cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sejarah dan Budaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 232 Documents
GAYA SENI ARCA DWARAPALA RAKSASA KADIRI, SINGHASARI & MAJAPAHIT Deny Yudo Wahyudi; Slamet Sujud Purnawan Jati
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1143.232 KB)

Abstract

Dwarapala merupakan arca penjaga obyek suci yang biasanya digambarkan berpasangan. Penggambaran mereka bersifat demonis dengan hiasan-hiasan yang khas. Di beberapa wilayah Jawa Timur digambarkan beberapa arca dwarapala yang digambarkan berukuran raksasa dalam posisi berlutut. Deskripsi gaya seni dijabarkan dalam rincian kondisi tubuh dan gaya busananya. Penggambaran ikonografis ini menunjukkan adanya persamaan dan perbedaan yang diharapkan dapat memberikan gambaran perbedaan gaya seni masing-masing masa. Dwarapala is guardian statue of sacred object, usually depicted in pairs. Its cketched on demonic form with distinctive decorations. In some parts of East Java, a few giant dwarapala are depicted in kneeling positions. The description of the art facet explained on details of the body language and costum pattern. This iconographic depiction illustrates the similarities and dissimilarities that are strongly believe would illuminate the differences of the Kadiri, Singhasari, Majapahit pattern on art. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v12i22017p180
PERUBAHAN POSISI INDONESIA DALAM PERBURUHAN: STUDI PERBANDINGAN BURUH MIGRAN MASA KOLONIAL DAN MASA REFORMASI Yenni Eria Ningsih
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.155 KB)

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan peran bangsa Indonesia dalam perburuhan. Bahwa ada perubahan dan kontinuitas yang berlangsung dalam aktivitas buruh migran di Indonesia. Sebagai upaya untuk menganalisis bangsa Indonesia dalam perburuhan, peneliti menggunakan kajian literatur dari berbagai sumber tulisan. Hasil analisis tersebut selanjutnya peneliti sintesis dan proyeksikan dalam pembahasan artikel ini. Pada masa kolonial Indonesia berperan sebagai obyek penerima buruh dari luar negeri, dalam hal ini dari negara Cina, meskipun pada waktu itu pemerintah Belanda juga mengirim buruh Jawa ke Suriname, namun hal itu termasuk dalam misi perbudakan, bukan sebagai buruh migran. Fenomena tersebut kemudian berubah dewasa ini, Indonesia berubah peran menjadi subyek pengirim buruh ke beberapa negara di dunia. This article describes continuity and change in history of migrant workers in Indonesia. As an effort to analyze the role of Indonesian in the migrant workers problems, researcher uses literature review from various sources. Then, researcher synthesize and project the results of analysis in the discussion of the article. In the colonial era, Indonesia played as object who got migrant workers from China, eventhough the Netherlands Indie also sent many Javanese to Suriname as slave not migrant workers. Those phenomena changes recently, Indonesia become a subject who sent migrant workers throughout the world. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v12i22017p194
DUSUN NGLAROH, WONOGIRI: BASIS PERJUANGAN POLITIK RADEN MAS SAID (K.G.P.A.A. MANGKUNEGARA I) 1742-1757 Ilham Galih Pambudi; Yoel Kurniawan Raharjo
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.584 KB)

Abstract

Nglaroh adalah sebuah dusun (dukuh) yang menjadi bagian dari Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Daerah tersebut merupakan sebuah wilayah kecil namun memiliki nilai sejarah yang besar bagi perjuangan Raden Mas Said yang kelak menjadi pendiri Kadipaten Mangkunegaran dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro I. Tujuan penulisan penelitian ini sebagai refleksi historis dan memori kolektif terhadap perjuangan politik Raden Mas Said dan Dusun Nglaroh sebagai basis perjuangan politiknya. Penelitian ini menggunakan metode historis dengan sumber buku, jurnal, serta sumber lisan (oral history). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Dusun Nglaroh, Wonogiri sebagai basis perjuangan politik Raden Mas Said dibagi dalam 3 tahap yaitu tahun 1742-1743 saat dia meloloskan diri keluar dari benteng Kartasura dan membantu Sunan Kuning serta melibatkan diri dalam Geger Pacina, tahun1743-1755 perjuangan bersama Pangeran Mangkubumi melawan Sunan Pakubuwana II dan Sunan Pakubuwana III, tahun 1755-1757  sesudah paliyan nagari perjuangan politik melawan Pakubuwana III, Pangeran Mangkubumi, dan VOC. Dusun Nglaroh merupakan tempat Raden Mas Said beserta prajuritnya berkumpul dan menyusun strategi dalam berperang, rakyat Nglaroh pun mendukung penuh. Di dusun Nglaroh terdapat juga Prasasti Nglaroh yang diyakini warga sekitar merupakan patilasan Raden Mas Said.  Sumbangan penelitian ini adalah untuk mengisi kekosongan narasi mengenai sejarah kampung, khususnya sejarah Dusun Nglaroh di Kabupaten Wonogiri yang memiliki akar historis mengenai tempat atau basis perjuangan Raden Mas Said (nantinya bergelar K.G.P.A.A Mangkunegara I) Nglaroh is a hamlet in Pule Village, Disctrict Selogiri, Regency of Wonogiri, Middle Java. The region is small yet has a great historical value for Raden Mas Said who was the founder of Mangkunegaran with tittle Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro I. This research is a historical reflection and collective memory on the political struggle of Radem Mas Said. This research used historical method with books, journals and oral history as its sources. The results of this research shows that Ngaloh hamlet served as political struggle basis for Raden Mas Said which can be devided in 3 periods, namely 1742-1743 when he escaped from Kartasura fort and helped Sunan Kuning as well as involved in Geger Pecina, 1743-1755 remarked the struggle with Pangeran Mangkubumi against Pakubuwana II and Sunan Pakubuwana III, 1755-1757 after palihan nigari remarks political struggle against Pakubuwana III, Pangeran Mangkubumi, and VOC. Nglaroh hamlet was a place where Raden Mas Said along with his troops and strategized in the war. People of Nglaroh gave their full support. There was an inscription of Nglaroh which believed by the locals as heritage of Raden Mas Said. This research could fill the gap on the history of hamlet, especially Nglaroh in Wonogiri which has historical roots as basis of Raden Mas Said struggle. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v12i22017p200 
ADVICE PLANNING DP2WB DALAM PELESTARIAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA Nur Ikhwan Rahmanto
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1114.683 KB)

Abstract

Salah satu implementasi dari new urban agenda adalah pelestarian cagar budaya, namun demikian upaya ini tidaklah mudah dilakukan. Makalah ini membahas perubahan fungsi bangunan cagar budaya yang tidak mengikuti prinsip prinsip pelestarian karena adanya konflik kepentingan. Artikel disusun dengan metode penelitian kualititif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dari beberapa informan yakni, pemilik/pengelola bangunan cagar budaya, pemerintah, ahli cagar budaya serta NGO yang bergerak dalam pelestarian cagar budaya. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa advice planning (rekomendasi yang berisi hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam rehabilitasi bangunan cagar budaya) yang dalam kasus Daerah Istimewa Yogyakarta dari Dewan Penasehat Pelestari Warisan Budaya (DP2WB) memberikan panduan dalam rehabilitasi cagar budaya bagi pemilik cagar budaya yang dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi dengan memberikan arahan terkait dengan keaslian bangunan, ornament yang dipakaian keseuaian dengan profil kawasan warna bangunan serta landscape. One of the implementation of the new urban agenda is the preservation of cultural heritage, however this effort is not easy to do. This paper discusses the changing functions of cultural heritage buildings that do not follow the principle of conservation because of a conflict of interest. The paper was prepared with a qualitative study, conducted with in-depth interviews with some informants who are stake holders in the preservation of cultural heritage ie, owners / managers of cultural heritage buildings, government, cultural heritage experts and NGOs engaged in preservation of cultural heritage. The results of this study showed that advice planning in urban Yogyakarta were very important for the owner of the cultural heritage which is utilized for economy sector because it can reduce the conflict between protection and development of cultural heritage buildings. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v12i22017p146
POWER SHIFT AND SOCIO-POLITICAL CHANGES ON BANJARMASIN IN 19TH-20TH CENTURY Wisnu Subroto
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.789 KB)

Abstract

The arrival of Dutch at Banjarmasin has become the historical pillar which signifies the changes in the life of people in many aspects. In an economic aspect, it introduced money economy. From a political aspect, it created centered administration and managed government system. This system management was refuted by the nobles because it did not suit local people system which had been long established and passed down from generation to generation. Despite this objection, the colonial government insisted on performing the management of government system in order to achieve its political goal.After the conquest of Banjarmasin in 1860, the power of colonial government got stronger. As a result, the government performed the implementation of policies and consolidation in the effort to manage administration. The Dutch Colonial government kept insisting on the idea of the administration management to ensure monitoring and centralized governance. The government’s policy had greatly influenced the mind set and perspective of the society about the importance of administration. The implementation of this administration system on the city government has resulted in changes which are greatly contrast with the prevailing culture. The status of people was no longer determined by its family background, but their position in government determined the level of social status. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v12i22017p120
AKULTURASI KEMUHAMMADIYAHAN DAN BUDAYA PAPUA BARAT (STUDI TENTANG PERILAKU SOSIAL DAN KEAGAMAAN MASYARAKAT ISLAM DI PAPUA) Raisa Anakotta
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.108 KB)

Abstract

Budaya melekat dan menjadi kebiasaan sehingga akan selalu diterapkan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, setiap kelompok masyarakat akan memiliki budayanya masing-masing. Seiring dengan perkembangan jaman, sekelompok masyarakat mulai terbiasa hidup dengan kelompok masyarakat yang lain. Dengan demikian, akan sangat memungkinkan untuk terjadinya proses akulturasi. Sama halnya dengan wilayah lain di Indonesia yang sering dijadikan sebagai tempat menetap, Papua Barat juga didiami oleh masyarakat berasal dari berbagai macam suku. Sehingga akulturasi banyak ditemukan di sini. Papua Barat juga merupakan contoh wilayah Indonesia Timur yang didalamnya terdapat banyak kader Muhammadiyah dan gerakan Muhammadiyah pun sudah cukup berkembang di wilayah ini. Dalam hal ini, akan sangat memungkinkan terjadinya akulturasi kegiatan keagamaan gerakan Muhammadiyah dengan budaya masyarakat muslim yang ada di Papua Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk akulturasi Kemuhammadiyahan dan budaya Papua dalam kehidupan masyarakat muslim. Akulturasi yang dideskripsikan adalah akulturasi yang terjadi pada perilaku sosial dan perilaku keagamaan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan Sosiokultural. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi, kuesioner dan wawancara. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis isi yang dikemukakan oleh Spradley (2007). Hasil penelitian mengindikasikan bahwa bentuk akulturasi yang ditemukan dikategorikan dalam subtitusi, sinkretisme, adisi, originasi dan dekulturasi.  Culture is attached and become a custom. It would be passed from generation to generation. Every group of society would have their own culture. Along with the times, one group began to be used to live with others. Thus, it would be possible to have acculturation in it. As well as other part of Indonesia that become a place to live, West Papua also inhabited by various tribes. As a result, acculturation would be frequently found in West papua. West Papua is also one of region where Islamic Organization, Muhammadiyah, develops well. In this case, it would be possible for acculturation between Muhammadiyah concept and West Papua culture happened. This study aims to describe the form of acculturations between Muhammadiyah concept and West Papua culture in their social and religious behavior. This study is a qualitative descriptive study with sociocultural approach. The data of this study was collected by observation, questionnaire and interview. The obtained data was analyzed using content analysis of Spradley (2007). Result showed that the form of acculturations between Muhammadiyah concept and West papua culture were categorized into substitution, syncretism, addition, deculturation, origination, and refusal.  DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v12i22017p166
ANALISIS KEPEMIMPINAN SISWA DALAM PENERAPAN MEDIA PERMAINAN MONOPOLI DAN SIMULASI PADA PEMBELAJARAN SEJARAH Anisa Septianingrum; Henri Susanto; Sumargono Sumargono
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (911.922 KB)

Abstract

Penelitian ini berfokus pada penerapan media permainan monopoli dan simulasi. Tujuannya agar pembelajaran sejarah di kelas lebih bermakna dan diminati oleh peserta didik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media permainan monopoli dan simulasi meningkatkan ketertarikan siswa pada materi sejarah dan kepemimpinan siswa terlihat dari indikator sikap bertanggungjawab, cinta tanah air, pemberani, dan menepati janji. This research focuses on monopoly and simulation game media applications. The aim is to make classroom historical learning more meaningful  and attractive to students. Research method used in this study is qualitative. Data collection techniques are carried out through interviews, observation, and documentation. The study resulted  show that  monopoly and simulation game media increases  students interest in material from history and student leadership, judging from the indicators by: responsibility, love the fatherland, courage, and keeping promise. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v13i12019p74
KONTAK BUDAYA ANTARA ORANG MAKASSAR DENGAN ORANG ABORIGIN YOLNGU SEBAGAI DIPLOMASI DAN PERDAGANGAN TRANSNASIONAL ABAD XVII-XIX M Zofrano Ibrahimsyah Magribi Sultani; Meliya Meliya; Raisa Rahmawati
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1166.218 KB)

Abstract

Artikel ini akan menyelidiki hubungan antara dua etnis yang berbeda telah membentuk perdagangan transnasional dan diplomasi awal oleh pelaut Makassar ke Yolngu sebelum kedatangan orang Eropa ke Australia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah. Orang Makassar dikenal pelaut yang mengunjungi pantai utara Australia untuk mengumpulkan teripang yang kemudian dijual sebagai obat dan makanan ke Cina. Kedatangan mereka menyediakan kontak budaya untuk orang Australia Utara dalam budaya, ekonomi, dan sosial. Para pelaut Makassar menamai pantai itu dengan nama Marege dan menamai benua itu yang kemudian menjadi negara Australia dengan nama Osse Tara Lia.The paper will investigate relationship between two different ethnics has established an early transnational trade and diplomacy by Makassar sailors to Yolngu before the arrival of Europeans to Australia. The research method used is historical method. The Makassarese are known sailors who visited the northern coast of Australia for collect trepang which are then sold as medicine and food to China. Their arrival provides cultural contacts for North Australians in culture, economics, and social. The sailors of Makassar named the beach with the name Marege and named the continent which later became the country of Australia under the name Osse Tara Lia. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v13i12019p107 
PROJECT BASED LEARNING: PEMANFAATAN VLOG DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH UNTUK GENERASI PRO GADGET Eka Dian Susanti
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (927.753 KB)

Abstract

Generasi pro gadget merupakan generasi yang tidak asing dengan teknologi. Masalah yang seringkali terjadi pada saat pembelajaran ialah siswa cenderung malas memperhatikan guru dan lebih suka menggunakan gadgetnya sehingga motivasi dalam belajar rendah. Dalam menghadapi siswa yang pro gadget maka guru harus dapat memilih media yang sesuai dengan karakteristik siswa. Vlog merupakan media yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran berbasis Project Based Learning. Melalui tugas proyek siswa secara langsung akan memahami materi yang sedang dipelajari. Tugas proyek berupa pembuatan Vlog cocok digunakan dalam Matapelajaran sejarah. Hal tersebut dikarenakan Vlog cenderung dengan kegiatan untuk bercerita yang hasilnya berupa video (audio visual). Melalui pemanfaatan Vlog siswa dapat lebih kreatif dan termotivasi dalam belajar sejarah karena siswa dalam proses pembuatannya diberikan permasalahan-permasalahan untuk memicu rasa keingintahuan siswa.The pro generation of gadgets is a generation that is no stranger to technology. The problem that often occurs when learning is that students tend to be lazy to pay attention to the teacher and prefer to use the gadget so that motivation in learning is low. In dealing with students who are pro gadgets, the teacher must be able to choose the media that fits the characteristics of students. Vlog is a media that can be used for learning based on Project Based Learning. Through project assignments students will directly understand the material being studied. The project task in the form of making Vlogs is suitable for use in historical subjects. This is because Vlog tends to be an activity to tell stories, the results of which are videos (audio visual). Through the use of Vlog students can be more creative and motivated in learning history because students in the manufacturing process are given problems to trigger students' curiosity. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v13i12019p84 
MEDIA PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL BERBASIS APLIKASI MOBILE LEARNING BAGI SISWA SEKOLAH DASAR Imaniar Purbasari; Erik Aditia Ismaya; Nunuk Suryani; Djono Djono
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1326.111 KB)

Abstract

Tujuan penelitian yaitu mendeskripsikan produk dan menjelaskan penggunaan media pembelajaran IPS berbasis aplikasi mobile learning dengan pendekatan social constructivism yang dihasilkan bagi siswa sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka serta jenis penelitian deskriptif. Data utama diperoleh dari buku, jurnal, artikel, dan catatan harian penelitian. Hasil penelitian yakni media pembelajaran IPS berbasis aplikasi mobile learning yang dihasilkan bagi siswa sekolah dasar berupa komik, gambar berseri, dan poster yang dikemas dalam program Edmodo. Edmodo merupakan aplikasi yang menarik dengan elemen sosial berupa aplikasi edukasi berbasis jejaring sosial. Akun Edmodo dapat dibuat oleh guru, siswa dan orang tua yang berbasis cloud kolaborasi dengan aplikasi yang cukup aman digunakan untuk kelompok terbatas. The objective of the research is to describe the learning media product  learning of social studies based on mobile learning application with social constructivism approach which is produced for elementary school students and explain the use of social studies learning media based on mobile learning application with social constructivism approach for elementary school students. This research uses qualitative approach with literature study method and descriptive research type. The main data were obtained from books, journals, articles, and research diaries. The result of research is learning media of social studies based on mobile learning application that produced for elementary school students in the form of comics, serial images, and posters that are packed in Edmodo program. The resulting comic tells the economic activities carried out by the characters. The resulting image contains the sub subject matter of globalization around me. The learning consists of content of social studies subjects (globalization), sains (energy change) and Indonesian (using standard and coherent vocabulary). Edmodo is an interesting application with social elements in the form of educational applications based on social networking. Edmodo accounts can be created by collaborative cloud-based teachers, students and parents with applications that are safe enough to use for restricted groups. Groups created by teachers, students and parents can sign in with a dedicated account. Teachers provide learning tools as well as learning process planning. Students and parents can access learning wherever and whenever. Students are able to establish social interaction with friends in groups or teachers as a form of discovery and discussion of knowledge. Parents as controlling the access and implementation of learning by students. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v13i12019p97

Page 9 of 24 | Total Record : 232