cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 7 (5) 2018" : 15 Documents clear
Gambaran Histopatologi Usus Halus Tikus Putih Pascapemberian Sarang Semut dan Parasetamol Dosis Toksik Darmawan, I Wayan Eka; Adi, Anak Agung Ayu Mirah; Sudira, I Wayan; Merdana, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (5) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.699 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.5.466

Abstract

Sarang semut mengandung zat antioksidan yang mampu meminimalisir zat radikal bebas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek pemberian sarang semut terhadap gambaran histopatologi usus halus tikus putih yang diberikan parasetamol dosis toksik. Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus putih jantan dengan berat 200-300 gram yang dibagi menjadi empat kelompok perlakuan. Setiap kelompok perlakuan diberi pakan dan minum standar. Tikus pada perlakuan P0 diberikan pakan dan minum standar, P1 diberikan parasetamol 250 mg/kg BB per oral, P2 diberikan parasetamol 250 mg/kg BB dan ekstrak sarang semut 250 mg/kg BB per oral, dan P3 diberikan ekstrak sarang semut 250 mg/kg BB selama tujuh hari setelah itu diberikan parasetamol 250 mg/kgBB dan ekstrak sarang semut 250 mg/kg BB selama 10 hari per oral. Tikus pada semua kelompok dieuthanasia pada hari ke-18, dengan mengunakan ether. Sampel usus halus diambil untuk diproses menjadi preparat histopatologi dengan pewarnaan rutin Hematoxylin Eosin (HE) dan diperiksa di bawah mikroskop cahaya dengan pembesaran 100-400 kali. Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa perubahan yang dominan pada usus halus adalah pendarahan dan nekrosis pada kelompok perlakuan P1, P2 dan P3. Uji Kruskall-Wallis menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna pada rerata pendarahan dan nekrosis. Pada lesi pendarahan terdapat perbedaan yang sangat signifikan (P<0,01) antara kelompok kontrol positif (P1) dengan P2 dan P3. Pada lesi nekrosis terdapat perbedaan yang sangat signifikan (P<0,01) antara kelompok kontrol positif (P1) dengan P2 dan P3. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sarang semut dapat memperbaiki kerusakan mukosa usus halus akibat pemberian parasetamol dosis toksik pada hewan coba tikus putih.
Sistem Pemeliharaan Anjing dan Tingkat Pemahaman Masyarakat terhadap Penyakit Rabies di Kabupaten Badung, Bali Utami, IGA Monica Rizki; Batan, I Wayan; Gunata, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (5) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.493 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.5.551

Abstract

Rabies merupakan penyakit zoonosis yang menyerang sistem saraf pusat dan merupakan salah satu penyakit yang menjadi prioritas secara nasional. Penyakit ini disebarkan oleh hewan tertular rabies dan anjing merupakan pembawa utama yang dapat melangsungkan siklus infeksi penyakit rabies. Adanya kontak antara air liur dengan membrana mukosa atau melalui luka pada tubuh dapat menularkan rabies. Hal tersebut sama halnya dengan akibat gigitan atau cakaran yang juga dapat menularkan infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase dan hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi sistem pemeliharaan dan tingkat pemahaman masyarakat terhadap penyakit rabies di Kabupaten Badung. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 300 kuisioner yang tersebar di 6 kecamatan. Data hasil wawancara dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan dendrogram. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa sistem pemeliharaan anjing di Kabupaten Badung berhubungan dengan sistem pemeliharaan anjing (52,3%), memelihara HPR lain (77,0%), status pemeriksaan kesehatan anjing (61,3%), status vaksinasi rabies (83,7%), kondisi fisik anjing peliharaan (83,7%), status pemberian pakan (100%), jumlah pemberian pakan/hari (88,7%), dan sistem pemeliharaan yang buruk dari masyarakat yang memelihara anjing lebih dari 1 ekor (50,3%), kontak anjing (82,7%). Tingkat pemahaman masyarakat di Kabupaten badung berhubungan dengan asal anjing (64,0%), mobilitas anjing (53,3%), pengetahuan mengenai bahaya rabies (93,3%), ciri-ciri rabies (77,3%), dan pemahaman masyarakat yang buruk dari cara memperoleh anjing dari orang lain (65,0%), kurangnya penyuluhan kepada masyarakat (49,0%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sistem pemeliharaan dan tingkat pemahaman masyarakat di Kabupaten Badung tergolong baik.
Pengaruh Frekuensi Penampungan Semen terhadap Daya Hidup dan Abnormalitas Spermatozoa Ayam Pelung Apriliani, Karolina; Bebas, I Wayan; Trilaksana, I Gusti Ngurah Bagus
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (5) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.325 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.5.515

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh frekuensi penampungan semen terhadap daya hidup dan abnormalitas spermatozoa ayam pelung. Penelitian ini menggunakan Rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan yang menggunakan empat ekor ayam pelung jantan berumur 8 bulan. Perlakuan I (T1) penampungan semen ayam pelung yang dilakukan 1 kali seminggu. Perlakuan II (T2) penampungan semen ayam pelung yang dilakukan 2 kali seminggu. Perlakuan III (T3) penampungan semen ayam pelung yang dilakukan 3 kali seminggu. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analysis of Variant (ANOVA) kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukan daya hidup dan abnormalitas spermatozoa pada perlakuan T1, T2, dan T3 masing-masing yaitu 94.00±1.00%, 92.60±1.34% dan 67.20±2.58%; dan abnormalitas spermatozoa masing-masing yaitu 6.20±1.92%, 6.80±1.78% dan 17.40±2.40%. Secara statistik frekuensi penampungan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap daya hidup dan abnormalitas spermatozoa ayam pelung.
Efektivitas Ekstrak Etanol Daun Pegagan Terhadap Bakteri Micrococcus luteus Diisolasi dari Dermatitis Kompleks Anjing Megariyanthi, Ni Putu Arie; Wirawan, I Gede; Suartha, I Nyoman; Sudimartini, Luh Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (5) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.611 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.5.475

Abstract

Obat tradisional telah menjadi pilihan alternatif yang digunakan sebagai pengobatan penyakit di beberapa belahan dunia seperti India, Cina, termasuk Indonesia untuk menangani penyakit pada manusia maupun hewan salah satunya adalah penggunaan tanaman pegagan (Centella asiatica). Komponen aktif pegagan telah terbukti memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak daun pegagan terhadap Micrococcus luteus yang diisolasi dari kasus dermatitis kompleks pada anjing. Konsentrasi 0% sebagai kontrol negatif (Tween 2%) dan ekstrak daun pegagan konsentrasi 5%, 10%, dan 25% serta kanamycin sebagai kontrol positif telah disiapkan. Setiap 0,2uL dari masing-masing konsentrasi ekstrak pegagan dimasukkan ke dalam sumuran dengan diameter 5 mm pada Mueller Hinton Agar yang telah diinokulasi M. luteus. Setelah inkubasi selama 24 jam, diameter zona hambat diukur dan dianalisa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pegagan secara signifikan mampu menghambat pertumbuhan M.luteus (P<0,01). Rataan zona hambat yang terbentuk pada konsentrasi 0%, 5%, 10% dan 25% secara berurutan adalah 0,0 mm; 3,0 mm; 4,5 mm; dan 5,5 mm berbeda sangat nyata. Disimpulkan bahwa ekstrak daun pegagan mampu menghambat M. luteus dan konsentrasi ekstrak daun pegagan yang berbeda mempengaruhi penghambatan M. luteus.
Karaktersitik Lokus Mikrosatelit D8S1100 pada Populasi Monyet Ekor Panjang di Gunung Pengsong Lombok Gurning, Santri Devita Sari; Wandia, I Nengah; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (5) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.911 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.5.540

Abstract

Polimorfisme suatu lokus pada suatu populasi penting diketahui untuk dapat melihat suatu populasi dalam keadaan aman atau terancam. Penelitian ini ditujukan untuk mengkarakterisasi lokus mikrosatelit D8S1100 pada populasi monyet ekor panjang di Gunung Pengsong dan mendapatkan informasi mengenai status polimorfisme. Sejumlah 15 sampel darah dikoleksi dari populasi monyet ekor panjang di Gunung Pengsong sebagai sumber DNA. Lokus mikrosatelit D8S1100 diamplifikasi dengan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction) dengan suhu annealing 54ºC sebanyak 30 siklus. Selanjutnya alel dipisahkan dengan elektroforesis pada gel poliakrilamid 8% selama 90 menit dan dimunculkan dengan pewarnaan perak. Penelitian menemukan tiga jenis alel pada lokus mikrosatelit D8S1100 pada populasi monyet ekor panjang di Gunung Pengsong. Masing-masing alel 183, 186, dan 189 memiliki frekuensi berurutan sebesar 0,43, 0,47, dan 0,10. Heterozigositas lokus mikrosatelit D8S1100 pada populasi monyet ekor panjang di Gunung Pengsong sebesar 0,60. Nilai X² yang didapat adalah 5,62 nilai ini lebih kecil dari X² tabel pada ? = 0,05 untuk dF = 3 sebesar 7,82 yang artinya populasi monyet di Gunung Pengsong masih melakukan perkawinan acak. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa lokus mikrosatelit D8S1100 bersifat polimorfik pada populasi monyet ekor panjang di Gunung pengsong dan populasi tersebut masih melakukan perkawinan acak (berada dalam Kesetimbangan Hardy-Weinberg).
Laporan Kasus Newcastle Diseases Dan Avian Influenza Pada Ayam Buras Pranatha, Wahid Danang; Irhas, Rajiman; Arhiono, Haru Nira Putra; Widyasanti, Ni Wayan Helpina; Kardena, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (5) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.618 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.5.498

Abstract

Ayam buras (bukan ras) merupakan salah satu sumber plasma nutfah yang mempunyai potensi penggerak ekonomi pedesaan. Newcastle Disease (ND) dan Avian influenza (AI) merupakan penyakit fatal yang menginfeksi ayam buras. Kedua virus ini termasuk jarang menginfeksi unggas dalam waktu bersamaan karena memiliki virulensi yang tinggi dan dapat mengakibatkan kerugian ekonomi yang besar pada peternakan unggas. Pada kasus ini dari 120 ekor ayam, 62 ekor ditemukan sakit dan 27 ekor mati. Hasil tes laboratorium dengan uji HA/HI menunjukkan ayam kasus terinfeksi virus Newcastle Disease dan Avian Influenza. Hasil pengamatan sampel organ secara Patologi Anatomi (PA) diketahai bahwa otak, jantung, dan hati normal; trakea, paru-paru, dan usus mengalami hemorrhagi; proventrikulus menunjukan ptekie. Sedangkan pemerikasaan secara Histopatologi (HP) pada otak terdapat vaskulitis dan edema; trakea hemorrhagi dan edema; paru-paru hemorrhagi; miokardium jantung edema; mukosa usus infiltrasi sel radang makrofag dan nekrosis difusa; hati menunjukan adanya kongesti pada vena ventralis dan kapiler; proventrikulus terdapat pelebaran dan perlekatan epitel satu sama lain, nekrosis dan adanya nucleus eritrosit.
Infeksi Demodex canis pada Anjing Persilangan Pomeranian dengan Anjing Lokal Budiartawan, I Komang Alit; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (5) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.94 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.5.562

Abstract

Demodekosis pada anjing merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi tungau Demodex sp. Penyakit kulit pada kasus ini teramati pada anjing persilangan yang berumur ±1 tahun. Anjing memiliki gejala klinis berupa pruritus, rambut mengalami alopesia, adanya scale dan crusta di seluruh tubuh anjing kecuali pada telinga, leher bagian atas, dan ekor, selain itu terdapat eritema pada bagian dada, hiperkeratosis terjadi pada bagian kaki dan luka pada bagian wajah dan punggung. Pada pemeriksaan deep skin scraping, trichogram, tape smear, dan biopsi kulit ditemukan tungau Demodex sp. Pemeriksaan penunjang dilakukan pada anjing kasus untuk menegakkan diagnosis. Pengukuran dimensi Demodex sp. yang ditemukan dalam folikel rambut pada biopsi kulit didapatkan ukuran panjang dan lebar Demodex sp. Panjang dan lebar Demodex sp. adalah 224,012 ± 42,175 µm; 212,715 ± 37,619 µm; 264,392 ± 34,184 µm; 232,403 ± 38,808 µm, dan 198,572 ± 36,212 µm. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan, spesies Demodex yang menginfeksi anjing kasus adalah Demodex canis. Pengobatan dilakukan dengan pemberian ivermectin, amitraz, diphenhydramine HCl, Betamox LA, fish oil, dan Vi-sorbits. Setelah diberikan terapi selama 20 hari, anjing kasus menunjukkan kondisi membaik dengan mulai tumbuhnya rambut pada lokasi lesi, tidak mengalami pruritus dan dari evaluasi deep skin scraping di dapatkan hasil jumlah Demodex sp. berkurang setiap minggunya.
Tumbuh Kembang Organ Visceral Itik Lokal Bali pada Masa Finisher Kristianto, Kartika; Nindhia, Tjokorda Sari; Sampurna, I Putu
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (5) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.259 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.5.482

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tumbuh kembang organ visceral itik lokal bali pada masa finisher, sehingga dapat ditentukan perkiraan berat organ pada usia tertentu. Penelitian ini menggunakan itik jantan dan betina umur 8-16 minggu sebanyak 30 ekor yang dipelihara secara semi intensif di Desa Kalianget, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali. Penelitian ini tentang organ visceral (hati, jantung, paru-paru dan ventrikulus), dilakukan penimbangan berat organ setiap 2 minggu. Data yang diperoleh dianalisis dengan Multivariant dan regresi power. Hasil penelitian menunjukkan saat berumur 8 sampai 16 minggu itik bali terjadi pertumbuhan berat organ visceral yang nyata. Hasil analisis Multivariant menunjukkan berat organ visceral itik lokal bali jantan dan betina tidak berbeda nyata, hasil analisis regresi menunjukkan organ visceral mengalami laju tumbuh kembang yang nyata , yang paling awal tumbuh adalah ventrikulus, jantung, paru- paru dan yang terakhir adalah hati.
Studi Perkembangan Histologi Jejunum Ayam Broiler yang Diberikan Suplemen Asam Butirat Purnata, I Dewa Nyoman Alit; Berata, I Ketut; Kardena, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (5) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.373 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.5.531

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis dan lama pemberian asam butirat terhadap struktur histologi jejunum ayam broiler. Penelitian ini menggunakan 24 sampel ayam broiler yang dibagi menjadi tiga perlakuan dosis yaitu P0 (kontrol) tanpa pemberian asam butirat, P1 1 gr asam butirat/kg pakan, P2 0,5 gr asam butirat/kg pakan. Pada minggu ke-1, 2, 3, dan 4 akan dinekropsi dua ekor ayam dan diambil bagian jejunumnya. Selanjutnya dibuat preparat histologi dengan metode pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE). Pemeriksaan histologi jejunum dilakukan untuk membandingkan panjang vili dan jarak antar vili antara perkelompok. Hasil penelitian menunjukkan dosis asam butirat berpengaruh nyata terhadap perkembangan panjang vili jejunum pada ayam broiler, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap jarak antar vili. Pada panjang vili pemberian asam butirat dengan dosis 0,5 g/kg pakan menunjukkan pertumbuhan vili terbaik dari pada dosis pemberian asam butirat 1 g/kg pakan maupun kontrol. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa lama pemberian asam butirat berpengaruh nyata terhadap panjang vili, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap jarak antar vili.
Hemogram Anjing Penderita Dermatitis Kompleks Widyanti, Agnes Indah; Suartha, I Nyoman; Erawan, I Gusti Made Krisna; Anggreni, Luh Dewi; Sudimartini, Luh Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (5) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.38 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.5.576

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hemogram anjing penderita dermatitis kompleks. Sampel penelitian ini adalah darah anjing yang mengalami dermatitis kompleks yang didapatkan dari daerah sekitar Denpasar. Dermatitis kompleks adalah radang kulit yang disebabkan oleh komplikasi berbagai agen penyebab seperti parasit, bakteri dan jamur. Komplikasi dari berbagai agen itu menyebabkan kerusakan pada kulit dan terganggunya proses vaskularisasi ke kulit, hal ini menyebabkan terjadi pembusukan pada kulit sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap, kerontokan rambut, dan luka borok. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 15 ekor anjing. Pemeriksaan darah untuk mendapatkan nilai hemogram digunakan mesin Animal Blood Counter iCell-800Vet, China. Setelah penghitungan diferensiasi leukosit dari preparat ulas darah dengan pengamatan mikroskop, data dianalisis secara deskriptif. Hasil hemogram anjing penderita dermatitis kompleks adalah anemia, neutropenia, dan basofilia. Neutropenia yang terjadi pada anjing penderita dermatitis kompleks disertai peningkatan neutrofil stab/neutrofil muda, hal tersebut mengindikasikan adanya peradangan yang bersifat akut. Temuan hemogram yang paling umum pada anjing penderita dermatitis kompleks adalah anemia, neutropenia dan basofilia. Neutropenia yang terjadi disertai dengan peningkatan neutrofil muda (stab/band).

Page 1 of 2 | Total Record : 15