cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
FKIP e-PROCEEDING
Published by Universitas Jember
ISSN : 25275917     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
KRITIK OBJEKTIF DALAM TEKS FABEL BSE TERBITAN KEMENDIKBUD EDISI REVISI 2017 Sugeng Bagus Permadi
FKIP e-PROCEEDING 2021: BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA DI ERA BERKELIMPAHAN
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Kritik objektif merupakan satu dari empat bentuk kajian dari kritik sastra yang menempatkan sebuah karya sastra sebagai objek yang dapat berdiri dan bertumpu pada karya sastra itu sendiri bebas dari penyair,pembaca mupun objek di sekitarnya. Karya sastra memiliki satu kesatuan yang utuh, tersusun dari bagian-bagian yangsaling berkaitan dan terikat satu sama lain, meliputi unsur intrinsik di dalamnya yaitu: (1)Tema (2) Alur (3) Tokoh (4) Latar (5) Sudut pandang, serta (6) Amanat. Tujuan penelitian ini: (a) Untuk medeskripsikan bentuk telaah kritis dalam teks fabel BSE Terbitan Mendikbud tahun 2017, (b) Untuk menjabarkan kesalahan-kesalahan struktural yang ada di dalam prosa fabel BSE Terbitan Mendikbud tahun 2017. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Selanjutnya data diambil menggunakan teknik simak dan catat. Kemudian, teknik validasi dalam penelitian ini menggunakan triangulasiteori. Data dianalisis menggunakan teknik analisis mengalir yang meliputi tiga komponen yaitu: (1) Reduksi (2) Penyajian data (3) Penarikan simpulan. Hasil Penelitian ini yakni, terdapat dua teks fabel dengan judul “Cici dan Serigala” dan “Sesama Saudara Harus Saling Berbagi” yang memiliki cara penyampaian amanat cerita dengan tersirat yang memerlukan membaca dengan pemahaman agar nilai yang ada dalam teks tersebut sampai pada pembaca. Kata Kunci: Kritik Objektif, Karya Sastra, Fabel
BAHASA CERMIN BUDAYA PERILAKU Muji Muji
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini kasus populer yang terjadi di Indonesia adalah penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak baik dan tidak benar. Meskipun sudah ada undang-undang yang mengaturnya, pengguna Bahasa Indonesia tidak mau tahu tentang itu. Akibatnya, Bahasa Indonesia yang dikomunikasikan ada yang dinilai mengandung maksud menistakan, mempolitisi, membohongi, menjatuhkan jati diri, tidak menunjukan kepribadian, dan memecah belah bangsa yang bhineka tunggal ika. Hasil kajian penelitian yang dapat dikemukakan adalah pemaknaan maksud penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak baik dan tidak benar, karena penyikapan dengan berbagai penafsiran. Perilaku ini terjadi, disebabkan oleh pengguna bahasa berfikir dirinya „merasa bisa, bukan bisa merasa‟. Akibat, menganggap dirinya serba dapat, serba mampu, serba kuasa, serba lebih dari yang lain, serba bebas berpendapat, dan semacamnya, maka muncul aneka perilaku berbahasa yang berterima dan tidak berterima. Pemikiran pro dan kontra itu ada, itu wajar terjadi, tetapi perbedaan ini tidak penting menjadi sebab timbulnya benturan fisik dan psikis yang tidak sehat. Kejadian ini diketahui ketika isi pikiran ini sudah dibahasakan, sebelum diaktualisasikan dalam bentuk bahasa tidak mudah diketahui. Contoh apakah setiap pengguna Bahasa Indonesia memaknai maksud pernyataan, “Peringatan merokok membunuhmu” ini pasti sama? Maksud makna pernyataan ini dapat membuka peluang munculnya pertanyaan, “Perlukah penggunaan bahasa yang baik dan benar dibuatkan kaidah yang baku?” “Bagaimanakah isi rumusan kaidah berbahasa yang dimaksud?” “Adakah tolok ukur ini dasar hukumnya? "Seberapa kualitas mutu dasar hukum yang dipedomani ini?” Berdasarkan permasalahan ini kegiatan penelitian yang dilakukan memilih judul Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Komunikasi di Masyarakat. Konstribusi temuan penelitian, hasil penelitian digunakan untuk sumber bahan ajar buku Bahasa Indonesia yang berjudul Bahasa Cermin Budaya Perilaku.  Kata Kunci: Bahasa, Budaya, Karakter      
KESANTUNAN BERBAHASA GURU DAN SISWA PADA TEKS CERPEN PADA MASA PEMBELAJARAN DARING DI SMP 5 MALANG Lesbianto Lesbianto
FKIP e-PROCEEDING 2021: BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA DI ERA BERKELIMPAHAN
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Bahasa Indonesia merupakan alat komunikasi sekaligus sebagai identitas bangsa Indonesia. Pada masa pembelajaran daring ini, komunikasi menjadi perhatian serius. Sehingga dalam pelaksanaannya harus berjalan dengan baik dan sopan, agar komunikasi berjalan dengan baik. Dalam pelaksakannya kesantunan berbahasa sangat dibutuhkan dalam komunikasi. Sejalan dengan itu, Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk kesantunan berbahasa guru dan siswa dalam pembelajaran teks Cerpen kelas IX SMPN 5 Malang berdasarkan prinsip kesantunan berbahasa menurut Leech (1993). Sumber data diambil dari Video Pembelajaran Daring oleh Bu Nur’aini A., M.Pd. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan mentranskip “Video PembelajaranDaring di Masa Pandemi-Mapel Bahasa Indonesia Kelas 9 dari akun Youtube “SMPN 5 MALANG”. Selanjutnya data dianalisis dan deskripsikan sesuai dengan bentuk kesantunan berbahasa. Dari penelitian ini ditemukan hasil yaitu sebagai berikut Terdapat 23 bentuk prinsip pematuhan dan pelanggaran kesantunanberbahasa. Dengan Rincian; (1) Bentuk Pematuhan Prinsip Kesantunan Berbahasa Maksim kebijaksanaan. (2) Bentuk Pematuhan Prinsip Kesantunan Berbahasa Maksim Penghargaan. (3) Bentuk Pematuhan Prinsip Kesantunan Berbahasa Maksim Kemufakatan. (4) Bentuk Pematuhan Prinsip Kesantunan Berbahasa Maksim Kesimpatian. (5) Bentuk Pelanggaran Prinsip Kesantunan Berbahasa Maksim Kesimpatian. Kata Kunci: Kesantunan Berbahasa, Guru, Siswa, TeksCerpen.
PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN SASTRA INDONESIA DI ERA GLOBALISASI Ypsi Soeria Soemantri
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam era globalisasi ini, media sosial di dunia berkembang dengan sangat pesat, informasi dari dunia global sangat mudah ditangkap oleh media sosial di dalam negeri. Pelajar-pelajar Indonesia akan menerima informasi global dari berbagai media,terutama dari internet dan televisi. Masuknya film-film dari budaya asing seperti Jepang, Korea, Amerika Serikat, Rusia dan lain-lain akan memberikan dampak negatif pada pelajar-pelajar Indonesia. Pembentukan karakter pelajar-pelajar Indonesia selayaknya diperoleh dari karya-karya yang diciptakan oleh pengarang Indonesia dengan budaya Indonesia, sehingga anak-anak Indonesia menghargai budaya dan karakter bangsanya. Para pelajar Indonesia, terutama di sekolah menengah mendapatkan pelajaran kesusastraan Bahasa Indonesia, namun apakah cukup seimbang dengan budaya asing yang masuk melalui media sosial. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan ciri-ciri pendidikan karakter melalui karya sastra yang perlu diterapkan di Indonesia di era globalisasi ini dan mendeskripsikan strategi yang digunakan dalam mengajarkan pendidikan karakter pada pelajar di Indonesia. Teori yang digunakan adalah teori dari Prof Nyoman Kutha Ratna (2014) dan Rahyono (2015). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif-analisis. Sumber data diambil dari buku-buku Sastra Indonesia yang digunakan di sekolah menengah dan dari internet.Kata Kunci: Pendidikan karakter, Sastra Indonesia, Media Sosial, Pelajar, Era Globalisasi
ASPEK “KESASTRAAN” DALAM KURIKULUM BAHASA INDONESIA: SEJUMLAH PROBLEMATIKA TERSTRUKTUR Udjang Pr. M. Basir
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya sastra merupakan hasil kontemplasi terdalam sastrawan tentang hidup dan kehidupan.  Dengan ketajaman imajinasinya, potret kehidupan itu dielaborasi secara natural dalam roman, novel, puisi, dan lain sebagainya sehingga tersaji bagaikan gambaran nyata yang konkrit dan membius pembacanya. Belajar sastra secara baik dapat mencerdaskan pembaca. Segala hal ihwal pengalaman hidup dapat digali secara kritis dan kreatif. Dan hal itu merupakan misi utama pembelajaran sastra yang perlu dikembangkan guru sastra. Dengan keterbatasan kemampuan guru dan alokasi waktu perlu pemikiran bagi pengampu dan perancang kurikulum untuk menentukan visi dan misi arah pengajaran sastra secara terarah, terukur, dan benar. Dengan kurikulum 2013 yang disempurnakan, guru memiliki peluang yang cukup luas untuk berkreasi bagaimana meningkatkan etos pembelajaran sastra yang menarik dan kondusif. Salah satu model yang dapat dikembangkan adalah dengan pendekatan prioritas, proses seleksi materi yang disesuaikan dengan kondisi kepentingan pembelajar, dan tugas yang terukur, menyenangkan,  serta terkontrol. Kata Kunci: Aspek kesastraan, kurikulum bahasa Indonesia, dan problematika tersruktur.     
ANALISIS TENTANG PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DAN MULTIPLE INTELLIGENCES MATERI GELOMBANG BUNYI Ari Krismandana; Hari Anggit Cahyo Wibowo; Trisie Nurul Ain
FKIP e-PROCEEDING Vol 5 No 1 (2020): Prosiding Webinar Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui respon peserta didik SMA Negeri Umbulsari terhadap pengembangan modul berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL) dan Multiple Intelligences (MI) pada materi gelombang bunyi. Modul merupakan salah satu media pembelajaran yang menitikberatkan pada kemandirian belajar peserta didik dan mempunyai suatu model pembelajaran tertentu salah satunya adalah model pembelajaran CTL. Model pembelajaran CTL merupakan salah satu model pembelajaran yang digunakan dalam modul yang memuat aplikasi materi fisika dengan konteks kehidupan sehari. Peran peserta didik dalam model pembelajaran CTL sebagai pembelajar mandiri yang mampu mengembangkan kecerdasanya. Teori MI merupakan teori untuk mengembangkan kecerdasan jamak yang dimiliki peserta didik. Pembelajaran fisika di SMA Negeri Umbulsari belum pernah mengunakan modul berbasis CTL dan MI. Berdasarkan hasil angket analisis peserta didik yang dilakukan di SMA Negeri Umbulsari dengan 200 responden menyatakan bahwa, 60,3% lebih menyukai modul sebagai media pembelajaran, 54,2% menyatakan bahwa lebih mudah mempelajari fisika jika menggunakan CTL, 69% belum pernah menggunakan modul berbasis MI. Dapat disimpulkan bahwa perlunya mengembangkan modul berbasis Contextual Teaching and Learning dan Multiple Intelligences pada materi Gelombang bunyi.
PhET (PHYSICS EDUCATION TECHNOLOGY) SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA Iwan Wicaksono; Indrawati Indrawati; Supeno Supeno
FKIP e-PROCEEDING Vol 5 No 1 (2020): Prosiding Webinar Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran IPA saat ini menekankan pada pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada siswa dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang semakin berkembang pesat. Simulasi interaktif PhET (Physics Education Technology) mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret melalui penciptaan tiruan-tiruan bentuk pengalaman mendekati suasana sebenarnya dalam berjalan dalam situasi tanpa resiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keefektifan media pembelajaran simulasi interaktif PhET (Physics Education Technology) terhadap kemampuan berpikir kritis siswa SMP. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan dengan menggunakan one group pre-test post-test design. Subjek penelitian meliputi SMPN 5 Situbondo, SMPN 2 Srono Banyuwangi, SMPN 1 Prajekan Bondowoso, Mts Negeri 1 Jember. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis melalui skor N-gain siswa 0,63 berkategori sedang. Nilai rata-rata pre-test sebesar 44,54 sedangkan nilai rata-rata post-test sebesar 81,45. Hasil analisis dengan menggunakan uji paired sample t-test menunjukkan nilai taraf signifikansi sebesar 0,00 (<0,05) yang artinya ada perbedaan rata-rata antara pre-test dengan post-test, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penggunaan media pembelajaran simulasi interaktif PhET (Physics Education Technology) dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SMP.
LITERASI PRODUKTIF BERBASIS IT (Mencipta Aplikasi Berbahasa Indonesia Pembawa Pengetahuan) Mohammad Hairul
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Belajar bahasa karena ada sesuatu yang dikehendaki. Satu diantaranya untuk memeroleh pengetahuan. Apabila ada sesuatu berbahasa Indonesia yang membawa pengetahuan baru, maka bahasa Indonesia akan menarik dipelajari. Dibutuhkan sesuatu berbahasa Indonesia yang membawa pengetahuan agar masyarakat Internasional tertarik mempelajari bahasa Indonesia. Seiring budaya literasi beralih dari cetak ke digital, from print to screen sebagai penanda era digital, dunia pendidikan melalui transfer pengetahuan di sekolah juga saatnya berupa pembelajaran abad ke-21. Suatu pembelajaran yang mengakrabkan pembelajar untuk mendapatkan pengetahuan dengan perantara teknologi. Literasi produktif berbasis IT mutlak dibutuhkan bagi guru. Perpaduan keterampilan literasi dan penggunaan IT akan membantu guru menghasilkan inovasi berupa aplikasi pembelajaran pembawa pengetahuan berbahasa Indonesia. Makalah ini mendeskripsikan apa, mengapa, dan bagaimana literasi produktif berbasis IT. Literasi produktif dimaknai sebagai aktivitas memproduksi huruf melalui aktivitas menulis untuk memberikan keterpahaman-pengetahuan. Literasi produktif berbasis IT dimaksudkan untuk merevolusi mental guru dari penerima pengetahuan menjadi pemproduksi pengetahuan berbahasa Indonesia di era digital. Wujud gerakan untuk menggiatkan literasi produktif berbasis IT bagi guru antara lain, Sagusatab (satu guru satu tablet), Sagusamik (satu guru satu komik), Sagusablog (satu guru satu blog), Sagusanov (satu guru satu inovasi), Sagusaku (satu guru satu buku), dan Sagusakti (satu guru satu KTI).Kata Kunci: Literasi Produktif, Berbasis IT, Pembelajaran Digital.
ARAH PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA BERBASIS INDUSTRI KREATIF DAN INDUSTRI BUDAYA DI ERA GLOBAL Ahmad Syukron
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak tahun 2009, pemerintah Indonesia mencanangkan bahwa Indonesia menuju visi ekonomi kreatif Indonesia 2025. Dalam konteks tersebut, stakeholder di bidang pendidikan patut berpikir untuk menjadikan pendidikan menjadi salah satu basis penopang melalui pengembangan pembelajaran berbasis industri kreatif. Selain itu, pengembangan ini perlu disinergikan dengan kearifan lokal yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan berpotensi untuk dikemas menjadi culture industries. Selanjutnya, pada level satuan pendidikan, capaian kompetensi hendaknya bermuara pada penguasaan hardskill dan softskill dalam koridor penguatan industri kreatif. Lebih khusus, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia (PBSI) yang berposisi sebagai mata pelajaran penghela dalam struktur kurikulum saat ini. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan paparan yang menggambarkan pengembangan PBSI berbasis industri kreatif dan industri budaya di era global. Paparan berfokus pada arah pengembangan PBSI yang berpijak pada kajian yang bersifat analitis-prediktif. Hasil kajian ini diharapkan mampu menjadi khasanah untuk mengembangkan ide serupa dan mengimplementasikannya di berbagai daerah Indonesia. Kata Kunci: pembelajaran, industri kreatif, industri budaya, era global 
PERIBAHASA (SESENGGAQ) SASAK SEBAGAI SASTRA DAERAH MASYARAKAT SASAK PULAU LOMBOK (Kajian Semiotik Kultural) Dian Aprila Diniarti
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan yang hendak dikaji dalam penelitian ini adalah bentuk dan makna tanda yang terdapat dalam sesenggaq Sasak. Di dalam sesenggaq, terdapat banyak tanda atau simbol yang digunakan. Tanda atau simbol tersebut memiliki makna tersirat yang bagi sebagian orang terutama generasi muda tidak paham akan makna yang terkandung di dalamnya, karena generasi muda zaman sekarang lebih mengedepankan budaya dan sastra barat daripada melestarikan sastra daerah yang merupakan kekayaan bangsa sendiri. Berdasarkan permasalahan tersebut, tujuan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan makna tanda yang terdapat dalam sesenggaq Sasak, sehingga para generasi muda masyarakat Sasak memahami makna yang terkandung di dalam sesenggaq tersebut dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka. Landasan teori yang dianggap relevan dalam mengkaji masalah ini adalah teori mitologi yang bersumber dari Roland Barthes serta pendekatan semiotik kultural. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui metode observasi dan wawancara. Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, hasil penelitian yang ditemukan berupa bentuk sintaksis yang terdiri atas frasa nominal, frasa verbal, dan frasa adjektival serta ditemukan pula makna tanda yang terkandung dalam setiap sesenggaq Sasak adalah makna denotasi dan makna konotasi.Kata Kunci: semiotik kultural, sesenggaq Sasak.