Articles
232 Documents
PENGEMBANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF BERBASIS ANDROID PADA MATERI KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT INDONESIA
Neni Wahyuningtyas;
Febty Andini Dwi Rosita
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1080.59 KB)
Saat ini sudah saatnya pendidik harus keluar dari zona nyaman mereka dan melakukan transformasi kultural. Pendidik perlu melakukan rekonstruksi mindset dan melakukan tindakan nyata guna mengimprovisasi pembelajaran. Salah satu bahan kajian dalam pembelajaran IPS yang perlu untuk diimprovisasi yaitu muatan sejarah. Pembelajaran yang memuat content sejarah saat ini menghadapi banyak persoalan atau permasalahan. Permasalahan tersebut mencakup; 1) lemahnya penggunaan teori, 2) kurangnya imajinasi, 3) acuan buku teks yang state oriented, serta 4) kecenderungan untuk tidak memperhatikan fenomena globalisasi. Metode penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan model 4-D (four D models). Hasil penelitian dan pengembangan menunjukkan bahwa validasi materi yang telah dikembangkan memperoleh nilai persentase sebesar 88,75%. Sedangkan validasi media memperoleh nilai persentase sebesar 91,66%. Dari keseluruhan hasil dapat disimpulkan bahwa multimedia yang dikembangkan telah valid dan layak untuk diujicobakan. Guna mengemas pembelajaran IPS yang memuat content sejarah dengan menarik dan mampu memproyeksikan peristiwa masa lampau ke hadapan peserta didik dibutuhkan improvisasi dan inovasi di dalam proses pembelajaran. Salah satu cara untuk merealisasi hal tersebut dan sekaligus menjawab tantangan Revolusi Indisutri 4.0 di bidang pembelajaran yaitu dengan memanfaatkan penggunaan multimedia interaktif. The educators must be getting out of their comfort zone and carry out cultural transformation. Educators need to do a mindset reconstruction and take concrete actions to improve learning. One of the study material in social studies learning that needs to be improvised, namely historical content. Learning that contains historical content now faces many problems or problems. These problems include; 1) weak use of theory, 2) lack of imagination, 3) reference to state oriented textbooks, and 4) tendency to not pay attention to the phenomenon of globalization. This research method uses a research design for developing a 4-D model (four D models). The results show that the material validation developed has a percentage value of 88.75%. Media validation obtained a percentage value of 91.66%. Auhors concludes that the multimedia developed has been valid and feasible to be tested. In order to package social studies learning that contains historical content with interest and is able to project past events in front of students it requires improvisation and innovation in the learning process. To realize that, we have to use an interactive multimedia. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v13i12019p34
NILAI BUDAYA DALAM SERAT JIWANDANA KARYA MAS NGABEHI MANGUNWIJAYA
Nadia Paramita;
Wulan Cahya Anggraeni
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (910.525 KB)
Masyarakat Jawa kaya akan cerita prosa, salah satunya adalah cerita sage atau cerita tentang kejadian istimewa maupun kepahlawanan. Serat Jiwandana merupakan naskah cetak yang mengusung cerita tentang kepemimpinan Raja Jiwanda, dan termasuk dalam cerita sage. Cerita ini mengandung nilai-nilai budaya yang dapat diimplikasikan sebagai pendidikan karakter. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis, dengan menggunakan teori structural Luxemburg. Hasil penelitian berupa juru bicara dan pendengar dalam serat jiwandana adalah orang tua dan anak-anak ataupun cucunya, hubungan keduanya merupakan hubungan keluarga. Waktu yang terdapat dalam serat ini yaitu 9 Muharam 1840 tahun Be, apabila dikonversikan menjadi 21 Januari 1910 tahun masehi. Ruang yaitu keraton, karena cerita ini masih istana sentris. Tema yang diangkat adalah spiritualisme karena dalam bagian pengantar dijelaskan bahwa serat ini menyampaikan ajaran tentang ilmu kasampurnan dan piwiridan. Nilai-nilai yang ditemukan ada tiga, nilai moral, religi, dan kepemimpinan. Javanese people have many prose stories. Sage story or stories about special events and heroism. Serat Jiwandana is a printed text that carries stories about King Jiwanda's leadership, and is included in the sage story. This story contains cultural values that can be implied as character education. This study uses descriptive-analytical methods, and structural theory of Luxembourg. The results of the research in the form of spokespersons and listeners in serat jiwandana are parents and children or grandchildren, the relationship is a family relationship. The time contained in this fiber is 9 Muharam 1840 years Be, if converted January 21, 1910 BC. Place is the palace, because this story is still a palace centric. Theme that was raised was spiritualism because in the introductory section it was explained that this serat conveyed the teachings about the knowledge of kasampurnan and piwiridan. The values found are three, moral, religious, and leadership values.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v13i12019p42
DALIHAN NA TOLU SEBAGAI KONTROL SOSIAL DALAM KEMAJUAN TEKNOLOGI
Muhammad Novriansyah Lubis;
Hermanu Joebagio;
Musa Pelu
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (903.662 KB)
Dalihan na tolu merupakan salah satu kearifan lokal yang berkembang di Sumatera Utara. Dalihan na tolu mempunyai pengertian dan bentuk sebagai hubungan dan sistem keakraban suku Batak Toba. Dalihan na tolu berfungsi sebagai peyeimbang kehidupan di dalam masyrakat. Generasi Z merupakan konsumen terbesar dalam majunya teknologi. Dimana populasi Generasi Z merupakan para siswa/pelajar sekolah. Pertumbuhan teknologi bisa memberikan dampak negatif terhadap sikap dan karakter siswa. Kearifan lokal dalihan na tolu menjadi solusi alternatif dalam menahan faktor negatif dalam kemajuan teknologi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, mengunakan pendekatan studi kasus yang berlokasi di Sumatera Utara. penelitian ini mengambil sampel dua sekolah yang berbeda wilayah dan demografis, untuk melihat peran kearifan lokal dalihan na tolu dalam mengontrol siswa mengunakan teknologi. Dalam penelitian ini, ada perbedaan yang mendasar terhadap sikap siswa yang mengintegrasikan kearifan lokal dan yang tidak mengintegrasikan kearifan lokal dalam mengunakan teknologi. Partisispan dalam penelitian ini adalah guru pelajaran sejarah. Di karenakan pelajaran sejarah sangat berkaitan terhadap penanaman nilai, moral dan etika melalaui peninggalan-peninggalan sejarah maupun kebudayaan. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalihan na tolu is one of the local wisdoms that develops in North Sumatra. Dalihan na tolu has an understanding and form as a relationship and system of familiarity with the Toba Batak tribe. Dalihan na tolu serves as a balance of life in the community. Generation Z is the biggest consumer in the advancement of technology. Where the Generation Z population is students / school students. Technology growth can have a negative impact on student attitudes and character. Local wisdom should be an alternative solution in resisting negative factors in technological progress. This research is a descriptive qualitative study, using a case study approach located in North Sumatra. This study sampled two different regional and demographic schools, to see the role of local wisdom in managing students in using technology. In this study, there are fundamental differences in attitudes of students who integrate local wisdom and who do not integrate local wisdom in using technology. Partisispan in this study is a history lesson teacher. Because history lessons are closely related to the planting of values, morals and ethics through historical and cultural relics. Data collection methods used in this study were observation, interviews and documentation. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v13i12019p25
URGENSI PENGEMBANGAN MODEL BELAJAR SEJARAH BERBASIS ECO-HISTOURISM DALAM RANGKA OPTIMALISASI POTENSI LINGKUNGAN DAN SEJARAH DI WILAYAH AMSTIRDAM
Lutfiah Ayundasari
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (372.134 KB)
Abad 21 menghadirkan tantangan dan perubahan sangat cepat yang harus direspon oleh berbagai bidang kehidupan, salah satunya bidang pendidikan. Kegiatan pembelajaran di sekolah tidak hanya berpusat pada kognitif dan afektif tapi juga psikomotor dalam arti sesungguhnya. Pembelajaran di sekolah harus relevan dengan perkembangan jaman agar siswa dapat menghadapi tantangan dan perubahan yang demikian cepat di abad 21. Penelitian ini membahas tentang pentingnya pengembangan model belajar sejarah berbasis lingkungan dan sejarah di wilayah Amstirdam dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Selama ini wilayah tersebut dikenal sebagai kantong tenaga kerja Indonesia dengan tingkat perceraian yang tinggi. Padahal wilayah ini memiliki potensi lingkungan dan sejarah yang layak untuk dioptimalkan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam rangka mewujudkan hal tersebut harus dimulai dari langkah kecil dilingkungan sekolah agar siswa memiliki kepekaan dan kesadaran tentang potensi lingkungan mereka. Oleh karena itu, peneliti merekomendasikan sebuah model pembelajaran yang disebut sebagai eco-histourism.The 21st century presents pervasive challenges and changes that must be responded to by various aspects of human life, including education. Learning activities in schools are not only centered on cognitive and affective but also psychomotor in the real sense. Learning in schools must be relevant to the development of the era so that students can face challenges and changes that are so rapid in the 21st century. This study discusses the importance of developing an environment and historical history learning model in the Amstirdam region using a qualitative research approach. So far, the region is known as a source of Indonesian workers with high divorce rates. Even though this region has the potential of the environment and history that is feasible to be optimized in order to improve the welfare of the community. In order to realize this, it must be started from a small step in the school environment so that students have sensitivity and awareness about the potential of their environment. Therefore, researchers recommend a learning model called eco-histourism. In theory this model combines the concepts of historical learning and eco-tourism.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v13i12019p1
AKTIVITAS PELESIR ORANG-ORANG EROPA DI SURABAYA MASA KOLONIAL (ABAD-20)
Wiretno Wiretno
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (934.608 KB)
Perkembangan Surabaya sebagai kota industri dan perdagangan yang maju pada abad XX memunculkan babakan baru dalam kehidupan sosial masyarakat. Semakin maju sebuah kota, maka semakin kompleks pula kebutuhan yang harus dipenuhi. Salah satunya kebutuhan akan hiburan dan wisata atau yang disebut dengan pelesiran. Saat itu, kegiatan pelesir yang merupakan dasar dari kegiatan turisme merupakan kegiatan yang terbatas dilakukan oleh mereka yang memiliki kelebihan uang dan waktu. Untuk melakukan perjalanan, tidak hanya memerlukan uang atau waktu, tetapi juga keberanian melihat sesuatu yang berbeda dan baru. Dengan demikian, aktivitas pelesir tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan bersenang-senang saja. Melainkan juga sebagai sebuah politik identitas yang mampu menunjukkan kelas sosial masyarakat. The growth of Surabaya as an advanced industrial and trade city in the twentieth century gave rise to a new chapter in the social life of the community. The more advanced a city is, the more complex the needs. One of them is the need for a refreshing and tourism or what is called “pleasure”. At that time, leisure activities which were the basis of tourism activities were limited activities carried out by those who had excess money and time. To travel, not only requires money or time, but also the courage to see something different and new. Thus, leisure activities are not only interpreted as fun activities. But also as an identity politics that is able to show the social class of society. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v13i12019p12
SEJARAH PERKEMBANGAN PONDOK PESANTREN AL-MADANI LUBUKLINGGAU TAHUN 2011-2018
Sarkowi Sarkowi;
Rina Oktafia Putri
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (980.472 KB)
This research was conducted to describe the history of the development of Lubuklinggau Al-Madani Islamic Boarding School starting from the pioneering period until the beginning of 2018. The Al-Madani Islamic Boarding School is one of the Islamic educational institutions with a dormitory system in Lubuklinggau City, South Sumatra. This Islamic boarding school was built by Moh. Arpan Haj, a cleric or Muslim religious leader who is active in the midst of the people. Since its inception in 2011 this Islamic boarding school has just carried out development and received santri in 2012. Furthermore, the Islamic boarding school continues to develop significantly, both infrastructure facilities and human resources have increased linearly. This article is written in a descriptive analytic style from primary sources and references that are relevant to the subject matter.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sejarah perkembangan Pondok Pesantren Al-Madani Lubuklinggau mulai dari masa perintisan hingga awal tahun 2018. Pondok Pesantren Al-Madani merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama di wilayah Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Pondok pesantren ini dibangun oleh Moh. Arpan Haj, seorang kyai atau tokoh agama Islam yang banyak berkiprah di tengah-tengah umat. Sejak dirintis tahun 2011 pondok pesantren ini baru melaksanakan pembangunan dan menerima santri pada tahun 2012. Selanjutnya pondok pesantren ini terus mengalami perkembangan secara signifikan, baik fasilitas sarana prasarana maupun sumber daya manusianya mengalami peningkatan mengikuti perkembangan secara linear. Artikel ini ditulis dengan gaya deskriptif analitik dari sumber-sumber primer dan referensi yang relevan dengan pokok pembahasan.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v13i12019p53
KESETARAAN GENDER DI PESANTREN DALAM KAJIAN LITERATUR
Najib Jauhari;
Siti Malikah Thowaf
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um020v13i22019p179-188
The study of Islamic science in the world of pesantren has greatly contributed to shaping the religious understanding of the people, including in the issue of jender equality. The material studied at pesantren refers to the yellow books, most of them are fiqh and normative norms that tend to be patriarchal and form jender-biased understanding. This study describes: (1) Jender background thinking (2) Jender theoretical studies (3) Jender studies in Islam (4) How jender studies in pesantren. As a result of the literature review, the researcher acts as the main instrument; conducting a study of documents, books related to the topic. Descriptive, inductive-comparative data analysis was performed. For the validity of information, review the adequacy of references and peer reviews. This study will be useful for the field of jender studies and pesantren education. Islamic education develops along with the demands of the times, pesantren do not hesitate to make changes for the benefit. Many pesantren are always looking for, and are quite open to innovations that benefit the people.Kajian ilmu keislaman di dunia pesantren besar andilnya dalam mengonstruksi konsep keagamaan umat, termasuk dalam isu kesetaraan jender. Kitab-kitab kuning yang dikaji di pesantren, kebanyakan berupa kaidah fiqh, bersifat normative, cenderung patriarkis dan membentuk pemahaman yang bias jender. Kajian ini mendeskripsikan: (1) Latar belakang pemikiran jender (2) Kajian teoritik jender (3) Kajian jender dalam Islam (4) Bagaimana kajian jender di pesantren. Sebagai hasil kajian literatur, peneliti berperan sebagai instrumen utama; melakukan kajian dokumen, buku-buku yang terkait dengan topik. Dilakukan analisis data secara deskriptif, induktif-komparatif. Untuk keabsahan informasi ditelaah kecukupan referensi serta review teman sejawat. Kajian ini akan bermanfaat bagi bidang kajian jender dan pendidikan kepesantrenan. Pendidikan Islam berkembang bersamaan dengan tuntutan jaman, pesantren tidak segan untuk mengadakan perubahan-perubahan demi kemaslahatan. Banyak pesantren yang selalu mencari, dan cukup terbuka terhadap inovasi-inovasi yang bermanfaat bagi umat..
MERAJUT RELASI MENGGENGGAM TRADISI: MASYARAKAT NUSA UTARA DALAM DIPLOMASI MARITIM INDONESIA – FILIPINA (1955−1974)
Syafaat Rahman Musyaqqat
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um020v13i22019p127-141
Maritime diplomacy between Indonesia and the Philippines began to develop when the two countries had just gained independence and were confronted with the problem of cross-border activities in the people of North Nusa Tenggara. On the one hand, the mobility of the people of North Nusa to Balut Island and Sarangani (Philippines) is commonplace and even has become their tradition. On the other hand, population mobility is an act that can at times lead to politically tense relations for both countries. This article aims to explore maritime diplomacy between Indonesia and the Philippines from 1955 to 1974. Using historical methods, the study's findings show that there is a tendency in the Indonesia-Philippines relationship to understand the maritime traditions of the Sangihe-Talaud community as border communities. This tendency is evident in several policies agreed by the two countries. One of them is the Border Cross Agreement in 1956.Diplomasi maritim antara Indonesia dan Filipina mulai terbangun ketika kedua negara baru saja memperoleh kemerdekaannya dan dihadapkan pada persoalan aktivitas lintas batas (border-cross) masyarakat Nusa Utara. Di satu sisi, mobilitas masyarakat Nusa Utara ke Pulau Balut dan Sarangani (Filipina) merupakan hal yang lumrah bahkan telah menjadi tradisi mereka. Di lain sisi, mobilitas penduduk merupakan tindakan yang sewaktu-waktu dapat menggiring relasi yang menegangkan secara politik bagi kedua negara. Artikel ini bertujuan menelusuri diplomasi maritim antara Indonesia dan Filipina sejak tahun 1955 hingga 1974. Dengan menggunakan metode sejarah, temuan studi menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan dalam relasi Indonesia-Filipina untuk saling memahami tradisi bahari masyarakat Sangihe-Talaud sebagai masyarakat perbatasan. Kecenderungan tersebut nampak pada beberapa kebijakan yang disepakati oleh kedua negara. Salah satu diantaranya ialah Border Crosss Agreement pada 1956.
PERUBAHAN PEMERINTAHAN MUKIM DI LANGSA, 1906-1975
Muhammad Zakir;
Suprayitno Suprayitno;
Warjio Warjio
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um020v13i22019p154-163
This article discusses the changes that took place in the mukim institutions in the structure of regional government in Langsa in the period 1906-1975. This article answers the issue of how the structure and function of the mukim institutions changed in Langsa in the period 1906-1975 and how the mukim institutions in the New Order government experienced a setback. This research uses historical methods trough four steps: heuristic (collecting historical sources); verification (critical sources review); interpretation (historical analysis and interpretation); and historiography (historical writing). Sources as the historical data which collected from several document and literature from colonial to postcolonial period. This study uses social sciences approaches especially politic, so that theme of this study is political and governmental history. This study found that the mukim institution was an original government institution that had long stood autonomously in Aceh. Mukim experienced many changes both in structure and function in the Dutch colonial era, Japanese Occupation, and the period of Revolution of Independence, and even disappeared during the New Order era. The formation of the mukim area is closely related to the existence of the regulation of social life (adat) and for religious life (law) and as well as later appearing to be a unit of local government.Artikel ini membahas perubahan yang terjadi pada lembaga mukim dalam struktur pemerintahan daerah di Langsa pada periode 1906-1975. Artikel ini menjawab permasalahan bagaimana perubahan struktur dan fungsi lembaga mukim di Langsa pada periode 1906-1975 dan bagaimana lembaga mukim dalam tatanan pemerintahan Orde Baru mengalami kemunduran. Penelitian ini menggunakan metode sejarah melalui empat tahap: heuristik (pengumpulan sumber sejarah); verifikasi (kritik sumber); interpretasi (analisis sejarah dan penafsiran); dan historiografi (penulisan sejarah). Sumber sebagai data sejarah yang diperoleh dari sejumlah dokumen dan literatur periode dari periode kolonial hingga pascakolonial. Penelitian ini menggunakan pendekatan ilmu sosial khususnya politik, sehingga tema penelitian ini adalah sejarah politik dan pemerintahan. Penelitian ini menemukan bahwa lembaga mukim merupakan lembaga pemerintah asli yang telah lama berdiri secara otonom di Aceh. Mukim mengalami banyak perubahan baik secara struktur maupun fungsi pada zaman kolonial Belanda, zaman Pendudukan Jepang, dan periode Revolusi Kemerdekaan, bahkan hilang pada era Orde Baru. Pembentukan wilayah mukim terkait erat dengan keberadaan untuk pengaturan kehidupan sosial (adat) maupun untuk kehidupan beragama (hukum) dan serta kemudian muncul menjadi unit pemerintah lokal.
SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA PADA MASA PENDUDUKAN JEPANG
Muhammad Rijal Fadli;
Dyah Kumalasari
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um020v13i22019p189-205
This article discusses the system of government during the Japanese occupation in Indonesia. The research method uses historical methods with four stages, namely heuristics, source criticism, interpretation and historiography. The result is that during the three and a half years of Japanese rule it was an important period for Indonesian history. After being able to conquer the Netherlands, Japan directly replaced the position of the Dutch East Indies government. On March 8, 1942 Japan had officially occupied Indonesia which immediately made changes to remove Western dominance. The system of government adopted by Japan in Indonesia is using a system of military government, so that those in power are army commanders. In contrast to the Dutch colonial period the system of government used by the civil administration became the ruling governor general. Policies carried out by Japanese government in various fields including politics, social-economy, education and the military. Artikel ini membahas tentang sistem pemerintahan masa pendudukan Jepang di Indonesia. Metode penelitian menggunakan metode sejarah (history) dengan empat tahapan yakni heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasilnya bahwa Pada masa pemerintahan Jepang selama tiga setengah tahun merupakan priode penting bagi sejarah Indonesia. Setelah mampu menaklukan Belanda Jepang secara langsung menggantikan kedudukan pemerintahan Hindia Belanda. Pada tanggal 8 Maret 1942 Jepang telah resmi menduduki Indonesia yang langsung melakukan perubahan untuk menghapus dominansi Barat. Sistem pemerintahan yang diterapkan oleh Jepang di Indonesia yaitu menggunakan sistem pemerintahan militer, sehingga yang berkuasa adalah panglima tentara. Berbeda dengan masa kolonial Belanda sistem pemerintahan yang digunakan pemerintahan sipil jadi yang berkuasa gubernur Jendral. Kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintahan Jepang diberbagai bidang diantaranya bidang politik, ekonomi-sosial, pendidikan dan militer.