cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
FKIP e-PROCEEDING
Published by Universitas Jember
ISSN : 25275917     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
CITRAAN BAHASA INDONESIA DALAM KAMPANYE POLITIK Murdiyanto Murdiyanto
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan model bahasa yang digunakan oleh caleg guna mendulang suara rakyat  agar memilih dirinya. Bahasa merupakan instrument pokok untuk menceritakan realitas. Pemaknaan citra merupakan hal  yang abstrak. Citra tidak dapat diukur secara  sitematis tetapi wujudnya bisa dirasakan baik positif maupun negatif. Penerimaan dan tanggapan baik positif maupun negatif  tersebut datang dari publik  atau khalayak sasaran masyarakat. Citra terbentuk atas proses akumulasi dari tindakan maupun perilaku individu yang kemudian mengalami suatu proses untuk terbentuknya opini publik yang luas. Pencitraan pada diri seorang tokoh populer (Public  figure) terbentuk oleh pencitraan diri  yang sengaja diolah sedemikian rupa dengan harapan mendapat citra positif di mata publik atau masyarakat luas. Keberagaman latar belakang, status sosial dan ekonomi, perbedaan pengalaman, serta aspek-aspek lain dapat mempengaruhi pemaknaan akan pencitraan yang dibangun oleh caleg. Melalui iklan kampanye, caleg membangun realitas atas dirinya. Realitas itu dibangun melalui pencitraan, baik secara objektif maupun  secara subjektif. Bahasa pencitraan dipakai sebagai strategi menanamkan idelogi yang dilakukan oleh caleg dapat dilihat pada bentuk-bentuk  formal teks. Pencitraan  caleg ditemukan baik pada level leksikal maupun dalam level gramatika. Kata Kunci: Pencitraan, bahasa Indonesia, dan kampanye politik caleg.
KETAHANAN NEGARA DAN KETAHANAN BAHASA: TRANSFORMASI DIPLOMASI LURING KE DIPLOMASI DARING Henry Trias Puguh Jatmiko
FKIP e-PROCEEDING 2021: BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA DI ERA BERKELIMPAHAN
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Diplomasi membutuhkan orientasi baru terutama dalam masa pandemi termasuk Covid-19. Bagaimana aktor diplomasi mampu memberi kontribusi dalam upaya Negara mencapai kepentingan nasional dan ketahanan Negara. Gerakan dan aktivitas warga dalam proses diplomasi, yang kini semakin meningkat seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Perkembangan terakhir peradaban manusia melalui bahasa dipenuhi dengan ujaran-ujaran melalui media sosial, seperti facebook, instagram, youtube, dan lain-lain untuk menghimbau agar masyarakat memperhatikan protokol kesehatan pada masa pandemi covid. Penelitian ini mendeskripsikan tentang diplomasi-diplomasi ujaran positif para tokoh elit di media sosial dan warganet. Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Data diambil menggunakan teknik simak dan catat. Kemudian data divalidasi dengan triangulasi teori. Selanjutnya, data dianalisis mengguanakan content analysis. Hasil dari penelitian ini, yakni kepala daerah melalukan kegiatan diplomasi kepada warganya melalui akunakun instalgram. Selanjutnya, tokoh seperti, Najwa Siha, dan Dedy corbuzier melakukan diplomasi kepada narasumber maupun penontonnya melalui akun-akun media sosial, baik secara langsung maupun tidak langsung, dan warga net seperti Bintang Emon melakukan diplomasi kepada masyarakat Indonesia melalui lelucon-lelucon tentang jaga jarak di masa pandemi. Kata Kunci: Diplomasi, Pandemi Covid-19, Media Sosial
LEKSIKON SAPAAN ISOLEK GOROM (LSIG) DI KABUPATEN SERAM BAGIAN TIMUR: KAJIAN DIALEK SOSIAL Iwan Rumalean
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Isolek Gorom (IG) sebagai local wisdom perlu dikembangkan, sehingga bermanfaat bagi penggunanya dalam era global, dan dapat pula memperkayah khasanah kosakata bahasa Indonesia. Penelitian LSIG bertujuan mendeskripsikan leksikon sapaan, dengan menggunakan pendekatan dialek sosial. Lokasi penelitian di Kepulauan Gorom dengan 5 daerah pengamatan (DP). DP-1 Dusun Dada, DP-3 Negeri Ondor, dan DP-5 Dusun Wawasa Kecamatan Pulau Gorom, DP-2 Negeri Lalasa Kecamatan Pulau Panjang, DP-4 Negeri Kilkoda Kecamatan Gorom Timur. Sumber data 10 orang yang diambil dari setiap DP dua orang. Data penelitian berupa kosa kata dasar yang mencirikan LSIG. Teknik pengumpulan data: pencatatan, perekaman, simak, dan cakap. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan metode triangulasi. Tahapan analisis data yaitu memilah, mengedit, mentranskripsi, mengelompokkan berdasarkan tipe dan kekhasan LSIG. Temuan LSIG: (1) leksikon sapaan nama diri (LSND): (a) Arobi, (b) Bini, (c) LSND + Julukan, dan (d) LSND + nama keluara; (2) leksikon sapan kekerabatan (LSK): (a) kekerabatan langsung, dan (b) kekerabatan tidak langsung; (3) leksikon sapaan gelar (LSG): (a) leksikon sapaan gelar PNS (LSGPNS), (b) leksikon sapaan gelar wiraswasta (LSGWs, (c) leksiokon sapaan gelar pemerintahan adat (LSGPA), dan (d) leksikon sapaan gelar keagamaan (LSGK); (4) leksikon sapaan kata ganti diri (LSKGD): (a) kata ganti diri orang pertama (KGD1), (b) kata ganti diri orang kedua (KGD2), dan (c) kata ganti diri orang ketiga (KGD3).Kata Kunci: Leksikon Sapaan, Isolek Gorom, Dialek Sosial
LOKALITAS DAN KECERDASAN BUDAYA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER Asep Yusup Hudayat
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap suku bangsa memiliki nilai-nilai kerifan lokal yang terkandung di setiap sendi kehidupan tradisonalnya. Penerapan nilainilai kearifan di era global tentu menjadi sangat penting dalam upaya memperkuat karakter bangsa.  Nilai-nilai kearifan lokal  menyangkut silih asah, silih asih, dan silih asuh yang merupakan warisan kecerdasan budaya leluhur bangsa Indonesia akan menempati fungsi nyatanya dalam geliat globalisasi. Menyangkut penerapan nilai yang dimaksud, kecerdasan budaya „cultural intelligence‟ menjadi penting untuk diberdayakan dalam pengajaran bahasa dan sastra yang dimungkinkan peserta didiknya berlatar belakang budaya heterogen sehingga penerapan pembelajaran berbasis kecerdasan budaya menjadi sangat penting. Makalah ini memusatkan perhatian kepada penjejakan andil nilai-nilai kearifan lokal berbasis kecerdasan budaya dalam pembentukan karakter peserta didik. Tujuan utama makalah ini adalah memetakan secara konseptual makna-makna hubungan kecerdasan kultural dengan nilai-nilai kearifan lokal untuk menakar identitas bangsa. Menurut Barker (2005: 15)  identitas itu diciptakan dan bukan ditemukan dan terbentuk dari representasirepresentasinya. Dengan demikian, identitas kebangsan yang dapat dijejak melalui nilai-nilai kearifan lokal pun berada dalam kapasitas pengkonstruksiannya secara kultural. Identitas pun terbentuk melalui representasi-representasinya. Metode yang digunakan dalam kepentingan menjejak andil nilai-nilai kearifan lokal tersebut adalah metode dialektika. Hasil yang diharapkan dari makalah ini adalah pemetaan makna-makna hubungan kecerdasan kultural dengan nilainilai kearifan lokal melalui ekspresi dan sumber-sumber maknanya. Kata Kunci: lokalitas, kecerdasan budaya, identitas, pendidikan karakter 
MEDIA PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS WEB MENGGUNAKAN GOOGLE SITES PADA MATERI LISTRIK STATIS Widya Mutiara Mukti; Yudhia Bella Puspita N; Zanetti Dyah Anggraeni
FKIP e-PROCEEDING Vol 5 No 1 (2020): Prosiding Webinar Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan adalah suatu kebutuhan yang harus dipenuhi dalam kehidupan, dimana pendidikan merupakan suatu proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan potensi dirinya. Wabah Covid-19 membawa dampak yang cukup signifikan dalam berbagai bidang, salah satunya yaitu pada bidang pendidikan yang mana mengharuskan proses pembelajaran yang semula tatap muka berubah menjadi pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan secara online. Guru sebagai pendidik dapat memanfaatkan teknologi informasi yang ada untuk mengembangkan media pembelajaran sebagai sarana penunjang keberhasilan proses pembelajaran. Salah satu contohnya yaitu pembuatan media pembelajaran berbasis web dengan memanfaatkan Google Sites. Google Sites merupakan aplikasi online yang diluncurkan oleh google untuk pembuatan website kelas, sekolah, atau lainnya dengan menggabungkan berbagai informasi dalam satu tempat dan dapat dibagikan sesuai kebutuhan penggunanya. Google Sites juga dapat diakses secara gratis oleh pengguna yang memiliki akun google baik melalui tablet, PC, maupun smartphone. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan penggunaan media pembelajaran Fisika dalam bentuk modul elektronik berbasis web dengan menggunakan Google Sites pada materi Listrik Statis. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode studi pustaka/kajian literatur dengan sumber data yang diperoleh adalah sumber data sekunder. Media pembelajaran ini dirancang untuk membantu peserta didik agar dapat belajar secara mandiri.
PEMBENTUKAN KARAKTER KRITIS DAN KREATIF MELALUI PEMBELAJARAN BAHASA DAN KETELADANAN GURU BAHASA Agustinus Indradi Agustinus Indradi
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam perkembangan dunia yang begitu pesat, dibutuhkan orang-orang yang memiliki karakter kritis dan kreatif. Pembentukan kedua karakter tersebut bisa dikembangkan melalui proses pendidikan, yang salah satunya melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia. Karakter kritis dan kreatif siswa bisa dikembangkan melalui proses pembiasaan, baik melalui pembelajaran maupun pemerolehan. Proses pembelajaran terjadi secara sengaja di dalam kelas, sedangkan proses pemerolehan terjadi secara alami melalui apa yang dilihat siswa pada gurunya. Sama halnya dengan orang yang belajar bahasa, apa yang didapat melalui pemerolehan akan lebih membekas daripada yang didapat melalui pembelajaran. Pembelajaran membaca dan menulis bisa dipakai sebagai sarana mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa. Pembelajaran membaca bisa banyak membantu dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan pembelajaran menulis bisa banyak membantu mengembangkan kemampuan berpikir kreatif. Tetapi apabila dalam pembelajaran menulis, guru tidak bisa berperan sebagai model yang bisa dijadikan teladan dalam hal menulis, kiranya kreativitas menulis dari siswa sulit untuk dikembangkan secara maksimal. Oleh karena itu, guru Bahasa Indonesia tidak cukup bisa menyampaikan teori bahasa dengan bagus, tetapi juga harus mampu menjadi model dalam menghasilkan karya tulis yang baik.Kata Kunci: pembelajaran, pemerolehan, karakter, kritis, kreatif
IMPLEMENTASI KEARIFAN LOKAL DALAM TEKS BAHAN AJAR UNTUK PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNTUK PENUTUR ASING N Rinaju Purnomowulan; Upik Rafida; Ida Farida Sachmadi
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran bahasa dan sastra untuk penutur asing pada dasarnya merupakan pergumulan antara budaya asing dan budaya sendiri. Target capaian kompetensi dalam kegiatan belajar mengajar seharusnya mampu memotivasi pembelajar untuk mengembangkan kreativitasnya dalam berkomunikasi dengan masyarakat dari ruang budaya bahasa yang dipelajarinya. Pada kenyataannya, alih-alih berhadapan dengan nilai-nilai yang terkandung di balik ungkapan bahasa, orang justru kerap terjebak pada pembelajaran aspek formal bahasa. Akibatnya, suasana belajar menjadi kurang menyenangkan dan kebutuhan pembelajar pun tidak terakomodir dengan baik. Padahal kehidupan di „desa global“ pada masa kini menuntut masyarakat untuk lebih terbuka dan toleran satu sama lain. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melakukan perubahan pada proses belajar mengajar. Melalui penggunaan bahan ajar yang mengandung kearifan lokal dan metode pembelajaran berorientasi tindakan dalam kegiatan belajar mengajar diharapkan dialog antarbudaya akan terbangun. Hal itulah yang dapat menstimulasi pembelajar untuk berkonfrontasi secara kritis dengan budaya asing dan dirinya sendiri. Dan pada akhirnya mereka akan mampu melihat dan merasakan bahwa di antara budaya asing dan budayanya sendiri terdapat kesamaan atau kemiripan.Kata Kunci: pergumulan budaya, nilai-nilai budaya, bahan ajar, dialog antarbudaya
MENIMBANG SUARA LOKAL-GLOBAL Novi Anoegrajekti
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sastra Jember memiliki kekhasan tersendiri, bersifat kerakyatan dan memiliki kebebasan dalam berekspresi dan penyebarannya dominan secara lisan. Perkembangannya menempuh dua jalur, pertama: secara lisan murni seperti yang terlihat dalam komunikasi langsung; dan kedua melalui media setengah lisan, yaitu sastra yang penyebarannya menggunakan alat bantu musik seperti, kesenian lengger. Seni pertunjukan, termasuk tradisi lisan yang ada di dalam pertunjukan menjadi salah satu prioritas yang akan dikembangkan agar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat pendukungnya. Tujuan tersebut representatif, karena masyarakat Indonesia memiliki beragam seni pertunjukan dan sastra lokal yang apabila dikelola dengan baik bisa menjadi penopang munculnya ekonomi kreatif. Melalui kajian hibriditas kritis –konsep hibriditas menunjukkan bahwa setiap proses budaya mengandung percampuran dan interaksi lintas batas. Tidak ada suatu kebudayaan yang sepenuhnya asli dan murni, dikotomi dapat diatasi dengan mengkaji dengan bagaimana kreativitas lokal berdialog. Tulisan ini menekankan bagaimana mengembangkan model industri kreatif berbasis sastra lokal diera global. Dengan metode etnografis dan analisis yang menggunakan pendekatan multidisiplin, model tersebut diharapkan mampu mengembangan industri kreatif di wilayah lokal. Kajian ini bertolak dari semakin menguatnya identitas lokal dalam setiap kebudayan. Munculnya pluralitas budaya, heterogenitas, dan etnisitas membuat pemerintah daerah menciptakan identitas daerahnya. Kata Kunci: cerita rakyat, kontestasi, pluralitas budaya, identitas 
IDENTITAS KE-INDONESIAAN DALAM PANYANDRA BENTUK TUBUH INDAH MASYARAKAT JAWA Agustina Dewi S.
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Jawa merupakan salah satu bagian dari pembentuk identitas ke-Indonesiaan. Dengan berbagai etnis yang ada di Indonesia tentu bahasa yang digunakan untuk melukiskan sesuatu juga berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Demikian juga dengan Masyarakat Jawa yang merupakan bagian dari etnis yang ada di Indonesia. Menurut Masyarakat Jawa, berbagai macam keindahan tubuh manusia khususnya tubuh perempuan perlu dilukiskan/ dicandra dengan bahasa. Pelukisan keindahan bentuk tubuh perempuan pada Masyarakat Jawa dilakukan dengan membandingkannya dengan flora dan fauna yang ada di sekitarnya. Istilah-istilah yang digunakan dalam panyandra ini sangat dipengaruhi oleh pola pikir Masyarakat Jawa yang merupakan bagian dari identitas Ke-Indonesiaan. Masyarakat Indonesia pada umumnya dan Masyarakat Jawa pada khususnya adalah masyarakat agraris yang sangat dekat dengan dunia pertanian. Hal ini kemudian mempengaruhi pemakaian bahasa khususnya pada pemakaian bahasa panyandra pada Masyarakat Jawa ini. Metode etnosemantik merupakan metode yang akan dipergunakan dalam analisis ini. Etnosemantik merupakan metode yang memadukan analisis etnografi dengan semantik. Dengan etnosemantik tersebut diharapkan panyandra dapat dianalisis berdasarkan kacamata kearifan lokal masyarakat setempat di era global yang semuanya telah dibawa pada cita rasa dan cara pandang yang sama. Kata Kunci: Panyandra, Identitas ke-Indonesiaan, masyarakat Jawa, dan etnosemantik
PENGEMBANGAN SIKAP BAHASA MELALUI PENDIDIKAN FORMAL: RESPON TERHADAP PEMINATAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA ASING Arju Muti‟ah
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semakin meluasnya minat masyarakat dunia terhadap bahasa Indonesia tentu patut kita apresiasi karena hal tersebut menandakan bahasa Indonesia telah diperhitungkan sebagai salah satu bahasa yang penting dalam konteks komunikasi global. Namun demikian, kita perlu lebih cermat dalam melihat motif dari peminatan terhadap bahasa Indonesia tersebut. Bahasa Indonesia dipelajari karena kebutuhan mendapatkan pekerjaan di Indonesia. Fenomena tersebut tentu akan diikuti masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia , lebih-lebih pasar bebas di kawasan Asia telah terbuka lebar. Bahasa Indonesia juga dipelajari untuk mendapatkan wawasan yang komprehensif tentang Indonesia. Kondisi ini tidak didukung oleh sikap yang positif sebagian masyarakat terhadap bahasa Indonesia. Melalui pendekatan interdisipliner dilakukan kajian deskriptif evaluatif dengan tujuan menyajikan gambaran sikap bahasa masyarakat Indonesia di tengah semakin meluasnya minat dan perhatian masyarakat dunia terhadap bahasa Indonesia beserta gagasan pengembangan sikap bahasa melalui pendidikan formal sebagai upaya antisipatif dalam merespon dampak perluasan peminatan tersebut. Lembaga pendidikan formal, dalam hal ini sekolah dan perguruan tinggi, dipandang sebagai tempat yang tepat bagi pengembangan sikap bahasa. Upaya pengembangan ini dapat ditempuh melalui optimalisasi peran dan partisipasi semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan program sekolah. Kata Kunci: sekolah, sikap bahasa, bahasa Indonesia, bahasa nasional, masyarakat dunia