi Kelainan dan Kerusakan Gigi Sapi Bali Sukaratha, Elpira; Suatha, I Ketut; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (5) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.126 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki kelainan dan kerusakan gigi sapi bali, karena tidak banyak penelitian tentang kelainan dan kerusakan gigi. Penelitian dilaksanakan di Rumah Potong Hewan Pesanggaran, Denpasar, Bali. Diamati 100 pasang tulang mandibula sapi bali, 92 pasang dari sapi betina dan delapan pasang dari sapi jantan. Sampel diambil secara acak, dengan umur dari 1,5-2,0 tahun (I1), 2,0–2,5 tahun (I2), 3 tahun (I3), 3,5-4,0 tahun (I4) dan lebih dari empat tahun (lebih dari I4).Kelainan gigi adalah keadaan yang menyimpang dari kebiasaan dan kerusakan adalah gigi yang sudah tidak baik atau utuh lagi. Hasil penelitian menemukan adanya 12 kelainan dan kerusakan gigi. Kelainan tersebut antara lain gigi gergaji (92%), gigi landai (10%), gigi susu tersisa (15%), gigi susu tersisa (13%), gigi aus (44%), gigi gunting (91%), gigi bergelombang (6%), gigi tangga (18%), gigi jumlah berlebih (1%), gigi tanggal (4%), gigi patah (31%) dan karang gigi (81%). Simpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah pada sapi bali terjadi kelainan dan kerusakan pada gigi, dengan kelainan dan kerusakan yang menonjol adalah kejadian gigi gergaji dan gigi gunting.
Prevalensi Nematoda Gastrointestinal pada Sapi Bali yang Dipelihara Peternak di Desa Sobangan, Mengwi, Badung Fadli, Muhsoni; Oka, Ida Bagus Made; Suratma, Nyoman Adi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (5) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.501 KB)

Abstract

Infeksi parasit cacing masih menjadi faktor yang sering mengganggu kesehatan sapi bali dan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi, pengaruh perbedaan tempat pemeliharaan (lantai kandang), dan jenis-jenis cacing nematoda gastrointestinal yang menginfeksi sapi bali yang dipelihara peternak di Desa Sobangan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Sampel penelitian adalah feses sapi bali berjumlah 100 sampel, diambil dari 50 sampel sapi bali yang dipelihara dengan lantai kandang semen, dan 50 sampel sapi bali yang dipelihara dengan lantai kandang tanah, yang dipelihara peternak sapi yang ada di Desa Sobangan. Sampel tinja diperiksa dengan metode apung menggunakan larutan NaCl jenuh. Parameter yang diamati adalah morfologi dan morfometri telur cacing untuk mengetahui jenis cacing nematoda gastrointestinal yang menginfeksi sapi. Kejadian infeksi cacing nematoda gastrointestinal dianalisis menggunakan analisis chisquare untuk mengetahui hubungan lantai kandang tanah dan lantai kandang semen. Prevalensi cacing nematoda gastrointestinal pada sapi bali yang dipelihara peternak di Desa Sobangan sebesar 21%. Prevalensi cacing nematoda gastrointestinal pada sapi bali yang dipelihara peternak berdasarkan lantai kandang tanah dibandingkan lantai kandang semen tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Jenis cacing nematoda gastrointestinal  yang ditemukan terdiri dari : Bunostomum phlebotomum, Chabertia ovina, Nematodirus filicollis, Strongyloides papillosus, Toxocara vitulorum, Trichostringylus axei, dan Trichuris ovis. Meskipun ditemukan beberapa jenis cacing, namun tidak membahayakan, karena intensitasnya rendah.
Waktu Beku Darah Sapi Bali Umur, Azmil; Widyastuti, Sri Kayati; Utama, Iwan Harjono
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (5) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.464 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa lama waktu beku darah pada sapi bali yang dipotong di Rumah Potong Hewan Pesanggaran Denpasar. Penelitian ini menggunakan metode kapiler, setiap 30 detik tabung mikro pipa kapiler dipatahkan sedikit demi sedikit sampai terbentuknya bekuan fibrin yang mengindikasikan terbentuknya pembekuan darah. Rata-rata lama waktu pembekuan darah pada sapi bali adalah 163.36 detik. Dari hasil sebaran data waktu beku darah pada sapi bali menunjukkan bahwa masih dalam sebaran normal dan dapat dipublikasikan bahwa waktu pembekuan darah pada sapi bali berkisar dari 125 detik sampai 204 detik.
Gambaran Histopatologi Jantung Sapi Bali yang Terinfeksi Cysticercus bovis Wicaksono, Endris Arif; Kardena, I Made; Dharmawan, Nyoman Sadra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (5) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (934.371 KB)

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran histopatologi jantung sapi bali yang terinfeksi Cystisercus bovis. Penelitian ini menggunakan jantung sapi bali yang diinfeksi C. bovis. Metode yang digunakan dalam pemeriksaan histopatologi ini adalah clearing, blocking, sectioning, staining, dan mounting. Pada pengamatan histopatologi, infiltrasi sel-sel radang tampak relatif banyak menginfiltrasi jaringan jantung dan meluas sampai ke sela-sela serat otot jantung. Perubahan histopatologi lain, berupa infiltrasi jaringan ikat dan kolagen, serta adanya granuloma yang disertai sel radang di sekitar kapsul C. bovis juga teramati. Sel radang yang ditemukan di serat otot jantung maupun dekat dengan posisi C. bovis tersebar merata mengelilingi kapsul C. bovis. Berdasarkan hasil penelitian, tipe sel radang yang dominan menginfiltrasi yaitu sel-sel radang tipe monomorfonuklear dan sel-sel radang tipe granulosit.

Page 1 of 2 | Total Record : 11