cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 6 (4) 2017" : 10 Documents clear
Prevalensi dan Intensitas Infeksi Cacing Tetrameres Spp. pada Ayam Buras di Wilayah Bukit Jimbaran, Badung Chandra, Michele; Apsari, Ida Ayu Pasti; Sulabda, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (4) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.373 KB)

Abstract

Cacing Tetrameres spp. merupakan salah satu parasit yang menyerang sistem pencernaan dan berpredileksi di dalam proventrikulus unggas. Keberadaan cacing Tetrameres spp. dalam sistem pencernaan ayam buras dapat menyebabkan anemia dan kekurusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan intensitas infeksi cacing Tetrameres spp. pada ayam buras di wilayah Bukit Jimbaran, Badung. Sampel penelitian yang digunakan adalah 110 proventrikulus ayam buras yang diambil dari wilayah Bukit Jimbaran, Badung, Bali. Cacing Tetrameres spp. dapat terlihat dari permukaan proventrikulus yang berbentuk bulat berwarna merah. Keberadaan cacing Tetrameres spp. diperiksa melalui insisi dan pemencetan bulatan berwarna merah tersebut pada permukaan proventrikulus. Intensitas cacing Tetrameres spp. dihitung per satu proventrikulus yang diperiksa. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dan diuji dengan chi-square. Hasil penelitian menunjukan bahwa prevalensi infeksi cacing Tetrameres spp. pada ayam buras di wilayah Bukit Jimbaran, Badung sebesar 33,6%. Prevalensi infeksi pada ayam buras jantan sebesar 30,0% dan pada ayam buras betina 35,0%. Jenis kelamin ayam buras tidak ada hubungan (P>0,05) dengan prevalensi infeksi cacing Tetrameres spp. Intensitas infeksi yang ditemukan sebanyak 1 – 25 (6,4 + 5,9) ekor cacing Tetrameres spp. per ayam yang terinfeksi.
Persebaran Rabies pada Anjing dan Manusia Berdasarkan Ketinggian Wilayah Studi Kasus di Kabupaten Karangasem, Bali Abriansyah, Mohammad Ghaiz; Batan, I Wayan; Kardena, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (4) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.292 KB)

Abstract

Rabies merupakan penyakit zoonotik bersifat akut yang menyerang sistem saraf pusat hewan berdarah panas. Bali merupakan salah satu propinsi yang tertular rabies di Indonesia. Penyebaran rabies telah terjadi diberbagai wilayah dengan kondisi geografis yang beraneka ragam, termasuk wilayah dataran tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persebaran rabies berdasarkan ketinggian wilayah di Kabupaten Karangasem, Bali. Penelitian dimulai dengan mengumpulkan data mengenai desa-desa tertular rabies, lalu dilakukan pengamatan pada peta topografi untuk mengukur ketinggian desa-desa tertular rabies tersebut. Peneliti melakukan survei lapangan untuk memastikan ketinggian desa tertular rabies menggunakan altimeter. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 248 kasus rabies pada anjing (dan hewan lain) dan 55 kasus rabies pada manusia dari tahun 2009-2016 ditemukan di 74 desa di Kabupaten Karangasem pada ketinggian 0-1000 mdpl. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kasus rabies di Kabupaten Karangasem terjadi di berbagai wilayah dengan ketinggian yang bervariasi.
Gambaran Histopatologi Ginjal Tikus Putih (Rattus norvegicus) yang Diberi Amoxicillin Dikombinasikan dengan Deksametason dan Asam Mefenamat Pasca Operasi Lagho, Engelbertus Efraim; Kardena, I Made; Jayawardhita, Anak Agung Gde
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (4) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.412 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan histopatologi jaringan tubulus ginjal tikus putih setelah diberikan amoxicillin yang dikombinasikan deksametason dan asam mefenamat pasca operasi. Penelitian ini menggunakan 30 ekor tikus putih yang dibagi 3 kelompok dengan 10 kali ulangan. Pada kelompok 1 diberikan antibiotika (amoxicillin) saja 150 mg/kg BB/hari secara oral pasca operasi. Pada kelompok 2 diberikan antibiotika (amoxicillin) 150 mg/kg BB/hari dan pemberian anti inflamasi (dexametason) 0,5 mg/kg BB/hari. Sedangkan pada kelompok 3 diberikan antibiotika (amoxicillin) 150 mg/kg BB/hari dan anti inflamasi (asam mefenamat) 45 mg/kg BB/hari secara oral. Pada hari ke 7 dan ke 14 tikus tiap perlakuan 5 ekor sampel dieutanasi, kemudian organ ginjal diambil selanjutnya dibuat preparat histologi dengan metode pewarnaan Hematoksillin Eosin (HE). Hasil uji tersebut menunjukkan adanya perubahan histopatologi sel-sel tubulus ginjal tikus putih yang bersifat ringan tetapi tidak mempengaruhi fungsi ginjal tikus putih secara umum.
Karakteristik dan Kedudukan Foramen Infraorbitalis dan Foramen Mentale pada Tengkorak Sapi Bali Silaban, Root Elisa; Wandia, I Nengah; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (4) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.676 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan kedudukan foramen infraorbitalis dan foramen mentale pada tengkorak sapi bali. Penelitian ini menggunakan tujuh tengkorak sapi bali jantan dewasa dan tiga tengkorak sapi betina dewasa lengkap dengan tulang rahang bawah (os mandibulare). Pengukuran dilakukan terhadap diameter foramen infraorbitalis, jarak antara foramen infraorbitalis ke tuber fascialis, jarak antara foramen infraorbitalis ke os premaxilla, dan panjang canalis infraorbitalis, diameter panjang foramen mentale, jarak antara foramen mental ke dentes premolar I, jarak antara foramen mentale ke margo kranialis mandibula. Data yang didapat ditabulasi dan dianalisis secara statistika dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik foramen infraorbitalis pada tengkorak sapi bali dewasa menunjukkan bahwa rataan diameter foramen infraorbitalis 0,82 cm dan panjang canalis infraorbitalis 12,45 cm parameter tersebut relatif seragam. Kedudukan foramen infraorbitalis dan rataan jarak foramen infraorbitalis ke tuber fascialis 4,25 cm, jarak foramen infraorbitalis ke margo kranialis os nasal 12,45 cm juga relatif seragam. Untuk karakteristik foramen mentale pada tengkorak sapi bali dewasa menunjukkan bahwa rataan diameter panjang foramen mentale 0,94 cm. Jarak foramen mentale ke dentes premoral I rataannya 3,89 cm dan jarak foramen mentale ke margo kranialis mandibula 5,93 cm, relatif seragam. Simpulannya adalah karakteristik dan kedudukan foramen infraorbitalis dan foramen mentale pada sapi bali dewasa dapat ditentukan dalam penelitian ini. Hasil yang diperoleh secara klinik dapat dijadikan referensi untuk menentukan kedudukan foramen infraorbitalis dan foramen mentale pada tengkorak sapi bali.
Penggunaan “Crude Antigen” Cysticercus Cellulosae untuk Menentukan Seroprevalensi Sistiserkosis pada Babi Stelen, I Dewa Ketut Raeyadi Purnama; Damriyasa, I Made; Swacita, Ida Bagus Ngurah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (4) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.578 KB)

Abstract

Sistiserkosis merupakan penyakit parasit zoonotik yang penting pada hewan dan manusia. Babi merupakan inang antara bagi perkembangan cacing ini dan dapat bertindak sebagai penular penyakit kepada manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar protein antigen Cysticercus cellulosae dan penggunaan Crude antigen Cysticercus cellulosae untuk menentukan seroprevalensi sistiserkosis pada babi dengan metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Crude antigen dibuat dari larva cacing pita babi (Cysticercus cellulosae) dengan larutan Phosphate Buffer Solution (PBS), kadar protein crude antigen Cysticercus cellulosae diukur dengan Q-fluorometer. Optimalisasi uji ELISA dilakukan dengan cara checkerboard. Sebanyak 93 sampel serum babi asal Lembah Baliem, Papua diuji seroprevalensi sistiserkosis pada babi dengan uji ELISA. Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar protein crude antigen Cysticercus cellulosae sebesar 876 µg/ml, pengenceran crude antigen Cysticercus cellulosae tertinggi 100 µg/ml, pengenceran tertinggi serum babi 1 : 50, dan pengenceran tertinggi konjugat 1 : 2000. Seroprevalensi sistiserkosis pada Lembah Baliem, Papua sebesar 10,75 %. Disarankan untuk melakukan monitoring dan surveilens sistiserkosis pada babi secara berkala untuk mencegah dan mengendalikan penyakit ini.
Tumor Non-neoplastik Akibat Mycotic Dermatitis pada Anjing Kamaliani, Baiq Renny; Gorda, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (4) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.65 KB)

Abstract

Artikel ini memberikan informasi mengenai sebuah kasus tumor kulit pada anjing yang bersifat non-neoplastik pada Oktober 2016.Tumor non-neoplastik adalah tumor dimana pertumbuhannya lambat walaupun terus membesar pada satu lokasi, tetapi tidak memiliki sifat sel neoplasma. Infeksi jamur yang berat dan kronis pada kulit dapat menimbulkan pertumbuhan massa solid menyerupai tumor neoplastik. Peneguhan diagnosa dapat dilakukan dengan histopatologi dan kultur jaringan. Prinsip penanganan kasus tumor ini adalah dengan eksisi tumor yang mengacu pada marginal resection. Pada tanggal 13 Oktober 2016, dilaporkan sebuah kasus tumor pada kulit anjing lokal jantan berusia 8 tahun dengan berat 42,4 kg. Anjing tersebut berasal dari wilayah Panjer, Denpasar Selatan, Bali. Pengamatan mikroskopis menunjukkan jaringan kulit mengalami inflamasi yang bersifat kronis, dibuktikan dengan adanya granuloma, infiltrasi makrofag, limfosit, dan sel plasma, giant cell dan sel datia, epidermis yang nekrosis, serta sel-sel normal penyusun subkutan (fibroblast penghasil kolagen, pembuluh kapiler, dan jaringan ikat). Pada lapisan subkutan juga ditemukan adanya konidia dan hyphae jamur.Kasus ini disimpulkan sebagai infeksi jamur yang masif dan kronis sehingga menimbulkan gejala yang mirip dengan kejadian neoplasma.
Karakterisasi Fisikokimia dan Uji Aktivitas Bakteriosin dari Bakteri Asam Laktat Isolat 13 B Hasil Isolasi Kolon Sapi Bali Pratiwi, Ni Putu Iin Intan; Suardana, I Wayan; Suarsana, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (4) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.106 KB)

Abstract

Bakteri Asam Laktat (BAL) adalah kelompok bakteri Gram positif, berbentuk kokus atau batang dan katalase negatif. Bakteri asam laktat mampu mengeksresikan senyawa antimikroba seperti bakteriosin. Bakteriosin memiliki sifat bakteriostatik atau bakterisidal terhadap bakteri patogen memiliki banyak kegunaan dalam kehidupan masyarakat contohnya sebagai antibiotik alami atau sebagai biopreservatif makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristiki fisikokimia dan aktivitas antimikroba dari bakteriosin asal bakteri asam laktat isolat 13B hasil isolasi kolon sapi bali. Karakterisasi fisikokimia BAL diawali dengan melakukan uji pewarnaan gram dan uji katalase, selanjutnya isolasi dan pemurnian bakteriosin dari isolat 13B. Hasil dari pemurnian bakteriosin selanjutnya diuji secara kimiawi dengan uji Ninhidrin, uji Molisch, dan uji Lowry. Bakteriosin juga diuji potensi daya hambatnya terhadap bakteri Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli. Hasil dari penelitian menunjukkan bakteriosin asal bakteri asam laktat isolat 13B diketahui senyawa protein dengan berat molekul kurang dari 10 kDa dan mempunyai aktivitas antimikrobial terhadap bakteri Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli.
Respons Imun Itik Bali Pascavaksinasi Flu Burung Azizah, Hidayatul; Suardana, Ida Bagus Kade; Sampurna, I Putu
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (4) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.434 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons imun itik bali terhadap vaksinasi Avian Infuenza (AI) dan waktu yang diperlukan untuk terbentuknya titer antibodi yang protektif. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan waktu sebagai perlakuan. Objek penelitian menggunakan 24 serum itik bali. Pengambilan darah pravaksinasi dilakukan pada umur 3 minggu dan vaksinasi dilakukan pada umur 4 minggu secara injeksi subkutan. Pengambilan darah pascavaksinasi dilakukan empat kali dengan interval waktu satu minggu dari vena tibialis cranial dengan spuit 1 cc. Serum dipisahkan dan ditampung dalam tabung eppendorf. Titer antibodi diuji dengan uji Hemaglutination inhibition (HI) dan hasil pemeriksaan titer antibodi dinyatakan dengan satuan log 2. Hasil pemeriksaan rataan titer antibodi pravaksinasi 0 ± 0,000 log 2, minggu ke-1 pascavaksinasi 2,83 ± 0,753 log 2, minggu ke-2 4,83 ± 0,753 log 2, minggu ke-3 6,00 ± 0,632 log 2, dan minggu ke-4 4,67 ± 0,516 log 2 sehingga didapatkan titer antibodi protektif (?24) pada minggu ke-2 sampai minggu ke-4 pascavaksinasi.
Prevalensi Infeksi Cacing Toxocara canis pada Anjing di Kawasan Wisata di Bali Utama, Kadek Jaya; Oka, Ida Bagus Made; Dharmawan, Nyoman Sadra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (4) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.758 KB)

Abstract

Bali merupakan salah satu tempat wisata yang selalu dikunjungi oleh banyak wisatawan. Tingginya jumlah wisatawan yang berkunjung dan tingginya jumlah populasi anjing di beberapa kawasan wisata di Bali yang tidak diikuti dengan sistem pemeliharaan anjing yang baik, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya penularan penyakit, khususnya penyakit zoonosis. Cacing Toxocara canis adalah salah satu parasit pada anjing yang bersifat zoonosis. Penularan penyakit zoonosis akan berdampak pada industri pariwisata, karena dapat menurunkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi infeksi cacing Toxocara canis pada anjing di kawasan wisata di Bali. Sampel yang digunakan sebanyak 100 sampel feses anjing yang ditemukan di kawasan wisata di Bali. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan Cross Sectional Study dan pengambilan sampel ditentukan secara purposive. Pemeriksaan sampel menggunakan metode konsentrasi pengapungan, dengan zat pengapung NaCl jenuh. Untuk mengetahui hubungan prevalensi infeksi cacing Toxocara canis terhadap umur, ras, jenis kelamin, dan sistem pemeliharaan dilakukan analisis statistik dengan uji Chi-square. Hasil pemeriksaan 100 sampel feses anjing didapatkan 9 positif terinfeksi cacing Toxocara canis sehingga prevalensinya sebesar 9%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa prevalensi infeksi cacing Toxocara canis tidak ada hubungan yang signifikan dengan umur, ras, jenis kelamin dan sistem pemeliharaan.
Perbandingan Titer Antibodi Newcastle Disease pada Ayam Petelur Fase Layer I dan II Akbar, Saiful; Ardana, Ida Bagus Komang; Suardana, Ida Bagus Kade
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (4) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.672 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui titer antibodi terhadap penyakit Newcastle Disease (ND) pada ayam petelur fase layer I dan fase layer II pasca vaksinasi ND. Sampel penelitian ini adalah serum yang diambil dari tujuh peternakan pada lima desa di Kecamatan Penebel yaitu Desa Mangesta, Senganan, Babahan, Penebel, dan Jatiluwih. Total sampel adalah 131 sampel terdiri dari 78 sampel fase layer I dan 53 sampel fase layer II. Pengukuran titer antibodi ND dilakukan dengan uji Haemagglutination Inhibition (HI), kemudian hasilnya dianalisis secara statistik menggunakan Chi-square (X2) dan tabel kontingensi 2x2. Hasil penelitian ini menunjukkan vaksinasi ND pada ayam petelur fase layer I dan II di Kecamatan Penebel menunjukkan respon kebal yang protektif (99,24%) dengan nilai Geometric Mean Titre (GMT) 8,52. Kekebalan pada ayam petelur fase layer I (GMT 8,91) lebih besar daripada fase layer II (8,13). Namun, secara statistik kekebalan protektif pada ayam petelur fase layer I dan fase layer II tidak berbeda nyata (p>0,05). Analisis data menggunakan tabel kontingensi 2x2 menunjukkan nilai Odds Ratio (OR) adalah 0, ini berarti faktor tersebut adalah protektif.

Page 1 of 1 | Total Record : 10