cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
ISSN : 19071736     EISSN : 26853574     DOI : -
Core Subject : Education,
Al-Adyan (ISSN 1907-1736) is a journal published by the Religious Studies, Ushuluddin Faculty, Raden Intan State Islamic Institute of Lampung, INDONESIA. Al-Adyan published twice a year. Al-Adyan focused on the Religious Studies, especially the basic antropology, local wisdom. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines.
Arjuna Subject : -
Articles 199 Documents
TASAWUF DALAM PANDANGAN MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI Putra, Andi Eka
AL-ADYAN Vol 8 No 2 (2013): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ajsla.v8i2.588

Abstract

Terdapat beragam pendapat ulama ketika berbicara tentang hubungan antara shari„ ah, tarekat dan hakikat keragaman ini disebabkan oleh beberapa faktor yang mungkin saling melengkapi baik itu pendapat para akademisi ketika berbicara tentang tasawwuf ataupun para praktisi yang terus menerus menjalani dan melakoni prilaku ataupun kehidupan sufi yang mereka pelajari atau padomi dari para guru-guru mereka belajar. Tulisan ini mencoba menganggkat salah satu praktisi tasawwuf yang telah mempraktekkan kehidupan sufi dan dampaknya bagi perkembangan islam dimana tokoh ini berada.
AGAMA DAN DEMOKRASI DALAM ISLAM (Pandangan Abul A’la Maududi) Ibrahim, Ibrahim
AL-ADYAN Vol 8 No 2 (2013): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ajsla.v8i2.589

Abstract

Sebagian orang menyakini bahwa demokrasi (nilai-nilainya) mendapat pemenuhannya dalam agama (apa saja). juga sebaliknya bagi sebagian lagi, agama dan demokrasi adalah dua hal yang tidak akan klop. Kita harus memilih salah satunya sebagai sistem bernegara. Bagi mereka yang berkeyakinan opitimis dan menempatkan sistem demokrasi sebagai tujuan akhir bernegara, tak ada jalan selain terus mengupayakan dialog antara nilai-nilai inklusif dan ekslusif dari agama dengan proses demokratisasi ini. Demokrasi yang menjadi keniscayaan tidak bisa ditolak, kita harus tetap maju. Pun, bagi mereka yang ogah menerapan nilai dan sistem demokrasi, serta lebih condong ke konsensus (nilai) keagamaan sebagai dasar kehidupan publik (bernegara) akan cepat-cepat menolak upaya privatisasi agama yang dilakukan itu. Bagi mereka, tindakan privatisasi adalah salah, melanggar semangat keagamaan yang dianut: agama adalah nilai universal bagi praktis kehidupan, termasuk dalam berpolitik (bernegara). Bukan saja itu, kalangan yang berada pada posisi ini juga akan mencela upaya kalangan yang coba-coba mendialogkan antara demokrasi dan agama. Bagi sebagian penganut agama non-Kristen, misalnya, dengan tegas menolak demokrasi, sebab bagi mereka bentuk demokrasi hari ini adalah hasil interaksi dari nilai-nilai Kristen dan sekulerisme, sehingga beralasan untuk ditolak. Menerima demokrasi, tidak lain dengan mengakui klaim kebenaran ajaran kristen.
MENGENAL POKOK-POKOK AJARAN KONG HUCU Zarkasi, Ahmad
AL-ADYAN Vol 9 No 1 (2014): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ajsla.v9i1.1405

Abstract

Sebelum kelahiran Konghucu kepercayaan agama masyarakat Tiongkok adalah Taoisme dan Buddhisme, yang mengarah pada pemujaan alam, penghormatan kepada leluhur dan pemujaan langit. Kekuatan alam dikuasai oleh Yang (tenaga laki-laki) dan Yin (tenaga perempuan). Kemudian di langit bersemayam dua kekuatan, yakni Tao sebagai sumber hukum alam dan Syangti sebagai pusat alam semesta. Dalam suasana seperti itu, Konghucu lahir pada tahun 551 SM dengan julukan Tsin atau Confusius dalam bahasa latin atau Kung Fu Tse menurut ejaan Cina yang berarti Tuan Kung. Konfusionisme yang diajarkannya lebih mengarah pada filsafat keagamaan tentang etika dan susila, yang akhirnya diakui sebagai agama Nasional. Ajaran Konghucu mengandung unsur pembentukan akhlak yang mulia bagi bangsa Tiongkok. Konghucu selalu menghindari pembicaraan tentang metafisika, ketuhanan, jiwa, dan berbagai hal yang ajaib. Namun ia tidak meragukan tentang adanya Tuhan Yang Maha Esa.
KONSEPSI KETUHANAN SEPANJANG SEJARAH MANUSIA Baharudin, M.
AL-ADYAN Vol 9 No 1 (2014): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ajsla.v9i1.1406

Abstract

Diketahui bahwa manusia, sejak mula pertama pemikiran, sudah mengetahui adanya kekuatan-kekuatan yang mengatasi manusia, suatu yang dianggap Maha Kuasa, dan mendatangkan kebaikan maupun keburukan serta dapat mengabulkan doa dan ke inginan manusia. Akan tetapi hal tersebut belum dinamai Tuhan. Tetapi baru diberikan nama-nama seperti mana, numia, dewa, dan sebagainya. Dalam sejarah manusia muncul konsepsi-konsepsi tentang Tuhan beberapa rupa antara lain muncul: (1) Paham Teisme; (2) Paham Deisme (3) Paham Panteisme; (4) Paham Penenteisme. Dari empat paham tersebut tidak ada yang benar-benar memuaskan para agamawan dan filosof. Namun demikian konsepsi-konsepsi ketuhanan di atas telah memberikan sumbangan pemikiran yang konstruktif terhadap pemikiran keagamaan. Akan tetapi tidak lepas dari kelemahan dan kritik.
MELURUSKAN PEMAHAMAN PLURALISME DAN PLURALISME AGAMA DI INDONESIA Dzakie, Fatonah
AL-ADYAN Vol 9 No 1 (2014): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ajsla.v9i1.1408

Abstract

Apabila berbicara tentang pluralisme. Maka hal ini tidak dapat dipisahkan. Dengan Indonesia yang merupakan negara yang kaya akan pluralitas. Baik dari segi budaya, bahasa, dan agama. Keberadaan faham pluralisme selalu menjadi tolak ukur diterima tidaknya pluralitas itu sendiri. Pro-kontra pemahaman pluralisme di Indonesia senantiasa menjadi latar belakang munculnya konflik-konflik sosial dan yang lainnya.ketika Pluralisme dimaknai sama dengan Pluralisme Agama.Dengan ingin menyamakan makna dan tujuan dari Pluralisme ke wilayah agama tentunya sudah menyinggung areal dan kawasan lain dari kemajemukan atau Pluralitas itu sendiri,maka tak ayal Ketika MUI memberlakukan Fatwa pelarangan faham Pluralisme Agama tentu MUI tidak berdiri sendiri. Ia merupakan respon dari gejolak di masyarakat Dan ulama. Fatwa tersebut dibuat oleh para ulama ahli hukum Islam yang bertanggung jawab memelihara masyarakat. Fatwa dikeluarkan berdasarkan gejolak yang muncul dimasyarakat yang perlu diberikan kepastian hukum, dibuat berdasarkan pertimbangan-pertimbangan logis, pengamatan faktual, pengkajian rasional, hasil diskusi, ijtihad dan musyawarah. Persoalan yang muncul sebenarnya bukan soal penolakan atau penerimaan pluralisme, bukan sikap anti atau dukungan pada pluralism melainkan adanya pemahaman pluralisme yang salah kaprah atau penggunaan pluralisme untuk tujuan-tujuan tertentu yang dirasakan menyimpang dari dasar ajaran dan mengganggu ketentraman beragama.
REKONSTRUKSI GAGASAN PLURALISME AGAMA (Telaah atas Buku Pluralisme Agama, Musuh agama-agama Karya Adian Husaini) Mutaqin, Ahmad
AL-ADYAN Vol 9 No 1 (2014): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ajsla.v9i1.1409

Abstract

Membaca Buku Pluralisme Agama, Musuh agama-agama Karya Adian Husaini, yang diterbitkan oleh Dewan Da‟wah Islamiyah Indonesia, sesungguhnya kita sudah dapat menyimpulkan arah mana buku ini ditulis, dengan menempatkan Pluralisme Agama sebagai musuh, terlebih musuh Agama-agama. Memang, ketika kita mencoba memahami makna dari Pluralisme, mau tidak mau kita akan berhadapan dengan doktrin-dokrin kebenaran Agama, atau dengan kata lain berhadapan dengan klaim-klaim kebenaran masing-masing agama. Padahal klaim kebenaran pada setiap agama, dapat dikatakan sebagai sendi dasar bagi eksistensi sebuah agama, yang dengan demikian keberpihakan pada pluralisme secara tidak langsung menjadi ancaman bagi keberlangsungan sebuah agama dan kepercayaan pemeluknya.Di sisi lain, Upaya penyeragaman atau menganggap sama agama-agama adalah justeru bertolak belakang dengan prinsip Pluralisme itu sendiri, dengan kata lain prinsip mengakui adanya perbedaan keyakinan dan keunikan dari masing-masing agama justeru itu yang menjadi prinsip dari Pluralisme. Untuk itu koreksi terhadap pandangan ini juga patut untuk dilakukan, sehingga pluralisme tidak menjadi bumerang bagi pluralisme itu sendiri.
UPAYA PEMBINAAN ROHANI DAN MENTAL Firdaus, Firdaus
AL-ADYAN Vol 9 No 1 (2014): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ajsla.v9i1.1410

Abstract

Mental adalah semua unsur-unsur jiwa termasuk pikiran, emosi, sikap (attitude) dan perasaan yang dalam keseluruhan dan kebulatannya akan menentukan corak laku, cara menghadapi suatu hal yang menekan perasaan, mengecewakan atau menggembirakan, menyenangkan. Setiap makhluk yang dianugerahi potensi ruh, hati dan akal di dunia ini memiliki fitrah untuk mengabdi kepada Sang Pencipta alam semesta. Makhluk itu adalah dari bangsa Jin dan manusia. Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani. Unsur fisik yaitu berupa jasmani (raga) dan unsur psikis berupa rohaninya (jiwa). Jika unsur tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak dapat disebut sebagai individu lagi. Kedua unsur tersebut harus berjalan dengan seimbang dan harus tercukupi pemenuhannya. Kedua unsur tersebut dapat terganggu dengan adanya penyakit, khususnya penyakit rohani. Penyakit rohani tersebut tentunya akan sangat berpengaruh kepada kesehatan jasmani seseorang, serta akan berpengaruh pula pada keadaan sosialnya.
ANOMALI SIKAP REMAJA DALAM BERAGAMA Hamali, Syaiful
AL-ADYAN Vol 9 No 1 (2014): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ajsla.v9i1.1411

Abstract

Anomali sikap keagamaan menunjukkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan sikap keagamaan pada seseorang, terutama penyimpangan-penyimpangan yang bersifat negatif. Dalam perspektif psikologi agama terjadinya anomali sikap keagamaan pada individu disebabkan unsur-unsur luar yang mempengaruhi dan tercampurkan kedalam agama. Sikap keagamaan tidak terlepas dari keberadaan agama yang diyakini oleh seseorang, apabila agama telah terpolakan dalam pemikirannya, maka agama itu dianggap menjadi sesuatu yang benar dan baik.Landasan pembentukan sikap keagamaan adalah konsistensi hubungan antara fungsi-fungsi kejiwaan pada manusia dalam menyakini dan melaksanakan agamanya. Kehidupan masa remaja merupakan masa peralihan yang harus dilalui oleh setiap individu menuju masa dewasa. Secara umum,pada waktu iitu remaja mulai mencari jati-diri, untuk menemukan “Aku” nya. Disamping itu anak muda mulai melakukan introspeksi terhadap diri sendiri dalam melakukan dan mengamalkan agama yang bersifat meniru terhadap orang tua atau lingkungan.
PSIKOLOGI AGAMA : Terapi Agama Terhadap Problematika Psikis Manusia Hamali, Syaiful
AL-ADYAN Vol 9 No 2 (2014): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ajsla.v9i2.1412

Abstract

Psikologi agama mempelajari masalah-masalah kejiwaanyang ada sangkut pautnya dengan keyakinan beragamaseseorang. Dimana manusia berupaya menyembuhkangangguan kejiwaannya melalui ajaran-ajaran agama,karena agama menawarkan suatu hubungantranscendental terhadap sesuatu melalui pemujaan danupacara-upacara keagamaan yang memberikan dasaremosional bagi rasa aman dan identitas yang lebih kuat ditengah ketidakpastian, ketidakmungkinan dan kelengkaanyang dialami manusia dalam hidup dan kehidupannya.Psikologi dan agama merupakan dua unsur yang berbeda,namun keduanya saling berhubungan dan mempengaruhimanusia dalam bersikap dan bertingkah laku. Disebabkancara bersikap, berfikir dan tingkah laku seseorang tidakdapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinanyang dimiliknya itu termasuk kedalam konstruksikepribadian.
URGENSI PSIKOLOGI AGAMA DALAM PENDIDIKAN (KELUARGA, SEKOLAH DAN MASYARAKAT) Firdaus, Firdaus
AL-ADYAN Vol 9 No 2 (2014): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ajsla.v9i2.1413

Abstract

Psikologi agama menggunakan dua kata yaitu psikologi danagama. Kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda.Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yangmempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa danberadab. psikologi sekarang dipergunakan secara umumuntuk ilmu tentang tingkah laku dan pengalaman manusia.Psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikapdan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalamdiri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap,bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan darikeyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksipribadi. Banyaknya pengaruh psikologi agama dalam duniapendidikan, baik itu pendidikan dalam keluarga (in formal),pendidikan sekolah (formal) dan pendidikan dalammasyarakat (non formal). Education (pendidikan) dan jiwakeagamaaan sangat terkait, karena pendidikan tanpa agamaibaratnya bagi manusia akan pincang. Sedang jiwakeagamaan yang tanpa melalui manajemen pendidikan yangbaik, maka juga akan percuma. Pendidikan dinilai memilikiperan penting dalam upaya menanamkan rasa keagamaanpada seseorang. Umat islam akan lebih memahami danterinternalisasi esensi rasa agama itu sendiri.

Page 5 of 20 | Total Record : 199


Filter by Year

2010 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20 No 2 (2025): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 20 No 1 (2025): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 19 No 2 (2024): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 19 No 1 (2024): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 18 No 2 (2023): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 18 No 1 (2023): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 17 No 2 (2022): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 17 No 1 (2022): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 16 No 2 (2021): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 16 No 1 (2021): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 15 No 2 (2020): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 15 No 1 (2020): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 14 No 2 (2019): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 14 No 1 (2019): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 13 No 2 (2018): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 13 No 1 (2018): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 12 No 2 (2017): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 12 No 1 (2017): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 11 No 1 (2016): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 10 No 2 (2015): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 10 No 1 (2015): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 9 No 2 (2014): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 9 No 1 (2014): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 8 No 2 (2013): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 8 No 1 (2013): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 7 No 2 (2012): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 6 No 2 (2011): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 6 No 1 (2011): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Vol 5 No 1 (2010): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama More Issue