cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Kejadian Pincang pada Sapi Bali Akibat Trauma Terkait Proses Transportasi Ke Pasar Hewan Beringkit ruroh, Mas; Pemayun, I Gusti Agung Gde Putra; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (2) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.183 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian observasi kejadian pincang pada sapi bali akibat trauma terkait proses transportasi di Pasar Hewan Beringkit, Mengwi, Badung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada dan tidaknya kejadian pincang pada sapi bali yang dipasarkan di Pasar Hewan Beringkit dan untuk mengetahui bagian kaki sapi bali yang sering mengalami kepincangan. Pengamatan dilakukan sebanyak 12 kali pada setiap hari pasar (Rabu dan Minggu) dan hari Prapasar (Selasa dan Sabtu) tepat di depan dermaga dan di lanjutkan di delapan los Pasar Hewan Beringkit. Sapi bali yang mengalami kepincangan didata dan dokumentasikan, selanjutnya meminta informasi kepada peternak pemilik sapi bali tersebut terkait anamnesis dan kejadian pincang. Hasil penelitian menunjukan dari 6.881 ekor sapi bali terdapat empat kejadian pincang pada sapi bali yang dipasarkan di Pasar Hewan Beringkit, yang disebabkan karena proses transportasi. Dari kajian ini disimpulkan bahwa para peternak pada umumnya sudah mengetahui cara penanganan sapi untuk mencegah kejadian pincang akibat trauma terkait transportasi.
Gambaran Total Eritrosit, Kadar Hemoglobin, Nilai Hematokrit Terhadap Xilazin-Ketamin pada Anjing Lokal secara Subkutan Marshanindya, Andra; Ardana, Ida Bagus Komang; Putra Pemayun, I Gusti Agung Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (3) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.001 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian xilazin denganberbagai dosis dan ketamin secara subkutan terhadap gambaran total eritrosit, kadar hemoglobin, nilaihematokrit. Penelitian ini menggunakan 24 ekor anjing lokal dan pengambilan darah selama anestesidengan selang waktu 20 menit sampai menit ke-100, dilanjutkan dengan pemeriksaan total eritrosit,kadar hemoglobin dan nilai hematokrit. Ketamin diberikan secara IM pada kontrol/perlakuan 1 danSC pada perlakuan 2,3,4). Xilazin diberikan dengan dosis 2 mg/kg pada kontrol (IM), 4 mg/kg padaperlakuan 2 (SC), 6 mg/kg pada perlakuan 3 (SC) dan 8 mg/kg pada perlakuan 4 (SC). Hasilpenelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan total eritrosit dan nilai hematokrit anjing selamamasa anestesi dan terjadi peningkatan selama masa pemulihan kesadaran namun masih berada padakisaran normal. Analisis data yang dilakukan menunjukkan bahwa dosis pemberian berpengaruhnyata (P<0,05) terhadap total eritrosit dan nilai hematokrit, sedangkan terhadap kadar hemoglobintidak berpengaruh nyata (P>0,05) namun waktu pemeriksaan bepengaruh sangat nyata (P<0,01)terhadap kadar hemoglobin dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap total eritrosit dan nilaihematokrit. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa adanya pengaruh terhadap totaleritrosit dan nilai hematokrit sedangkan terhadap kadar hemoglobin perbedaan dosis premedikasitidak berpengaruh. Namun perbedaan waktu pengamatan selama anjing teranestesi hanya berpengaruhterhadap kadar hemoglobin sedangkan pada total eritrosit dan nilai hematokrit tidak berpengaruh.
Prevalensi Infeksi Cacing Ancylostoma spp. pada Anjing di Kawasan Wisata di Bali Dharma, I Putu Panji Nara; Oka, Ida Bagus Made; Dharmawan, Nyoman Sadra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (3) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.113 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi infeksi cacing Ancylostoma spp. pada anjing di kawasan wisata di Bali. Pengumpulan dan pelaporan data dilakukan secara deskriptif. Pemeriksaan sampel menggunakan metode konsentrasi apung dengan NaCl jenuh. Untuk mengetahui hubungan antara prevalensi terhadap jenis kelamin, umur, ras dan cara pemeliharaan dilakukan analisis Chi-square. Hasil pemeriksaan 100 sampel feses anjing yang berasal dari beberapa kawasan wisata di Bali ditemukan prevalensi sebesar 34%. Perbedaan jenis kelamin, umur, ras, dan cara pemeliharaan anjing di kawasan wisata di bali tidak berhubungan dengan prevalensi infeksi Ancylostoma spp.
Tumbuh Kembang Organ Visceral Itik Lokal Bali pada Masa Finisher Kristianto, Kartika; Nindhia, Tjokorda Sari; Sampurna, I Putu
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (5) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.259 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.5.482

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tumbuh kembang organ visceral itik lokal bali pada masa finisher, sehingga dapat ditentukan perkiraan berat organ pada usia tertentu. Penelitian ini menggunakan itik jantan dan betina umur 8-16 minggu sebanyak 30 ekor yang dipelihara secara semi intensif di Desa Kalianget, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali. Penelitian ini tentang organ visceral (hati, jantung, paru-paru dan ventrikulus), dilakukan penimbangan berat organ setiap 2 minggu. Data yang diperoleh dianalisis dengan Multivariant dan regresi power. Hasil penelitian menunjukkan saat berumur 8 sampai 16 minggu itik bali terjadi pertumbuhan berat organ visceral yang nyata. Hasil analisis Multivariant menunjukkan berat organ visceral itik lokal bali jantan dan betina tidak berbeda nyata, hasil analisis regresi menunjukkan organ visceral mengalami laju tumbuh kembang yang nyata , yang paling awal tumbuh adalah ventrikulus, jantung, paru- paru dan yang terakhir adalah hati.
Laju Pertumbuhan Dimensi Lingkar Tubuh Kerbau Lumpur (Bubalus bubalis) Jantan dan Betina di Kabupaten Lombok Tengah Sunarko, Stefanie Nadya Stellanora; Sampurna, I Putu; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (5) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.885 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan dimensi lingkar tubuh kerbau lumpur (Bubalus bubalis) jantan dan betina di kabupaten Lombok Tengah. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 54 ekor kerbau lumpur (27 ekor jantan dan 27 ekor betina). Kisaran umur kerbau yang diukur yaitu sembilan bulan sampai 20 bulan (9, 10, 11, 12, 13, 14, 18, 19, 20) bulan, setiap umur yang sama jantan dan betina diukur tiga ekor kerbau sebagai ulangan. Pengukuran dimensi lingkar dilakukan setiap sebulan sekali, selama tiga bulan. Data lingkar tubuh yang diperoleh dianalisis dengan multivariant dan regresi power. Hasil analisis multivariant menunjukkan jenis kelamin berbeda nyata terhadap ukuran dimensi lingkar tubuh serta terdapat interaksi antara jenis kelamin dengan umur. Hasil analisis regresi power menunjukkan koefisien korelasi masing-masing dimensi lingkar leher atas, leher bawah, dada, dan abdomen kerbau lumpur jantan dan betina berbeda nyata. Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa dimensi lingkar tubuh kerbau lumpur jantan paling dini tumbuh yaitu dimensi lingkar leher atas kemudian disusul oleh lingkar abdomen, lingkar leher bawah, dan terakhir tumbuh yaitu lingkar dada. Sedangkan kerbau lumpur betina paling dini tumbuh yaitu dimensi lingkar leher bawah disusul oleh lingkar leher atas, lingkar abdomen dan terakhir tumbuh juga lingkar dada. Disarankan adanya penelitian lebih lanjut mengenai pola pertumbuhan dimensi lingkar tubuh kerbau lumpur jantan dan betina yang bertujuan untuk mengetahui kapan dimensi lingkar tubuh tercepat dan berhenti tumbuh.
Identifikasi Kelainan dan Kerusakan Gigi Sapi Bali Sukaratha, Elpira; Suatha, I Ketut; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (5) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.126 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki kelainan dan kerusakan gigi sapi bali, karena tidak banyak penelitian tentang kelainan dan kerusakan gigi. Penelitian dilaksanakan di Rumah Potong Hewan Pesanggaran, Denpasar, Bali. Diamati 100 pasang tulang mandibula sapi bali, 92 pasang dari sapi betina dan delapan pasang dari sapi jantan. Sampel diambil secara acak, dengan umur dari 1,5-2,0 tahun (I1), 2,0–2,5 tahun (I2), 3 tahun (I3), 3,5-4,0 tahun (I4) dan lebih dari empat tahun (lebih dari I4).Kelainan gigi adalah keadaan yang menyimpang dari kebiasaan dan kerusakan adalah gigi yang sudah tidak baik atau utuh lagi. Hasil penelitian menemukan adanya 12 kelainan dan kerusakan gigi. Kelainan tersebut antara lain gigi gergaji (92%), gigi landai (10%), gigi susu tersisa (15%), gigi susu tersisa (13%), gigi aus (44%), gigi gunting (91%), gigi bergelombang (6%), gigi tangga (18%), gigi jumlah berlebih (1%), gigi tanggal (4%), gigi patah (31%) dan karang gigi (81%). Simpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah pada sapi bali terjadi kelainan dan kerusakan pada gigi, dengan kelainan dan kerusakan yang menonjol adalah kejadian gigi gergaji dan gigi gunting.
Kelengkungan (Kurvatura) Tanduk (Silak) yang Menyimpang pada Sapi Bali Nealma, Minda; Batan, I Wayan; Suatha, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (2) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2012.105 KB)

Abstract

Masyarakat Bali mengenali kelengkungan tanduk sapi bali dengan nama silak bajeg, silak cono, silak pendang, silak congklok, dan silak manggulgangsa. Tidak semua kelengkungan tanduk sapi bali bisa dikelompokkan kedalam silak tanduk tersebut.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap silak tanduk  menyimpang pada sapi bali yang ditemukan pada sapi bali. Penelitian ini menggunakan sampel 1000 ekor sapi bali dewasa, yang terdiri dari 500 pasang tanduk sapi bali jantan dan 500 pasang tanduk sapi bali betina. Penelitian ini dilakukan dengan mengamati langsung tanduk sapi bali. Pengamatan dilakukan selama bulan Oktober-November 2012 dikota Denpasar (Desa Serangan, Desa Pemongan, Desa Padang Galak Sanur, Desa Panjer, Desa Meregaya) dan Kabupaten Badung (Desa Kuta,dan Desa Mengwi Tani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sapi bali jantan silak tanduk yang menyimpang (0,3%) dan silak tanduk yang menyimpang pada sapi betina (7,4%). Sapi bali dengan silak tanduk normal ditemukan berupa tanduk silak bajeg pada sapi jantan  (26,5%), dan sapi betina (8,1%), tanduk silak cono pada sapi jantan (11,7%), dan pada sapi betina (2,8%), tanduk silak congklok pada jantan (1%), tanduk silak pendang pada jantan (10,2%), dan pada sapi betina (0,9%), tanduk silak manggulgangsa pada betina (27,2%), tanduk silak anoa pada sapi jantan (0,3%), dan pada sapi betina (3,6%). Silak menyimpang pada sapi bali ditemukan keberadaannya, dan penyimpangan tersebut lebih banyak ditemukan pada sapi bali betina. 
Uji Didih, Alkohol dan Derajat Asam Susu Sapi Kemasan yang Dijual di Pasar Tradisional Kota Denpasar DWITANIA, DESKI CITRA; SWACITA, IDA BAGUS NGURAH
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (4) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.141 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas susu sapi kemasan yang dipasarkan di pasar tradisional yang terdapat di Kota Denpasar ditinjau dari uji didih, uji alkohol dan uji derajat asam. Sampel yang dipergunakan berupa susu sapi kemasan yang dijual dipasar tradisional di empat wilayah Kota Denpasar yakni Denpasar Utara, Denpasar Timur, Denpasar Selatan, dan Denpasar Barat. Susu kemasan yang dijadikan sampel adalah susu kemasan yang dijual dengan tidak menggunakan tempat penjualan khusus produk susu. Kualitas susu kemasan yang disampling diperiksa dengan uji didih, uji alkohol dan uji derajat asam. Hasilnya, seluruh sampel menunjukkan hasil negatif pada uji didih dan uji alkohol. Uji derajat asam menunjukkan hasil bahwa sampel susu Denpasar Timur 5,47±0,113, Denpasar Barat 5,67±0,248, Denpasar Utara 5,61±0,089, dan Denpasar Selatan 5,52±0,167. Setelah dikonfirmasi pada Standar Nasional Indonesia hasil tersebut masih dalam kategori baik untuk dikonsumsi. Dapat disimpulkan bahwa kualitas susu sapi kemasan yang dijual dipasar tradisional dikota Denpasar masih dalam kondisi baik.
Daya Hambat Perasan Daun Sirsak Terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli PERMATASARI, GUSTI AGUNG AYU ANGGRENI; BESUNG, I NENGAH KERTA; MAHATMI, HAPSARI
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (2) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.911 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian potensi perasan daun sirsak (Annona muricata Linn) dan pengaruh konsentrasinya terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli menggunakan metoda Kirby-Bauer. Konsentrasi perasan divariasikan mulai dari 0% (kontrol negatif), 25%, 50%,75% dan 100%. Oxytetrasiklin digunakan sebagai kontrol positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perasan daun sirsak (Annona muricata Linn) mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri E.coli dan aktivitas tertinggi terdapat pada konsentrasi 100% yaitu sebesar 10,325 mm dan aktivitas terendah pada konsentrasi 25% yaitu sebesar 7,25 mm. Semakin tinggi konsentrasi air perasan daun sirsak maka akan meningkatkan pula diameter daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri E. coli.
Prevalensi Infeksi Cacing Nematoda pada Ular Python Reticulatus yang Dipelihara Pecinta Ular di Denpasar Telnoni, Febriyani R R; Oka, I Bagus Made; Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (2) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.982 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi infeksi dan jenis cacing yang menginfeksi ular Python reticulatus asal Bali. Penelitian menggunakan 30 ekor ular Python reticulatus yang dipelihara pecinta ular di Denpasar melalui pemeriksaan koproskopi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan disampaikan secara sistematis dalam narasi tertulis. Hasil penelitian menunjukan bahwa 22 sampel feses positif terinfeksi cacing nematoda dengan prevalensi sebesar 73,32%. Jenis cacing yang menginfeksi tunggal antara lain Oxyuris sp,Rhabdias sp, Kalicephalus sp, dan Ophidascaris sp masing masing dengan prevalensi sebesar 36.67%, 6.67%, 3.33%, 3.33%. Infeksi campuran antara lain Rhabdias sp dan Oxyuris sp(6.67 %), Rhabdias sp, Kalicephalus, Oxyuris sp dan Ophidascaris sp (3.33%), Rhabdias sp, Strongyloides sp, dan Oxyuris sp (3.33%), Oxyuris sp dan Ophidascaris (3.33%), Rhabdias sp, Kalicephalus,dan Oxyuris sp (3.33%), Rhabdias sp, Kalicephalus, Strongyloides sp dan Ophidascaris sp (3.33%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pada satu ekor ular Python reticulatus tidak hanya terinfeksi oleh satu jenis cacing saja, melainkan dapat juga terinfeksi oleh dua atau tiga jenis cacing.