Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Al-Adyan (ISSN 1907-1736) is a journal published by the Religious Studies, Ushuluddin Faculty, Raden Intan State Islamic Institute of Lampung, INDONESIA. Al-Adyan published twice a year. Al-Adyan focused on the Religious Studies, especially the basic antropology, local wisdom. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines.
Articles
199 Documents
METODOLOGI STUDI AGAMA-AGAMA
Zarkasi, Ahmad
AL-ADYAN Vol 11 No 1 (2016): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v11i1.1434
Studi agama adalah suatu kajian sistematis dan metodologis terhadap agama-agama yang ada sebagai kajian yang terbuka dan netral, studi agama mengkaji baik dari segi asal usul keberadaannya sebagai suatu sistem keyakinan dan kepercayaan dalam konteks hubungan antar agama. Perkembangan dalam bidang studi agama sekitar antara tahun 1859 hingga tahun 1869 yang ditandai dengan terbitnya buku Darwin “the origin of species”. Setelah tahun 1869 muncul istilah “Perbandingan Agama”(comparative relegion), sebagai padanan kata bagi istilah “Studi Agama” (the science of religion). Akan tetapi sebagai sebuah disiplin ilmu, studi agama mulai mendapat perhatian yang luas dan sungguh-sungguh dirintis sejak tahun 60-an dan 70-an, sebagai suatu disiplin keilmuan setahap demi setahap memperkuat dan memperluas statusnya sebagai ”pengetahuan ilmiah” atau ”ilmu” sejak awal mula kemunculannya, Obyek kajian ilmu agama adalah semua agama , baik agama-agama masa lalu, maupun agama-agama masa sekarang, akan tetapi untuk keberlangsungan sebuah ilmu Studi agama memerlukan juga beberapa metodologi untuk memahami sebuah agama. Oleh karena itu dalam tulisan ini akan menguraikan beberaapa metodologi studi agama-agama: Metode; Teologi, Historis, Fenomenologis, Sosiologis, Antropologi dan Psikologis.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI KOMUNIKASI INTERPERSONAL
Nasor, M.
AL-ADYAN Vol 11 No 1 (2016): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v11i1.1435
Kehidupan manusia akan selalu berinteraksi dan melakukan komunikasi (termasuk komunikasi interpersonal) dengan orang lain. Melalui komunikasi interpersonal akan selalu terjadi tatap muka yang lebih mudah dalam menyampaikan pesan. Fokus komunikasi interpersonal dalam praktiknya terdapat empat arus untuk membangun masyarakat/sumber daya manusia yaitu: memberikan infomasi/nasehat pada masyarakat atas dan bawah, membangun keberlangsungan antara orang-orang yang berada pada level yang sama dalam sebuah komunitas, dan membangun keberlangsungan antara orang-orang yang berbeda pada level yang sama dalam sebuah komunitas. Pemberdayaan masyarakat yang memiliki pribadi yang luhur membutuhkan proses pembelajaran tertentu dan porses ini tidak akan berjalan tanpa komunikasi (interpersonal) antara penentu kebijakan dengan kliennya yang disiapkan untuk menjadi masyarakat yang mandiri. Jadi dapat dipahami, kontribusi komunikasi interpersonal dalam pemberdayaan masyarakat memiliki akhlakul karimah sangatlah besar. Masyarakat tidak akan bisa menjadi kader pemberdayaan yang layak dibutuhkan oleh masyarakat mestinya tidak menafikan komunikasi interpersonal. Jenis komunikasi ini dapat berjalan secara baik dan terus menerus, dapat dikatakan bahwa penentu kebijakan dalam pemberdayaan masyarakat akan memperoleh hasil yang memuaskan.
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB RADIKALISME DALAM BERAGAMA (Kajian Sosiologi Terhadap Pluralisme Agama Di Indonesia)
Natalia, Angga
AL-ADYAN Vol 11 No 1 (2016): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v11i1.1436
Hubungan yang tercipta antara manusia dan agama adalah hubungan totalitas. Pada hakikatnya agama tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Namun, karena agama yang dianut oleh manusia bukan hanya satu, maka tentu saja akan muncul konflik yang menyatakan klaim kebenaran dari masing-masing agama yang dianut setiap orang. Pada tataran doktrin, semua agama mengajarkan kedamaian, persaudaraan, dan keselamatan. Akan tetapi, ketika doktrin tersebut diaktualisasikan oleh para pemeluknya, maka seringkali muncul kesenjangan yang pada akhirnya menyebabkan konflik yang berujung kepada tindakan-tindakan radikalisme. Hal ini disebabkan cara dan tingkat pemahaman yang dimiliki oleh masing-masing pemeluk agama berbeda satu sama lain sehingga muncul corak keberagamaan.
PERAN RELIGIUSITAS DALAM MENINGKATKAN PSYCHOLOGICAL WELL BEING
Fitriani, Annisa
AL-ADYAN Vol 11 No 1 (2016): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v11i1.1437
Psychological well being merupakan suatu konsep yang berkaitan dengan apa yang dirasakan individu mengenai aktivitas dalam kehidupannya sehari-hari dalam mengevaluasi diri sendiri dan kualitas serta pengalaman hidup. Evaluasi terhadap pengalaman akan membuat seseorang menjadi pasrah terhadap keadaan dan membuat psychological well beingnya rendah atau berusaha memperbaiki hidupnya yang akan membuat psychological well beingnya meningkat. Itu berarti tinggi rendahnya psychological well being individu, tergantung dari bagaimana individu itu sendiri secara efektif dapat mengatur sumber-sumber sekitarnya baik internal maupun eksternal dalam memaksimalkan tingkat fungsional. Salah satu yang mempengaruhi psychological well being seseorang adalah tingkat menjalankan ritual agama seseorang, yang dapat dilihat dari kualitas dan kuantitas atau disebut denga religiusitas.Beberapa teori menjelaskan adanya keterkaitan antara religiusitas dengan psychological well being yang berarti bahwa komitmen religious mempunyai hubungan dengan salah satu dimensi psychological well being yaitu hubungan positif dengan orang lain. Semakin baik komitmen religius seseorang maka semakin baik pula tingkat hubungan dengan lingkungannya kerena dengan berbagai aktivitas keagamaan maka dapat meningkatkan rasa solidaritas kelompok dan memperkuat ikatan kekeluargaan sehingga akan meningkatkan psychological well being
KARAKTERISTIK KEBERAGAMAAN REMAJA DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI
Hamali, Syaiful
AL-ADYAN Vol 11 No 1 (2016): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v11i1.1438
Masa remaja disebut juga dengan masa adoleson dinama terjadinya pematangan fungsi-fungsi psikis dan pisik yang berlangsung secara teratur, yang dikenal sebagai masa terakhir dari perkembangan masa kanak-kanak menuju masa remaja. Pada masa ini anak muda mulai melakukan intropeksi dan merenungkan dirinya sendiri. Akhir perenungan meraka menemukukan “aku”-nya . Kondisi seperti ini remaja mampu menemukan keseimbangan dan keharmonisan atau keselarasan antara sikap dari dalam dan dengan sikap dari luar dirinya. Sehingga anak muda mulai menyenangi, dan menghargai sesuatu yang bersifat historis, dan tradisi dalam kehidupannya.
HINDU, PLURALITAS DAN KERUKUNAN BERAGAMA
Mambal, Ida Bagus Putu
AL-ADYAN Vol 11 No 1 (2016): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v11i1.1439
Pluralitas adalah fakta sosial yang tak terelakkan. Sayangnya, dalam konstelasinya tidak hanya melahirkan kerjasama tetapi juga konflik. Wacana-wacana analitik menjadi sebuah gagasan yang rasional sebagai upaya preventif dan ekpektasif. Dalam kontek kerukunan beragama, partisipasi teorik dan praksis dari elemen agama menjadi signifikan dan efektif. Persamaan persepsi tentang pluralitas menjadi titik tolak penting dalam menentukan langkah-langkah strategis berikutnya. Karenanya, dialog agama adalah jalan yang ideal untuk saling mengenal dan memahami masing-masing pihak. Dari sanalah, mutiara-mutiara kebijakan terwacanakan, terungkap dan menjadi referensi penting untuk mewujudkan ekspektasi kolektif. Isu pluralitas dan kerukunan sungguh berada dalam tantangan bagi agama-agama, termasuk Hindu.
HINDU, PLURALITAS DAN KERUKUNAN BERAGAMA
Firdaus, Firdaus
AL-ADYAN Vol 11 No 1 (2016): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v11i1.1440
Pluralitas adalah fakta sosial yang tak terelakkan. Sayangnya, dalam konstelasinya tidak hanya melahirkan kerjasama tetapi juga konflik. Wacana-wacana analitik menjadi sebuah gagasan yang rasional sebagai upaya preventif dan ekpektasif. Dalam kontek kerukunan beragama, partisipasi teorik dan praksis dari elemen agama menjadi signifikan dan efektif. Persamaan persepsi tentang pluralitas menjadi titik tolak penting dalam menentukan langkah-langkah strategis berikutnya. Karenanya, dialog agama adalah jalan yang ideal untuk saling mengenal dan memahami masing-masing pihak. Dari sanalah, mutiara-mutiara kebijakan terwacanakan, terungkap dan menjadi referensi penting untuk mewujudkan ekspektasi kolektif. Isu pluralitas dan kerukunan sungguh berada dalam tantangan bagi agama-agama, termasuk Hindu.
Membangun Komunikasi Sosial Antaretnik: Perspektif Sosiologi Komunikasi
Putra, Andi Eka
AL-ADYAN Vol 12 No 1 (2017): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v12i1.1441
Konflik sosial antaretnik bukanlah fenomena baru di Indonesia. Banyak teori yang berusaha mengurai fenomena ini. Teori sosiologi komunikasi hanya salah satu cara untuk melihat lebih mendalam proses komunikasi antaretnik. Teori ini merupakan teori yang secara khusus menggeneralisasi konsep komunikasi di antara komunikator dengan komunikan yang berbeda kebudayaan, dan yang membahas pengaruh kebudayaan terhadap kegiatan komunikasi antarmanusia. Pengaruh itu bisa berupa dampak positif maupun negatif tergantung hasil dari proses komunikasi tersebut. Untuk membangun proses komunikasi sosial antaretnik, paling tidak ada tiga sumber yang bisa digunakan, yakni: pertama, sosiologi komunikasi antaretnik yang dibangun akibat perluasan teori komunikasi yang secara khusus dirancang untuk menjelaskan komunikasi intra/antar budaya. Kedua, teori-teori baru yang dibentuk dari hasil-hasil penelitian khusus dalam bidang komunikasi antarbudaya. Ketiga, teori komunikasi antaretnik yang diperoleh dari hasil generalisasi teori ilmu lain, termasuk antropologi dan agama dalam rangka mewujudkan masyarakat terbuka yang harmonis.
DINAMISASI KEBUDAYAAN DALAM REALITAS SOSIAL
Rosana, Ellya
AL-ADYAN Vol 12 No 1 (2017): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v12i1.1442
Kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan akal, dan juga diartikan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta manusia atau masyarakat. Tidak ada satu masyarakat pun yang masih hidup yang tidak mempunyai kebudayaan. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa kebudayaan selalu berubah sesuai dengan perubahan manusia dalam masyarakat, walaupun kadang-kadang masyarakat tidak menyadari perubahan yang terjadi. Perubahan kebudayaan disebabkan oleh hal-hal yang berasal dari masyarakat dan kebudayaan itu sendiri, juga dapat disebabkan adanya perubahan lingkungan alam dan fisik tempat manusia hidup. Jadi setiap kebudayaan akan selalu mengalami perubahan sesuai dengan perubahan dalam masyarakat yang menjadi wadah dari kebudayaan tersebut, karena antara kebudayaan dan masyarakat saling berhubungan dimana masyarakat itu yang menghasilkan kebudayaan sedangkan kebudayaan itu menentukan corak masyarakatnya.
PENGARUH PELATIHAN PENETAPAN TUJUAN (GOAL SETTING) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR AGAMA ISLAM PADA MAHASISWA
Setiawan, Nugroho Arief
AL-ADYAN Vol 12 No 1 (2017): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v12i1.1443
Motivasi belajar agama Islam adalah gejala psikologis dari dalam jiwa dalam bentuk dorongan pertumbuhan dan perubahan diri seseorang dalam tingkah laku baru berkat pengalaman dan latihan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki serta mendapat kepuasan. Terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi motivasi belajar agama Islam pada individu, yaitu faktor dari dalam individu (internal) dan faktor dari luar diri individu (eksternal). Faktor internal adalah adanya faktor fisiologis, faktor emosi, kebiasaan yang dapat menjadi motivator, faktor mental set, nilai dan sikap individu. Selanjutnya faktor eksternal adalah tujuan belajar, strategi belajar dan lingkungan belajar yang merangsang mahasiswa mengembangkan pemikiran ilmiahnya, penetapan tujuan, konsentrasi pada tujuan. Salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi belajar agama Islam pada mahasiswa adalah penetapan tujuan (goal setting)yaitu sebuah perlakuan yang diberikan kepada subjek dengan dasar pemikiran bahwa setiap orang memiliki suatu keinginan untuk mencapai hasil spesifik atau tujuan yang diharapkan dapat tercapai, penetapan tujuan mempengaruhi proses belajar dengan cara mengarahkan perhatian dan tindakan, memobilisasi pengerahan usaha, memperpanjang lamanya pengerahan usaha, dan memotivasi individu untuk mengembangkan strategi yang relevan untuk mencapai tujuan belajar.