cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
JURNAL ILMU BUDAYA
Published by Universitas Hasanuddin
ISSN : 23547294     EISSN : 26215101     DOI : -
Core Subject : Art,
Jurnal Ilmu Budaya (JIB) adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Departemen Sastra Prancis Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin. JIB terbit secara berkala dua kali dalam setahun, periode Juni dan Desember. JIB memuat hasil-hasil penelitian dan kajian dalam bidang ilmu bahasa dan budaya Prancis, kajian bidang Bahasa dan Budaya Frankofoni, kajian linguistik, kesusastraan , kajian budaya, dan pengajaran. JIB menerima artikel, hasil penelitian, review artikel, dan editorial dalam bahasa Inggris, bahasa Prancis dan atau dalam bahasa Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 351 Documents
Struktur Hierarkis dan Multidimensional Konsep Cinta dalam Al-Qur’an: Analisis Semantik Leksikal dan Kontekstual Sitti Fatima; Hasnawiah; Baso Pallawagau
JURNAL ILMU BUDAYA Vol. 14 No. 1 (2026): jurnal ilmu budaya
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jib.v14i1.52251

Abstract

This study aims to conduct an in-depth analysis of the concept of love in the Qur'an through a semantic approach, emphasizing the integration of lexical and contextual analysis. This research is based on the characteristics of the Qur'anic language, which is dense in meaning and operates within a complex network of meanings, so that the term "love" cannot be reduced to a single equivalent meaning. The method used in this study is descriptive qualitative, using library research. The analysis was conducted following Toshihiko Izutsu's framework of identifying basic lexical meanings and relational meanings through contextual analysis. The results of the study indicate that the concept of love in the Qur'an has a hierarchical and multidimensional structure. This study concludes that the conceptual structure of love in the Qur'an is a complete unity that connects inner consciousness, social action, and intellectual truth within the framework of the Islamic worldview.
ANALISIS STRUKTURAL, TIPOLOGI, DAN NILAI ESTETIS USLŪB AL-TAWRIYAH DALAM ‘ILMU BALĀGHAH Nurfadillah; Sitti Fatima; Syamsu Rijal Ismail; Mohamad Harjum
JURNAL ILMU BUDAYA Vol. 14 No. 2 (2026): Jurnal Ilmu Budaya
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jib.v14i2.52636

Abstract

Kekayaan gaya bahasa Arab termanifestasi secara mendalam melalui khazanah ‘ilmu balāghah, khususnya pada rumpun ‘ilmu badī‘ yang berfokus pada keindahan makna (muḥassināt badī‘iyyah). Artikel ini mengkaji secara komprehensif salah satu ragam gaya bahasa tersebut, yaitu uslūb al-tawriyah (retorika ambiguitas disengaja). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan analisis teks (content analysis) untuk mengeksplorasi struktur, klasifikasi, serta nilai estetis formal yang terkandung dalam tawriyah, baik dalam teks Al-Qur'an maupun teks sastra Arab klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi tawriyah secara mutlak mengikat empat elemen struktural utama: lafal bermakna kembar, makna dekat, makna jauh, dan indikator konteks. Berdasarkan variasi kata penyerta (mulā’imāt), tawriyah diklasifikasikan menjadi empat tipologi: mujarradah, murasysyahah, mubayyanah, dan muhayya’ah. Implikasi estetis dari gaya bahasa ini berpusat pada efek kejutan retoris (mufāja’ah) dan stimulasi intelektual pembaca melalui proses kontemplasi (ta’ammul), yang tidak sekadar memperindah teks melainkan berfungsi krusial dalam menjaga kemurnian penafsiran teologis pada ayat-ayat mutasyābihāt.
NARASI KUTUKAN SEBAGAI MITOS BUDAYA: ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES TERHADAP SUMPAH LELUHUR DALAM FILM LAKUNA Fitriansal
JURNAL ILMU BUDAYA Vol. 14 No. 2 (2026): Jurnal Ilmu Budaya
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jib.v14i2.51948

Abstract

Penelitian ini menganalisis konstruksi narasi kutukan sebagai mitos budaya dalam film Lakuna yang merepresentasikan sumpah leluhur masyarakat Bugis-Makassar menggunakan semiotika Roland Barthes (denotasi, konotasi, mitos). Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif interpretatif dengan data primer dari naskah film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat denotasi, sumpah leluhur merupakan deklarasi verbal yang mengikat lintas generasi dengan otoritas sosial tokoh bangsawan. Pada tingkat konotasi, sumpah berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial, otoritas moral tanpa verifikasi empiris, dan pencipta ketakutan kolektif. Pada tingkat mitos, film menaturalisasi kutukan melalui legitimasi leluhur, internalisasi ketakutan, dan pembuktian kutukan melalui penderitaan tokoh. Meskipun tokoh Naya menunjukkan perlawanan, struktur naratif film justru menghukum perlawanan tersebut sehingga mereproduksi mitos kutukan sebagai kebenaran yang tak dapat dilawan. Narasi kutukan dalam film Lakuna memiliki tiga fungsi ideologis: kontrol sosial, legitimasi status quo adat, dan produksi kepasrahan kolektif. Kata Kunci: narasi kutukan; mitos budaya; semiotika Roland Barthes; film Lakuna
Konstruksi mitos kopi dalam representasi visual dan verbal instagram fore coffe: analisis semiotika rolland barthes Nur Qadri Malabbi
JURNAL ILMU BUDAYA Vol. 14 No. 2 (2026): Jurnal Ilmu Budaya
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jib.v14i2.52001

Abstract

This study explores the construction of meaning and myth in visual and verbal representations on Fore Coffee’s Instagram account. Using a qualitative descriptive approach and Roland Barthes’ semiotic theory, posts published from March to June 2026 were analyzed through the levels of denotation, connotation, and myth. The findings reveal four major myths. First, coffee is represented as a symbol of Indonesian identity and local authenticity. Second, coffee is associated with urban mobility and modern lifestyles. Third, the portrayal of professional women during Kartini Day promotes the idea of gender equality and women’s empowerment. Fourth, Fore Coffee is depicted as a social space that accommodates personal memories and social relationships. Overall, the study demonstrates that social media plays a significant role in constructing and reproducing cultural meanings, identities, values, and collective experiences through visual and verbal representation. Keywords: semiotics, myth, representation, social media, Fore Coffee.
Analisis Tindak Tutur Illokusi Tokoh Raka dalam Upaya Mencari Keadilan pada Film Keadilan: The Verdict Adinda Dwi Wulandari; Alber
JURNAL ILMU BUDAYA Vol. 14 No. 2 (2026): Jurnal Ilmu Budaya
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jib.v14i2.52542

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis jenis tindak tutur ilokusi yang digunakan tokoh Raka dalam film Keadilan: The Verdict sebagai upaya memperoleh keadilan. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik simak dan catat untuk mengumpulkan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Raka menggunakan berbagai jenis tindak tutur ilokusi, dengan tindak tutur asertif sebagai jenis yang paling dominan untuk menegaskan kebenaran dan meyakinkan lawan tutur dalam situasi hukum yang kompleks. Temuan ini menunjukkan bahwa dialog dalam film tidak hanya berfungsi sebagai unsur estetis, tetapi juga sebagai strategi komunikasi yang merepresentasikan perjuangan tokoh dalam memperoleh hak dan keadilan melalui bahasa.
MEROKOK SEBAGAI MITOS KEBERANIAN: ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES PADA POSTER IKLAN ROKOK LA BOLD Suriadi Suriadi
JURNAL ILMU BUDAYA Vol. 14 No. 2 (2026): Jurnal Ilmu Budaya
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jib.v14i2.51901

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap konstruksi merokok sebagai mitos keberanian dalam poster iklan rokok LA Bold. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotika Roland Barthes. Data yang digunakan berupa empat poster iklan LA Bold yang diperoleh dari situs resmi BOLD | LA Family dan Pinterest. Analisis data dilakukan melalui tiga tingkat pemaknaan Barthes, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat poster membangun mitos keberanian melalui tiga pola: keberanian sebagai kendali diri, keberanian sebagai pengambilan risiko, dan keberanian sebagai pilihan kebebasan. Secara denotasi, poster menampilkan figur, aktivitas, warna, slogan, kemasan produk, dan tata letak tertentu. Secara konotasi, tanda-tanda tersebut membangun asosiasi dengan keberanian, kebebasan, risiko, kendali diri, kekuatan, dan maskulinitas. Pada tingkat mitos, asosiasi tersebut dinaturalisasi sehingga rokok tampak sebagai simbol identitas yang positif, maskulin, modern, dan aspiratif.
KEARIFAN LOKAL DAN ETIKA LINGKUNGAN: Kearifan Lokal di Desa Ngrayun Kabupaten Ponorogo ersa afrilia
JURNAL ILMU BUDAYA Vol. 14 No. 2 (2026): Jurnal Ilmu Budaya
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/fdd8wv83

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji praktik penanaman porang sebagai wujud etika lingkungan serta tradisi syukuran panen sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada meningkatnya perhatian terhadap praktik pertanian berkelanjutan yang tidak hanya berorientasi pada hasil ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan dan nilai-nilai budaya masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik penanaman porang dilakukan dengan memperhatikan kelestarian tanah dan ekosistem sekitar, seperti tidak melakukan eksploitasi berlebihan dan menjaga kesuburan lahan. Selain itu, tradisi syukuran panen menjadi simbol rasa syukur sekaligus sarana mempererat solidaritas sosial masyarakat. Temuan ini menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan yang kuat antara etika lingkungan dan kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat Ngrayun. Dengan demikian, praktik ini tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga memperkuat nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat setempat.
A SEMIOTIC ANALYSIS OF ROLAND BARTHES ON OLIVER GOLDSMITH'S DRAMA TEXT SHE STOOPS TO CONQUER Multazam Abubakar
JURNAL ILMU BUDAYA Vol. 14 No. 2 (2026): Jurnal Ilmu Budaya
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/tgm55v63

Abstract

This study aims to identify the denotative, connotative, and mythical meanings in selected dialogues and examine the social and cultural ideologies they represent. Using a qualitative textual analysis approach, five purposively selected dialogues were analyzed based on Barthes' three levels of signification: denotation, connotation, and myth. The findings show that the dialogues construct and naturalize ideologies related to tradition and modernity, popular culture, social hierarchy, class privilege, and gender morality. At the denotative level, they depict ordinary interactions. At the connotative level, they convey meanings associated with identity, power, and morality. At the mythic level, they both reinforce and challenge cultural assumptions in eighteenth-century England. Through irony, humor, and mistaken identity, Goldsmith critiques social distinctions and the ideological foundations of class and gender relations.
KONSTRUKSI MAKNA WARNA DALAM RITUAL RAMBU TUKA’: ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES PADA MASYARAKAT TORAJA Sumiati Putri Natalia
JURNAL ILMU BUDAYA Vol. 14 No. 2 (2026): Jurnal Ilmu Budaya
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/3vnjzk53

Abstract

This study examines the construction of color symbolism in the Rambu Tuka' ritual of the Torajan community through a cultural semiotic approach. The study is motivated by the tendency of previous research on Torajan culture to focus predominantly on death rituals, while visual symbolism in life-cycle rituals, particularly the use of colors, has received relatively limited scholarly attention. In fact, colors in traditional rituals function not only as aesthetic elements but also as systems of signs that represent the social, spiritual, and ideological values of the Torajan people. This study employs a descriptive qualitative approach using Roland Barthes’ semiotic analysis. Data were collected through participant observation, in-depth interviews with traditional leaders and community members, and visual documentation of the ritual. Data analysis was conducted through several stages, including color identification, sign classification, denotative analysis, connotative analysis, and the interpretation of cultural myths.
The The Duality of Pela Gandong in the Peace Narrative in Maluku: Between Local Wisdom and Hegemony: Indonesia Ryan Sander Malawat
JURNAL ILMU BUDAYA Vol. 14 No. 2 (2026): Jurnal Ilmu Budaya
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jib.v14i2.52083

Abstract

This article examines the duality of Pela Gandong in Maluku’s peace narrative, positioning it between authentic local wisdom and a political tool for hegemony. Post-conflict, Pela Gandong was revitalized to rebuild Muslim-Christian cohesion. However, its institutionalization by elites often creates a hegemonic narrative that prioritizes social stability while obscuring structural issues like economic inequality, segregation, and collective trauma. Drawing on Antonio Gramsci’s hegemony and Michel Foucault’s power discourse, this study argues that the formal narrative of Pela Gandongrisks producing a "negative peace." Conversely, organic cross-community musical practices—such as Christian youth participating in the hadroh tradition—offer a participatory counter-discourse. Music fosters grassroots social healing and "positive peace." Ultimately, sustainable reconciliation in Maluku requires a holistic approach that integrates local wisdom, alternative cultural expressions, and the resolution of structural injustices.