cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Pengawetan Telur Ayam Ras dengan Pencelupan dalam Ekstrak Air Kulit Manggis pada Suhu Ruang Tindjabate, Richard Stenly; Suada, I Ketut; Rudyanto, Mas Djoko
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (4) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.914 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pencelupan ke dalam larutan kulit manggis dan penyimpanan suhu ruang terhadap telur ayam ras ditinjau dari warna putih telur, warna kuning telur, dan warna kerabang. Penelitian ini menggunakan sampel telur ayam ras umur 0 hari sebanyak 40 butir. Perlakuan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pencelupan telur ke dalam larutan kulit manggis selama 1 menit selanjutnya disimpan pada suhu ruang. Pencelupan ke dalam larutan kulit manggis terhadap telur ayam ras dapat mempertahankan warna putih telur, warna kuning telur, dan warna kerabang telur. Lama penyimpanan pada suhu ruang terhadap telur ayam ras tanpa perlakuan mempengaruhi warna putih telur, warna kuning telur. Lama simpan pada suhu ruang berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap warna kerabang telur. Lama penyimpanan telur ayam ras pada suhu ruang mempengaruhi perubahan warna pada kerabang telur serta perubahan warna kuning telur. Lama penyimpanan pada suhu ruang terhadap telur ayam ras yang diberi perlakuan pencelupan lebih baik dibandingkan dengan telur tanpa pencelupan
Cemaran Coliform pada Daging Ayam Pedaging yang Dijual di Swalayan di Denpasar Zuanita, Dwi Astalia; Suarjana, I Gusti Ketut; Rudyanto, Mas Djoko
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (1) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.924 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jumlah cemaran Coliform pada daging ayam pedaging yang dijual di Pasar Swalayan di Denpasar. Penelitian ini menggunakan sampel daging ayam yang dijual di empat Pasar Swalayan di Denpasar. Pengambilan sampel setiap swalayan sebanyak enam kali, dengan rentang waktu tiga hari sekali. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Jumlah sampel yang digunakan adalah 24 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cemaran Coliform pada daging ayam pedaging yang dijual di empat Pasar Swalayan di Denpasar, setelah penyimpanan dalam showcase (0-5?C), yaitu A. Swalayan di wilayah jl. Sunset-road (83,2 x 103 CFU/gram), B. Swalayan di wilayah jl. Diponegoro (103 x 103 CFU/gram), C. Swalayan di wilayah jl. Sudirman (95,3 x 103 CFU/gram), dan D. Swalayan di wilayah Panjer (154 x 103 CFU/gram). Pada swalayan terdapat variasi tidak berbeda nyata (P>0.05) antara daging ayam terhadap jumlah Coliform. Jumlah cemaran Coliform pada swalayan A, B, C, dan D melebihi SNI. Daging ayam yang dijual di Pasar Swalayan Denpasar tercemar Coliform melampaui batas yang disarankan.  
Struktur Genetik Penyu Hijau Di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur, Dengan Marker Molekul D-Loop Dna Mitokondria SUPARTHA, DEWA AYU PUTU ARIE SERATHAN; WINDIA ADNYANA, IDA BAGUS; WANDIA, I NENGAH
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (3) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.974 KB)

Abstract

Penelitian ini menggunakan 310 sampel jaringan Penyu Hijau (Chelonia mydas) yang ditangkap di ruaya pakan perairan Berau, kemudian akan menampilkan hasil temuan 86 sampel jaringan di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Identifikasi asal usul dari Penyu Hijau di ruaya pakan dilakukan dengan menggunakan marker molekul d-loop (displacement loop) DNA mitokondria melalui amplifikasi teknik PCR (Polymerase Chain Reaction). Produk PCR kemudian diurutkan (sequencing) di Macrogen inc. (Korea). Hasil pengurutan kemudian dianalisis menggunakan program MEGA 4.0, DNAsp 5.10, dan BAYES. Penyu Hijau yang ditemukan di habitat pakan tersebut terdiri dari 11 haplotipe yaitu D2 (N=35; 40.7%), C3 (N=19; 22.1%), C5 (N=12; 14%), C14 (N=7; 8.14%), A3 (N=5; 5.81%), E2 (N=2; 2.33%), NEW 1 (N=2; 2.33%), B4 (N=1; 1.16%), NEW 2 (N=1; 1.16%), NEW 3 (N=1, 1.16%), dan NEW 4 (N=1; 1.16%). Selanjutnya persentase kontribusi populasi dari beberapa habitan peneluran dan beberapa unit menejemen dihitung menggunakan Mixed Stock Analysis (MSA) dengan program BAYES, dengan hasil presentase Berau Islands (56.56%), Sulu Sea (52.59%), Papua Nugini (17.48%), dan Mikronesia (13.21%).
Struktur Genetika Populasi Monyet Ekor Panjang Di Alas Kedaton Menggunakan Marka Molekul Mikrosatelit D18S536 lumban gaol, Alda dasril; wandia, I nengah; Suatha, I ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (1) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.143 KB)

Abstract

Struktur genetika populasi adalah kondisi intrinsik (genetik) suatu populasi. Pengungkapan struktur genetika dapat memberikan gambaran apakah kehidupan suatu populasi dalam keadaan aman atau terancam. Populasi dengan struktur genetika yang tinggi akan membuat potensial evolusi yang baik terhadap faktor-faktor yang bersifat stokastik. Pada tingkat DNA dengan menggunakan marka molekul mikrosatelit struktur senetika suatu populasi dapat diungkap. Marka molekul mikrosatelit merupakan segmen langsung dari genom (DNA) sehingga variasi genetik yang ditemukan mencerminkan variasi genetik yang sebenarnya. Penelitian menggunakan lokus mikrosatelit D18S536 untuk mengkaji struktur genetika populasi monyet ekor panjang di Alas Kedaton yang meliputi jumlah dan jenis alel, frekuensi alel, dan heterosigositas. Sejumlah 16 sampel darah dari populasi monyet ekor panjang di Alas Kedaton sebagai sumber DNA. DNA diekstraksi dengan menggunakan QIAamp DNA Blood Mini Kit dari Qiagen. Lokus mikrosatelit D18S536 kemudian di PCR, sebanyak 30 siklus dengan suhu annealing 450 C. Selanjutnya, pada gel poliakrilamid 7% alel dipisahkan dengan elekrtoforesis dan dimunculkan dengan pewarnaan perak. Hasil penelitian mengidentifikasi 5 jenis alel pada lokus D18S536 dalam populasi monyet ekor panjang di Alas Kedaton dengan panjang alel berkisar antara 160-176 pasang basa. Frekuensi alel bervariasi, alel 160 (0,31) memiliki frekuensi tertinggi di susul alel 164 (0,22), alel 168 (0,22), alel 172 (0,19) dan alel 176 (0,06). Heterosigositas populasi monyet ekor panjang di Alas Kedaton menggunakan lokus D18S536 sebesar 0,79. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa lokus D18S536 pada populasi monyet ekor panjang di Alas Kedaton bersifat polimorfik.
Bentuk dan Kelainan Kuku Sapi Bali yang Dipelihara Dalam Kandang Berlantai Keras Alfanandyah, Zaidany; Widyastuti, Sri Kayati; Utama, Iwan Harjono
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (1) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.266 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengamati bentuk kuku sapi dan jenis-jenis kelainan yang ditemukan pada kuku sapi bali yang dipelihara pada kandang berlantai keras. Penelitian dilakukan pada sapi bali. Sebanyak 100 ekor sapi bali di Kecamatan Gianyar diamati kukunya secara acak. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif, jenis kelainan kuku yang ditemukan pada sampel selanjutnya dikelompokkan dan ditabulasikan. Perhitungan persentase dilakukan berdasarkan lokasi terjadinya kelainan bentuk pada kuku yang ada pada sapi bali yang abnormal. Hasil menunjukkan bahwa dari 100 ekor sapi yang diamati terdapat 40 ekor sapi bali yg normal (6 jantan; 34 betina), dan 60 ekor sapi bali yang kuku kaki depan dan kaki belakangnya mengalami kuku panjang. Kuku panjang yang ditemukan pada sapi bali jantan ditemukan sebanyak 4% (> Lateral 3%; > Medial 1%) yang artinya, dari persentase kejadian kasus yang terjadi sebanyak 4% pada kuku bagian lateral sebanyak 3% dan pada kuku medial sebanyak 1% dan pada sapi bali betina ditemukan sebanyak 56% (> Lateral 24%; > Medial 32%) yang berarti dari 56% kejadian kasus, 24% terjadi pada kuku kaki bagian lateral dan 32% pada bagian medial.
Studi Kasus: Fibrosarcoma Kelenjar Mammae pada Anjing Golden Retriever Putri, Rizki Kusuma; Gorda, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (3) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.555 KB)

Abstract

Seekor anjing ras Golden Retriever berumur sepuluh tahun dengan bobot badan 20 kg, berjenis kelamin betina terdapat benjolan pada kelenjar mammae kedua, ketiga dan keempat sebelah kanan dan disertai ulcer. Secara fisik dan klinis anjing nampak sehat dengan nafsu makan dan minum yang baik, defekasi dan urinasi normal. Hasil pemeriksaan histopatologi jaringan tumor yang dilakukan di Laboratorium Patologi FKH UNUD, anjing didiagnosis menderita fibrosarcoma kelenjar mammae dengan prognosa dubius. Anjing ditangani dengan melakukan pembedahan (eksisi) untuk mengangkat masa tumor dan pemberian antibiotik cefotaxim, amoxicillin dengan analgesik meloxicam serta obat topikal seperti Enbatic® dan Bioplasenton®. Sebelas hari pascaoperasi anjing kasus dinyatakan sembuh dengan luka operasi yang sudah kering dan menyatu.
Laporan Kasus: Bedah Kista Kelenjar Mammae pada Anjing Golden Retrievers Betina Gorda, I Wayan; Pratistha, Ni Wayan Apsari Shantika
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (3) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.639 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.3.234

Abstract

Mamalia merupakan hewan yang menyusui anaknya setelah melahirkan. Anjing merupakan hewan mamalia yang berisiko terserang penyakit pada kelenjar mammae, salah satunya adalah neoplastik bersifat jinak yaitu kista. Kejadian kista kelenjar mammae pada anjing jarang terjadi sehingga pelaporan kasus kejadiannya pun jarang. Laporan kasus bedah ditinjau dari seekor anjing Golden Retrievers betina bernama Barnie, berwarna cokelat, berumur 8 tahun dengan berat badan 25,4 kg dengan riwayat vaksin terakhir tahun lalu mengalami benjolan pertaman di bagian dextra kelenjar mammae sejak kurang lebih 1 tahun. Metode penanganan pada kasus ini adalah dengan tindakan pembedahan. Insisi bagian kulit dan subkutan sehingga kista dapat diangkat. Bagian sub kutan dijahit dengan pola subkutikular menggunakan chromic cat gut. Pada bagian kulit dijahit menggunakan benang chromic cat gut dengan pola terputus. Perawatan pasca operasi, anjing dikandangkan selama masa pemulihan. Anjing dipasangkan Elisabeth Collar untuk menghindari anjing menggigit daerah luka. Anjing diberikan terapi Amoxicillin dan Meloxicam secara oral selama 5 hari. Penggunaan Oxytetracyclin zalf dan enbatic bubuk pada luka jahitan tumor sebagai pencegah infeksi dan mempercepat proses menutupnya luka.
Total Leukosit Dan Trombosit pada Anjing Penderita Transmissible Venereal Tumor yang Diobati dengan Vincristine Mandara, Ikhsan; Jayawardhita, Anak Agung Gde; Kendran, Anak Agung Sagung
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (2) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1443.588 KB)

Abstract

Vincristine merupakan agen kemoterapi tunggal yang efisien untuk pengobatan transmissible venereal tumor (TVT). Selain sel kanker yang dihancurkan, sel normal yang bersifat aktif membelah seperti sel sumsum tulang juga ikut terkena pengaruhnya. Gangguan perkembangan sel progenitor sumsum tulang akan mempengaruhi produksi leukosit dan trombosit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui total leukosit dan trombosit pada anjing penderita TVT yang diobati dengan vincristine. Penelitian ini menggunakan lima ekor anjing penderita TVT dengan perlakuan yaitu pemberian vincristine hingga sembuh dengan interval pemberian tujuh hari sekali. Pengamatan dilakukan pada nilai total leukosit dan trombosit sebelum pemberian vincristine dan setelah kesembuhan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian vincristine pada anjing penderita TVT tidak berpengaruh nyata terhadap total leukosit dan trombosit, sehingga aman digunakan sebagai agen kemoterapi tunggal.
Potensi Daun Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steenis) dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Escherichia Coli secara In Vitro DARSANA, I GEDE OKA; BESUNG, I NENGAH KERTA; MAHATMI, HAPSARI
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (3) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.593 KB)

Abstract

This study examined the response of Escherichia coli codes ATCC (American Type Culture Collection) 25922 obtained from the Laboratorium Daerah of binahong juice leaf with determination test the ability of the inhibition of growth of Escherichia coli by standard Kirby-Bauer disc using five treatments namely binahong juice leaf (0 %, 25%, 50%, 75% and 100%) and negative controls physiological NaCl 0.9% and a positive control with oxytetracycline with repetition as much as four times. Reaction of Escherichia coli growth inhibition by leaf juice and antibiotics binahong shown by the formation of a subsequent inhibition area was measured as the diameter of the circle of the inhibition. Data were obtained, will be tested with Variety Analysis (Test F), followed by Duncan's test of data processing can then proceed to determine the regression analysis. And all the data processed using SPSS. The results of this study indicate that the juice of binahong leaf (Anredera cordifolia (Tenore) steenis) at a concentration of 0% indicates the average resistivity of (0.000 mm); concentration of 25% (7.225 mm); concentration of 50% (8.325 mm) concentration of 75% (10.125 mm) and concentration 100% (12.325 mm). In addition, binahong leaf juice could inhibit the growth of Escherichia coli ATCC 25922, and binahong juice leaf statistically significant (P< 0.01) against the bacteria Escherichia coli and there were highly significant differences (P< 0.01) at each concentration diameter. As well, the increased concentration of binahong leaf juice (Anredera cordifolia (Tenore) steenis) increased the inhibition on the growth of Escherichia coli in vitro.
Faktor Resiko Infeksi Escherichia coli O157:H7 pada Ternak Sapi Bali di Abiansemal, Badung, Bali. Damayanti, Eva; Sukada, I Made; Suardana, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (4) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.398 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis faktor resiko yang memengaruhi infeksi E. coli O157:H7 pada ternak sapi bali di Kecamatan Abiansemal. Penelitian diawali dengan pengambilan data epidemiologi yang meliputi umur sapi, jenis kelamin, sistem pemeliharaan, sumber air minum, keadaan cuaca, ketinggian daerah, jenis lantai kandang, kebersihan lantai kandang, kemiringan lantai kandang, dan kebersihan sapi. Selanjutnya dilakukan isolasi dan  identifikasi keberadaan E. coli dengan pengujian pada media eosin methylene blue agar (EMBA), uji biokimia indol, methyl red, voges proskauer, dan citrate serta uji pewarnaan Gram. Isolasi dan identifikasi E. coli O157:H7 dilakukan dengan uji Sorbitol Mac Conkey Agar (SMAC), uji lateks aglutinasi O157, dan diakhiri dengan uji antiserum H7. Hasil penelitian menunjukan nilai Odds Ratio dari faktor resiko yang paling dominan berkontribusi menyebabkan kejadian infeksi E. coli O157:H7 pada ternak sapi bali di Kecamatan Abiansemal adalah faktor kebersihan sapi, umur sapi, dan ketinggian tempat dari permukaan laut, dengan Odds Ratio masing-masing sebesar  2,90; 1,18; dan 1,16. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa kebersihan sapi, umur sapi, dan ketinggian tempat dari permukaan laut berkontribusi menyebabkan kejadian infeksi E. coli O157:H7 pada ternak sapi di Kecamatan Abiansemal.