cover
Contact Name
Arief Rakhman Affandi
Contact Email
arieftmin@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
adminjiphp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian
ISSN : 2581088X     EISSN : 2581110X     DOI : -
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian is a scientific journal that published in PGRI Semarang University. The Scope of reasearch articles are some topics that related with : 1.Food Microbiology 2.Food Biochemistry 3.Food Chemical, 4.Food Engineering, 5.Food waste industry Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian will be published 2 (two) volumes in a year on June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2019)" : 10 Documents clear
KARAKTERISASI SIFAT KIMIA DAN FISIK FRUIT LEATHER PISANG KEPOK PUTIH (Musa acuminate sp) PADA BERBAGAI SUHU PENGERINGAN Setiaboma, Woro
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v3i1.3486

Abstract

Fruit leather adalah cemilan dari buah yang dikeringkan dengan tekstur kenyal dan berasa buah.  Pisang kepok putih (Musa acuminate sp ) merupakan pisang yang kurang populer karena memiliki rasa masam selain itu pisang merupakan produk pascapanen yang tidak tanahan lama. Fruit leather merupakan cara untuk meningkatkan nilai tambahan pada pisang kepok putih.  Pada pembuatan fruit leather pengeringan menentukan sifat fisik dan kimia dari produk. Produk yang diharapkan dari fruit leather memiliki tekstur yang plastik sehingga tujuan dari penelitian ini ialah bagaimana karakteristik sifat fisik dan kimia fruit leather pisang kepok putih pada berbagai variasi serta diperoleh fruit leather terbaik berdasarkan variasi pengeringan.Penelitian ini dilakukan dengan variasi suhu pengeringan.  pisang kepok putih yang telah matang dikukus selama 8 menit, kemudian dikecilkan ukuran dengan blender selama 2-3 menit dan diperoleh bubur buah. Bubur buah dicampukan dengan karagenan 0,3% dengan air panas kemudian dicampur selama 2 menit selanjutnya bubur buah dikeringkan pada suhu 50, 60, 70 dan 80oC selama 12 jam dan diperoleh fruit leater. Fruit leather dianalisa sifat kimia yaitu kadar air, kadar abu dan aktivitas air. Fruit leather juga dianalisa sifat fisik yaitu kekenyalan dan warna.Sifat fisik fruit leather pada kadar air tertinggi pada suhu 50oC dan terrendah pada suhu 80oC. Nilai Aw berkisar antara 0,54-64 yang masih masuk dalam batas aman mikroorganisme tidak dapat tumbuh. Nilai F yang menunjukan kekuatan tarikan tertinggi pada suhu pengeringan 80C (12,75N) dan terendah pada suhu 50oC (6,95). Berdasarkan hasil kadar air, Aw, nilai tarikan dan warna, suhu 60oC memiliki nilai yang baik.
Mini Review: Pemanfaatan Microbial Transglutaminase (MTGase) pada Surimi Ikan Patin Ruvinty, Apristia; Natalia, Devi; Kiyat, Warsono El; Paramitha, Dyah Ayu Pradnya
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v3i1.3350

Abstract

Transglutaminase banyak diminati oleh industri bioteknologi karena karakteristiknya yang dapat menghidrolisis substrat ikatan silang pada protein. Transglutaminase yang diekstrak dari hewan memerlukan biaya yang mahal, akan tetapi setelah enzim ini dapat dihasilkan dari mikroorganisme (MTGase), aplikasinya menjadi lebih luas. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis potensi MTGase dalam aplikasinya pada pembuatan surimi ikan patin siam. Hasil kajian menunjukkan bahwa dalam industri pangan, MTGase dapat digunakan untuk meningkatkan sifat mekanik surimi dari berbagai ikan, terutama ikan patin siam. MTGase memiliki prospek yang baik di Indonesia untuk diaplikasikan pada surimi ikan patin siam.Kata kunci: MTGase; ikan patin siam; surimi
POTENSI PATI TEMULAWAK SEBAGAI BAHAN PANGAN PENGGANTI TEPUNG TERIGU PADA KUE BOLU Lestari, Ema; Fatimah, Fatimah; Sandri, Dwi; Yuniarti, Retno
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v3i1.3610

Abstract

Temulawak is one of tubers plant which grows in tropical forest areas and has good benefits for health. Temulawak also contained large enough starch, making has great potential as an additive in alternative products for processed food ingredients. Processing of temulawak starch flour is done to reduce the import of wheat flour to Indonesia. The purpose of this study are get starch of temulawak from tuber of temulawak plant, substituting wheat flour with temulawak starch flour for making sponge cake and knowing the panelist's favorite level of sponge cake made from temulawak starch flour. Sponge cake created with 3 treatments, 100% wheat flour as control, 50% temulawak starch with 50% wheat flour and 100% temulawak starch, then execute organoleptic test. Preparation of temulawak starch flour produces yellowish white flour. The organoleptic test showed that sponge cake with substitution of temulawak starch was 50% and 100% preferred over sponge cake without starch flour of temulawak. Based on this research, it was found that temulawak starch flour potency as commodity source of food substitute of wheat flour in making sponge cake because it can substitute wheat flour to 100%.
Application of Gamma Rays Irradiation to Reduce Purine Base of Adenine and Hypoxanthine Content on Melinjo Chips (Gtnetum Gnemon L) Nasrulloh, Nanang
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v3i1.3365

Abstract

Background : Melinjo (Gnetum gnemon L) chips  known as popular snack among Indonesian. This kind of chips often associated with high uric acid level in the blood that is influenced by high level of purine. Therefore, an additional process is required to reduce purine content. It can increase acceptability and safety to consumer particularly for people  with a previous history of hyperuricemia or gout. Objective : To determine and analyze the effect gamma ray irradiation on purin content of adenine and hypoxanthine including quuality properties of melinjo chips. Method : Research design apllied completely randomized design. Level of purin adenina and hypoxanthine analyzed using HPLC-UV. Chemical properties obtained using proximate analysis. In addition, hedonic sensory analysis test was applied in order to determine acceptability of the product. Result: Gamma ray irradiation conclusively can reduced purine base of adenine and hypoxanthine level approximately up to 17,82%. The higher dose of ray, the lower the purine level. Gamma ray effect significantly on the anorganic elements, fat, protein, and carbohydrate contents of the melinjo chips, along with its texture, appeareance and flavor. Conclusion : Irradiation reduced significantly purine base of adenine and hypoxanthine, nutritional content and organoleptic properties of melinjo chips. Keyword : Adenine; Gamma Ray; Gnetum gnemon L; Hypoxanthine; Irradiation
Pengaruh Rasio Subtitusi Kacang Kedelai dengan Biji Melinjo dan Konsentrasi Ragi terhadap Kualitas Tempe Kedelai Yulia, Ruka
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v3i1.3674

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh rasio substitusi kedelai dengan biji melinjo, konsentrasi ragi dan interaksi antara rasio subtitusi kedelai dengan biji melinjo terhadap kualitas tempe kedelai. Penelitian ini menggunakan desain acak lengkap faktorial, dengan dua faktor dan 3 level dengan 2 ulangan. Substitusi rasio kedelai dengan biji melinjo adalah M1 = 170 gr: 30 gr, M2 = 160 gr: 40 gr, M3 = 150 gr: 50 gr. Konsentrasi ragi adalah R1 = 1 gr, R2 = 2 gr, dan R3 = 3 gr. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi kedelai dengan biji melinjo memiliki pengaruh signifikan (P 0,05) pada warna dan aroma dan tidak signifikan (P 0,05) terhadap kadar air, kadar lemak, aroma dan rasa tempe. Konsentrasi ragi memiliki efek yang sangat signifikan (P 0,01) pada tekstur, memiliki efek signifikan (P 0,05) pada kadar lemak dan tidak memiliki efek signifikan (P 0,05) pada kadar air, warna, aroma dan rasa. Subtitusi kedelai dan biji melinjo serta konsentrasi ragi berpengaruh signifikan (P 0,05) terhadap kadar lemak dan tidak berpengaruh signifikan (P 0,05) terhadap kadar air, aroma, warna, rasa dan tekstur tempe biji melinjo. Perlakuan terbaik diperoleh pada rasio substitusi 130 g: 70 g dan konsentrasi ragi 3% dengan kadar air 65,34%, kadar lemak 7,38%, warna 4,15 (suka), aroma 4,25 (suka), rasa 4,15 (suka) dan tekstur 4,15 (suka). Kata kunci: biji melinjo, kacang kedelai, ragi, substitusi, tempe
Antioxidant Activity of Parijoto Fruit Extract at Various Temperature of Food Processing Pertiwi, Rizki Bhakti; Hidayah, Isti Nurul; Andrianty, Deby; Hasbullah, Umar Hafidz Asy'ari
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v3i1.3839

Abstract

Parijoto (Medinilla speciosa) is a tropical plant that is used as traditional medicine by the community. This fruit contains many bioactive compounds. This study aims to analyze the effect of food processing temperature on the total phenolic compounds and antioxidant activity in parijoto extract. Tests are carried out at temperatures of 10, 30, 60, 75 and 100 ºC. Total phenolic compounds were analyzed by Folin-Ciocalteu method. Antioxidant activity were analyzed by DPPH (1,1-Diphenil-2-pikrilhidrazil) radical scavenging method. The results showed that the increased processing temperature causes a decrease in total phenolic compounds. This causes antioxidant activity to decrease. Processing at low temperatures is able to maintain the content of phenol compounds (33.02 μg/ml) and the greatest antioxidant activity.
The Effect of Gelatin Addition from Various Fish Skin to the Physical and Chemical Properties of Chikuwa Irvan, Muhammad
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v3i1.3796

Abstract

Chikuwa is one of Japanese traditional fishery food product that commonly made from potato starch, fish surimi, and some spices. To enhance Chikuwa physical and chemical properties especially in texture attribute and protein content, Gelatin can be added. Gelatin is a partial hydrolysis protein that usually added in food making process to improve the gumminess quality and the protein content. Gelatin can be derived from bone collagen, skin and fish scale. The purpose of this study is to analyze the effect of gelatin from various skin fish to the physical and chemical characteristics of Chikuwa. The research method used is experimental laboratories using a completely randomized design (CRD) with 3 replications. The data analysed with ANOVA and continued with BNJ analysis if there is a significant difference between the treatments. This research has divided into two stages. The first step aim is to make the gelatin from the skin of seabass, payus fish and tilapia with 3% concentrations. The second step is Chikuwa making added with gelatin. The parameters that observed are water content, protein content, white degree, gel strength, sensory attributes, folding, bite. The results showed that Chikuwa with the addition of gelatin from seabass, payus and tilapia skin are significantly different (p lt;0.05) due to the physical and chemical characteristics of Chikuwa. The best Chikuwa quality is Chikuwa with the addition of seabass gelatin, where the gelatin yield is 18.03 ± 0.68; the gelatin gel strength is 251.11 ± 1.08 bloom; the viscosity is 5.80 ± 0.15 cP; the gel Chikuwa sample strength is 954.54 ± 0.56 gcm and protein content is 22.01 ± 0.98%
Pembuatan Kopi dari Kulit Pisang Kepok (Musa paradisiaca Linn) dan Aktivitas Antioksidannya Allikha Bias Mentari; Siti Nur Kholisoh; Taufik Nor Hidayat; Umar Hafidz Asy'ari Hasbullah
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v3i1.3872

Abstract

Processing coffee from kepok banana peel is an option in diversifying food preparations and providing non-caffeine coffee. This study aims to study the characteristics of banana peel coffee based on fruit maturity and oven duration. In addition, it also analyzes total phenol and its antioxidant activity. The study design used a factorial randomized design with the first factor of fruit maturity (unripe and ripe) and the second factor of oven length (5, 10, and 15 minutes). Banana skin coffee has a yield ranging from 8.6 to 11.6%. Bulk density ranges from 0.43-0.48g/ml. Water content ranges from 3.9-6.39%. Ash content ranges from 0.92-6.79%. The content of phenol ranges from 0.6 to 2.46 mg PE/g. The coffee phenol content of ripe banana peel is larger than unripe. The longer oven increases the phenol content. IC50 and EC50 decrease with increasing phenol. The antioxidant activity of ripe banana peel coffee is larger than unripe
Mengungkap Senyawa pada Nata De Coco sebagai Pangan Fungsional Choiroel Anam
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v3i1.3453

Abstract

 Nata adalah selulosa ekstraseluler yang dihasilkan dari aktiivitas bakteri Acetobacter xylinum dalam proses fermentasi, dan  merupakan salah satu makanan kesehatan yang kaya akan serat. Nata yang paling umum ditemukan adalah nata de coco dengan media fermentasi air kelapa. Faktor-faktor dominan dalam pembuatan nata adalah ketersediaan nutrisi (karbon dan nitrogen), derajat keasaman dan media fermentasi yang digunakan. Penentuan kualitas terbaik media air kelapa yang digunakan, penentuan konsentrasi nitrogen dan sukrosa yang ditambahkan serta kondisi pH optimum  akan menghasilkan nata yang maksimal.Penelitian ini bertujuan untuk mencari kualitas terbaik pada fermentasi dalam proses pembuatan nata de coco, dan mengetahui senyawa fungsional yang terdapat pada nata de coco sebagai pangan fungsional. Hasil pengujian analisa sampel nata de coco menggunakan Gas chromatography–mass spectrometry (GC-MS) menunjukkan senyawa yang sangat bermaaf bagi kesehatan tubuh manusia. Sepuluh besar senyawa fungsional yag terdapat pada nata de coco yaitu:  Benzeneacetic Acid sebagai anti fungal dan scavenger. Hexadecanoid Acid memiliki efek anti-inflamasi, anti bakteri dan anti fungi. 22-Hydroxyhopane, Tetradecanoic Acid yang mempunyai aktivitas antimikroba dan antifungal. 9-Octadecanoid Acid, ρ-Cresol  memiliki aktivitas antioksidan. 9-Octadecenamide berfungsi untuk mencegah Alzheimer, menurunkan kolesterol dan menurunkan tekanan darah, Senyawa fungsional yang lain diantaranya (Z), Phenol, 4-(2-aminoethyl), Pentadecanoic Acid, 1-Heptadecanecarboxylic acid. Komposisi kimia nata  de coco dihasilkan kadar air 95%.  abu 0,35% dan protein 0,45%. Penelitian menunjukkan peningkatkan produksi nata dengan kualitas  yang baik sesuai persyaratan standar yang telah ditetapkan dan mempunyai senyawa senyawa  yang bermanfaat sebagai pangan fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan.
PENGARUH SUHU DAN JUMLAH PERFORASI PADA KEMASAN TERHADAP SUSUT BOBOT KANGKUNG Fransisca, Astrid
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v3i1.3452

Abstract

Proses distribusi sayuran kangkung dari kabupaten Bintan ke kota Batam membutuhkan waktu sampai dengan12 jam. Penanganan pasca panen selama proses distribusi masih kurang dilakukan dapat menyebabkan susut bobot yang tinggi pada kangkung . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlakuan terbaik untuk menekan susut bobot kangkung selama penyimpanan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 10 paket  perlakuan yaitu kangkung  disimpan tanpa kemasan, serta menggunakan kemasan plastik polipropilen (PP) tanpa lubang, dengan lubang perforasi  4, 8, dan 12 kemudian seluruh perlakuan disimpan pada suhu ruang dengan menggunakan kotak steorofoam terbuka dan suhu dingin menggunakan kotak steorofoam tertutup yang berisi es. Perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Peubah yang diamati  adalah susut bobot kangkung setiap 2 jam sampai 12 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kangkung tanpa kemasan plastik PP mengalami susut bobot tertinggi dibandingkan dengan kangkung yang dikemas dengan plastik PP. Persentase susut bobot tertinggi terjadi pada kangkung yang disimpan pada suhu dingin tanpa kemasan (6,45%) dan susut bobot terendah yaitu kangkung yang disimpan pada suhu dingin menggunakan plastik PP tanpa lubang(1,48%).

Page 1 of 1 | Total Record : 10