cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 8 (6) 2019" : 16 Documents clear
Prevalensi Parasit Cacing Saluran Pencernaan pada Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Pulau Nusa Penida, Klungkung, Bali Murdayasa, I Wayan Gde; Wandia, I Nengah; Suratma, Nyoman Adi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (6) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.672 KB)

Abstract

Penyakit parasitik merupakan penyakit infeksi yang umum terjadi pada satwa primata, baik ektoparasit maupun endoparasit yang dapat mengancam menurunnya populasi primata di alam bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang prevalensi parasit cacing pada monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Pulau Nusa Penida, Klungkung, Bali. Sebanyak 50 sampel feses dikoleksi dari Pura Puncak Mundidan Pura Goa Giri Putri masing-masing sebanyak 15 sampel, 10 sampel di Pura Puser Sahab, dan 10 sampel di Pura Paluang secara acak dan diawetkan dengan menggunakan 2% Kalium Bikromat (K2Cr2O7). Sampel feses selanjutnya diperiksa di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, dengan menerapkan metode apung untuk mengetahui keberadaan telur-telur parasit cacing. Data yang diperoleh ditabulasikan dan selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ditemukan prevalensi parasit cacing monyet ekor panjang di Pulau Nusa Penida sebesar 52% dengan prevalensi parasit Strongyloides sp. sebesar 48% dan Ancylostoma sp. sebesar 38%. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa prevalensi parasit cacing pada monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Pulau Nusa Penida, Bali tergolong tinggi.
Laporan Kasus: Mastitis Gangrene pada Induk Kucing Persia Setelah Melahirkan Aurora, Clara Inneke; Nururrozi, Alfarisa; Soedarmanto, Indarjulianto
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (6) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.436 KB)

Abstract

Mastitis adalah peradangan pada glandula mammae karena infeksi bakteri pada masa laktasi. Seekor kucing persia berumur 8 bulan dengan bobot badan 2,9 kg diperiksa dengan keluhan terlihat kesakitan saat menyusui anaknya, terdapat luka pada mammae, nafsu makan dan minum menurun, dan dua anak mati setelah menyusu induknya. Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan suhu tubuh 40,3°C, dehidrasi, mammae bagian abdominal dekster asimetris, bengkak, merah, hangat, konsistensi keras, nyeri saat dipalpasi, disertai luka dengan akumulasi pus dan darah yang melanjut menjadi gangrene. Pemeriksaan hematologi, kucing mengalami limfositopenia, hiperproteinemia dan hiperfibrinogenemia. Hasil pemeriksaan sitologi mammae ditemukan kumpulan bakteri, sel radang limfosit dan hancuran sel-sel epitel. Kultur pada media plat agar darah terisolasi bakteri Staphylococcus sp. Kucing didiagnosis mengalami mastitis gangrene dengan prognosis dubius. Pengobatan yang dilakukan adalah kompres air hangat, amoxicillin (10 mg/kg s2dd PO), dexamethason (0,125 mg/kg s2dd PO), adenosin triphospat (ATP) (0,5 mg/kg s1dd IM), asam tolfenamik (6,5 mg/kg s1dd IM), lisin sirup (70 mg/kg s2dd PO). Pada hari keenam pengobatan, terbentuk luka terbuka pada ambing. Luka dijahit dengan pemberian sedativa. Kucing mulai menunjukkan perbaikan pada hari ke-8 pengobatan. Luka gangrene mulai menutup dan kering, mammae tidak bengkak dan konsistensi tidak keras, palpasi tidak nyeri. Kucing dinyatakan sembuh 14 hari setelah pengobatan.
Pemberian 10% Susu Afkir dalam Pakan Dapat Menurunkan Pertambahan Bobot Badan, dan Meningkatkan Feed Convertion Ratio Anak Babi Wibawa, I Gede Pratama Candra; Ardana, Ida Bagus Komang; Sampurna, I Putu
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (6) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.458 KB)

Abstract

Babi merupakan salah satu ternak yang sangat penting dalam penyediaan protein hewani bagi masyarakat non muslim Indonesia. Peternak babi kerap memberikan susu afkir sebagi feed supplement untuk meningkatkan pertumbuhan ternak. Susu afkir yaitu susu sapi dalam kemasan yang telah ditolak/reject namun, kondisi fisik dan nutrisi susu afkir masih baik dan sering digunakan peternak babi untuk menekan biaya produksi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian susu afkir pada konsentrasi 5% dan 10% dalam campuran pakan babi terhadap konsumsi pakan pertambahan bobot badan dan nilai Feed Convertion Ratio (FCR) pada anak babi persilangan/crossbreed jantan lepas sapih. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Legkap (RAL) terdiri dari tiga perlakuan dan sembiang ulangan, dengan total 27 ekor anak babi yang diberi pakan standar (CP-550) dikombinasikan dengan susu afkir 5% (P1), dan kelompok ternak babi yang diberi pakan standar (CP-550) dikombinasikan dengan susu afkir 10% (P2). Data hasil pemeriksaan dianalisis menggunakan uji sidik ragam. Pengaruh antar perlakuan dapat dilihat dan dilanjutkan dengan ujii jarak berganda Duncan. Pemberian susu afkir dengan konsentrasi 5% maupun 10% dalam pakan dapat meningkatkan jumlah konsumsi pakan secara nyata pada anak babi crossbreed jantan lepas sapih. Pemberian susu afkir dengan konsentrasi 5% dalam pakan tidak mempengaruhi pertambahan berat badan dan nilai FCR secara nyata akan tetapi bila ditingkatkan 10% dapat menurunkan pertambahan besar badan dan memperbesar nilai FCR anak babi crossbreed jantan lepas sapih.
Cytomorphometry Peripheral Blood Mononuclear Cell Anjing Kintamani Bali Areningrat, Putu Ayutia; Suartini, I Gusti Ayu Agung; Setyawati, Iriani
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (6) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.097 KB)

Abstract

Anjing kintamani bali (AKB) adalah kelompok anjing lokal jenis pegunungan yang hidup di sekitar Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Anjing kintamani bali merupakan plasma nutfah asli Indonesia yang sangat perlu dijaga kelestarian dan kemurniannya. Peripheral blood mononuclear cell (PBMC) sebagai komponen penting sistem kekebalan tubuh yang terlibat dalam imunitas humoral dan seluler, dapat digunakan untuk memonitor perkembangan penyakit atau respon terhadap pengobatan serta menemukan biomarker yang valid dalam kompartemen sel darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ukuran sel limfosit dan sel monosit pada AKB sehat yang dievaluasi berdasarkan pemeriksaan cytomorphometry. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial AxB. Data dianalisis dengan analisis ragam dan disajikan dalam bentuk tabel, grafik, dan gambar. Berdasarkan hasil penelitian, AKB memiliki nilai cytomorphometry yaitu diameter sel limfosit (7,312-8,761µm), diameter nukleus limfosit (5,786-7,138 µm), diameter sel monosit (7,785-8,883 µm), diameter nukleus monosit (6,099-7,457 µm), circumference sel limfosit (23,131-27,737 µm), circumference nukleus limfosit (18,160-22,402 µm), circumference sel monosit (24,514-27,966 µm), circumference nukleus monosit (19,093-23,442 µm), surface area sel limfosit (42,318-60,140 µm2), surface area nukleus limfosit (27,331-40,308 µm2), surface area sel monosit (48,313-62,334 µm2), surface area nukleus monosit(28,979-43,736 µm2), luas sitoplasma sel limfosit (8,863-27,509 µm2), dan luas sitoplasma sel monosit (12,230-25,953 µm2).
Polimorfisme Lokus Mikrosatelit D2S1368 pada Populasi Monyet Ekor Panjang di Pura Puncak Mundi, Pulau Nusa Penida, Klungkung, Bali Sihombing, Tri Indra Erikson; Wandia, I Nengah; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (6) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.194 KB)

Abstract

Penelitian polimorfisme lokus mikrosatelit D2S1368 pada populasi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Pura Puncak Mundi, Pulau Nusa Penida, Klungkung, Bali bertujuan untuk mengetahui jumlah alel, frekuensi alel, heterozigositas, Polymorphism Information Content (PIC) dan keseimbangan Hardy-Weinberg berdasarkan sebaran alel dengan Uji Chi-Square sebanyak enam sampel darah monyet ekor panjang diambil dari Pura Puncak Mundi, Pulau Nusa Penida, Klungkung, Bali. Sampel diekstraksi dengan menggunakan QIAamp DNA Blood Mini Kits produksi Qiagen. Teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) dilakukan sebanyak30 siklus dengan suhu annealing 50°C. Alel dipisahkan secara elektroforesis pada gel poliakrilamid 8% dan dimunculkan dengan perwarnaan perak (silver staining). Hasil penelitian menunjukkan heterozigositas lokus mikrosatelit D2S1368 rendah (0,29) dengan nilai PIC cukup informatif (0,28). Sebaran alel lokus menyimpang dari keseimbangan hukum Hardy-Weinberg. Berdasarkan hasil pengujian dapat disimpulkan lokus mikrosatelit D2S1368 bersifat polimorfik.
Studi Kasus: Aural Hematoma pada Anjing Lokal Berumur 12 Tahun Irhas, Rajiman; Jayawardhita, Anak Agung Gde; Dada, I Ketut Anom
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (6) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.935 KB)

Abstract

Aural hematoma adalah pembengkakan akibat penimbunan darah pada daun telinga (pinna auricula). Hewan kasus adalah anjing lokal betina berumur 12 tahun dengan bobot badan 15 kg. Terjadi kebengkakan pada pinna auricula kanan. Pemeriksaan fisik yang dilakukan menunjukkan hasil yang normal, namun memang ditemukan adanya infeksi ektoparasit pada tubuh hewan. Infeksi ektoparasit tersebut diduga yang menjadi penyebab hewan menggaruk dan mengepakkan telinganya secara berlebihan, hingga menimbukkan aural hematoma pada hewan kasus. Pemeriksaan laboratorium hewan menunjukkan hasil yang cukup stabil untuk dilakukan tindakan operasi. Tindakan yang dilakukan adalah menggunakan metode pembedahan teknik insisi dengan pembuatan drainasi terbuka pada pinna bagian media. Prognosa pada kasus ini adalah fausta Terapi pasca-operasi menggunakan antibiotika longamox injeksi dan dilanjutkan dengan pemberian Amoxicilin secara peroral, serta pemberian meloxicam sebagai anti-inflamasi dan analgesiknya. Hasil pengamatan menunjukkan terjadinya kesembuhan luka pada hari ke-21, yang ditandai dengan luka mengering dan terbentuk jaringan baru (kolagenasi).

Page 2 of 2 | Total Record : 16