cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Studi Kasus: Paralisis pada Anjing Shih-tzu yang Diduga Terinfeksi Virus Distemper Anjing Gurning, Santri Devita Sari; Widyastuti, Sri Kayati; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (1) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.657 KB) | DOI: 10.19087/imv.2019.8.1.34

Abstract

Canine Distemper Virus (CDV) merupakan virus RNA beramplop, genus Morbilivirus dari famili Paramyxoviridae. Anjing Shih-tzu yang dijadikan kasus berumur dua tahun, dilaporkan mengalami kelumpuhan sejak dua bulan yang lalu. Anjing pernah didiagnosis CDV dengan gejala letargi, anoreksia, demam, batuk, keluar eksudat berlebih dari hidung dan mata. Anjing tahan terhadap infeksi awal CDV, dan beberapa minggu setelah infeksi, anjing menunjukkan gejala saraf. Berdasarkan riwayat penyakit, tanda klinis dan pemeriksaan darah anjing kasus terindikasi mengalami leukopenia, limfopenia, dan anemia, hewan kasus didiagnosis mengalami paralisis akibat ikutan penyakit distemper anjing. Terapi yang diberikan berupa terapi simptomatis dan supportif dengan pemberian infus NaCl fisiologis sebanyak 870 ml/hari selama 3 hari, injeksi Neurotropic® dengan dosis 0,5 ml sekali pemberian, injeksi Amoxycillin 10% dosis 0,5 ml sekali pemberian, serta antibiotik tabur (Enbatic®) yang ditaburkan pada kulit yang mengalami ulserasi sekali sehari sampai sembuh. Anjing dievaluasi tujuh hari kemudian dan tidak ditemukan tanda-tanda pemulihan dari gejala saraf namun kulit yang mengalami ulserasi terlihat membaik. Evaluasi dihari ke-14 juga tidak banyak perubahan, bekas ulserasi kulit yang tampak memudar. Pada hari ke-28 hewan beberapa kali mengalami epistaksis kemudian mati di hari berikutnya.
Keragaman Genetik Populasi Monyet Ekor Panjang di Pura Pulaki menggunakan Marka Molekul Mikrosatelit D13s765 MONICA, WAODE SANTA; WANDIA, I NENGAH; WIDYASTUTI, SRI KAYATI
Indonesia Medicus Veterinus Vol.1 (1) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.497 KB)

Abstract

Keragaman genetik suatu populasi dapat memberi petunjuk mengenai keadaan populasi di masa mendatang. Variabilitas genetik suatu populasi dapat diamati pada tingkat protein (isoenzim) dan tingkat DNA (Deoxyribo Nucleic Acid). Pada tingkat DNA, variabilitas genetik populasi dapat diungkap dengan menggunakan marka molekul mikrosatelit.Pada saat ini, DNA mikrosatelit banyak digunakan sebagai marka molekul untuk mempelajari variasi genetik. DNA mikrosatelit merupakan rangkaian molekul DNA pendek yang susunan basanya berulang dan terdapat melimpah dalam genom eukariot. Penelitian ini menggunakan satu lokus mikrosatelit yakni D13S765 untuk mengkaji variabilitas genetik populasi monyet ekor panjang di Pura Pulaki yang meliputi jumlah alel, nilai frekuensi alel dan nilai heterozigositas. Sejumlah 12 sampel darah dikoleksi sebagai sumber DNA. DNA total diekstraksi dengan menggunakan QIAamp DNA Blood Mini Kit dari Qiagen. Lokus mikrosatelit D13S765 diamplifikasi dengan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). PCR dilakukan sebanyak 30 siklus dengan suhu annealing 540C. Alel dipisahkan secara elektroforesis pada gel poliakrilamid 7 % dan alel dimunculkan dengan pewarnaan perak (silver staining).Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejumlah 6 alel ditemukan pada lokus D13S765 di populasi monyet ekor panjang Pura Pulaki dengan panjang alel berkisar 238-258 panjang basa. Frekuensi alel bervariasi, alel 254 (0,38) memiliki frekuensi tertinggi disusul alel 250 (0,21), alel 258 (0,21), alel 242 (0,12), alel 246 (0,04) dan alel 238 (0,04). Heterozigositas populasi monyet ekor panjang Pura Pulaki menggunakan lokus D13S765 sebesar h=0,78. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa lokus D13S765 bersifat polimorfik pada populasi monyet ekor panjang Pura Pulaki
Prevalensi Nematoda Gastrointestinal pada Sapi Bali di Sentra Pembibitan Desa Sobangan, Mengwi, Badung Alamsyah, Affan Nur; Dwinata, I Made; Oka, Ida Bagus Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (1) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.762 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi infeksi parasit nematoda gastrointestinal sapi bali yang dipelihara di Sentra Pembibitan Sapi Bali. Sebanyak 290 sampel feses sapi betina dewasa digunakan dalam penelitian ini di Sentra Pembibitan Sapi Bali, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Pemeriksaan feses dilakukan dengan metode konsentrasi apung. Hasil didapatkan 27 sampel (9,31%) positif terinfeksi cacing nematoda gastrointestinal. Hasil identifikasi jenis cacing nematoda yang menginfeksi sapi bali antara lain Bunostomum phlebotomum enam sampel (2,07%) , Strongyloides papillosus tujuh sampel (2,41%), Trichostrongylus axei sepuluh sampel (3,45%), dan Trichuris ovis empat sampel (1,38%). Prevalensi nematoda pada Sentra Pembibitan Sapi Bali rendah.
Pemberian Tepung Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) dalam Pakan terhadap Jumlah Trombosit dan Nilai MPV (Mean Platelet Volume) pada Anak Babi Landrace Jantan Lepas Sapih Pradnyani, Gusti Ayu Putu Indira; Ardana, Ida Bagus Komang; Kartini, Ni Luh
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (3) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.53 KB)

Abstract

Tepung cacing tanah (Lumbricus rubellus) mulai dilirik untuk dicampur dengan pakan babi, karena banyak manfaatnya. Tepung cacing tanah memiliki kadar protein yang cukup tinggi yaitu sebesar 76% dan mengandung enzim peroksidase, katalase dan selulase yang sangat dibutuhkan untuk memperbaiki proses fisiologis tubuh dan melancarkan sirkulasi darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung cacing tanah dalam pakan terhadap jumlah Trombosit dan nilai MPV (Mean Platelet Volume) pada anak babi landrace jantan lepas sapih. Penelitian ini menggunakan 24 ekor anak babi landrace jantan setelah sapih dengan perlakuan berupa pemberian tepung cacing tanah dalam pakan selama 30 hari yang dibagi menjadi empat kelompok yaitu kelompok P0 (tanpa penambahan tepung cacing tanah pada pakan), kelompok P1, P2 dan P3 dengan pemberian tepung cacing tanah dosis 4 g, 8 g, 16 g/kg pakan, masing-masing kelompok terdiri dari enam ekor babi. Pada akhir penelitian pemeriksaan jumlah trombosit dan nilai MPV menggunakan alat hematology analyzer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung cacing tanah dosis 4 g, 8 g dan 16 g/kg pakan menunjukkan penurunan jumlah trombosit dibandingkan kontrol, analisis ragam menunjukkan hasil tidak berbeda nyata antar perlakuan dan tidak mempengaruhi nilai MPV.
Prevalensi Nematoda Gastrointestinal pada Gajah Sumatera di Bakas Elephant Tour dan Taro Elephant Safari Park Suandhika, Putu; Dwinata, I Made; Arjana, Anak Agung Gde
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (3) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.024 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang infeksi cacing nematoda gastrointestinal pada gajah sumatera.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensidan intensitas infeksinematoda gastrointestinal padagajah sumatera di Bakas Elephant Tour dan Taro Elephant Safari Park, Bali. Sampel feses yang digunakan sebanyak 39 yang terdiri dari 8 sampel dari Bakas Elephant Tour dan 31 sampel dari Taro Elephant Safari Park. Pemeriksaan telur cacing dilakukan menggunakan metode konsentrasi apung dengan NaCl jenuh sebagai larutan pengapungnya. Parameter yang diamati adalah morfologi telur cacing. Intensitas infeksi dihitung dengan metode Mc.Master. Hasil penelitian disajikan secara deskriptif dan menunjukkan bahwa prevalensi infeksi nematoda gastrointestinal pada gajah sumatera di Bakas Elephant Tour dan Taro Elephant Safari Park adalah 12,82%. Berdasarkan lokasinya, prevalensi di Bakas adalah 0% dan di Taro Elephant Safari Park adalah 16,13% dengan intensitas infeksi 100 – 200 telur/gram feses.
Pengaruh Frekuensi Penampungan Semen terhadap Volume, Konsentrasi dan Motilitas Spermatozoa Ayam Pelung Saridewi, I Gusti Ayu Made; Budiasa, Made Kota; Trilaksana, I Gusti Ngurah Bagus
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (5) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.91 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.5.461

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi penampungan semen terhadap volume semen, konsentrasi spermatozoa, dan motilitas spermatozoa ayam pelung. Penelitian ini menggunakan 4 ekor ayam pelung jantan berumur 8 bulan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 kelompok perlakuan. Perlakuan I (T1): Frekuensi penampungan setiap 7 hari. Perlakuan II (T2): Frekuensi penampungan setiap 3 hari. Perlakuan III (T3): Frekuensi penampungan setiap 2 hari. Pengamatan dilakukan tehadap volume semen (ml), konsentrasi spermatozoa (107/ml) dan motilitas spermatozoa (%). Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan apabila berbeda nyata (P<0,05) dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume semen, konsentrasi dan motilitas spermatozoa pada perlakuan T1, T2, dan T3 masing- masing: (0.246 ± 0.011) ml,( 0.240 ± 0.007 )ml, dan( 0.148 ± 0.022) ml; konsentrasi spermatozoa masing- masing: (35,24 ± 4,5 x 106) sel/ml, (35,21 ± 4,0 x 106 ) sel/ml, dan (25,60 ± 6,3 x 106 ) sel/ml; dan motilitas spermatozoa masing -masing: ( 86,80 ± 1,303) %, (84,60 ± 1,67)% , dan (60,60 ± 2,19)%. Secara statistik frekuensi penampungan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap volume semen, konsentrasi spermatozoa dan motilitas spermatozoa ayam Pelung.
Laporan Kasus : Lipoma pada Anjing Ras Pekingese Darmawan, I Putu Gede Buda; Wandia, I Nengah; Pemayun, I Gusti Agung Gde Putra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (5) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.221 KB)

Abstract

Seekor anjing ras pekingese betina berumur 17 tahun dengan bobot 5 kg diperiksa dengan keluhan adanya benjolan besar dibagian perinealis. Diagnosis ditentukan dengan pengambilan biopsi jaringan tumor untuk pemeriksaan histopatologi. Hasil pemeriksaan histopatologi menunjukan adanya infiltrasi sel-sel lemak (adiposit) yang bentuknya hampir homogen dan dibatasi oleh stroma. Pemeriksaan rontgen (x-ray) menunjukan gambaran radiolusen pada daerah benjolan tersebut. Hewan kemudian ditangani dengan pembedahan untuk mengangkat tumor. Berdasarakan pemeriksaan yang telah dilakukan hewan didiagnosis menderita lipoma. Premedikasi diberikan atropine sulfate 0.03 mg/kgBB secara subkutan, dan xylazine 2 mg/kgBB secara intramuskular, kemudian dilanjutkan dengan ketamine 13 mg/kgBB secara intramuskular masing-masing diberikan dalam selang waktu 10 menit. Operasi pengangkatan tumor dilakukan dengan cara insisi sirkumsisi pada batas tumor dengan jaringan normal. Luka ditutup dengan pola jahitan menerus pada subkutan menggunakan chromic catgut 2.0 dan pola jahitan sederhana terputus pada kulit menggunakan silk braided 2.0. Penanganan pasca operasi hewan diberikan antibiotik cefixime trihydrate 100 mg (10 mg/kg BB) sebagai antibakterial dan asam mefenamat 250 mg (25 mg/kg BB) sebagai analgesik dan antiinflamasi, masing-masing diberikan secara per-oral selama lima hari. Hari ke-10 pascaoperasi luka telah mengalami kesembuhan secara klinis. Pengangakatan jaringan tumor merupakan salah satu tindakan yang efektif dalam penanganan lipoma pada kasus ini.
Gambaran Histopatologi Jantung Sapi Bali yang Terinfeksi Cysticercus bovis Wicaksono, Endris Arif; Kardena, I Made; Dharmawan, Nyoman Sadra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (5) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (934.371 KB)

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran histopatologi jantung sapi bali yang terinfeksi Cystisercus bovis. Penelitian ini menggunakan jantung sapi bali yang diinfeksi C. bovis. Metode yang digunakan dalam pemeriksaan histopatologi ini adalah clearing, blocking, sectioning, staining, dan mounting. Pada pengamatan histopatologi, infiltrasi sel-sel radang tampak relatif banyak menginfiltrasi jaringan jantung dan meluas sampai ke sela-sela serat otot jantung. Perubahan histopatologi lain, berupa infiltrasi jaringan ikat dan kolagen, serta adanya granuloma yang disertai sel radang di sekitar kapsul C. bovis juga teramati. Sel radang yang ditemukan di serat otot jantung maupun dekat dengan posisi C. bovis tersebar merata mengelilingi kapsul C. bovis. Berdasarkan hasil penelitian, tipe sel radang yang dominan menginfiltrasi yaitu sel-sel radang tipe monomorfonuklear dan sel-sel radang tipe granulosit.
Karakteristik Karang Gigi pada Kucing vira, El; Widyastuti, Sri Kayati; Utama, Iwan Harjono
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (2) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.926 KB)

Abstract

Penelitian observasional yang dilakukan terhadap 50 ekor kucing ras maupun lokal di Denpasar-Bali bertujuan untuk mengetahui keberadaan karang pada gigi. Pengamatan difokuskan pada: warna, ketebalan, serta predileksi karang gigi tersebut. Pengendalian kucing dilakukan secara fisik ataupun kimiawi. Mulut kucing dibuka untuk melihat keberadaan karang gigi. Hasil dicatat pada formulir pengamatan keberadaan karang gigi pada kucing. Hasil penelitian ini memperlihatkan adanya karang gigi warna kuning sampai coklat pada kucing yang berumur 2-4 tahun, sedangkan warna coklat tua sampai hitam dijumpai pada kucing berumur 3-7 tahun. Ketebalan karang gigi meningkat seiring dengan meningkatnya umur kucing kucing tersebut. Predileksi keberadaan plak dan karang tersebut di Caninus, Premolar 2, Premolar 3, Premolar 4¸ dan Molar 1. Dapat disimpulkan bahwa warna karang gigi yang didapat adalah kuning tua, coklat muda, coklat, coklat tua, dan hitam. Sementara dari ketebalan, kebanyakan kucing memiliki karang gigi yang tipis. Dan untuk predileksi, cenderung banyak pada Premolar terakhir dan Molar pertama
Kejadian Kuku Aladin pada Sapi Bali RAKHMAWATI, INNA; BATAN, I WAYAN; SUATHA, I KETUT
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (4) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.242 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rinjadi kuku aladin pada sapi bali jantan dan betina. Sebanyak 1000 ekor sapi bali terdiri dari 500 ekor jantan dan 500 ekor betina diamati di Pasar Hewan Beringkit, Mengwi, Badung dalam penelitian ini. Pada setiap pengamatan dicatat sapi bali yang mengalami kuku aladin dan yang normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rinjadi kuku aladin pada sapi bali jantan 8,2%, sedangkan pada betina 5,1%. Kejadian kuku aladin pada sapi bali relatif lebih besar pada jantan dibandingkan pada betina.