cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 8 (5) 2019" : 15 Documents clear
Ekstrak Etanol Kulit Manggis Meringankan Lesi Histopatologis Usus Halus Mencit yang diberi Monosodium Glutamate Hidayatullah, Lalu Syarif; Adi, Anak Agung Ayu Mirah; Kardena, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (5) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.849 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran histopatologi usus halus pada mencit pasca pemberian MSG 1%, dan pemberian kombinasi antara MSG 1% dengan ekstrak etanol kulit manggis 4,5 %. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan yaitu kontrol (P0), pemberian MSG 1% (P1), dan pemberian kombinasi MSG 1% dengan ekstrak etanol kulit manggis 4,5 % (P2) lewat air minum. Perlakuan diberikan selama 30 hari, diakhir perlakuan mencit dibius dan dieutanasi dengan dislokasi capitis. Sampel organ usus halus diambil kemudian diproses menjadi preparat histopatologi. Hasil analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis menunjukan bahwa terdapat pengaruh pemberian MSG melalui air minum terhadap lesi degenerasi, nekrosis, peradangan pada duodenum, jejunum, ileum. Namun ditemukan perubahan yang tidak bermakna terhadap lesi degenerasi pada duodenum, jejunum, ileum dan nekrosis pada duodenum, serta peradangan pada jejunum. Ditemukan juga perbedaan yang bermakna antara perlakuan P1 dan P2 pada lesi nekrosis jejunum, ileum serta peradangan pada duodenum dan ileum. Hasil pemeriksaan histopatologi dapat disimpulkan bahwa mencit yang diberi MSG 1% selama 30 hari yang dicampurkan dalam air minum dapat menyebabkan efek degenerasi, nekrosis, peradangan pada usus halus mencit. Pemberian kombinasi ekstrak etanol kulit manggis dan MSG selama 30 hari dapat meringankan tingkat lesi degenerasi, nekrosis, peradangan pada usus halus mencit dibandingkan dengan hanya diberi MSG 1%.
Laporan Kasus: Penanganan Toksokariosis dan Skabiosis pada Kucing Domestik Betina Berumur Enam Bulan Calista, Ruli Mauludina Djaya Putri; Erawan, I Gusti Made Krisna; Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (5) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.19 KB)

Abstract

Toksokariosis adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing nematoda, dari genus toxocara. Toksokariosis pada kucing disebabkan oleh Toxocara cati. Hewan kasus adalah kucing domestik berjenis kelamin betina, berumur enam bulan dengan berat satu kilogram. Kucing mengalami diare selama satu minggu. Berdasarkan pemeriksaan klinis ditemukan perbesaran abdomen dan kelainan pada kulit. Pemeriksaan kulit dengan skin scrapping yang dilakukan pada kulit bagian telinga yang mengalami hiperkeratosis menunjukkan hasil positif terhadap agen Notoedres cati. Pemeriksaan feses yang dilakukan dengan metode natif ditemukan telur cacing Toxocara cati. Berdasarkan hasil pemeriksaan kulit dan feses maka kucing kasus didiagnosis menderita toksokariosis dan skabiosis. Pengobatan toksokariosis dilakukan dengan pemberian obat pyrantel pamoat 1 ml (25 mg/kg BB) per oral. Pengobatan skabiosis pada kucing diberikan injeksi ivermectine sebanyak 0,02 ml (0,2 mg/kg BB) secara subkutan dan diulang dua minggu sekali. Kucing juga diberikan pengobatan suportif berupa vitamin B kompleks (S3dd ½ tab PO). Hasil pengobatan selama satu minggu menunjukkan perkembangan yang sangat baik, abdomen terlihat mengecil dan hiperkeratosis pada telinga berkurang.
Kemanjuran Fluralaner untuk Pengobatan Demodekosis pada Anjing Persilangan Erawan, I Gusti Made Krisna; Puspaeni, Ni Ketut Juni; Anthara, Made Suma
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (5) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.473 KB)

Abstract

Demodekosis adalah penyakit dermatologis yang diakibatkan oleh infeksi Demodex sp. Tungau Demodex canis dalam jumlah kecil pada kulit tidak menimbulkan gejala klinis pada anjing yang sehat dan jumlahnya tetap rendah karena sistem imun anjing. Namun, bila kondisi imun anjing menurun maka Demodex sp. akan berkembang menjadi lebih banyak dan menimbulkan penyakit kulit. Telah dilakukan pemeriksaan anjing betina ras persilangan bernama Putih berumur dua tahun, bobot badan 7 kg dengan keluhan rambut rontok, kegatalan, dan kemerahan pada kulit. Pemeriksaan klinis ditemukan adanya kebotakan, kemerahan, hiperkeratosis, dan kegatalan pada kulit di leher, dada, abdomen, kaki depan dan kaki belakang, dan pada daerah punggung ditemukan scale. Pemeriksaan kerokan kulit secara mikroskopik ditemukan adanya tungau D. canis dan hasil pemeriksaan darah lengkap menunjukkan anjing kasus mengalami anemia normositik normokromik. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan laboratorium, anjing kasus didiagnosis menderita demodekosis. Pengobatan kausatif dilakukan dengan pemberian fluralaner tablet kunyah 250 mg secara oral sekali pemberian. Anjing kasus juga diterapi dengan chlorfeniramin maleat (0,5 mg/kg BB; q12h; selama lima hari), fish oil, dan vitamin B-kompleks sebagai pengobatan suportif sekali sehari selama 10 hari. Anjing juga dimandikan dengan sampo antiparasit dua kali seminggu. Setelah ditangani selama 10 hari, frekuensi menggaruk dan kemerahan pada kulit berkurang, dan rambut mulai tumbuh. Pada minggu kelima sudah tidak ditemukan lesi pada kulit dan rambut tumbuh dengan baik sehingga rambut tampak sehat dan bertambah lebat. Dapat disimpulkan bahwa pengobatan demodekosis pada anjing dengan menggunakan fluralaner memberikan hasil yang baik.
Induksi Berahi dengan PGF2 Alfa dan Penyuntikan Gn-RH Setelah di Inseminasi Buatan pada Sapi Bali Budiasa, Made Kota; Pemayun, Tjok Gde Oka
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (5) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.615 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui munculnya berahi setelah penyuntikan PGF2 alfa dan angka kebuntingan setelah penyuntikan Gn-RH (Gonadotrophin Releasing Hormone) pada sapi bali. Materi penelitian adalah 20 ekor sapi bali betina yang sudah dua kali beranak, dan kondisi sehat serta mempunyai siklus berahi normal. Sapi-sapi penelitian dibagi menjadi dua kelompok perlakuan. Kelompok I disuntik PGF2 alfa (LutalyseTM, Pharmacia & Upjohn Company, Prizer Inc.) Sebanyak 25 mg/ml/ekor secara intramuskuler. Kelompok II disuntik PGF2 alfa 25 mg/ml/ekor secara intrauterin dengan masing – masing kelompok terdiri dari 10 kali ulangan. Sapi-sapi yang menunjukkan gejala berahi dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok I diinseminasi tanpa penyuntikan Gn-RH (kontrol), dan kelompok II disuntik Gn-RH 250 ug/ekor (Fertagyl, Intervet. Inc) secara intramuskuler, 3 hari setelah inseminasi buatan, dengan masing-masing kelompok terdiri dari 10 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa rataan munculnya berahi setelah penyuntikan PGF2 alfa secara intramuskuler adalah 65.,60 ± 8.26 jam dan 40.80 ± 6.19 jam secara intrauterin, dan secara statistik menunjukkan perbedaan yang nyata. Persentase kebuntingan pada penyuntikan Gn-RH adalah 100% dan tanpa Gn-RH (adalah 70%). Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian PGF2 alfa secara intrauterin mampu menginduksi munculnya berahi lebih cepat dan penyntikan Gn-RH mampu meningkatkan angka kebuntingan.
Laporan Kasus: Prolapsus Rektum pada Kucing Persia Peaknose Muhadjir, Iin Mutmainnah; Wandia, I Nengah; Wardhita, Anak Agung Gde Jaya
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (5) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.651 KB)

Abstract

Prolapsus rektum merupakan suatu kondisi keluarnya satu atau lebih lapisan rektum melalui orificium ani. Prolapsus umumnya terjadi pada hewan muda dan tua karena konstipasi, endoparasit, diare, faktor keturunan, kehilangan daya spinchter ani dan pelonggaran selaput lendir rektum. Seekor kucing datang ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Udayana dengan keluhan prolapsus berulang, nafsu makan baik, dan kucing pasif. Pemeriksaan fisik menunjukkan pada bagian rektum yang mengalami prolapsus memiliki perbedaan warna, bagian proksimal berwarna merah muda sedangkan bagian distal berwarna merah dan mengecil. Hasil pemeriksaan darah menunjukkan bahwa kucing layak untuk dioperasi. Kucing dioperasi dengan menggunakan teknik reposisi rektum. Rektum dimasukkan secara perlahan dengan manual, kemudian dilakukan penjahitan di sekeliling anus dengan pola purse string. Perawatan pascaoperasi dilakukan dengan memberikan antibiotik amoxicilline long acting 1 ml/10 kg BB, dilanjutkan dengan amoxicilline sirup (10-25 mg/kg BB; q 12h) dan antiinflamasi dexamethasone (0,1-0,2 mg/kgBB; q12h). Namun kucing mengalami kematian pada hari kedua pascaoperasi.
Pemberian Acidifier Asam Organik pada Induk Babi Bunting Memperberat Bobot Anak-Anak yang Dilahirkannya Mahendra, I Putu Gede; Ardana, Ida Bagus Komang; Sudira, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (5) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.856 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pegaruh asam organik dan anorganik sebagai acidifier dalam pakan terhadap bobot badan dan jumlah anak saat lahir. Penelitian ini menggunakan 24 ekor induk babi landrace. Bahan pakan yang digunakan adalah pakan pabrikan 18%, dedak 30.4%, jagung giling 40%, konsentrat 157 16%, pignox 0,2%, pignik 0,4%, lakta mineral 2%, susu skim 1%. Pakan perlakuan yang digunakan antara lain pakan tanpa asam organik dan anorganik dan kombinasi asam organik dan anorganik dengan pakan 1 g/kg pakan, 2 g/kg pakan, dan 3 g/kg pakan. Variabel yang diamati adalah berat lahir anak babi dan jumlah anak saat lahir. Data yang diperoleh berupa hasil pengukuran bobot badan anak babi saat lahir, mortalitas anak babi saat lahir, dan konsumsi pakan induk babi fase kebuntingan antara yang diberikan perlakuan asam organik dan anorganik dan yang tidak diberikan perlakuan. Data dianalisis menggunakan sidik ragam dan apabila terdapat perbedaan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan pemberian asam organik dan anorganik yang dicampur dalam pakan dengan dosis 3 g/kg pakan dapat meningkatkan berat lahir anak babi. Dapat disimpulkan bahwa pemberian kombinasi asam organik dan anorganik dalam pakan berpengaruh nyata terhadap berat lahir anak babi, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah anak babi saat lahir.
Laporan Kasus : Penanganan Bedah terhadap Kejadian Endometritis pada Kucing Lokal Sendana, Lois; Wandia, I Nengah; Dada, I Ketut Anom
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (5) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.204 KB)

Abstract

Endometritis merupakan suatu kondisi terjadinya radang pada dinding uterus. Penyebabnya dapat berupa mikroorganisme yang masuk melalui organ reproduksi betina pada saat perkawinan atau melahirkan. Seekor kucing datang ke Rumah Sakit Hewan Universitas Udayana dengan keluhan adanya leleran darah dan nanah pada vulva, sudah beberapa kali kawin tetapi tidak bunting, dan nafsu makan baik. Hasil pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan adanya penebalan yang terjadi pada dinding uterus dan gambaran anechoic di dalam organ uterus yang mengindikasikan adanya cairan. Penanganannya adalah dengan melakukan pembedahan ovariohisterektomi, yaitu pengangkatan ovarium dan uterus. Premedikasi yang digunakan adalah atropin sulfat sebanyak 0,3 ml secara subkutan. Anestesi yang diberikan adalah kombinasi ketamin sebanyak 0,5 ml dan xylazin sebanyak 0,3 ml secara intravena. Pembedahan dilakukan dengan laparatomi mulai dari kulit hingga peritoneum. Ligasi dilakukan pada proksimal ovarium kanan dan kiri. Bifurkasio uteri ditelusuri untuk mendapatkan kornua uteri, bagian distal diligasi sebanyak dua kali dan pemotongan pada proksimal serviks lalu melakukan kontrol pendarahan. Perawatan pascaoperasi dengan antibiotik berupa amoxicillin sirup sdengan jumlah pemberian 1,5 ml sebanyak 3 kali sehari selama 7 hari dan antiinflamasi berupa dexamethasone tablet dengan jumlah pemberian 0,3 gram sebanyak 2 kali sehari selama 5 hari. Pengobatan topikal, diberikan salep betamethasone valerat dan neomycin sulfate yang memiliki kandungan antiinflamasi dan antibiotik setiap 2 kali sehari selama 5 hari. Benang jahit dibuka pada hari ketujuh dengan kondisi luka yang sudah kering dan kucing mengalami kesembuhan.
Studi Kasus: Hernia Abdominalis pada Kucing Domestik Sasmita, Debbie Aprillia Yona; Sudisma, I Gusti Ngurah; Wirata, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (5) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.918 KB)

Abstract

Hernia abdominalis adalah penonjolan isi abdomen melewati suatu cincin atau lubang yang abnormal pada rongga abdomen tubuh. Seekor kucing betina ras lokal, berumur 6 tahun, bobot badan 2,7 kg, dengan keluhan adanya adanya benjolan pada area abdomen disertai cincin dengan massa yang dapat didorong ke dalam. Bedasarkan anamnesa penonjolan tersebut mulai terlihat sejak tiga bulan yang lalu dan diduga disebabkan oleh trauma. Hasil pemeriksaan darah lengkap menunjukkan eritrosit menurun sedangkan hemoglobin berada pada rentang normal. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan klinis, kucing didiagnosa mengalami hernia abdominalis dengan prognosa fausta. Penanganan kasus dilakukan dengan reposisi usus ke dalam rongga abdomen dengan pembedahan (insisi). Pascaoperasi diberikan antibiotik cefotaxime injeksi kemudian dilanjutkan dengan amoxicilline (20 mg/kg BB; q 12h; selama 5 hari) dan antiradang nonsteroid meloxicam (0,1 mg/kg BB; q 24h; selama 5 hari). Hasil operasi menunjukkan kesembuhan luka pada hari ke-7 pascaoperasi luka sudah mengering dan menyatu
Laju Pertumbuhan Dimensi Lingkar Tubuh Kerbau Lumpur (Bubalus bubalis) Jantan dan Betina di Kabupaten Lombok Tengah Sunarko, Stefanie Nadya Stellanora; Sampurna, I Putu; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (5) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.885 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan dimensi lingkar tubuh kerbau lumpur (Bubalus bubalis) jantan dan betina di kabupaten Lombok Tengah. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 54 ekor kerbau lumpur (27 ekor jantan dan 27 ekor betina). Kisaran umur kerbau yang diukur yaitu sembilan bulan sampai 20 bulan (9, 10, 11, 12, 13, 14, 18, 19, 20) bulan, setiap umur yang sama jantan dan betina diukur tiga ekor kerbau sebagai ulangan. Pengukuran dimensi lingkar dilakukan setiap sebulan sekali, selama tiga bulan. Data lingkar tubuh yang diperoleh dianalisis dengan multivariant dan regresi power. Hasil analisis multivariant menunjukkan jenis kelamin berbeda nyata terhadap ukuran dimensi lingkar tubuh serta terdapat interaksi antara jenis kelamin dengan umur. Hasil analisis regresi power menunjukkan koefisien korelasi masing-masing dimensi lingkar leher atas, leher bawah, dada, dan abdomen kerbau lumpur jantan dan betina berbeda nyata. Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa dimensi lingkar tubuh kerbau lumpur jantan paling dini tumbuh yaitu dimensi lingkar leher atas kemudian disusul oleh lingkar abdomen, lingkar leher bawah, dan terakhir tumbuh yaitu lingkar dada. Sedangkan kerbau lumpur betina paling dini tumbuh yaitu dimensi lingkar leher bawah disusul oleh lingkar leher atas, lingkar abdomen dan terakhir tumbuh juga lingkar dada. Disarankan adanya penelitian lebih lanjut mengenai pola pertumbuhan dimensi lingkar tubuh kerbau lumpur jantan dan betina yang bertujuan untuk mengetahui kapan dimensi lingkar tubuh tercepat dan berhenti tumbuh.
Laporan Kasus: Cystic Endometrial Hiperplasia-Pyometra Kompleks pada Kucing Persia Nurrurozi, Alfarisa; Yanuartono, Yanuartono; Indarjulianto, Soedarmanto
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (5) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.096 KB)

Abstract

Seekor kucing persia betina berumur satu tahun diperiksa dengan keluhan perut membesar selama beberapa minggu. Pemeriksaan hematologi pertama kucing mengalami leukositosis (29.150 sel/µL) dan neutrofilia. Pemeriksaan hematologi kedua terjadi peningkatan leukosit yang lebih tinggi (38.750 sel/µL), eutrofilia disertai monositosis, eosinofilia, hiperproteinemia dan hiperfibrinogenemia. Sonogram hasil pemeriksaan ultrasonografi terlihat adanya penebalan pada dinding uterus bersifat hyperechoic dengan lumen berisi cairan hypoechoic. Pemeriksaan radiografi terlihat perbesaran uterus dengan gambaran radiopaque pada semua bagian uterus. Berdasarkan hasil pemeriksaan gejala klinis dan laboratoris kucing didiagnosis mengalami cystic endometrial hyperplasia-pyometra kompleks dengan prognosis dubius. Penanganan yang dilakukan adalah ovariohisterektomi. Pemeriksaan makroskopis pascaoperasi terhadap uterus nampak perbesaran uterus terisi cairan keruh, kental dan berbau. Mukosa endometrium mengalami hiperplasia dan memiliki penampilan haemorrhagic dengan sejumlah kecil sista endometrium. Pengobatan pascaoperasi dilakukan dengan amoksisilin dosis 10 mg/kg BB dan deksametason dosis 0,125 mg/kg diminumkan dua kali sehari selama empat hari, dan multivitamin sebanyak 0,6 mL diberikan satu kali sehari. Kucing mengalami perbaikan secara klinis empat hari setelah operasi dan dinyatakan sembuh pada hari ke-6 setelah operasi.

Page 1 of 2 | Total Record : 15