cover
Contact Name
Putra Afriadi
Contact Email
putraafriadi12@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
hartono_sukorejo@yahoo.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Catharsis
ISSN : 25024531     EISSN : 25024531     DOI : -
Catharsis: Journal of Arts Education provides an international forum for research in the field of the art and creative education. It is the primary source for the dissemination of independently refereed articles about the visual arts, performances (music, dance, drama/theater/play), creative process, crafts, design, and art history, in all aspects, phases and types of education contexts and learning situations (formal and informal).
Arjuna Subject : -
Articles 506 Documents
PENDIDIKAN DAMAI DALAM PEMBELAJARAN VOKAL BERBASIS PENDIDIKAN KARAKTER PADA PADUAN SUARA SUNADESIS DI MALUKU Pattipeilohy, Misye
Catharsis Vol 4 No 2 (2015)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan karakter merupakan salah satu faktor yang dapat menciptakan perdamaian karena manusia banyak belajar untuk menuju perubahan yang lebih baik. Salah satu bentuk pendidikan nonformal yang dipilih oleh peneliti untuk pembentukan  karakter adalah paduan Suara Sunadesis melalui  penggunaan metode hukuman, hadiah, dan metode outbound dalam pembelajarannya. Tujuan dari penelitian ini adalah pertama, menganalisis pendidikan damai dalam membentuk teknik  vokal dan mendidik karakter individual paduan suara Sunadesis; kedua,  menemukan nilai-nilai pendidikan dalam pembelajaran vokal paduan suara Sunadesis. Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan kriteria derajat kepercayaan yaitu perpanjangan keikutsertaan dan triangulasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan simpulan/verifikasi teori. Hasil penelitian menunjukan bahwa pendidikan damai melalui metode  hukuman dan outbound dapat membentuk teknik bernyanyi, diantaranya adalah pernapasan, resonansi, dan register. Sedangkan untuk karakter individual, mampu mendidik karakter religius, disiplin, hormat, jujur dan bertanggung jawab. Motivasi melalui hadiah merupakan bentuk penghargaan kepada anggota paduan suara yang mengalami  perkembangan karakter vokal dan karakter individual. Dengan adanya perubahan-perubahan yang terjadi melalui metode dalam pendidikan damai maka dapat menemukan nilai-nilai agama, budaya, moral dan estetika untuk  menciptakan perdamaian dalam hubungannya dengan Tuhan, sesame, dan lingkungan alam.Character education is one factor to create peace since human being learn a lot to lead to a better change. One of non-formal education forms which is chosen by researcher to build character is Sunadesis choir through making use of punishment and reward method and outbound method in its learning. The aims of this research are: (1) to analyse peace education to shape vocal technique and to educate Sunadesis choir’s individual character; (2) to find out education values in learning vocal of Sunadesis choir. This study uses qualitative method. The data collection technique used is observation, interview and document study. The data reliability used extended participation, thorough observation, and triangulation. Technique of data analysis which is data reduction, data presentation, and conclusion/verification of theory. The result of this study shows that peace education through punishment and reward method can create singing techniques such as respiration, resonance, and register. Whereas for individual character is to able to teach character value especially religious character, discipline, respect and responsible. Motivation through rewards is appreciation to the members of the choir who experienced vocal character development and individual character.
EKSISTENSI TARI TOPENG IRENG SEBAGAI PEMENUHAN KEBUTUHAN ESTETIK MASYARAKAT PANDESARI PARAKAN TEMANGGUNG Pujiyanti, Nunik
Catharsis Vol 2 No 1 (2013)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eksistensi Tari Topeng Ireng ditunjukkan dengan seringnya tampil pentas, sehingga dapat memberikan hiburan masyarakat dari pertunjukan yang indah, bahkan berdampak sebagai pencitraan bagi si penanggap. Tujuan penlitian ini adalah (1) menjelaskan nilai-nilai estetik yang terkandung dalam Tari Topeng Ireng di Pandesari Parakan Temanggung, (2) menjelaskan eksistensi Tari Topeng Ireng sebagai pemenuhan kebutuhan estetik masyarakat Pandesari Parakan Temanggung. Penelitian ini mengunakan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi, dan perekaman. Analisis data menggunakan analisis data Miles dan Huberman meliputi penyajian data, reduksi data dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan (1) Nilai estetik Tari Topeng Ireng terdapat gerak, pola lantai, iringan, tata rias dan kostum. Gerak yang ditunjukkan dengan bersifat energik, dinamis, ekspresif dan atraktif. Pola lantai terlihat dinamis karena variasi arah hadap, level dan perpindahan penari. Iringannya ritmis, menghentak, lagu-lagunya lebih variatif. Alat musiknya sudah menggunakan ornamen hiasan yang lebih indah. (2) Eksistensi Tari Topeng Ireng ditunjukkan dari dampak pemenuhan kebutuhan estetik yaitu pencitraan, penyaluran hobi.  Existence Topeng Ireng Dance indicated by the frequent performing stage, so as to provide the entertainment community of wonderful performances, even as the impact of imaging for the responders. This interesting study because of the existence of Topeng Ireng Dance in Temanggung got a good position in the hearts of the people. This study uses qualitative. Note was collected using observation, interviews, documentation, and recording. Analysis of the data using the model of Miles and Huberman data analysis that includes data presentation, data reduction and verification. Results showed The value of the aesthetic movement there Topeng Ireng Dance, floor patterns, accompaniment, makeup and costumes. Motion is indicated with an energetic, dynamic, expressive and attractive. Floor pattern looks dynamic due to variations in the direction toward. Rhythmic accompaniment, stomping, more songs fariatif.The existence of a Topeng Ireng Dance Ireng indicated that the impact on the aesthetic needs of imaging, hobby.
STUDI KOMPARATIF WAYANG GOLEK PURWA KHAS KUNINGAN DAN SUMEDANG JAWA BARAT DALAM ANALISIS SEMIOTIK TAHUN 2007 SAMPAI 2010 Hadijah, Ijah
Catharsis Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PEMANFAATAN UNSUR-UNSUR ARSITEKTUR RUMAH TRADISIONAL SEBAGAI UPAYA MENEGASKAN IDENTITAS PADA BANGUNAN MODERN DI KUDUS -, Rofian
Catharsis Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Kudus memiliki rumah tradisional yang disebut joglo pencu. Memiliki ciri khas, keunikan tersendiri yang menjadikan sebagai ciri identitas kabupaten Kudus. Masyarakat Kudus memiliki kewajiban untuk menjaga dan melestarikan warisan ini,  namun dengan berbagai permasalah yang ada dan temuan-temuan dilapangan bahwa masyarakat kabupaten Kudus memiliki cara tersendiri dalam melestarikan rumah tradisional Kudus dengan cara memanfaatkan unsur-unsur tradisi yang diaplikasikan pada bangunan-bangunan modern. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan mendeskripsikan hasil temuan dilapangan. Hasil penelitian menjelaskan wujud pemanfaatan unsur-unsur seni arsitektur rumah tradisional Kudus pada bangunan modern di Kudus adalah dengan cara mengambil beberapa unsur-unsur pada rumah tradisional Kudus diataranya adalah: (1) bagian atap dan tiang penyangga / joglo pencu dan tumpang sari,  (2) gebyog jagasatru, (3) pintu gebyog jagasatru, (4) tiang pengapit gebyog dan jendela gapura. Alasan yang dikemukakan oleh beberapa masyarakat adalah bagaimana cara mereka melestarikan rumah tradisional Kudus. Inilah yang menjadi pilihan bagi masyarakat kabupaten Kudus dalam memberikan tekanan pada bangunan-bangunan modern yang dibuatnya. Kudus regency has a traditional house called joglo pencu.  Has a characteristic , unique to make a feature the district s identity of Kudus. Society of Kudus has an obligation to protect and preserve this heritage, but with the various problems that exist and findings in the field that the community Kudus regency has its own way of preserving traditional houses of Kudus  by utilizing elements of tradition applied to modern buildings. The study used a qualitative approach to describe the findings of the field. The results of the study describes the use of a form of art elements of traditional architecture of the Kudus in modern buildings by taking some elements of the traditional home of the Kudus, including : (1) the roof and pillar / Joglo pencu and tumpang sari,  (2)  gebyog jagasatru, (3) the door of gebyog jagasatru, (4) tiang pengapit gebyog dan jendela gapura. The reason given by some of the people is how they preserve the traditional home of the Kudus. This is an option for people in the Kudus district put pressure on the modern buildings are made.
RESISTENSI LARAS MADYA DUSUN SUCEN DESA TRIHARJO KECAMATAN SLEMAN YOGYAKARTA Adzkia, Sagaf Faozata; Sunarto, Sunarto; Hartono, Hartono
Catharsis Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laras Madya Dusun Sucen adalah seni musik tradisi Islam Jawa yang mengadopsi teks Serat Wulangreh karya Pakubuwono IV sebagai syairnya. Instrumen pengiring Laras Madya terdiri dari kendang, terbang dhana, terbang gong, dan sharon dua bilahan/kenthing. Permasalahan pada penelitian ini adalah bagaimana dominasi budaya massa pada Laras Madya Dusun Sucen? dan bagaimana proses resistensi Laras Madya Dusun Sucen?. Pendekatan pada penelitian ini adalah interdisiplin ilmu sosio-antropologi. Menggunakan metode kualitatif. Lokasi penelitian di Dusun Sucen, Desa Triharjo, Kecamatan Sleman, Yogyakarta. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi dokumen. Teknik keabsahan data secara utama menggunakan triangulasi sumber. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis isi dan analisis data interaktif. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Adanya dominasi budaya massa pada lingkup kelompok Laras Madya Dusun Sucen melalui media massa. (2) Adanya proses resistensi melalui bentuk keorganisasian dalam kelompok.
RELEVANSI GERAK TARI BEDAYA SURYASUMIRAT SEBAGAI EKSPRESI SIMBOLIK WANITA JAWA Pramesthi Putri, Rimasari; Lestari, Wahyu; Iswidayati, Sri
Catharsis Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gerak Tari Bedhaya Suryasumiratmenunjukan ekspresi simbolik wanita Jawa dikarenakan nilai-nilai ideal yang menjadi salah satu acuan karakter seorang wanita Jawa yang dapat ditemukan melalui penggalian dari gerak yang memiliki makna.  Metode yang digunakan kualitatif, data dikumpulkan dengan cara observasi partisipasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Data dianalisis mengacu teori Barthes 2009. Triangulasi digunakan sebagai pengabsahan data.Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk gerak tari Bedhaya Suryasumirat antara lain kapang-kapang, sembahan, anglir mendung, ukel karna, lumaksana ridhong sampur. Gerak tari Bedhaya Suryasumirat dimaknai dengan Wanita Jawa seyogyanya bersikap semeleh, andap asor, lembah manah, dan nyawiji Gusti murbeng dumadi. Ekspresi yang tercermin dalam Wanita Jawa meliputi mituhu, merak ati, pangreksa, tatas, titis, mrantasi.Berdasar hasil penelitian, maka disarankan penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan bagi penari dalam mengekspresikan gerak sesuai dengan makna
Musik Gondang Batak Horas Rapolo dalam Proses Penggunaanya untuk Berkesenian pada Upacara Adat Pernikahan Batak Toba di kota Semarang Lubis, May Sari; Wadiyo, Wadiyo
Catharsis Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Musik Gondang Batak adalah musik tradisi yang berasal dari Sumatera Utara. Musik Gondang Batak ini dikembangkan oleh grup Horas Rapolo di Kota Semarang dan digunakan sebagai musik pengiring dalam berbagai acara dan upacara adat khususnya dalam upacara adat pernikahan di Kota Semarang. Grup musik Gondang Batak dalam mengiringi upacara adat lahir dari sebuah  tindakan nyata yang dilakukan antar individu dan kelompok (penikmat). Masalah penelitian ini adalah bagaimana proses penggunaan musik Gondang Batak dalam upacara adat pernikahan di Kota Semarang? Pendekatan yang diterapkan penelitian ini adalah disiplin ilmu sosiologi. Kajian sosiologi dalam teori tindakan sosial Max Weber akan digunakan untuk mengkaji tindakan sosial dalam  proses  penggunaan  musik  Gondang  Batak  grup  Horas  Rapolo  pada  Upacara  adat pernikahan di Kota Semarang. Metode yang digunakan adalah kualitatif. Lokasi penelitian di Taman Budaya Raden Saleh, Kota Semarang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi dokumen. Teknik keabsahan data secara utama menggunakan triangulasi  sumber.  Teknik analisis  data  yang  digunakan  adalah  analisis  isi  dan analisis  data interaktif. Hasil penelitian menunjukkan, adanya interaksi  dari situasi  sosial yang melahirkan pemikiran subjektif sehingga adanya respon serta tanggapan kepada penikmat dalam upacara adat pernikahan tersebut.
CALUNG SEBAGAI MEDIA EKSPRESI PENGAMEN JALANAN “JAWARA MUSIK” DI KABUPATEN TEGAL Yulistio, Anggun
Catharsis Vol 2 No 1 (2013)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengamen Calung  jalanan ”Jawara Musik” merupakan grup pengamen jalanan yang berbeda dengan para pengamen yang biasa dijumpai di jalan-jalan. Bentuk penyajian dari grup pengamen calung jalanan ”Jawara Musik” berbeda dengan pengamen yang lainnya. Analisapenelitian ini melalui langkah-langkah: (1) reduksi data, (2) penyajian data, (3) verifikasi atau kesimpulan. Temuan penelitian menemukan bahwa grup pengamen calung “Jawara Musik” menggunakan calung sebagai instrumen musik dalam kegiatan mengamen. Grup ini didirikan melalui kesepakatan para pemuda untuk mengisi keluangan waktu mereka yang pada akhirnya dijadikan sebagai sarana pencarian nafkah. Proses komunikasi yang lancar antar kedua belah pihak akan membuat Interaksi semakin baik dan pada akhirnya kedua belah pihak akan mendapatkan keuntungan masing-masing. Calung street musician “jawara Music” is a group of street musicians that a quite different to another street musicians we have seen before. Research method is qualitative because the data disclosed by or presented data outlining the words of actions of people and events observed were consistent with the fact that is an accurate and systematic. Throught research analysis steps: (1) data reductions, (2) the presentsation of the data, (3) verification or conclusions.Findings of the study found that the group of street musician used calung as a media of expression. They also have other objectives, one of them is to help preserve the Indonesian traditional art. In the activity of singing, there is also an interaction between the singers of calung Jawara Music with the audiences. A well communication between them will make a better interaction and eventually both of them will get their own benefits.
ESTETIKA DAN SIMBOL DALAM WUWUNGAN MAYONGLOR SEBAGAI WUJUD SPIRITUAL MASYARAKAT Darmawanto, Eko
Catharsis Vol 4 No 2 (2015)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wuwungan merupakan bentuk simbol yang mewakili sebuah maksud yang ingin wujudkan melalui material baik bersifat aplikatif ataupun bersifat murni estetis. Bentuk yang terangkum dalam wuwungan merupakan salah satu wujud yang merepresentasikan hal tersebut akan tetapi masih banyak kajian yang harus ditelusuri terlebih karya wuwungan merupakan bentuk yang merepresentasikan percampuran budaya. Pola konstruksi, bentuk serta implementatif terhadap atap bangunan adalah sistem yang perlu dibedah, dikaji dan dikomparasikan sebagai wujud untuk mengetahui seberapa jauh terkait antara unsur spritual, masyarakat dan pengguna wuwungan. Kualitatif merupakan metode yang peneliti gunakan dengan pendekatan formalitas yang melihat sosok sebagai fokus utamanya. Wuwungan Mayonglor merupakan gambaran kreasi imajinatif dari alam pikiran tidak sadar dan dituangkan dengan bentuk simbol dengan mengusung estetis dimana keindahan bersifat terpusat atau berakar dari tuhan penyatuan antara makrokosmos dan mikrokosmos atau salah satu diantaranya sebagai wujud ungkapan spiritual masyarakatnya.Wuwungan are symbols that represent a purpose to be realized trough both object are aplicable and are purely aesthetic. form are summarized in wuwungan is one of manifestation are display it, but still many of studies should explore first to know wuwungan is a form that represents the meaning of culture.patern of shape and construction of the building are implementable system that need to be studied and dissected olso compare as form to find out how much related between the spiritual element of the wuwungan user and society. Kualitatif research is a method used with formalities approach to see form as the main focus. Mayonglor wuwungan is an overview of imaginative creation of the mind is unconscious and poured symbolic form of engagement with the lifting aestetic where beauty is centralized or rooted in divine union of the macrocosm and micrososm or one of them as form of spiritual expresison society.
FUNGSI MUSIK DALAM KESENIAN KUNTULAN KUDA KEMBAR DI DESA SABARWANGI KECAMATAN KAJEN KABUPATEN PEKALONGAN SEBAGAI SARANA INTEGRASI SOSIAL Bahatmaka, Antama; Lestari, Wahyu
Catharsis Vol 1 No 2 (2012)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Page 2 of 51 | Total Record : 506