Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Al-Adyan (ISSN 1907-1736) is a journal published by the Religious Studies, Ushuluddin Faculty, Raden Intan State Islamic Institute of Lampung, INDONESIA. Al-Adyan published twice a year. Al-Adyan focused on the Religious Studies, especially the basic antropology, local wisdom. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines.
Articles
199 Documents
PEMIKIRAN FARID ESACK TENTANG HERMENEUTIKA PEMBEBASAN AL-QUR’AN
Sudarman, Sudarman
AL-ADYAN Vol 10 No 1 (2015): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v10i1.1424
Teologi Pembebasan lahir dan berkembang di Amerika Latin, sebagai gerakan pemerdekaan bagi kelompok masyarakat miskin, pinggiran, dan tertindas. Teologi pembebasan tampil dengan menyerukan persamaan hak tanpa memandang latar belakang, agama, etnis, dan warna kulit. Di kalangan Islam, Farid Esack, pemikir dari Afrika Selatan, adalah salah seorang yang dengan sangat semangat mendengungkan pembebasan. Berangkat dari pengalaman pribadi dan keluarganya di Afrika Selatan, Farid Esack berhasil memformulasikan sktetsa ajaran Islam menjadi sebuah gerakan pembebasan yang berpengaruh secara signifikan terhadap dunia Islam secara umum. Menurutnya al-Qur’an memuat semangat pembebasan bagi semua manusia secara universal.
MEMBANGUN KECERDASAN SPIRITUAL ISLAMI ANAK SEJAK DINI
Firdaus, Firdaus
AL-ADYAN Vol 10 No 1 (2015): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v10i1.1425
Untuk merealisasikan pelaksanaan kegiatan pendidikan pada anak usia dini serta guna mencapai hasil yang menggembirakan, para pendidik hendaklah senantiasa mencari berbagai metode yang efektif, serta mencari kaidah-kaidah pendidikan yang berpengaruh dalam mempersiapkan dan membantu pertumbuhan anak usia dini, baik secara mental dan moral, spiritual dan etos sosial, sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna guna menghadapi kehidupan dan pertumbuhan selanjutnya. Dengan bersumberkan kepada Al Qur-an dan hadis, ada beberapa metode pendidikan Islam yang dapat dan layak diterapkan pada kegiatan pendidikan terhadap anak usia dini. Kecerdasan anak pada sisi spiritual bergantung pada orangtua dan keluarganya sebagai tempat belajar pertama (sekolah dan lingkungan sekitarnya merupakan tempat belajar kedua). Jika keluarga (dalam hal ini orangtua) kurang memperhatikan aspek spiritual, maka dengan sendirinya sulit ditemukan anak yang memiliki kecerdasan spiritual. Tingkatan spiritual pada diri anak pun dapat berbeda-beda bergantung bagaimana pendekatan yang digunakan terhadapnya.
PERAN KELUARGA MENURUT KONSEP PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN PERSPEKTIF PSIKOLOGI ISLAM
Ulfa, Khoiriyah
AL-ADYAN Vol 10 No 1 (2015): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v10i1.1426
Perkembangan pada masa anak merupakan periode yang cepat serta terdapat perubahan dalam banyak aspek perkembangan. Pengalaman masa kecil mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perkembangan berikutnya. Pengetahuan tentang perkembangan anak dapat membantu mereka mengembangkan diri dan menemukan pengalaman baru serta mampu memecahkan masalah yang dihadapinya melalui pemahaman tentang factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak. Bagi kebanyakan anak, lingkungan keluarga merupakan lingkungan pengaruh inti, setelah itu sekolah dan kemudian masyarakat. Berdasarkan aliran diatas bahwa konsep kepribadian perspektif Islam akan lebih dekat pada aliran kovergensi yang tidak mengabaikan konsep fitrah. Adapun kedekatannya, adalah bahwa Islam menegaskan kepribadian manusia memiliki fitrah dan sumber daya insani, serta bakat-bakat bawaan, meskipun semua itu masih merupakan potensi yang mengandung berbagai kemungkinan.
RELEVANSI SOSIOLOGI AGAMA DALAM KEMASYARAKATAN
Firdaus, Firdaus
AL-ADYAN Vol 10 No 2 (2015): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v10i2.1427
Sosiologi agama mencoba memahami makna yang diberikan oleh masyarakat kepada sistem agama tertentu, dengan meletakkan agama dan keberagaman manusia sebagai gejala sosial. Sosiologi agama mencakup usaha pengembangan dan pencarian konsep yang lebih tepat sesuai dengan maksud untuk lebih memahami fenomena agama, agar manusia dapat memahami agama sebagai kepentingan dan kegiatan manusia. Agama terkait dengan kebutuhan, perasaan, aspirasi, dan menyangkut beberapa aspek esensil keadaan manusia, maka pemahaman mengenai sosiologi agama hanya berhubungan dengan efeknya dalam pengalaman historis manusia dan dalam perkembangan masyarakat. Pada dasarnya agama akan melahirkan masyarakat dan tumbuh berkembang menciptakan sebuah budaya sehingga pada dinamika perkembangannya melahirkan sebuah masyarakat dan pada akhirnya dapat kembali memunculkan agama dan hal ini terus berputar serta sebagai kausal yang saling berhubungan antara variabel yang satu dan lainnya, ini dikarenakan dari perputaran ketiga variabel besar yang saling berhubungan dan termasuk sebagai faktor luar yaitu agama, budaya dan sosial. Sedangkan faktor di dalam adalah gen, jadi dapat dikatakan bahwa budaya sangat dipengaruhi oleh agama.
FUNGSI CONSCIENCE DALAM PERKEMBANGAN RASA AGAMA USIA REMAJA
Yulianti, Iin
AL-ADYAN Vol 10 No 2 (2015): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v10i2.1428
Perkembagan rasa agama usia remaja merupakan salah satu aspek kejiwaan yang menarik untuk dikaji karena antara kehidupan keagamaan dan kehidupan remaja merupakan istilah yang tampak bersifat kontroversial. Istilah kehidupan keagamaan sering ditafsirkan dengan kemapanan, ketenangan dan kedamaian, sementara kehidupan remaja lebih sering dikaitkan dengan kegoncangan, pemberontakan, serta rasa penuh gejolak. Penanaman nilai nilai keagamaan menyangkut konsep tentang ketuhanan, semenjak usia dini mampu membentuk rasa agama anak mengakar secara kuat serta membentuk conscience atau kristal-kristal nilai yang berfungsi sebagai sumber nilai yang bisa mengontrol perilaku pada masa remaja yang penuh dengan gejolak dan mempunyai pengaruh sepanjang hidup
ASKETISME DALAM ISLAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI AGAMA
Hamali, Syaiful
AL-ADYAN Vol 10 No 2 (2015): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v10i2.1429
Asketisme adalah ajaran-ajaran yang menganjurkan pada umatnya untuk menanamakann nilai-nilai agama dan kepercayaan kepada Tuhan, dengan jalan melakukan latihan-latihan dan praktek-praktek rohaniah dengan cara mengendalikan tubuh dan jiwa Pada tradisi Islam, bahasan asketik bersumber pada konsep zuhud yang lahir dari tradisi tasawuf. Dalam perjalanan spiritual, zuhud merupakan langkah awal bagi orang-orang yang berjuang untuk mendapatkan kesempurnaan dan bermakrifat kepada Allah Swt Dalam persepktif historitas Islam, praktek askestik dalam Islam pada hakekatnya sudah ada sejak Rasululah Saw melakukan aktivitas bertahannust di gua Hira, ketika menerima wahyu pertama. Hal ini merupakan suatu bukti bahwa praktek asketisme dalam Islam sebagai langkah awal lahirnya kehidupan zuhud Sedangkan Zuhud itu berarti tidak merasa bangga atas kemewahan dunia yang telah mereka miliki dan tidak merasa sedih karena kehilangan kemewahan dari dirinya.
KONFLIK PADA KEHIDUPAN MASYARAKAT (Telaah Mengenai Teori dan Penyelesaian Konflik Pada Masyarakat Modern)
Rosana, Ellya
AL-ADYAN Vol 10 No 2 (2015): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v10i2.1430
Manusia adalah mahluk konfliktis yaitu mahluk yang selalu terlibat dalam perbedaan, pertentangan, dan persaingan baik secara sukarela maupun terpaksa. Hal tersebut tidak dapat dihindari karena merupakan aspek permanen dalam kehidupan sosial. Konflik pada tataran tertentu sangat diperlukan sebagai sarana perubahan manusia sebagai anggota masyarakat agar menjadi lebih baik. Pandangan kontemporer mengenai konflik didasarkan pada anggapan bahwa konflik sesuatu yang tidak dapat dielakkan sebagai konsekuensi logis interaksi manusia. Namun yang menjadi persoalan adalah bukan bagaimana meredam konflik, tapi bagaimana menanganinya secara tepat sehingga tidak merusak hubungan antarpribadi bahkan merusak organisasi. Konflik bukan dijadikan suatu hal yang destruktif, melainkan harus dijadikan suatu hal konstruktif agar kehidupan masyarakat menjadi tertib.
DAMPAK FENOMENA CLUBBING DI TINJAU DARI DIMENSI AGAMA DAN MASYARAKAT
Maulidya, Erine Nur
AL-ADYAN Vol 10 No 2 (2015): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v10i2.1431
Ketika zaman berubah dengan cepat, salah satu kelompok yang rentan untuk ikut terbawa arus adalah para remaja. Tak lain karena mereka memiliki karakteristik tersendiri yang unik: labil, sedang pada taraf mencari identitas, mengalami masa transisi dari remaja menuju status dewasa, dan sebagainya. Secara definitif remaja memiliki 2 ciri yaitu berupaya untuk mencapai tujuan dari apa yang diharapkan oleh norma budaya yang berlaku, dan tumbuh dengan cepatnya perkembangan mental, emosi dan sosial. Dalam usaha untuk mencapai kesesuaian dengan norma budaya yang berlaku, remaja seringkali mengalami benturan pemikiran dan keinginan. Sehingga melahirkan sikap-sikap pemberontakan terhadap norma-norma tersebut. Norma merupakan suatu ketetapan yang ditetapkan oleh manusia dan wajib dipatuhi oleh masyarakat dan memiliki manfaat positif bagi kelangsungan hidup khalayak. Setiap peraturan yang telah ditetapkan pasti ada sanksi bagi yang melanggar, hal itu serupa dengan norma, apapun jenis norma ada di Indonesia, pasti ada sanksi bagi yang melanggarnya.
WELAS ASIH DAN KEHARMONISAN SOSIAL
Ambara, Dewa Made Jaya
AL-ADYAN Vol 10 No 2 (2015): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v10i2.1432
Warga negara yang berkarakter welas asih bebas dari kecacatan moral, sosial, dan spiritual dalam tatanan masyarakat yang serasi antara sesama manusia dan mahluk hidup lainnya dengan dilandasi toleransi, saling menghormati, saling menghargai, kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
PENYERBUKAN SILANG ANTARBUDAYA MENURUT EDDIE LEMBONG (Suatu Perspektif Tasawuf)
Putra, Andi Eka
AL-ADYAN Vol 10 No 2 (2015): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v10i2.1433
Pencetus penyerbukan silang antarbudaya sebagai suatu tawaran dalam mendekati pluralisme di Indonesia, adalah Eddie Lembong, tokoh keturunan etnis Tionghoa dan pendiri yayasan Nabil (Nation Building). Ide penyerbukan silang antarbudaya menempatkan kebudayaan Indonesia yang beraneka ragam dapat dikelola sebagai suatu strategi dalam mengelola prluralisme di Indonesia. Budayabudaya yang unggul diserbuk-silangkan dengan budaya unggul etnis lain sehingga muncullah satu budaya alternatif. Penyerbukan silang antarbudaya (Cross Cultural Fertlization) berbeda dengan ide multikulturalisme. Praktek multikulturalisme yang diterapkan di Kanada dan Australia juga di sebagian negara-negara Eropa tidaklah cocok bila diterapkan di Indonesia. Ide multikulturalisme yang berangkat dari pandangan bahwa masing-masing budaya diberikan kebebasan untuk tumbuh berkembang sesuai dengan keunikannya masing-masing. Dalam perspektif tasawuf, strategi penyerbukan silang antarbudaya ibarat taman yang ditanami banyak pohon. Masing-masing budaya yang ada tumbuh sesuai dengan kediriannya. Tidak ada dialog batin yang mendalam apalagi usaha saling-silang dalam pendekatan tersebut.