Articles
232 Documents
SEJARAH TERBENTUKNYA LEMBAGA ADAT PARTUHA MAUJANA SIMALUNGUN
Siregar, Zulham
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um020v14i12020p42-52
Artikel ini membahas sejarah terbentuknya lembaga adat Partuha Maujana Simalungun. Artikel ini menjawab permasalahan bagaimana indentitas orang Simalungun sebelum terbentuknya lembaga adat Partuha Maujana Simalungun dan mengapa orang simalungun perlu membentuk lembaga adat Partuha Maujana Simalungun. Penelitian ini menggunakan metode sejarah melalui empat tahap: heuristik (pengumpulan sumber sejarah); verifikasi (kritik sumber); interpretasi (analisis sejarah dan penafsiran); dan historiografi (penulisan sejarah). Sumber sebagai data sejarah yang diperoleh dari sejumlah dokumen dan literatur dari periode kolonial hingga pascakolonial. Penelitian ini menemukan bahwa identitas orang simalungun sebelum terbentuknya lembaga adat Partuha Maujana Simalungun sudah ada namun karena kedatangan dan pengaruh dari orang orang luar khususnya batak toba dan kolonial membuat kegamangan identitas orang Simalungun. Akibat kegamangan inilah membuat para cendekiawan orang Simalungun tergerak untuk membuat sebuah lembaga adat untuk mengatasi kegamangan identitas orang-orang Simalungun.
KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT KETURUNAN ARAB DAN PENDUDUK LOKAL DESA PULOPANCIKAN GRESIK
Mafazah, Elsa Diah;
Wahyuningtyas, Neni;
Ruja, I Nyoman
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um020v14i12020p105-115
Interaksi sosial sangat diperlukan dalam kehidupan manusia, terutama dalam proses untuk melakukan hubungan sosial. Hubungan sosial dalam masyarakat dapat menciptakan suatu bentuk interaksi dalam kelompok sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan di Desa Pulopancikan Kabupaten Gresik. Data diperoleh dari data primer dan data sekunder. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yakni observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa awal mula keberadaan Kampung Arab Desa Pulopancikan Kabupaten Gresik berasal dari datangnya bangsa Arab Hadramaut pada sekitar abad ke-19 yang melakukan kegiatan berdagang dan juga berdakwah untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Masyarakat keturunan Arab di Kampung Arab Desa Pulopancikan Kabupaten Gresik mempunyai karakteristik budaya yang khas dimana masih terdapat budaya-budaya Arab meskipun telah terdapat akulturasi dengan budaya Jawa. Karakteristik budaya masyarakat keturunan Arab di Kampung Arab Desa Pulopancikan Kabupaten Gresik dapat dilihat dari bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem mata pencaharian hidup, sistem peralatan dan teknologi, Religi, dan kesenian. Interaksi sosial masyarakat keturunan Arab dengan penduduk lokal Desa Pulopancikan Kabupaten Gresik dimana terdapat makna dalam setiap proses interaksi sosial yang terjadi. Interaksi sosial masyarakat keturunan Arab dengan penduduk lokal bersifat baik, akan tetapi untuk proses komunikasi antara masyarakat Arab dengan penduduk lokal jarang terjadi karena masyarakat keturunan Arab memiliki prinsip untuk lebih baik diam daripada tidak bisa tapi banyak berbicara.
JIMPITAN; TRADISI MASYARAKAT KOTA DI ERA MODERN
Sari, Kiki Agustina Wulan;
Eskasasnanda, I Dewa Putu;
Idris, Idris
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um020v14i12020p53-61
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penghimpunan dana sosial melalui kegiatan jimpitan di Perumahan Griya Tanggung Asri Kota Blitar. Penelitian ini berfokus pada sejarah terbentuknya kegiatan jimpitan, bentuk pengelolaan kegiatan jimpitan dan manfaat yang diperoleh dari kegiatan jimpitan. Penelitian ini menggunkan metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data diperoleh dari sumber primer dan sekunder. Teknik pemilihan informan menggunkan teknik purposive. Purposive merupakan teknik pengambilan sumber data melalui pertimbangan yang sekiranya informan mengetahui tentang informasi yang dicari, untuk memudahkan peneliti dalam mengumpulkan data. Model interaktif Miles dan Huberman digunakan sebagai teknik analisis data dari penelitian ini. Hasil penelitian menemukan bahwa: 1) sejarah terbentuknya kegiatan jimpitan, disebabkan keresahan masyarakat adanya tindakan kriminal pada tahun 2014 di perumahan berupa pencurian barang berharga. Setelah itu semua masyarakat, ketua RT dan ketua RW mengadakan musyawarah untuk menyelesaikan permaslahan dan hasil dari musyawarah membentuk kegiatan ronda malam untuk mengamankan lingkungan. Untuk memberi semangat petugas ronda malam, masyarakat bersepakat mengadakan kegiatan jimpitan, 2) bentuk pengelolaan jimpitan dilakukan masing-masing RT. Bentuk pengelolaan dibagi menjadi dua yaitu, pengelolaan ronda malam serta kegiatan jimpitan dan pelaporan hasil jimpitan yang dibagi atas tiga tahapan yaitu mingguan, bulanan dan akhir tahun, 3) manfaat yang diperoleh dari kegiatan jimpitan yaitu sebagai pendanaan kegiatan masyarakat dan lingkungan menjadi aman dan nyaman sehingga tercipta kehidupan yang harmonis.
TARI MOYO PADA MASYARAKAT NIAS SELATAN
Putra, Dharma Kelana
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um020v14i12020p116-126
Tari Moyo adalah salah satu seni tari tradisional yang dikenal luas oleh masyarakat di kepulauan Nias. Tarian ini dulunya hanya boleh dipertunjukkan kepada kaum bangsawan (si’ulu), tetapi saat ini tarian ini berkembang menjadi bagian dari kesenian rakyat. Asumsi dasar dari tulisan ini adalah bahwa Tari Moyo bagi masyarakat Nias tidak hanya dimaknai sebagai sebuah tarian semata, tetapi ada hal lain yang lebih dalam dari itu. Oleh karenanya penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang 1) bagaimana asal-usul tari moyo di Kepulauan Nias; 2) bagaimana Tari Moyo dalam perspektif Antropologis; serta 3) bagaimana fungsi Tari Moyo pada masyarakat Nias saat ini. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa asal-usul Tari Moyo belum diketahui secara pasti, karena setiap daerah di kepulauan Nias memiliki versi cerita rakyat yang berbeda-beda, diantaranya; 1) Tari Moyo diadaptasi dari seorang perempuan yang berubah menjadi elang untuk mencari kekasihnya yang tak kunjung pulang; 2) Tari Moyo diadaptasi dari kisah induk ayam yang berkelahi dengan elang demi melindungi anak-anaknya; 3) Tari Moyo merupakan ritual pemanggilan arwah leluhur. Tari Moyo bagi masyarakat Nias tidak hanya berfungsi sebagai sebuah bentuk kesenian, tetapi lebih jauh dari itu juga sebagai sarana pembentukan karakter. Ini menjawab asumsi dasar bahwa perubahan yang terjadi memunculkan sebuah konstruksi atas Tari Moyo dalam bentuk yang lebih dinamis serta fungsinya yang semakin berkembang pada masyarakat Nias saat ini
PROSTITUSI DI SURABAYA PADA AKHIR ABAD KE-19
Mahardika, Moch. Dimas Galuh
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um020v14i12020p22-30
Abstrak: Prostitusi merupakan salah satu media yang sering dimanfaatkan oleh kaum pria untuk melampiaskan gairah seksualitasnya. Terlebih para pegawai Eropa yang bekerja di tanah Hindia, mereka dilarang membawa keluarga selama bertugas di Hindia. Prostitusi berkembang di kota-kota besar pada masa Hindia-Belanda. Surabaya yang pada saat itu merupakan kota besar dengan pelabuhannya yang menjadi tempat penjamuran praktik prostitusi. Penikmat para pelacur ini selain dari orang-orang Eropa juga terdapat orang-orang kelas menengah dari kaum pribumi. Pelacur-pelacur yang di sewakan rumah-rumah bordil diantaranya adalah dari orang-orang dari kaum Pribumi, Eropa, Cina dan Jepang. Prostitusi merebak di seluruh penjuru tempat di Surabaya sehingga menyebabkan maraknya penyakit kelamin.
DEPRESI EKONOMI DAN KRISIS KEPERCAYAAN RAKYAT TERHADAP PEMERINTAH KOLONIAL 1930-1936
Utomo, Ilham Nur
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um020v14i12020p62-75
Artikel ini membahas mengenai dampak depresi ekonomi dan tingkat kepercayaan rakyat atas kebijakan pemerintah kolonial yang berkaitan dengan penyelesaian masalah dampak tersebut. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Depresi ekonomi tahun 1930an merupakan peristiwa kompleks yang tidak hanya berdampak pada perekonomian Hindia Belanda. Dalam hal ini, relasi antara pemerintah kolonial dan rakyat menjadi menarik ketika pemerintah berusaha mengatasi masalah dengan kebijakan campur tangan. Depresi ekonomi yang dipicu oleh faktor eksternal dan diperparah oleh faktor internal karena kelebihan produksi berdampak pada merosotnya perekonomian Hindia Belanda. Dampak tersebut menghantam bidang usaha yang digerakan oleh bangsa Eropa dan bumiputra. Penghematan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial dan perusahaan swasta menimbulkan peningkatan pengangguran, kemiskinan, dan kriminalitas. Sikap diskriminatif pemerintah kolonial pun menjadi salah satu faktor pemicu respon keras bumiputra. Puncaknya yaitu melakukan gerakan protes melalui serikat buruh dan organisasi pergerakan. Krisis kepercayaan rakyat terhadap pemerintah kolonial muncul karena ketidakmampuan pemerintah kolonial mengatasi masalah selama masa depresi ekonomi secara proporsional.
THE POLITICS OF HERITAGE IN INDONESIA: A CULTURAL HISTORY, PENULIS MARIEKE BLOEMBERGEN & MARTIJN EICKHOFF
Leksana, Grace Tjandra
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 1 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um020v15i12021p195-197
Candi Singosari adalah salah satu situs peninggalan dari Kerajaan Singosari di Jawa Timur. Warisan kerajaan klasik inilah yang mendorong saya dan keluarga untuk mengunjunginya pada 2012. Lalu pada 2017, kami berkesempatan mengunjungi museum Volkenkunde di Leiden, Belanda. Menariknya, objek yang pertama menyambut kami di sayap koleksi Indonesia adalah beberapa arca dari candi Singosari, seperti arca Ganesha, Bhairava, dan Durga yang sedang melawan iblis. Saat itu kami bertanya-tanya, bagaimana objek-objek ini hadir di museum di Belanda, sedangkan situs candi dimana arca-arca ini berasal terletak di Jawa Timur. Jadi siapa yang sebenarnya berhak memiliki objek-objek peninggalan ini? Ketika itu kami menduga hal ini ada kaitannya dengan penjajahan Belanda, tetapi kami tidak yakin bagaimana prosesnya. Tiga tahun setelah itu, saya akhirnya memahami apa yang terjadi dengan objek-objek Candi Singosari melalui buku luar biasa yang ditulis oleh Marieke Bloembergen dan Martijn Eickhoff – The Politics of Heritage in Indonesia: A Cultural History
UPAYA MENGOPTIMALISASI POTENSI WISATA KAWASAN EKS-STASIUN PURI SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA DI KABUPATEN PATI
Ismiyatin, Laela;
Sabardila, Atiqa
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 1 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um020v15i12021p52-61
Historical buildings in Indonesia have undergone many changes, either partially or completely. The purpose of the change itself is due to give an attractive impression and provide economic benefits for the government and individuals in the area around the historical building. The purpose of this study is to provide knowledge regarding the efforts made by the local government to optimize the tourism potential in the Puri Ex-Station area as cultural heritage objects in the district of pati. This research is a qualitative descriptive study using interview methods, documentation and historical participation which is used to describe the potential of the ex-station castle as well as building optimization efforts to obtain benefits that can be useful for all parties. The results of this study indicate a potential of a building that has been unused and neglected for a long time which provides potential as a cultural heritage object that can provide historical value to the people around pati which can be used as a tourist attraction at night which has aesthetic beauty for taking selfies. Efforts that must be made are forming networks, providing counseling, socializing the community, contributing energy to cultural heritage, providing information to one another, while the resulting impact is increasing harmony and synergy between the community and the government which causes an increase in the community's economy. Bangunan bersejarah di Indonesia sudah mengalami banyak perubahan, baik sebagian ataupun seluruhnya. Tujuan dari perubahan sendiri dikarenakan untuk memberikan kesan menarik dan memberikan keuntungan ekonomi bagi pemerintah maupun individu diwilayah sekitar bangunan bersejarah. Tujuan penelitian ini untuk memberikan pengetahuan perihal upaya yang dilakukan pemerintah setempat untuk mengoptimalisasi potensi wisata yang berada di kawasan Eks-Stasiun Puri sebagai benda cagar budaya yang ada di kabupaten pati. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang menggunakan metode wawancra, dokumentasi serta historis partisipasi yang digunakan untuk penggambaran potensi Eks-stasiun puri serta upaya pengoptimalisasian bangunan untuk mendapatkan manfaat yang bisa berguna untuk semua pihak. Hasil penelitian ini menunjukan sebuah potensi yang dimiliki bangunan yang sudah lama tidak terpakai dan tidak terurus yang memberikan potensi sebagai benda cagar budaya yang bisa memberikan nilai sejarah untuk masyarakat sekitar pati yang bisa dijadikan sebagai objek wisata dimalam hari yang memiliki keindahan estetik untuk berswafoto. Upaya yang harus dilakukan yaitu membentuk jaringan, memberikan penyuluhan, melibartkan masyarakat, sumbangan tenaga untuk cagar budaya, saling memberikan informasi sedangkan dampak yang dihasilkan adalah meningkatkan kerukunan dan sinergi antara masyarakat dan pemerintah yang menyebabkan peningkatan ekonomi masyarakat.
DARI KOTA MANCANEGARA TIMUR HINGGA GEMEENTE: PERKEMBANGAN KOTA PASCA PEMBERLAKUKAN UU DESENTRALISASI 1903
Hudiyanto, Reza
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um020v14i22020p80-97
Modernization pioneered by Marshaal Daendels in 1808 has reach its peak in 1903. The old centralized government system of has been dismantled and replaced by a new modern institution one. The power of Regent reduced extremely. Part of his power was took over by Major, as a head od a new body of Government who administered the city. The new wave also occurred in a middle-sized city of Madiun. Located in hinterland of Java, the government and people living inside must adapt tonew modern city administration. This article tried to describe the impact of new system, and problem faced by government on those process from 1918 to 1941. In order to find this answer, this research is conducted by historical methods. Finding, appreciating, interpreting information and presenting are the four steps in this method. From the research, it can be concludes that this regulation raised many problems. Profit share between City Government and Construction Corporation, shows the problem in financial matter. The local budget indicates that municipal city of Madiun are still strongly depend on capital flows from Batavia. The plan of self-financing local government is not making sense since most indigenous people reluctant to pay retribution or new tax as the consequences of new Municipal system. Even so, financial support from Central Government pave the way for Madiun in modernizing the infrastructure such as new roads, good and clean central market, strict control on flesh traffic, drainage system, street lighting, fire brigade, watering and cleaning service and city water plants. Otherwise, decentralization play important role in making modern landscape for colonial city in interior Java. It also providing fields of political training for many prominent indigenous elites.
DARI MEDAN PERTEMPURAN KEMBALI KE BARAK: KORPS WANITA ANGKATAN DARAT (KOWAD), 1960-1981
Salebaran, Salebaran;
Amini, Mutiah
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 1 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um020v15i12021p125-140
This article describes the assignment of the Army Women Corps (KOWAD) in the army during the Old Order and the New Order. by using a gender approach, as a way to identify and understand the placement of the Indonesian Army Women's Corps (KOWAD) in the Army during the Old and New Order periods. The conclusions of this paper are; First, during the Old Order era, the army provided room for assignment to the KOWAD Army Women Corps, apart from carrying out basic administrative tasks, they were also assigned to the combat sector. Meanwhile, during the New Order era, the army provided space for the assignment of the female army corps to certain tasks that were by the nature and nature of Indonesian women and carried out control of assignments following the manual for the Indonesian Army Corps for Women (KOWAD) Number SKEP / 754 / IX / 1974 as a guideline in carrying out all basic activities and duties of the Army. Second; The Army Women Corps (KOWAD) in carrying out the main duties of the Army has obstacles, namely; the domestication of the Indonesian Army Women's Corps (KOWAD) in the Army; as well as a dual role for the Indonesian Army Women's Corps (KOWAD). Artikel ini menjelaskan tentang penugasan Korps Wanita Angkatan Darat (KOWAD) dalam Angkatan Darat pada masa Orde Lama dan Orde Baru. Penelitian menggunakan pendekatan gender, sebagai salah satu cara untuk mengetahui dan memahami penempatan Korps Wanita Angkatan Darat (KOWAD) dalam Angkatan Darat pada pada masa Orde Lama dan Orde Baru. Adapun kesimpulan dari tulisan ini yakni; Pertama, pada masa Orde Lama, Angkatan Darat memberikan ruang penugasan terhadap Korps Wanita Angkatan Darat KOWAD selain menjalankan tugas pokok yang bersifat administratif juga ditugaskan dalam bidang tempur. Sedangkan masa Orde Baru, angkatan darat memberikan ruang penugasan korps wanita angkatan darat pada tugas-tugas tertentu yang sesuai dengan sifat dan kodrat wanita Indonesia serta melakukan pengontrolan penugasan sesuai dengan buku petunjuk Korps Wanita Angakatan Darat (KOWAD) Nomor SKEP/754/IX/1974 sebagai pedoman dalam menjalankan seluruh kegiatan dan tugas pokok Angkatan Darat. Kedua; Korps Wanita Angkatan Darat (KOWAD)dalam menjalankan tugas pokok Angkatan Darat memiliki hambatan yakni; adanya domestiifikasi Korps Wanita Angkatan Darat (KOWAD) dalam Angkatan Darat; serta peran ganda untuk Korps Wanita Angkatan Darat (KOWAD).