cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sejarah dan Budaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 232 Documents
MEMBONGKAR MITOS KECANTIKAN DAN BUDAYA KONSUMEN DALAM CHICK LIT ‘BEAUTY CASE’ KARYA ICHA RAHMANTI Tania Intan; Prima Agustina Mariamurti
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v13i22019p164-178

Abstract

This study aims to dismantle the myths of beauty and consumer culture in the second chick lit of Icha Rahmanti, entitled Beauty Case (2005). The novel was examined using a feminist literary criticism approach and analyzed using descriptive-qualitative methods. The theoretical references used mainly are the ideas of Wolf (2017) to interpret beauty in various contexts, as well as the meaning of beauty in colonial and market discourse according to Priyatna (2018b). The issue of consumer culture is further discussed with the rationale of Wilson (1985) and Bowlby (1993). The results showed that: (1) in accordance with Wolf's ideas, the forms of beauty myths revealed in the novel included moving in the areas of work, culture, and sexuality. (2) The consumer culture that is experienced by the main characters and other female characters in the novel is the impact of the beauty myth, namely because of the desire to be seen, the demands of the environment, and the desire to look young.Penelitian ini bertujuan untuk membongkar mitos kecantikan dan budaya konsumen dalam chick lit Beauty Case (2005), karya kedua dari Icha Rahmanti. Novel tersebut dikaji dengan pendekatan kritik sastra feminis dan dianalisis dengan metode deskriptif-kualitatif. Referensi teoritis yang digunakan terutama adalah gagasan Wolf (2017) untuk menafsir kecantikan dalam berbagai konteks, serta makna kecantikan dalam wacana kolonial dan pasar menurut Priyatna (2018b). Isu budaya konsumen selanjutnya dibahas dengan landasan pemikiran dari Wilson (1985) dan Bowlby (1993). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sesuai dengan gagasan Wolf, bentuk-bentuk mitos kecantikan yang terungkap dalam novel tersebut bergerak dalam wilayah pekerjaan, kultur, dan seksualitas. (2) Budaya konsumen yang dihayati oleh tokoh utama dan tokoh-tokoh perempuan lainnya dalam novel tersebut merupakan dampak dari mitos kecantikan, dan didasari oleh keinginan untuk dipandang, tuntutan dari lingkungan, dan hasrat untuk tampil muda.
TAWAN KARANG DALAM PERPOLITIKAN KOLONIAL BELANDA DENGAN RAJA-RAJA BALI BERDASARKAN SURAT-SURAT KONTRAK ABAD KE-19 Muhammad Ilham; Rahyu Zami
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v13i22019p217-227

Abstract

This article tries to explain the Tawan Karang Law which occurred in Bali in the 9th or 10th century until the entry of the Dutch colonials into the land of Bali. This law explains the right of the kingdoms in Bali to claim the ship and its contents which are stranded on the coast of their territory. This became a collision and a problem when many Dutch colonial ships were affected by this regulation. These conflicts then gave birth to various interpretations which later developed into warfare so that the colonial party wanted to force the abolition of the Tawan Karang law. The author on this occasion sought to explain based on the contents of the contract made by the Dutch Colonial Artikel ini berusaha menjelaskan Hukum Tawan Karang yang terjadi di Bali pada abad ke-9 atau ke-10 sampai masuknya para kolonial Belanda ke tanah Bali. Hukum ini menjelaskan hak dari kerajaan-kerajaan di Bali untuk mengklaim kapal beserta isinya yang terdampar di pantai wilayah kekuasaannya. Hal ini menjadi sebuah benturan dan masalah ketika banyak kapal-kapal colonial Belanda yang menjadi korban akibat peraturan ini. Benturan-benturan ini kemudian melahirkan berbagai mutitafsir yang kemudian berkembang menjadi peperangan sehingga pihak colonial ingin memaksakan penghapusan hukum Tawan Karang. Penulis pada kesempatan ini berupaya untuk menjelaskan berdasarkan isi kontrak yang dibuat oleh Kolonial Belanda
Survival Life TK 'Aisyiyah I Ambon: TK ABA Tertua di Provinsi Maluku Suswandari Suswandari; Laely Armiyati; Ummu Sa'idah
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v13i22019p142-153

Abstract

‘Aisyiyah is an organization which has many contributions in early childhood education, one of them is building TK ‘Aisyiyah Busthanul Athfal (ABA). This research aims to find the first TK ABA (‘Aisyiyah kindergarten) in Maluku Province. The method of the research is historical methods which have four steps which are first, a heuristic is a process collecting data by using the interview and observation to school manager and Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Maluku. Secondly, Verification is a process of source criticism which evaluating the qualities of an information source using intern and extern criticism. Thirdly, interpretation is a process to analyze the source based on historical evidence. The last step is historiography is the process to develop a narrative exposition of the findings. The result shows that TK Islam (which was built in 1952) is the forerunner of the first ‘Aisyiyah kindergarten in Ambon City, namely TK ‘Aisyiyah I (1972). Despite being in a conflict area, TK ‘Aisyiyah I can maintain multicultural values in many ways, one of them is accepting students from other ethnicities and religions. ‘Aisyiyah adalah organisasi yang telah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan anak usia dini, salah satunya dengan mendirikan TK ‘Aisyiyah Busthanul Athfal (ABA). Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri TK ‘Aisyiyah tertua di Provinsi Maluku. Penelitian menggunakan metode sejarah yaitu pertama heuristik, yaitu pengumpulan data dengan menelusuri sumber melalui wawancara dengan pengurus TK dan PWA Maluku, serta penelusuran dokumen. Kedua Verifikasi yaitu proses mengevaluasi kualitas sumber informasi dengan menggunakan kritik intern dan ekstern. Ketiga interpretasi yaitu proses analisis data sejarah menggunakan pendekatan multidisiplines. Dan Keempat Historiografi yaitu penulisan data dari hasil interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TK Islam (berdiri tahun 1952) adalah cikal bakal TK ‘Aisyiyah pertama di Kota Ambon yaitu TK ‘Aisyiyah I (1972). Meskipun berada di daerah konflik, TK ‘Aisyiyah I berkembang menjadi TK yang multikultur karena murid TK ini berasal dari berbagai etnis dan agama.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DARI KEHIDUPAN MULTIETNIS DI KESULTANAN SUMBAWA Kasimanuddin Ismain
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v13i22019p206-216

Abstract

In this democratic era, the ethnic advancement of a nation or region in Indonesia is like a double-edged knife, it can be both rich and prone to conflict. For this reason, it is necessary to develop a tolerant attitude in togetherness, through excavation of sources of tolerance as a reference. This research uses the historical method including the stages of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Heuristics and criticism were carried out on historical sources obtained in Makassar, Mataram and Sumbawa Besar. It turned out that the leading factor in the Sultan as a role model, as well as accepting and granting land for settlement to each ethnic migrant, including making the church as a means of worship. The Sultan's example also represented a tolerant attitude that was always open to accepting and living in harmony with ethnic migrants. The history of the Sumbawa Sultanate, found the values of character education as local wisdom which is very valuable to foster tolerance and togetherness. The values of character education are none other than universal values in Pancasila. The present generation learns history and learns from the history of previous generations. Character education remains a priority in the field of education development in Indonesia.Di era demokrasi ini, kemajukan etnis suatu bangsa atau daerah di Indonesia bagaikan pisau bermata dua, bisa menjadi kekayaan sekaligus rentan konflik. Untuk itu perlu terus dibina sikap toleran dalam kebersamaan, melalui penggalian sumber-sumber toleransi sebagai rujukan. Penelitian ini menggunakan metode sejarah meliputi tahap-tahap heuristik, kritik,  interpretasi, dan historiografi. Heuristik dan kritik dilakukan pada sumber-sumber sejarah yang diperoleh di Makasar, Mataram dan Sumbawa Besar. Ternyata faktor kepemimpinan pada diri Sultan sebagai teladan, sebagaimana menerima dan menghibahkan tanah untuk pemukiman kepada setiap etnis pendatang,  termasuk membuat gereja sebagai sarana beribadah. Keteladanan sultan juga merepesentasikan sikap toleran yang senantiasa terbuka menerima dan hidup harmonis dengan etnis pendatang contoh. Dari sejarah Kesultanan Sumbawa, ditemukan nilai-nilai pendidikan karakter sebagai kearifan lokal yang sangat berharga untuk memupuk toleransi dan kebersamaan. Nilai-nilai pendidikan karakter itu tidak lain dari nilai-nilai unversal dalam Pancasila. Generasi sekarang belajar sejarah dan belajar dari sejarah generasi terdahulu. Pendidikan karakter tetap menjadi prioritas pembangunan bidang pendidikan di Indonesia. <w:LsdException Locked="false" Priority="67" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/
EKSISTENSI TANAMAN SAGU DALAM KEHIDUPAN ETNIK TOLAKI DI SULAWESI TENGGARA Rispan Rispan
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v13i22019p228-238

Abstract

This research aims to find out the existence of sago palm in the life of Tolaki Ethnic Group in Southeast Sulawesi. This research applied historical method with the following steps: (1) Heuristic (source gathering), (2) Source Critic, (3) Historiography (writing). The result of the research showed that: Sago palm was closely related to the life of Tolaki Ethnic Group. First, sago palm was the main food source in the life of Tolaki Ethnic Group besides rice. Second, sago palm was bread and butter for Tolaki Ethnic Group in Southeast Sulawesi that had been happening hereditary (tradition). Third, sufficient resource and land potential clearly promoted that effort. Fourth, processing sago palm did not require much money. Fifth, it played a role as economical sources for family that produces sago palm. Sago palm had important position, because it possessed historical value and philosophical value in form of kinship and genetic relationship value, coalescence and unity value, and functioned as the symbol of prosperity. In the old times, sago palm was used as the measurement of wealth (hapo-hapo). In the old wedding tradition system, sago palm was used as inheritance  (tiari) during wedding.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui eksistensi tanaman sagu dalam kehidupan Etnik Tolaki di Sulawesi Tenggara. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan tahap-tahap sebagai berikut: (1) Heuristik (pengumpulan sumber), (2) Kritik Sumber, (3) Historiografi (penulisan). Hasil penelitian menunjukan bahwa: Tanaman sagu erat kaitannya dengan kehidupan etnik Tolaki. Pertama, sagu merupakan makanan pokok dalam kehidupan etnik Tolaki selain beras. Kedua, sagu merupakan salah satu sistem mata pencaharian etnik Tolaki di Sulawesi Tenggara yang berlangsung secara turun temurun (tradisi). Ketiga, sumber daya dan potensi lahan yang memadai sangat menunjang untuk usaha tersebut. Keempat, mengolah sagu tidak butuh modal banyak. Kelima, sebagai sumber pendapatan ekonomi bagi keluarga pengolah sagu. Sagu memiliki kedudukan yang sangat penting, karena memiliki nilai sejarah, dan nilai filosofis berupa nilai kekeluargaan atau kekerabatan, nilai persatuan dan kesatuan, dan berfungsi sebagai simbol kesejahteraan. Pada masa lalu tanaman sagu dijadikan sebagai ukuran kekayaan (hapo-hapo). Dalam tata adat perkawinan jaman dulu, sagu dijadikan sebagai warisan (tiari) saat perkawinan. 
SPREADING NATIONALISM IN THE EARLY 1900S: MARCO KARTODIKROMO'S TYPICAL APPROACHES IN INDONESIA Annisa Meutia Ratri
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v13i22019p239-248

Abstract

This writing aims to describe Marco Kartodikromo and his unique approach to spread an idea about nationalism in the early 1900s. By using historical research as a methodology, this paper consisted discussion about basic idea that led Marco to birth the writing, which is as strategy to influence the society. This writing also provided Marco’s expounded on nationalism and his several typical approaches to spread of nationalism such as bringing historical consciousness and using low Malay language.  Marco was successfully creating threaten to colonizer an expressing the pain and suffering of the colonized people within nationalist discourses by the literature work such as Student Hidjo, Azia boeat Orang Azia and others. Penelitian ini adalah tentang Marco Kartodikromo dan pendekatan khasnya dalam menyebarkan ide tentang nasionalisme pada awal tahun 1900 di Indonesia. Dengan menggunakan penelitian sejarah sebagai metodologi, penelitian ini mencakup diskusi tentang ide dasar Marco dalam menulis dan strategi untuk mempengaruhi masyarakat.  Pada penelitian ini juga memberikan penjelasan  tentang nasionalisme dan beberapa pendekatan Marco untuk penyebaran nasionalisme seperti membawa kesadaran sejarah dan menggunakan bahasa Melayu yang rendah. Marco tidak hanya berhasil menciptakan ancaman bagi colonial tetapi juga dapat mengekspresikan rasa sakit dan penderitaan orang-orang yang dijajah dalam wacana nasionalis melalui karya sastranya seperti Student Hidjo, Azia boeat Orang Azia, dan karya lainnya. 
PERKAPALAN NUSANTARA ABAD 16-18 M Al fiqri, Yanuar
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v14i12020p1-21

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan teknologi perkapalan Nusantara pada masa abad 16-18 M, yang terdiri dari jenis-jenis kapal, teknik pembuatannya serta ciri-ciri yang dimiliki oleh kapal-kapal Nusantara tersebut. Penelitian ini menggunakan metode Historis, dengan langkah-langkahnya yaitu Heuristik, kritik ekstern dan intern, verifikasi dan terakhir Historiografi. Sumber-sumber sejarah yang digunakan adalah sumber sejarah sekunder, dan didukung oleh sumber-sumber etnografi. Kapal dan perahu Nusantara pada abad 16-18 M yang terdiri dari kapal dan perahu tipe papan seperti kapal Jong, Padewakang, Mayang dan Kora-kora serta perahu-perahu tipe lesung seperti Jukung dan Paduwang dibuat dan digunakan oleh orang-orang Nusantara. Kapal dan perahu tersebut memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dengan perkapalan bangsa lain, diantaranya, teknik konstruksi, bentuk lambung, tipe kemudi dan tipe layar yang digunakan.
Peran Perempuan Samin Dalam Budaya Patriarki Di Masyarakat Lokal Bojonegoro Huda, Khoirul
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v14i12020p76-90

Abstract

The purpose of this article is to identify and explain the role of women in the Samin community that still holds the patriarchal culture in modern. The research applies a qualitative approach that  find several findings of phenomena that take place in the Samin community  in Bojonegoro. The Samin women as subjects of  the research area could be  divided into three categories namely women of past generations, women who were influenced by outside influences or commonly mentioned splinter and current generation women the were selected by using purposive sampling technique. Data were collected by observation, interviews and analysis of documents both physical documents and documentation, which are then analyzed by interactive techniques from concepts offered by Miles & Huberman which, the implementation begins by gathering initial findings of research material, then from the reduced findings will be sorted to get an accurate data presentation, then only analyzed for review in order to get the correct conclusions. The results of the study showed that the women from the Samin community fighter group still showed the contribution of their role under the control of patriarchal culture. Cultural products that have become a system of customs and traditions, whose binding has been processed from the teachings of the ancestors of the Samin community in the past. In more detail, there are a number of findings from the role of Samin women, especially including their involvement in the process of inheriting the value of Samin's teachings for the next generation that is never interrupted, the form of the role of praxis in daily life activities that are manifested in teaching children, including controlling for honesty, politeness and building good relations with humans and the natural surroundings, and building a preventive role to strengthen cultural uniqueness through communication relations with surrounding communities that continues to be carried out even though the patriarchal culture system continues to be implemented.Tujuan artikel ini adalah untuk mengidentifikasi dan menjelaskan peran perempuan dalam komunitas Samin yang masih memegang budaya patriarki di zaman modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menemukan beberapa temuan fenomena yang terjadi di komunitas Samin di Bojonegoro. Wanita Samin sebagai subyek dari wilayah penelitian dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu wanita dari generasi sebelumnya, wanita yang dipengaruhi oleh pengaruh luar atau wanita yang biasa disebut sempalan dan wanita generasi saat ini dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan dengan observasi, wawancara dan analisis dokumen baik dokumen fisik maupun dokumentasi, yang kemudian dianalisis dengan teknik interaktif dari konsep-konsep yang ditawarkan oleh Miles & Huberman yang, pelaksanaannya dimulai dengan mengumpulkan temuan awal dari bahan penelitian, kemudian dari hasil temuan yang dikurangi akan disortir untuk mendapatkan presentasi data yang akurat, kemudian hanya dianalisis untuk ditinjau untuk mendapatkan kesimpulan yang benar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para wanita dari kelompok pejuang komunitas Samin masih menunjukkan kontribusi peran mereka di bawah kendali budaya patriarki. Produk budaya yang telah menjadi sistem adat dan tradisi, yang ikatannya telah diproses dari ajaran nenek moyang masyarakat Samin di masa lalu. Secara lebih rinci, ada sejumlah temuan dari peran wanita Samin, terutama termasuk keterlibatan mereka dalam proses mewarisi nilai ajaran Samin untuk generasi berikutnya yang tidak pernah terputus, bentuk peran praksis dalam kehidupan sehari-hari. kegiatan yang diwujudkan dalam mengajar anak-anak, termasuk mengendalikan kejujuran, kesopanan dan membangun hubungan baik dengan manusia dan lingkungan alam, dan membangun peran preventif untuk memperkuat keunikan budaya melalui hubungan komunikasi dengan masyarakat sekitar yang terus dilakukan meskipun patriarki sistem budaya terus diimplementasikan.
VISUALISASI MATERI TOKOH PAHLAWAN DALAM KARYA GAMBAR SISWA PENYANDANG TUNARUNGU DI SDLB PURWOSARI KUDUS Fajrie, Nur; Purbasari, Imaniar
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v14i12020p31-41

Abstract

Proses belajar pada mata pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) SD memiliki tujuan pemahaman konsep tokoh-tokoh pahlawan Indonesia sebagai bentuk materi apresiasi jasa-jasa kemerdekaan terhadap nilai-nilai nasionalisme berbangsa-negara. Kesulitan apresiasi verbal pada siswa tunarungu dapat optimalkan melalui indra penglihat anak yaitu visualisasi ide yang dikomunikasikan dalam tokoh dan peristiwa sejarah untuk memupuk nasionalisme penyandang disabilitas. Pendekatan penelitian menggunakan kualitatif deskriptif dengan studi kasus pada materi pahlawanku yang diterapkan siswa-siswa SDLB-B Purwosari Kudus. Fokus penelitian pada siswa-siswa penyandang tunarungu pada kelas 4 dan 5. Jumlah siswa 7 siswa yang dikelompokkan menjadi 1 kelompok belajar disebabkan keefektifan kegiatan belajar mengajar. Hasil penelitian menunjukkan konsep diri dalam nilai nasionalisme siswa tunarungu terbentuk melalui kemampuan deteksi potensi visual dan komunikasi, optimalisasi pengalaman dan pengamatan sekitar, penerjemahan visual, pemahaman sikap, dan pengembangan diri. Mengenal sosok pahlawan dan memiliki makna terhadap kemerdekaan merupakan konsep sosial yang terkonstruksi dalam penelitian ini.
KEHIDUPAN AWAL MASYARAKAT TRANSMIGRAN DI DESA SUNGAI TENANG KABUPATEN SIJUNJUNG SUMATERA BARAT 1973-1980 Suparmi, Suparmi; Yasin, Nirwan Il
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v14i12020p91-104

Abstract

Abstract – This resaerch is aimed to know for the history of the transmigration rebirth and the early life of the economic social of transmigrants in Desa Sungai Tenang,  Nagari Kunangan Parik Rantang, Kamang Baru Subdistrict, Sijunjung District, West Sumatra. The method uses historical method, there are four steps to historical methods: (1) Heuristic; (2) Source Criticism; (3) Interpretation; (4) Historiography. The sources used are transmigration letter documents, books, journals, articles, interviews and observations. The research revealed the transmigrants in Desa Sungai Tenang were included in the new pattern of self-initiated transmigrants. The life of transmigrants in 1973-1980 or after seven years of its arrival that there were still having economic difficulties.[KBP1]  It's completely different from the extremely developed social conditions of the transmigrant communities or with the local indigenous communities where the Minangkabau folks live. Transmigrants still maintained their Javanese customs and traditions, and also still keep respecting local customs and traditions (Minangkabau).Keywords - early life, transmigrants, Desa Sungai TenangAbstrak- Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah transmigrasi dan bagaimana kehidupan awal sosial ekonomi masyarakat transmigran di Desa Sungai Tenang, Nagari Kunangan Parik Rantang, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Metode yang digunakan yaitu metode sejarah yang terdiri dari empat langkah, yakni: (1) Heuristik; (2) Kritik Sumber; (3) Interpretasi; (4) Historiografi. Sumber yang digunakan berupa dokumen surat transmigrasi, buku, jurnal, artikel, wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transmigran di Desa Sungai Tenang termasuk pada transmigran swakarsa pola baru. Kehidupan transmigran pada 1973-1975 dan pada 1975-1980 atau tujuh tahun paska kedatangannya, masih kesulitan dalam hal perekonomian. Hal itu berbeda dengan kondisi sosial mereka yang berkembang dengan baik terhadap sesama masyarakat transmigran, ataupun dengan masyarakat setempat yang notabane-nya masyarakat Minangkabau. Transmigran tetap mempertahankan adat istiadat dan tradisi Jawa disamping tetap menghormati adat istiadat dan tradisi setempat (Minangkabau).Kata Kunci- Kehidupan awal, Transmigran, Desa Sungai Tenang

Page 11 of 24 | Total Record : 232