cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sejarah dan Budaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 2 (2018)" : 10 Documents clear
KETIDAKADILAN PERAN GENDER TERHADAP PEREMPUAN DALAM CERITA PENDEK SURAT KABAR MEDIA INDONESIA TAHUN 2017 Sidiq Aji Pamungkas; Sarwiji Suwandi; Muhammad Rohmadi
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.178 KB)

Abstract

Perempuan secara kultural dipandang memainkan peran gender hanya di ranah domestik, bukan di ranah publik seperti laki-laki. Sementara, peran gender merupakan buah dari kesepakatan sosial berdasar kultur peradaban. Peran gender terbentuk berdasarkan perilaku-perilaku yang dilakukan/diperankan sehingga menciptakan suatu budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ketidakadilan peran gender terhadap perempuan dalam cerita pendek surat kabar Media Indonesia 2017. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Teknik pengambilan sampel penelitian ini menerapkan teknik purposive sampling dimana mengambil teks cerpen yang memuat isu gender dalam surat kabar Media Indonesia tahun 2017. Validitas data memanfaat triangulasi, yaitu triangulasi teori dan triangulasi peneliti. Hasil penelitian sebagai berikut. Cerpen-cerpen yang tersiar di surat kabar Media Indonesia melukiskan ketidakadilan peran gender perempuan berupa stereotip (pelabelan negatif) dan beban kerja yang lebih dominan dibanding laki-laki. Pelabelan negatif (stereotip) tersebut antara lain perempuan mudah menaruh percaya sehingga mudah dirayu-dibodohi, perempuan terlalu emosional menonjolkan perasaan sehingga perempuan mudah terpengaruh suasana untuk membuka diri tanpa berpikir panjang, dan perempuan mudah depresi karena tidak sanggup tertekan. Sementara, beban kerja perempuan lebih dominan di ranah domestic, yaitu perempuan bertanggung jawab penuh dalam mengasuh anak.Women are culturally seen to play gender roles only in the domestic sphere, not in the public domain like men. Meanwhile, gender roles are social agreement based on the culture of civilization. Gender roles are formed based on behaviors that are performed so as to create a culture. This study aims to describe the unfairness of gender roles towards women in the short story of Media Indonesia newspaper on 2017. This research is a qualitative descriptive study with content analysis techniques. The sampling technique applied a purposive sampling technique in which the short story text contains gender issues in Media Indonesia newspapers. Data validity applied triangulation, namely theory triangulation and researcher triangulation. The results indicates two finding. Short stories published in Media Indonesia newspapers depict the injustice of women's gender roles in the form of stereotypes (negative labeling) and workloads that are more dominant than men. These stereotypes include women who are easy to believe so they are easily seduced, women are too emotional to highlight feelings so that women are easily influenced by the atmosphere to open themselves without thinking, and women are easily depressed because they cannot be depressed. Meanwhile, women's workload is more dominant in the domestic sphere, ie women are fully responsible for taking care of children.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v12i22017p109
PITUTUR SINANDI UNTUK PENDIDIKAN KARAKTER ANAK BERDASARKAN BUDAYA JAWA TIMUR INDONESIA Yatimmatul Islammia
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (947.905 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mencermati pendidikan karakter pada anak melalui budaya pitutur sinandi, adapun hal yang teramati: (1) proses pendidikan karakter oleh orang tua terhadap anak melalui pitutur sinandi, (2) proses terbentuknya karakter anak melalui pitutur sinandi, (3) nilai-nilai karakter yang terkandung dalam pitutur sinandi, dan (4) dampak dari pitutur sinandi terhadap karakter anak. penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian etnografi. Analisis data yang digunakan yaitu model Spradley. Data penelitian ini diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) salah satu media yang digunakan dalam pendidikan karakter di Desa Kendalrejo adalah pitutur sinandi ora ilok yang diucapkan kepada anak-anak sejak usia dini, (2) pitutur sinandi biasanya diawali dengan kata “ora ilok” yang berarti tidak baik, (3) Pitutur sinandi ora ilok terbagi menjadi dua, yaitu pitutur sinandi yang menyertakan akibat dan pitutur sinandi yang tidak menyertakan akibat. This study aims to examine the character education of children through pitutur sinandi culture, as for the things observed: (1) the process of character education by parents to the children through pitutur sinandi, (2) the process of forming the character of the child through pitutur sinandi, (3) the value of characters contained in pitutur sinandi, and (4) the impact of pitutur sinandi on the child's character. This research is a qualitative research with type of ethnography research. Data analysis used is Spradley model. This research data obtained from observation, interview, and documentation. The findings of this study indicate that: (1) one of the media used in character education in Kendalrejo Village is pitutur sinandi ora ilok which is spoken to children from an early age, (2) pitutur sinandi usually begins with "ora ilok" means not good, (3) Pitutur sinandi ora ilok is divided into two, namely pitutur sinandi which includes the result and pitutur sinandi that does not include the result. Pitutur sinandi make children understand what is right and wrong so that he or she won’t do anything wrong DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v12i22017p159
KETERLIBATAN BANDIT, PELACUR DAN SENIMAN DALAM PERJUANGAN KEMERDEKAAN DI JAWA TIMUR (1945-1950) Ari Sapto
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.256 KB)

Abstract

Bandit, pelacur dan seniman adalah kelompok sosial yang sering luput dari perhatian sejarawan. Mungkin karena posisi sosial mereka yang bukan elite. Dalam perkembangan Ilmu Sejarah yang mengarah pada demokratisasi, maka semua kelompok sosial dipandang memiliki peluang yang sama untuk ditulis sejarahnya. Dalam periode Revolusi Nasional Indonesia (1945-1950) untuk menghadapi keunggulan militer pihak Belanda, tentara Indonesia dipaksa untuk melakukan mobilisasi sumberdaya. Dalam konteks itu, bandit, pelacur dan seniman terlibat dalam perjuangan kemerdekaan. Kontribusi mereka tidak kecil, tetapi dalam suasana kajian sejarah yang berpihak pada elite, perannya seakan-akan terlupakan. Dalam perjuangan kemerdekaan di Jawa Timur bandit, pelacur dan seniman dimobilisasi dan dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Melalui berbagai peran yang sesuai dengan ”ketrampilan”nya memberi dukungan terhadap perjuangan. Resikonya tidak kecil, nyawa taruhannya, tetapi mereka rela melakukan. Ironisnya, perjuanggannya hanya tercatat dalam dokumen dan setelah kemerdekaan tercapai jasa-jasanya dilupakan. Bandits, prostitutes, and artists are social groups that frequently ignored by the historians. Potentially their social position as non-elite class causes its marginalization. Hence, in the development of history as science that headed to democratization, all social groups are seen as having equal opportunities to write their history. Facing the superiority of Dutch military in the Indonesian National Revolution period (1945-1950), the Indonesian army was forced to mobilize all resources. In that context, bandits, prostitutes, and artists were involved in the struggle for independence. Their contribution is very important, but in an atmosphere of historical studies that highlight the elite, their role seems to be marginalized. The independence war in East Java records band of bandits, prostitutes and artists who were mobilized and utilized for various purposes. Through various roles in accordance with their "skills", it provides support for the independence. The duty were very risk to their lives, but they doing it voluntarily. Ironically, their heroism only recorded in the old archives and forgotten after independence. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v12i22017p128
KESINAMBUNGAN DAN PERUBAHAN: PEMANFAATANNYA SEBAGAI KERANGKA PEMBELAJARAN SEJARAH Susanto Yunus Alfian
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.345 KB)

Abstract

Pemikiran historis menjadi perhatian kita sebagai guru sejarah. Pembelajaran sejarah sebenarnya merupakan pembelajaran disiplin ilmu sejarah. Disiplin ilmu sejarah menuntut kita untuk berpikir sejarah. Artinya pemikiran historis menjadi inti dari pembelajaran sejarah. Pemikiran historis memiliki beberapa unsur. Salah satu unsur adalah kesinambungan dan perubahan. Bagaimana pembelajaran kesinambungan dan perubahan dalam matapelajaran sejarah? Tulisan ini menawarkan suatu solusi. Historical thiking has been highlighted by history teachers. Historical instruction actually an instruction of history which demand students to think historically. Historical thinking has various elements. One of them is sense of continuity and change. This article tries to offer some examples of teaching about continuity and change in historical instruction, i.e. through direct learning and project based learning. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v12i22017p173
GAYA SENI ARCA DWARAPALA RAKSASA KADIRI, SINGHASARI & MAJAPAHIT Deny Yudo Wahyudi; Slamet Sujud Purnawan Jati
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1143.232 KB)

Abstract

Dwarapala merupakan arca penjaga obyek suci yang biasanya digambarkan berpasangan. Penggambaran mereka bersifat demonis dengan hiasan-hiasan yang khas. Di beberapa wilayah Jawa Timur digambarkan beberapa arca dwarapala yang digambarkan berukuran raksasa dalam posisi berlutut. Deskripsi gaya seni dijabarkan dalam rincian kondisi tubuh dan gaya busananya. Penggambaran ikonografis ini menunjukkan adanya persamaan dan perbedaan yang diharapkan dapat memberikan gambaran perbedaan gaya seni masing-masing masa. Dwarapala is guardian statue of sacred object, usually depicted in pairs. Its cketched on demonic form with distinctive decorations. In some parts of East Java, a few giant dwarapala are depicted in kneeling positions. The description of the art facet explained on details of the body language and costum pattern. This iconographic depiction illustrates the similarities and dissimilarities that are strongly believe would illuminate the differences of the Kadiri, Singhasari, Majapahit pattern on art. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v12i22017p180
PERUBAHAN POSISI INDONESIA DALAM PERBURUHAN: STUDI PERBANDINGAN BURUH MIGRAN MASA KOLONIAL DAN MASA REFORMASI Yenni Eria Ningsih
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.155 KB)

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan peran bangsa Indonesia dalam perburuhan. Bahwa ada perubahan dan kontinuitas yang berlangsung dalam aktivitas buruh migran di Indonesia. Sebagai upaya untuk menganalisis bangsa Indonesia dalam perburuhan, peneliti menggunakan kajian literatur dari berbagai sumber tulisan. Hasil analisis tersebut selanjutnya peneliti sintesis dan proyeksikan dalam pembahasan artikel ini. Pada masa kolonial Indonesia berperan sebagai obyek penerima buruh dari luar negeri, dalam hal ini dari negara Cina, meskipun pada waktu itu pemerintah Belanda juga mengirim buruh Jawa ke Suriname, namun hal itu termasuk dalam misi perbudakan, bukan sebagai buruh migran. Fenomena tersebut kemudian berubah dewasa ini, Indonesia berubah peran menjadi subyek pengirim buruh ke beberapa negara di dunia. This article describes continuity and change in history of migrant workers in Indonesia. As an effort to analyze the role of Indonesian in the migrant workers problems, researcher uses literature review from various sources. Then, researcher synthesize and project the results of analysis in the discussion of the article. In the colonial era, Indonesia played as object who got migrant workers from China, eventhough the Netherlands Indie also sent many Javanese to Suriname as slave not migrant workers. Those phenomena changes recently, Indonesia become a subject who sent migrant workers throughout the world. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v12i22017p194
DUSUN NGLAROH, WONOGIRI: BASIS PERJUANGAN POLITIK RADEN MAS SAID (K.G.P.A.A. MANGKUNEGARA I) 1742-1757 Ilham Galih Pambudi; Yoel Kurniawan Raharjo
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.584 KB)

Abstract

Nglaroh adalah sebuah dusun (dukuh) yang menjadi bagian dari Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Daerah tersebut merupakan sebuah wilayah kecil namun memiliki nilai sejarah yang besar bagi perjuangan Raden Mas Said yang kelak menjadi pendiri Kadipaten Mangkunegaran dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro I. Tujuan penulisan penelitian ini sebagai refleksi historis dan memori kolektif terhadap perjuangan politik Raden Mas Said dan Dusun Nglaroh sebagai basis perjuangan politiknya. Penelitian ini menggunakan metode historis dengan sumber buku, jurnal, serta sumber lisan (oral history). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Dusun Nglaroh, Wonogiri sebagai basis perjuangan politik Raden Mas Said dibagi dalam 3 tahap yaitu tahun 1742-1743 saat dia meloloskan diri keluar dari benteng Kartasura dan membantu Sunan Kuning serta melibatkan diri dalam Geger Pacina, tahun1743-1755 perjuangan bersama Pangeran Mangkubumi melawan Sunan Pakubuwana II dan Sunan Pakubuwana III, tahun 1755-1757  sesudah paliyan nagari perjuangan politik melawan Pakubuwana III, Pangeran Mangkubumi, dan VOC. Dusun Nglaroh merupakan tempat Raden Mas Said beserta prajuritnya berkumpul dan menyusun strategi dalam berperang, rakyat Nglaroh pun mendukung penuh. Di dusun Nglaroh terdapat juga Prasasti Nglaroh yang diyakini warga sekitar merupakan patilasan Raden Mas Said.  Sumbangan penelitian ini adalah untuk mengisi kekosongan narasi mengenai sejarah kampung, khususnya sejarah Dusun Nglaroh di Kabupaten Wonogiri yang memiliki akar historis mengenai tempat atau basis perjuangan Raden Mas Said (nantinya bergelar K.G.P.A.A Mangkunegara I) Nglaroh is a hamlet in Pule Village, Disctrict Selogiri, Regency of Wonogiri, Middle Java. The region is small yet has a great historical value for Raden Mas Said who was the founder of Mangkunegaran with tittle Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro I. This research is a historical reflection and collective memory on the political struggle of Radem Mas Said. This research used historical method with books, journals and oral history as its sources. The results of this research shows that Ngaloh hamlet served as political struggle basis for Raden Mas Said which can be devided in 3 periods, namely 1742-1743 when he escaped from Kartasura fort and helped Sunan Kuning as well as involved in Geger Pecina, 1743-1755 remarked the struggle with Pangeran Mangkubumi against Pakubuwana II and Sunan Pakubuwana III, 1755-1757 after palihan nigari remarks political struggle against Pakubuwana III, Pangeran Mangkubumi, and VOC. Nglaroh hamlet was a place where Raden Mas Said along with his troops and strategized in the war. People of Nglaroh gave their full support. There was an inscription of Nglaroh which believed by the locals as heritage of Raden Mas Said. This research could fill the gap on the history of hamlet, especially Nglaroh in Wonogiri which has historical roots as basis of Raden Mas Said struggle. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v12i22017p200 
ADVICE PLANNING DP2WB DALAM PELESTARIAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA Nur Ikhwan Rahmanto
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1114.683 KB)

Abstract

Salah satu implementasi dari new urban agenda adalah pelestarian cagar budaya, namun demikian upaya ini tidaklah mudah dilakukan. Makalah ini membahas perubahan fungsi bangunan cagar budaya yang tidak mengikuti prinsip prinsip pelestarian karena adanya konflik kepentingan. Artikel disusun dengan metode penelitian kualititif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dari beberapa informan yakni, pemilik/pengelola bangunan cagar budaya, pemerintah, ahli cagar budaya serta NGO yang bergerak dalam pelestarian cagar budaya. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa advice planning (rekomendasi yang berisi hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam rehabilitasi bangunan cagar budaya) yang dalam kasus Daerah Istimewa Yogyakarta dari Dewan Penasehat Pelestari Warisan Budaya (DP2WB) memberikan panduan dalam rehabilitasi cagar budaya bagi pemilik cagar budaya yang dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi dengan memberikan arahan terkait dengan keaslian bangunan, ornament yang dipakaian keseuaian dengan profil kawasan warna bangunan serta landscape. One of the implementation of the new urban agenda is the preservation of cultural heritage, however this effort is not easy to do. This paper discusses the changing functions of cultural heritage buildings that do not follow the principle of conservation because of a conflict of interest. The paper was prepared with a qualitative study, conducted with in-depth interviews with some informants who are stake holders in the preservation of cultural heritage ie, owners / managers of cultural heritage buildings, government, cultural heritage experts and NGOs engaged in preservation of cultural heritage. The results of this study showed that advice planning in urban Yogyakarta were very important for the owner of the cultural heritage which is utilized for economy sector because it can reduce the conflict between protection and development of cultural heritage buildings. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v12i22017p146
POWER SHIFT AND SOCIO-POLITICAL CHANGES ON BANJARMASIN IN 19TH-20TH CENTURY Wisnu Subroto
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.789 KB)

Abstract

The arrival of Dutch at Banjarmasin has become the historical pillar which signifies the changes in the life of people in many aspects. In an economic aspect, it introduced money economy. From a political aspect, it created centered administration and managed government system. This system management was refuted by the nobles because it did not suit local people system which had been long established and passed down from generation to generation. Despite this objection, the colonial government insisted on performing the management of government system in order to achieve its political goal.After the conquest of Banjarmasin in 1860, the power of colonial government got stronger. As a result, the government performed the implementation of policies and consolidation in the effort to manage administration. The Dutch Colonial government kept insisting on the idea of the administration management to ensure monitoring and centralized governance. The government’s policy had greatly influenced the mind set and perspective of the society about the importance of administration. The implementation of this administration system on the city government has resulted in changes which are greatly contrast with the prevailing culture. The status of people was no longer determined by its family background, but their position in government determined the level of social status. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v12i22017p120
AKULTURASI KEMUHAMMADIYAHAN DAN BUDAYA PAPUA BARAT (STUDI TENTANG PERILAKU SOSIAL DAN KEAGAMAAN MASYARAKAT ISLAM DI PAPUA) Raisa Anakotta
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.108 KB)

Abstract

Budaya melekat dan menjadi kebiasaan sehingga akan selalu diterapkan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, setiap kelompok masyarakat akan memiliki budayanya masing-masing. Seiring dengan perkembangan jaman, sekelompok masyarakat mulai terbiasa hidup dengan kelompok masyarakat yang lain. Dengan demikian, akan sangat memungkinkan untuk terjadinya proses akulturasi. Sama halnya dengan wilayah lain di Indonesia yang sering dijadikan sebagai tempat menetap, Papua Barat juga didiami oleh masyarakat berasal dari berbagai macam suku. Sehingga akulturasi banyak ditemukan di sini. Papua Barat juga merupakan contoh wilayah Indonesia Timur yang didalamnya terdapat banyak kader Muhammadiyah dan gerakan Muhammadiyah pun sudah cukup berkembang di wilayah ini. Dalam hal ini, akan sangat memungkinkan terjadinya akulturasi kegiatan keagamaan gerakan Muhammadiyah dengan budaya masyarakat muslim yang ada di Papua Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk akulturasi Kemuhammadiyahan dan budaya Papua dalam kehidupan masyarakat muslim. Akulturasi yang dideskripsikan adalah akulturasi yang terjadi pada perilaku sosial dan perilaku keagamaan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan Sosiokultural. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi, kuesioner dan wawancara. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis isi yang dikemukakan oleh Spradley (2007). Hasil penelitian mengindikasikan bahwa bentuk akulturasi yang ditemukan dikategorikan dalam subtitusi, sinkretisme, adisi, originasi dan dekulturasi.  Culture is attached and become a custom. It would be passed from generation to generation. Every group of society would have their own culture. Along with the times, one group began to be used to live with others. Thus, it would be possible to have acculturation in it. As well as other part of Indonesia that become a place to live, West Papua also inhabited by various tribes. As a result, acculturation would be frequently found in West papua. West Papua is also one of region where Islamic Organization, Muhammadiyah, develops well. In this case, it would be possible for acculturation between Muhammadiyah concept and West Papua culture happened. This study aims to describe the form of acculturations between Muhammadiyah concept and West Papua culture in their social and religious behavior. This study is a qualitative descriptive study with sociocultural approach. The data of this study was collected by observation, questionnaire and interview. The obtained data was analyzed using content analysis of Spradley (2007). Result showed that the form of acculturations between Muhammadiyah concept and West papua culture were categorized into substitution, syncretism, addition, deculturation, origination, and refusal.  DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v12i22017p166

Page 1 of 1 | Total Record : 10