cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Media Kulit Buah Manggis Meningkatkan Parameter Nilai Gizi Telur Asin Ferdianti, Desy Ariani; Swacita, Ida Bagus Ngurah; Agustina, Kadek Karang
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.42 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan zat gizi dari telur asin yang dibuat dengan menggunakan media kulit buah manggis ditinjau dari kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, dan kadar karbohidrat. Menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Pola Faktorial, dengan dua faktor perlakuan yaitu faktor pertama meliputi telur yang telah dilapisi media kulit buah manggis dan telur yang dilapisi media batu bata. Faktor kedua yakni jangka waktu pemeraman telur pada suhu kamar dimulai dari hari ke-1, ke-7, ke-14 dan ke-21. Data dari penelitian dianalisis dengan sidik ragam, dan apabila terdapat perbedaan dari masing-masing perlakuan maka dilanjutkan dengan menggunakan uji LSD. Hasil penelitian menunjukka bahwa selama proses pemeraman telur asin yang dibuat dengan media kulit buah manggis yang diamati pada hari ke 1, 7, 14 dan 21 terjadi peningkatan kadar protein dan karbohidrat telur asin dari 10,13% sampai 12,72% dan 3,26% sampai 11,61%. Sedangkan kadar air, kadar abu, dan kadar lemak mengalami penurunan dari 70,43% sampai 60,39%, 1,67% sampai 2,81% dan 14,49 sampai 12,44%. Sehingga dapat disimpulakan bahwa pembuatan telur asin dengan menggunakan media kulit buah manggis (Garcinia mangostana L) dapat berpengaruh terhadap perubahan zat gizi telur.
Prevalensi dan Identifikasi Nematoda Gastrointestinal Kuda serta Dampaknya terhadap Body Condition Score di Bali Equstrian Centre dan Bali Star Adventures Putranty, Rahmi Maulidya; Oka, Ida Bagus Made; Widyananta, Budhy Jasa
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (3) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.724 KB)

Abstract

Peranan kuda sebagai destinasi pariwisata, olahraga, dan rekreasi cukup besar di beberapa wilayah di Indonesia. Kuda dijadikan sebagai destinasi pariwisata, olahraga, dan rekreasi, di beberapa tempat di Pulau Bali yaitu Bali Equstrian Centre (BEC) dan Bali Star Adventures (BSA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan jenis nematoda gastrointestinal kuda yang dipelihara di BEC dan BSA, mengetahui perbedaan body condition score (BCS) kuda yang terinfeksi dan tidak terinfeksi nematoda gastrointestinal. Sampel yang digunakan berjumlah 40 kuda, dimana 28 sampel berasal dari BEC dan 12 sampel berasal dari BSA. Sampel diperiksa dengan menggunakan metode konsentrasi apung dan scotch tape test. Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi telur cacing. Prevalensi infeksi nematoda gastrointestinal pada kuda adalah 37,5% (15/40) dengan prevalensi di BEC 10,7% (3/28) dan di BSA 100% (12/12). Berdasarkan analisis Chi-square, prevalensi infeksi nematoda gastrointestinal pada kuda di BEC tidak berbeda nyata dengan kuda di BSA. Perbedaan umur dan jenis kelamin tidak menunjukan perbedaan yang nyata terhadap infeksi. Kuda yang terinfeksi nematoda gastrointestinal memiliki persentase BCS: “Kurus (skor 1-3)” 86,7% (13/15); “Ideal (4-6)” 13,3% (2/15); dan “Obesitas (skor 7-9)” 0%. Jenis cacing nematoda gastrointestinal yang ditemukan adalah cacing tipe Strongyle 30% (12/40), Oxyuris equi 7,5% (3/40), Parascaris equorum 2,5% (1/40), dan Trichuris spp 2,5% (1/40).
Respons Imun Primer Itik Bali Terhadap Avian Influenza Pascavaksinasi Polivalen ND-AI Inaktif Pawestri, Mega Mijil; Suardana, Ida Bagus Kade; Sampurna, I Putu
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (5) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.664 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon imun itik bali terhadap penyakit Avian Influenza (AI) yang terbentuk pascavaksinasi menggunakan vaksin polivalen ND-AI inaktif. Pemeriksaan titer antibodi Avian Influenza (AI) dilakukan dengan uji serologi Haemaglutination Inhibition (HI). Titer antibodi AI diperiksa sebanyak lima kali yaitu sekali pravaksinasi untuk mengonfirmasi keberadaan antibodi maternal dan setiap minggu selama empat minggu pascavaksinasi untuk melihat respon imun yang terbentuk. Titer antibodi yang diperoleh dinyatakan dalam Geometric Mean Titer (GMT). Nilai titer antibodi selanjutnya dianalisis menggunakan uji sidik ragam univariat, dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT), serta analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan rataan titer antibodi pravaksinasi adalah HI unit, rataan titer antibodi terhadap AI minggu ke-1, 2, 3, dan 4 pasca vaksinasi adalah HI unit, HI unit, HI unit, dan HI unit. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa rataan titer antibodi terhadap Avian Influenza pascavaksinasi setiap minggunya berpengaruh sangat nyata dibandingkan rataan titer antibodi pravaksinasi.
Waktu Induksi, Durasi dan Pemulihan Anestesi Ketamin dengan Berbagai Dosis Premedikasi Xilazin secara Subkutan pada Anjing Lokal Pemayun, I Gusti Agung Gde Putra; Sindhu, I Gusti Agung Winata; Wardhita, Anak Agung Gde Jaya
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (6) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.696 KB)

Abstract

Pemberian kombinasi xilazin dan ketamin umumnya diinjeksikan secara intramuskuler, namun durasi anestesi yang ditimbulkan relatif singkat. Untuk itu dilakukan penelitian bila premedikasi xilazin diberikan secara subkutan dengan dosis yang lebih tinggi Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu induksi, durasi dan pemulihan anestesi ketamin dengan berbagai dosis premedikasi xilazin yang diberikan secara subkutan dengan dosis yang melebihi dari pemberian secara intramuskuler, di samping itu untuk mengetahui dosis yang aman dan efektif. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu X2K10 (xilazin dosis 2 mg/kg secara intramuskuler dan ketamin dosis 10 mg/kg secara intramuskuler sebagai kontrol), X4K10 (xilazin dosis 4 mg/kg secara subkutan dan ketamin dosis 10 mg/kg intramuskuler), X6K10 (xilazin dosis 6 kg/mg subkutan dan ketamin dosis 10 mg/kg intramuskuler), X8K10 (xilazin dosis 8 mg/kg subkutan dan ketamin dosis 10 mg/kg intramuskuler). Setiap perlakuan menggunakan enam ekor anjing jantan sebagai ulangan, sehingga anjing yang digunakan sebanyak 24 ekor. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan dilanjutkan dengan Uji Wilayah Berganda Duncan. Rataan waktu induksi anetesi untuk perlakuan X2K10, X6K10, X8K10 berturut-turut adalah 6,33 menit, 10,8 menit, 9,33 menit, dan secara statistika tidak berbeda nyata (P>0,05). Pemberian xilazin dengan dosis 4 mg/kg secara subkutan dan ketamin dengan dosis 10 mg/kg intamuskuler tidak menghasilkan efek anestesi yang sempurna, beberapa anjing masih mampu berdiri walaupun sempoyongan dan beberapa terimmobilisasi namun refleks masih ada dan mampu merasakan rasa nyeri. Rataan durasi anestesi untuk perlakuan X2K10, X6K10, X8K10 berturut-turut adalah 50,8 menit, 85,1 menit, dan 104 menit. Rataan waktu pemulihan anestesi untuk masing-masing perlakuan adalah 61,6 menit, 90,8 menit, dan 145,8 menit. Analisis statistika menunjukkan bahwa peningkatan dosis premedikasi xilazin yang diberikan secara subkutan tidak berpengaruh terhadap waktu induksi, namun berpengaruh sangat nyata terhadap durasi dan pemulihan anestesi xilazin-ketamin. Semakin tinggi dosis premedikasi xilazin yang diberikan secara subkutan semakin durasi anestesi demikian juga semakin lama waktu pemulihan anestesinya.
Laporan Kasus: Ehrlichiosis Pada Anjing Kintamani Bali Erawan, I Gusti Made Krisna; Sumardika, I Wayan; Pemayun, I Gusti Agung Gde Putra; Ardana, Ida Bagus Komang
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (1) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.08 KB)

Abstract

Ehrlichiosis merupakan penyakit penting pada anjing yang disebabkan oleh bakteri intraselular gram negatif dari genus Ehrlichia yang termasuk dalam famili Anaplasmataceae. Seekor anjing kintamani bali diperiksa di Rumah Sakit Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan; lemas, mimisan, nafsu makan dan minum menurun. Hasil pemeriksaan fisik; dari lubang hidung keluar darah encer dan membran mukosa mulut pucat. Pada kulit ditemukan infestasi capak Rhipicephalus. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan terjadi anemia mikrositik normokromik, trombositopenia, leukositosis, dan limfositosis. Pemeriksaan darah dengan test kit menunjukkan positif E. canis. Sehingga anjing kasus didiagnosis menderita ehrichiosis. Pengobatan dengan menggunakan doksisiklin memberikan hasil yang memuaskan.
Prevalensi Infeksi Nematoda Gastrointestinal pada Sapi Bali di Lahan Basah dan Kering di Kabupaten Badung Ariawan, Kadek Yudha; Apsari, Ida Ayu Pasti; Dwinata, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (4) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.251 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.4.314

Abstract

Pemeliharaan sapi bali di Bali masih ada yang menggunakan sistem pemeliharaan semi intensif. Sapi yang dipelihara biasanya digembalakan pada lahan-lahan yang terbuka baik itu lahan basah (wetland) maupun lahan kering berkapur (dryland). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan jenis nematoda gastrointestinal sapi bali yang dipelihara secara semi intensif di daerah lahan basah dan kering berkapur di Kabupaten Badung, serta hubungan kondisi lahan suatu daerah terhadap prevalensi infeksi cacing nematoda gastrointestinal. Jumlah sampel yang digunakan adalah 182 feses sapi, dimana 75 sampel berasal dari lahan basah dan 107 sampel berasal dari lahan kering berkapur. Sampel diperiksa dengan menggunakan metode konsentrasi apung dengan zat pengapung gula Sheather. Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi telur cacing. Prevalensi infeksi nematoda gastrointestinal di Kabupaten Badung adalah 70,9% (129/182) dengan prevalensi di daerah lahan basah 73,3% (55/75) dan di daerah lahan kering 69,2% (74/107). Berdasarkan analisis dengan Chi-square, kondisi lahan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap prevalensi infeksi nematoda gastrointestinal. Jenis cacing nematoda gastrointestinal yang ditemukan adalah cacing tipe Strongyle 69,8% (127/182), Strongyloides papillosus 11,5% (21/182), Trichuris sp. 3,8% (7/182), Toxocara vitulorum 1,6% (3/182), dan Capillaria sp. 1,1% (2/182).
Laporan Kasus: Anaplasmosis dan Ehrlichiosis pada Anjing Kampung di Denpasar, Bali Putra, Widihantoro Gunawan; Widiastuti, Sri Kayati; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (4) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.597 KB)

Abstract

Anaplasmosis dan ehrlichiosis merupakan penyakit penting pada anjing yang disebabkan oleh mikroorganisme intraselular Gram negatif. Seekor anjing kampung diperiksa di Rumah Sakit Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan; gatal-gatal, alopesia, infestasi caplak, eritema di seluruh tubuh anjing. Hasil pemeriksaan klinis; membran mukosa mulut pucat, anjing lemah, infestasi caplak Riphicephalus. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan terjadi leukositosis anemia mikrositik hipokromik, trombositopenia, eosinopenia, limfositopenia. Pemeriksaan ulas darah positif ditemukan agen anaplasma. Pemeriksaan darah dengan test kit (Antigen rapid, BioNote, inc, Republic of Korea) menunjukkan positif Ehrlichia canis dan Anaplasma spp. sehingga anjing kasus didiagnosis menderita erlichiosis dan anaplasmosis. Pengobatan dengan menggunakan doksisiklin (5 mg/kg BB, selama 14 hari), ivermectin (0,02-0,03 mg/kg BB, SC), vitamin B12 satu tablet perhari. Penanganan tersebut setelah hari ke-14 memberikan hasil yang memuaskan terhadap kesehatan hewan dari segi nafsu makan yang baik, pertumbuhan rambut, keaktifan hewan, dan hewan bebas dari caplak.
Laporan Kasus Newcastle Diseases Dan Avian Influenza Pada Ayam Buras Pranatha, Wahid Danang; Irhas, Rajiman; Arhiono, Haru Nira Putra; Widyasanti, Ni Wayan Helpina; Kardena, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (5) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.618 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.5.498

Abstract

Ayam buras (bukan ras) merupakan salah satu sumber plasma nutfah yang mempunyai potensi penggerak ekonomi pedesaan. Newcastle Disease (ND) dan Avian influenza (AI) merupakan penyakit fatal yang menginfeksi ayam buras. Kedua virus ini termasuk jarang menginfeksi unggas dalam waktu bersamaan karena memiliki virulensi yang tinggi dan dapat mengakibatkan kerugian ekonomi yang besar pada peternakan unggas. Pada kasus ini dari 120 ekor ayam, 62 ekor ditemukan sakit dan 27 ekor mati. Hasil tes laboratorium dengan uji HA/HI menunjukkan ayam kasus terinfeksi virus Newcastle Disease dan Avian Influenza. Hasil pengamatan sampel organ secara Patologi Anatomi (PA) diketahai bahwa otak, jantung, dan hati normal; trakea, paru-paru, dan usus mengalami hemorrhagi; proventrikulus menunjukan ptekie. Sedangkan pemerikasaan secara Histopatologi (HP) pada otak terdapat vaskulitis dan edema; trakea hemorrhagi dan edema; paru-paru hemorrhagi; miokardium jantung edema; mukosa usus infiltrasi sel radang makrofag dan nekrosis difusa; hati menunjukan adanya kongesti pada vena ventralis dan kapiler; proventrikulus terdapat pelebaran dan perlekatan epitel satu sama lain, nekrosis dan adanya nucleus eritrosit.
Kualitas Susu Kambing Peranakan Etawah Post-Thawing Ditinjau dari Waktu Reduktase dan Angka Katalase SARI, MURNI; SWACITA, IDA BAGUS NGURAH; KARANG AGUSTINA, KADEK
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (2) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.924 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas susu kambing kambing peranakan etawah (PE) ditinjau dari waktu reduktase dan angka katalase. Sampel yang dipergunakan adalah susu kambing peranakan etawah post-thawing dari peternakan di Desa Pucak Sari, Buleleng-Bali. Metode yang dipergunakan adalah uji reduktase menggunakan methilen blue sedangkan untuk menghitung angka katalase dipergunakan peroksida 0,5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa susu kambing PE post-thawing memilikiwaktureduktase 300 ± 42,426 menit dan angka katalase 0,58±0,0837 ml.
Nilai Hematokrit, Kadar Hemoglobin, dan Total Eritrosit Ayam Pedaging yang Diinjeksi Kombinasi Tylosin dengan Gentamicin PUTRIANI, SARI; SOMA, I GEDE; ARDANA, IDA BAGUS KOMANG
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (4) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.838 KB)

Abstract

Penelitian ini menggunakan sampel darah dengan antikoagulan Ethylene Diamine Tetra Acetat (EDTA) yang diambil dari 24 ekor ayam pedaging dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan pada hari ke 14 dan hari ke 24. Parameter yang diamati adalah nilai hematokrit, kadar hemoglobin, dan total eritrosit. Cara pengambilan sampel adalah dengan mengambil darah pada vena axilla ayam pedaging yang dimasukkan dalam tabung Ethylene Diamine Tetra Acetat (EDTA) kemudian dilakukan pemeriksaan terhadap nilai hematokrit, kadar hemoglobin, dan total eritrosit. Hasil pemeriksaan nilai hematokrit, kadar hemoglobin, dan total eritrosit dilakukan di Laboratorium Patologi Klinik Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Data dianalisis dengan Uji Sidik Ragam dilanjutkan dengan Uji Rentangan Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa injeksi kombinasi tylosin dengan gentamicin pada ayam pedaging tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap nilai hematokrit, kadar hemoglobin, dan total eritrosit ayam pedaging.