cover
Contact Name
Tri Wahyono
Contact Email
wahyonotri25@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
hsosiati@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur)
ISSN : 25803271     EISSN : 26565897     DOI : 10.18196/jmpm
Core Subject : Engineering,
Jurnal Material DAN Proses Manufaktur focuses on the research and research review in the field of engineering material and manufacturing processes. The journal covers various themes namely Design Engineering, Process Optimization, Process Problem Solving, Manufacturing Methods, Process Automation, Material research and investigation, Advanced Materials, Nanomaterials, Mechanical solid and fluid, Energy Harvesting and Renewable Energy.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2021): December" : 9 Documents clear
Kontribusi Lapisan Hidroksiapatit pada Purwarupa Implan Titanium terhadap Nilai Osseointegrasi Melalui Removal Torque Test Gunawarman, Gunawarman; Affi, Jon; Ilhamdi, Ilhamdi; Nuswantoro, Nuzul Ficky; Tjong, Djong Hon; Manjas, Menkher
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 5, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v5i2.13904

Abstract

Biomaterial titanium mulai banyak digunakan sebagai bahan implan karena mempunyai kekuatan tinggi, lentur, tahan korosi dan biokompatibilitas yang baik. Namun demikian, titanium bersifat bioinert yang membuatnya tidak bisa berinteraksi dan menyatu dengan jaringan hidup. Untuk menutup kelemahan ini, titanium perlu dilapisi dengan bahan yang mempunyai bioaktivitas tinggi seperti biokeramik hidroksiapatit (HA). Pada studi ini, pelapisan HA telah dilakukan pada purwarupa implan berbentuk sekrup yang terbuat dari paduan titanium tipe β yang relatif baru dikembangkan, yakni Ti-29Nb-13Ta-4.6Zr (TNTZ). Proses pelapisan dilakukan dengan menggunakan metode Electrophoretic Deposition (EPD). Lapisan HA pada permukaan TNTZ meningkatkan bioaktivitas implan logam ini sehingga memicu proses penyatuan implan dengan jaringan hidup (osseointegration). Parameter yang digunakan untuk menentukan nilai osseointegrasi ini adalah besarnya gaya puntiran (torsi) yang dibutuhkan untuk melepaskan sekrup dari tulang dengan menggunakan alat removal torque tester (RTT). Untuk itu, sekrup TNTZ berukuran M3x0.5 yang tidak dilapisi HA (tanpa HA) dan yang sudah dilapisi HA (lapis HA) ditanamkan pada paha atas (tibia) hewan uji mencit Rattus norvegicus Wistar kemudian dipelihara selama 2 (dua) minggu. Setelah itu, hewan uji dimatikan, dan besaran torsi untuk melepaskan masing-masing sekrup dari tibia mencit diukur dengan alat RTT tersebut, dan dilanjutkan dengan analisis histopatologi pada jaringan bekas pemasangan implan. Hasil studi menunjukkan bahwa implan TNTZ dengan lapis HA memiliki nilai osseointegrasi yang jauh lebih tinggi (470%) dari implan tanpa HA. Analisis histopatologi menunjukkan bahwa proses pembentukan jaringan baru (osteogenesis) yang jauh lebih banyak pada jaringan tulang yang dipasangi implan TNTZ lapis HA dibandingkan dengan tanpa HA. Disamping itu, adanya lapisan  HA pada permukaan implan juga mampu mengurangi reaksi inflamasi yang berlebihan pada jaringan tulang hewan uji dalam waktu yang relatif singkat.Titanium biomaterials are starting to be widely used as implant materials because they have high strength, flexibility, corrosion resistance and good biocompatibility. However, titanium is bioinert which makes it unable to interact and blend with living tissue. To cover this weakness, titanium needs to be coated with a material that has high bioactivity such as hydroxyapatite (HA) bioceramic. In this study, HA coating was carried out on a screw-shaped implant prototype made of a relatively recently developed -type titanium alloy, namely Ti-29Nb-13Ta-4.6Zr (TNTZ). The coating process is carried out using the Electrophoretic Deposition (EPD) method. The HA layer on the TNTZ surface increases the bioactivity of these metallic implants thereby triggering the process of implant integration with living tissue (osseointegration). The parameter used to determine the osseointegration value is the amount of torsion required to remove the screw from the bone using a removal torque tester (RTT). For this reason, TNTZ screws measuring M3x0.5 which were not coated with HA (without HA) and which had been coated with HA (HA coated) were implanted in the upper thigh (tibia) of Rattus norvegicus Wistar mice and then reared for 2 (two) weeks. After that, the test animals were turned off, and the magnitude of the torque to remove each screw from the tibia of mice was measured with the RTT device, and continued with histopathological analysis of the implanted tissue. The results of the study showed that TNTZ implants with HA coating had a much higher osseointegration value (470%) than implants without HA. Histopathological analysis showed that the process of new tissue formation (osteogenesis) was much more abundant in bone tissue with HA-coated TNTZ implants compared to those without HA. In addition, the presence of an HA layer on the surface of the implant was also able to reduce the excessive inflammatory reaction in the bone tissue of the test animals in a relatively short time.
Studi Termodinamika Pembakaran Kombinasi Batu Bara dan Biomassa Limbah Riyanto, Hendi; Hardianto, Toto; Adriansyah, Willy; Jeffry, Gavriel Y
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 5, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v5i2.13903

Abstract

Pembakaran bersama batubara dan biomassa di pembangkit listrik tenaga batubara yang ada sedang dipertimbangkan sebagai alternatif yang layak untuk transisi pemanfaatan energi yang tidak terbarukan ke terbarukan. Dalam hal ini, berbagai penelitian telah dilakukan dalam dua puluh tahun terakhir, yang sebagian besar kesimpulan umum adalah bahwa efisiensi boiler menurun sehubungan dengan peningkatan persentase biomassa dalam co-firing, namun studi tambahan dianggap diperlukan, terutama untuk limbah biomassa yang melimpah di Indonesia. Biomassa limbah yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah tandan kosong kelapa sawit (TKKS), sekam padi, dan wood pellet yang dihasilkan dari serbuk gergaji. Karakteristik termodinamika pembakaran co-firing yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah air-to-fuel ratio (AFR), emisi CO2 pembakaran, dan temperatur nyala adiabatik. Sebuah open source Cool Prop formulasi sifat termodinamika diimplementasikan untuk mengevaluasi sifat termodinamika bahan yang sesuai yang terlibat dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AFR menurun dengan bertambahnya komposisi biomassa dalam bahan bakar, dimana laju perubahan masing-masing AFR per persen biomassa adalah -0,018, -0,0406, dan -0,026 untuk campuran batubara-TKKS, batubara-sekam padi, dan batubara-kayu. Adapun karakteristik AFR, emisi karbon dioksida menurun dengan meningkatnya persen massa biomassa dalam komposisi bahan bakar. Laju perubahan CO2 sehubungan dengan persen biomassa dalam komposisi bahan bakar adalah masing-masing -6.3x10-3, -1.12x10-2, dan -6.48x10-3 untuk campuran batubara-TKKS, batubara-sekam padi, dan batubara-kayu. Suhu nyala adiabatik juga menurun sehubungan dengan peningkatan persentase massa biomassa dalam komposisi bahan bakar. Laju perubahan suhu nyala adiabatik dalam K/%biomassa berturut-turut adalah -13,93, -10,70, dan -12,81 untuk campuran TKKS batubara, sekam padi, dan kayu batubara.Co-firing of coal and biomass in an existing coal fired power plant is being considered as a viable alternative to transition from non-renewable-to-renewable energy utilization. In this regard, various researches have been conducted in the last twenty years, in most of which the general conclusion is that the boiler efficiency decreases with respect to increasing biomass percentage in co-firing, nonetheless, additional study is deemed to be required, especially for waste biomass which are abundantly available in Indonesia. The waste biomass to be employed in this study are palm empty fruit bunch (EFB), rice husk, and wood pellet produced from sawdust. Co-firing combustion thermodynamic characteristics which are to be deployed in this study are air-to-fuel ratio (AFR), combustion CO2 emission, and adiabatic flame temperature. An open source CoolProp of thermodynamics properties formulations were implemented in order to evaluate thermodynamic properties of corresponding materials involved in this study. The results of the study show that AFR decreases with increasing biomass composition in the fuel, where the AFR rate of change per percent of biomassa are -0.018, -0.0406, and -0.026 for blend of coal-EFB, coal-rice husk, and coal-wood, respectively. As to the AFR characteristic, the emission of carbon dioxide is decreasing with increasing percent mass of biomass in the fuel composition. The CO2 rate of change with respect to percent biomass in fuel composition are -6.3x10-3, -1.12x10-2, and -6.48x10-3 for the blend of coal-EFB, coal-rice husk, and coal-wood, respectively. The adiabatic flame temperature is also decreasing with respect to increasing biomass mass percentage in fuel composition. The adiabatic flame temperature rate of change in K/%biomass are -13.93, -10.70, and -12.81 for the blend of coal-EFB, coal-rice husk, and coal-wood, respectively.
Perancangan dan Pembuatan Propeller Perahu Nelayan Dengan Metode Investment Casting Pola Lilin dan Cetakan Pasir Andhika Krismaintya Putera; Agus Suprihanto; Yusuf Umardani
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 5, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v5i2.11774

Abstract

Propeller atau baling-baling adalah salah satu bagian yang penting dalam perahu nelayan. Geometri propeller yang rumit membuat proses permesinan sulit untuk dilakukan dan memerlukan banyak biaya. Tujuan penelitian Tugas Akhir ini adalah membuat propeller perahu nelayan dengan metode investment casting untuk mengurangi proses permesinan dan mendapatkan geometri produk yang akurat. Selain itu menganalisa geometri, kerataan dan cacat yang mungkin terjadi pada produk akhir pengecoran. Pemodelan dilakukan pada jenis propeller perahu nelayan yang sudah ditentukan. Cetakan master die propeller dibuat menggunakan material silicone rubber RTV 497. Cetakan investment casting yang digunakan berbahan pasir silika mesh 10 -30 dan mesh 80-100, gypsum, serta alumina. Pola lilin yang digunakan berbahan lilin parafin. Cetakan investment casting dilakukan proses sintering pada suhu 250°C selama 30 menit. Material pengecoran yang digunakan adalah aluminium paduan Al-Si yang dileburkan pada suhu 770°C. Hasil penelitian menunjukkan pada produk pengecoran ditemukan penyusutan sebesar 2.95 – 8.08 % dengan menggunakan alat ukur vernier caliper dan 2.83 – 8.34 % dengan pengukuran 3D Scan. Pada pengukuran kerataan permukaan daun propeller ditemukan perbedaan tingkat kerataan permukaan daun propeller disebabkan karena propeller coran mengalami penyusutan dan cacat kekasaran erosi. Hasil identifikasi cacat pengecoran menunjukkan pada pemeriksaan visual ditemukan cacat ekor tikus, sirip, lubang jarum, membengkak, penetrasi logam, salah alir dan kekasaran erosi. Sedangkan pada pemeriksaan dengan cairan dye penetrant ditemukan cacat rongga penyusutan dan udara.
Analisis Karakteristik Aliran Fluida Melewati Model Sayap Pesawat Swayasa Nasaruddin Salam; Rustan Tarakka; Jalaluddin Jalaluddin; Sarwan Sarwan
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 5, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v5i2.13902

Abstract

Pesawat swayasa adalah pesawat eksperimental, di mana setidaknya 51% dari suku cadang pesawat dibuat oleh amatir dan tidak diproduksi di pabrik. Untuk itu tema penelitian ini adalah menentukan model sayap pesawat swayasa. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana karakteristik model sayap pesawat swayasa, berapakah koefisien lift (Cl) dan koefisien drag (Cd), dan bagaimana model sayap yang optimal dari pesawat swayasa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab permasalahan yang disebutkan di atas. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan Computational Fluid Dynamics (CFD) dan program eksperimen. Pendekatan eksperimental dilakukan di terowongan angin di Laboratorium Mekanika Fluida, Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, Gowa. Model sayap pesawat independen adalah model airfoil NACA 23012, dengan memodifikasi rasio ketebalan terhadap chord (t/c) pada t/c = 9%, t/c = 12%, dan t/c = 15%. Selanjutnya masing-masing model diberi perlakuan kecepatan aliran bebas (U) sebesar 40 m/s, dengan variasi angle of attack (α) -20˚, -15˚, -10˚, -5˚, 0˚, 5˚ , 10˚, 15 , dan 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan t/c ratio meningkatkan nilai Cl maksimum. Untuk nilai maksimum Cl diperoleh pada = 150 yaitu pada t/c = 9%, Cl = 1,4299, pada t/c = 12%, Cl = 1,4466, dan pada t/c = 15 %, Cl = 1,4979 . Cl/Cd maksimum sebesar 1,4999 diperoleh pada t/c = 15 % dan = 5˚, dengan demikian model sayap pesawat swayasa yang paling sesuai adalah model airfoil NACA 23012 dengan t/c = 15 %.Homebuilt aircraft are experimental aircraft, of which at least 51% of the aircraft parts are amateur-built and not manufactured in factory. For this reason, the theme of this research is to determine the wing model of a homebuilt aircraft. The formulation of the problem in this study is how the characteristics of wing model of  a homebuilt aircraft, how much is the lift coefficient (Cl) and drag coefficient (Cd), and what is the optimal model of the wing of a homebuilt aircraft. The purpose of this research is to answer the problems mentioned above. This research method uses Computational Fluid Dynamics (CFD) and experimental program approach. The experimental approach was carried out in a wind tunnel at the Fluid Mechanics Laboratory, Faculty of Engineering, Hasanuddin University, Gowa. The wing model of the independent aircraft is the NACA 23012 airfoil model, by modifying the thickness to chord ratio (t/c) at t/c = 9 %, t/c = 12 %, and t/c = 15 %. Furthermore, each model was treated with a freestream velocity (U) of 40 m/s, with variations in the angle of attack (α) -20˚, -15˚, -10˚, -5˚, 0˚, 5˚, 10˚, 15˚ , and 20˚. The results showed that the addition of the t/c ratio increased the maximum Cl value. For the maximum value of Cl obtained at = 150, namely at t/c = 9%, Cl = 1.4299, at t/c = 12 %, Cl = 1.4466, and at t/c = 15 %, Cl = 1 ,4979. The maximum Cl/Cd is of 1.4999 obtained at  t/c = 15 % and α = 5˚, thus the most suitable homebuilt aircraft wing model is the NACA 23012 airfoil model with t/c = 15 %.
Corrosion monitoring of friction welded joints results between low carbon steel-SS 202 Ahmad Kafrawi Nasution; M Arif Fadillah; Legisnal Hakim
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 5, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v5i2.14110

Abstract

Pada penelitian ini, pemantauan korosi dilakukan pada sambungan las gesekan baja karbon rendah dan baja tahan karat austenitik (SS 202) yang disimulasikan dalam larutan biologis. Penelitian ini bertujuan menghitung laju korosi sambungan las gesek baja karbon rendah dan SS 202 serta mengevaluasi kekasaran permukaan yang terjadi pada zona pengelasan. Dari hasil sambungan las, dibuat sampel uji korosi dengan mewakili zona pengelasan. Sebelum perendaman, permukaan sampel dibersihkan dan dipoles sebelum perendaman menggunakan larutan elektrolit NaCl 0,9wt.%. Percobaan dijalankan pada 2, 4, 6, dan 8 minggu masing-masing sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju korosi sambungan las gesek baja karbon rendah dan SS 202 tertinggi sebesar 0,0167 mm/tahun, dan terendah 0,0127 mm/tahun. Pada saat yang sama, area sambungan las yang memiliki kekasaran permukaan tertinggi terjadi pada zona plastis. Disimpulkan bahwa seluruh zona pengelasan menunjukkan potensi korosi yang seragam kecuali zona plastis yang menunjukkan perilaku korosi galvanik.   ABSTRACT In this study, corrosion monitoring was carried out in the friction welded joint of low carbon steel and austenitic stainless steel (SS 202) simulated in a biological solution. This study aims to calculate the corrosion rate of friction welding joints of low carbon steel and SS 202 and evaluate the surface roughness that occurs in the welding zone. From the results of welded joints, corrosion test samples were made by representing the welding zone. Prior to immersion, the surface of the sample was cleaned and polished before immersion using a 0.9wt.% NaCl electrolyte solution. Experiments were run at 2, 4, 6, and 8 weeks of each sample. The results showed that the corrosion rate of friction welding joints for low carbon steel and SS 202, the highest was 0.0167 mm/year, and the lowest was 0.0127 mm/year. At the same time, the welded joint area that has the highest surface roughness occurs in the plasticized zone. It was concluded that the entire welding zone showed uniform corrosion potential except for the plasticized zone, which showed galvanic corrosion behavior.
Pengujian Rumah Pengering Daun Kelor dengan Efek Rumah Kaca (Solar Dryer) Melalui Variasi Kecepatan Udara Verdy Ariyanto Koehuana; Kristianus Yosafat Goab; Muhamad Jafri
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 5, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v5i2.13899

Abstract

Proses pengeringan menggunakan pengering surya ultraviolet berupa pengering efek rumah kaca memiliki biaya operasional yang relatif rendah, sehingga berpotensi untuk dikembangkan dalam teknologi pengeringan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji parameter kinetik pengering daun kelor melalui variasi kecepatan udara keluar dari rumah pengering. Berat daun kelor yang akan dikeringkan dibagi rata ke dalam tiga rak pengering di rumah pengering dengan beban pengeringan yang sama yaitu 4,76 kg/m2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan variasi kecepatan keluar yaitu 0,5 m/s, 1,0 m/s, dan 1,36 m/s kekurangan energi panas yang cukup untuk mengubah mekanisme perpindahan panas konveksi pada pengering menjadi konveksi paksa. Sedangkan efisiensi pengeringan meningkat dengan bertambahnya kecepatan aliran keluar, karena kondisi saluran masuk yang tidak diatur sehingga aliran udara masuk yang membawa uap air (terutama saat mendung) meningkatkan kelembaban udara di dalam pengering. perumahan termasuk kadar air bahan dan secara bersamaan mengurangi laju pengeringan dan efisiensi rumah pengering.The drying process using an ultraviolet solar dryer in the form of a greenhouse effect dryer has relatively low operating costs, so it has the potential to be developed in food drying technology. This study aims to test the kinetic parameters of the Moringa leaf dryer through variations in air velocity leaving the dryer house. The weight of the Moringa leaves to be dried is divided evenly into three drying racks in the drying house with the same drying load, which is 4.76 kg/m2. The results showed that with variations in the exit velocity, namely 0.5 m/s, 1.0 m/s, and 1.36 m/s, they lacked sufficient thermal energy to change the convection heat transfer mechanism in the dryer into forced convection. While the drying efficiency increases with the increase in the velocity of the outflow, due to the condition of the inlet that is not regulated so that the inlet airflow carrying water vapor (especially when it is cloudy) increases the humidity of the air in the dryer housing including the moisture content of the material and simultaneously reduces the drying rate and efficiency of the dryer housing.
Pengaruh Torefaksi terhadap Pencucian Potassium dalam Konversi Tandan Kosong Kelapa Sawit menjadi Bahan Bakar Padat Ramah Lingkungan Ari Akbariyanto Wenas; Toto Hardianto
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 5, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v5i2.14109

Abstract

Pada tahun 2018, 37,5 juta ton tandan kosong kelapa sawit (TKKS) diproduksi di Indonesia dan berpotensi untuk digunakan sebagai bahan bakar padat. Namun, ada dua masalah utama dalam penggunaan TKKS sebagai bahan bakar padat, yaitu nilai kalor yang rendah dan kandungan kalium yang tinggi. Oleh karena itu, EFB perlu melalui beberapa proses terlebih dahulu yaitu torrefaction dan washing. Namun, ketika torrefaksi dilakukan terlebih dahulu diperkirakan dapat mempengaruhi kinerja pelindian kalium. Metode studi literatur digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui pengaruh torrefaksi terhadap pelindian kalium TKKS. Penelitian diawali dengan pengumpulan data torrefaction dan leaching dengan perlakuan perendaman dan pengadukan yang dilakukan pada TKKS dari berbagai sumber. Data tersebut kemudian dianalisis dan disimpulkan menjadi 4 zona dekomposisi, yaitu zona rendah (100℃ ≤T200℃ ), zona sedang (200℃ ≤T≤250℃ ), zona tinggi (250℃ T≤330), dan zona ekstrem (T330℃ ). Berdasarkan hasil analisis, TKKS pada zona rendah dan zona sedang dipilih sebagai zona yang sesuai untuk dilakukan torrefaksi pada TKKS karena nilai kalor TKKS dapat mencapai nilai kalor batubara peringkat Lignite A, sedangkan untuk zona sedang telah setara dengan batubara peringkat C sub-bituminus. Berdasarkan nilai kalor yang dapat dicapai dengan mempertimbangkan proses leaching yang tepat untuk diterapkan, torrefaksi pada 200℃  dianggap dapat menghasilkan produk torrefaksi yang optimal untuk TKKS. Kemudian, untuk menurunkan kadar kalium pada zona rendah dan sedang hingga suhu bias 230℃ , perlakuan perendaman terbukti dapat menurunkan kadar kalium rata-rata 52,2%. Untuk mengoptimalkan penurunan kandungan kalium, TKKS perlu direndam pada suhu lingkungan dengan perbandingan air cucian terhadap biomassa 30:1 selama minimal 15 menit.   ABSTRACT In 2018, 37.5 million tons of palm oil empty fruit bunches (EFB) were produced in Indonesia and have the potential to be used as solid fuel. However, there are two main problems in using EFB as a solid fuel, which are low heating value and high potassium content. Therefore, EFB needs to go through several processes first, namely torrefaction and washing. However, when torrefaction is carried out first is thought to be able to affect the potassium leaching performance. The literature study method was used in this study to investigate the influence of the torrefaction on the potassium leaching of EFB. The research is begun by gathering data of torrefaction and leaching by soaked and stirred treatment, carried out on EFB from various sources. Then, the data is analyzed and concluded into 4 decomposition zones, namely the low zone (100℃≤T200℃), the moderate zone (200℃≤T≤250℃), the high zone (250℃T≤330℃), and the extreme zone (T330℃). Based on the results of the analysis, TKKS in the low zone and the moderate zone are selected as the appropriate zone to do torrefaction on EFB because the heating value of EFB could achieve Lignite A rank coal heating value, while for the medium zone has been equivalent to sub-bituminous C rank coal. Based on the heating value that can be achieved while considering the right leaching process to be applied, torrefaction at 200℃ is considered could produce the optimal torrefaction products for EFB. Then, to reduce the potassium content in low and moderate zones to a refractive temperature of 230℃, the soaked treatment has been proven to reduce potassium content by an average of 52.2%. As for optimizing the reduction in the potassium content, EFB needs to be soaked at environmental temperatures with a ratio of washing water to the biomass of 30:1 for at least 15 minutes.
Pengaruh Variasi Temperatur Sinter Terhadap Kualitas Produksi Magnesium AZ31 Dengan Tube Furnace Herlina, Ulin; Yusuf, Muhammad; Sukmana, Irza
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 5, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v5i2.12461

Abstract

Dalam penelitian ini, pengaruh variasi temperatur sinter terhadap sifat fisik dan mekanik magnesium AZ31 diujikan. Bahan dasar dibentuk dari geram bubut Magnesium AZ31 dan dikompaksi sebelum akhirnya dilakukan proses sintering dengan alat tube furnace. Proses sintering dilakukan pada berbagai temperatur yang dipilih, yaitu: 400oC, 450oC, 500oC, dan 550oC. Suhu sinter 400oC menghasilkan densitas tertinggi sebesar 1,82 gram/cm3 dan porositas terendah 0,54%, sedangkan suhu sinter 550oC menghasilkan densitas terendah sebesar 1,70 gram/cm3 dan porositas tertinggi 6,88%. Selanjutnya, angka kekerasan tertinggi adalah 41,49 kgf pada suhu sinter 400oC dan terendah 21,74 pada suhu sinter 550oC. Angka densitas dan kekerasan suhu 400oC tersebut disebabkan oleh ukuran butir paduan magnesium yang relatif besar dan memanjang dengan kerapatan yang baik dibandingkan yang lain, sesuai pengamatan gambar struktur mikro sample. Berdasarkan hasil uji scanning electron microscopy (SEM) dan energy dispersive        X-Ray analysis (EDX), ditemukan adanya retakan produk hasil sinter pada suhu 550oC. Hasil penelitian ini menunjukkan semakin tinggi suhu sinter, semakin kecil dan banyak pori yang terbentuk sehingga menyebabkan nilai densitas dan kekerasan yang menurun. Berdasarkan hasil yang didapat, selanjutnya dapat dilakukan pengujian menggunakan alat cor tekan (squeeze casting) untuk meningkatkan kualitas sifat mekanik dan fisik produk pengecoran magnesium AZ31.
Karakteristik Perubahan Temperatur Bagian Pendingin Selama Sirkulasi Alam untuk Kondisi Tunak pada Untai Uji FASSIP-02 A.R, Esa Putra; Giarno, Giarno; P, Adhika Enggar; K, G.B. Heru; A.A, Andrea Shevaladze; Juarsa, Mulya
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 5, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v5i2.14064

Abstract

Tangki pendingin merupakan salah satu bagian dari fasilitas FASSIP-02 Test Loop Strand yang merupakan sistem pendingin untuk melepaskan panas ke lingkungan. Fasilitas eksperimental skala besar FASSIP-02 Test Loop Strand dibangun untuk pengembangan sistem keamanan berbasis pendinginan pasif yang memanfaatkan aliran sirkulasi alami. Salah satu hal yang menarik untuk dibahas adalah proses pemanasan, tunak, dan pendinginan yang terjadi pada bagian pendinginan selama percobaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan karakteristik historis dari perubahan suhu selama proses transien pemanasan, keadaan tunak, dan transien pendinginan di bagian pendinginan. Metode penelitian dilakukan secara eksperimental dengan perubahan kondisi awal setting temperatur air pada bagian pemanasan bervariasi dari 40 0C, 50 0C dan 60 0C. Semua pengukuran dilakukan selama 24 jam menggunakan sistem akuisisi data instrumentasi nasional dengan sampling rate 1 data per detik. Percobaan dilakukan dengan cara memanaskan suhu air di dalam heater sampai mencapai setting suhu yang ditentukan, kemudian mempertahankan suhu pada keadaan tunak selama 5 jam. Selanjutnya, daya listrik ke pemanas dimatikan dan sistem dibiarkan dingin secara alami saat merekam data. Hasil yang diperoleh setelah data percobaan diolah dengan program grafik Orgin 8, dimana diperoleh waktu yang diperlukan untuk mencapai kondisi tunak pada berbagai temperatur 40 0C, 50 0C dan 60 0C adalah 1291 detik, 2392 detik dan 3504 detik, masing-masing. Perubahan temperatur antara inlet dan outlet pada cooler berturut-turut adalah 5,43 0C, 9,67 0C dan 12,62 0C.   ABSTRACT The cooling tank is one part of the FASSIP-02 Test Loop Strand facility which is a cooling system to release heat to the environment. The FASSIP-02 Test Loop Strand large-scale experimental facility was built for the development of passive cooling based safety systems utilizing natural circulating flows. One of the interesting things to discuss is the heating, steady and cooling proCesses that occur in the cooling section during the experiment. The aim of the study was to obtain historical characteristics of temperature changes during the heating transient proCess, steady state and cooling transients in the cooling section. The research method was carried out experimentally with changes in the initial conditions of setting water temperature in the heating section variation from 40 0C, 50 0C and 60 0C. All measurements were carried out for 24 hours using the national instrumensasit data acquisition system with a sampling rate of 1 data per second. The experiment was carried out by heating the water temperature in the heater until it reached the specified temperature setting, then maintaining the temperature at steady state for 5 hours. Next, the electrical power to the heater is turned off and the system is allowed to cool naturally while recording data. The results obtained after the experimental data were proCessed with the Orgin 8 graph program, where it was obtained that the time required to reach steady conditions at various temperatures of 40 0C, 50 0C and 60 0C were 1291 seconds, 2392 seconds and 3504 seconds, respectively. Changes in temperature between the inlet and outlet in the cooler are 5.43 0C, 9.67 0C and 12.62 0C, respectively.

Page 1 of 1 | Total Record : 9