cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies
ISSN : 22526447     EISSN : 25274597     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies (IJCETS) publish two major themes on educational technology and curriculum studies
Arjuna Subject : -
Articles 186 Documents
Teachers’ Perception on Students’ Learning Style and Their Teaching Agustrianita, Agustrianita; Suherdi, Didi; Purnawarman, Pupung
Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies Vol 7 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcets.v7i1.26727

Abstract

Lack of teachers’ understanding in students’ learning styles and their teaching could cause unfacilitated teaching methods for example through the use of traditional lecturing methods. This issue brings the importance of this research objective to investigate teachers’ perceptions about learning style, their teaching, and the applied methods in the classroom. This study uses a quantitative research approach that is the analysis of learning style types for different students at different grade levels. To find out the perceptions of English teachers in this study, information was collected through 20 closed questions with data analysis to find out how the learning style influenced the teaching learning process of 28 English teachers. The findings of this study suggest that teachers’ understand about students’ different learning styles, so they adopt their students’ learning styles to their teaching. The last, teachers agree to use group discussion rather than lecturing methods by integrating ICT. In conclusion, teachers’ perception on students’ learning styles can increase their awareness to design teaching methods that differentiate students’ learning styles. Abstrak Kelangkaan pemahaman guru mengenai gaya belajar siswa dan bagaimana cara mengajarnya yang tepat dapat disebabkan oleh metode mengajar yang tidak bersifat fasilitatif, misalnya masih berupa perkuliahan tradisional. Oleh karena itu, penting untuk meneliti persepsi guru mengenai gaya belajar, cara mengajarnya, dan implementasinya di kelas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang fokus pada beragam gaya belajar siswa pada kelas-kelas yang berbeda. Infomasi diperoleh dengan memberikan 20 pertanyaan tertutup untuk mencari tahu bagaimana gaya belajar memengaruhi proses pembelajaran di kelas Bahasa Inggris (28 guru). Penelitian ini menemukan bahwa guru memahami keragaman gaya belajar siswa, sehingga mereka mengadopsi gaya belajar siswa dalam pengajaran mereka. Guru juga sepakat menggunakan kelompok diskusi ketimbang perkuliahan tradisional dengan mengintegrasikan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Dapat disimpulkan bahwa persepsi guru terhadap gaya belajar siswa meningkatkan kepedulian mereka dalam mengembangkan metode mengajar yang beragam sesuai keragaman belajar siswa. Keywords: Students’ learning style, teaching style
Fostering Sport Sciences Students’ Academic Achievement through Peer Oriented Instruction Birhan, Amare Tesfie; Chekol, Chalachew
Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies Vol 7 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcets.v7i1.26907

Abstract

The purpose of this study was to examine the perception of students, peer assisters and the department head towards peer assisted instruction. It also aimed to investigate the extent of its implementation in sport sciences department and challenges which hamper its effectiveness. The subjects were peer assisters, tutees and the department head. They were selected through purposive sampling technique. Questionnaire, interview and focus group discussions were employed as data gathering instruments. The findings indicated that tutees, peer assisters and the department head have positive perceptions toward peer assisted learning instruction. They perceived that peer assisted instructional approach helps learners to develop their academic achievement, to enhance their social interaction skills and to manage their psychological difficulties. However, the practices were limited to activities such as doing assignments and project works, sharing their learning and studying experience. The data also revealed that factors such as lack of tutees motivation, lack of facilities, lack of support from the department, lack of peer assister tutoring experience were the observed challenges which affect students’ engagement in peer assisted instructional model. Abstrak Kajian ini bertujuan untuk menelisik persepsi siswa, tutor sebaya dan pimpinan lembaga mengenai implementasi tutor sebaya dalam pembelajaran. Selain itu juga bertujuan untuk mengetahui implementasi dan tantangannya dalam bidang ilmu olah raga. Subjek penelitian ini meliputi para tutor sebaya, peserta program tutorial (tutee), dan kepala lembaga. Semua subjek diseleksi menggunakan teknik purposive sampling. Kuesioner, wawancara, dan diskusi terfokus juga dilakukan untuk mengumpulkan data. Penelitian ini menemukan bahwa tutee, tutor sebaya, dan kepala lembaga memiliki persepsi positif terhadap pembelajaran tutor sebaya. Mereka menyatakan bahwa pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan kemampuan akademik, kecakapan sosial, dan dapat juga mengatasi hambatan psikologis siswa. Bagaimanapun juga, praktik pembelajaran ini masih sebatas pada aktivitas mengerjakan tugas dan pembelajaran berbasis proyek, termasuk juga berbagi pengalaman belajar mereka. Penelitian ini juga menemukan bahwa beberapa faktor seperti motivasi tutee, ketiadaan fasilitas, kurangnya dukungan dari lembaga, dan kurangnya pengalaman tutor teman sebaya turut memengaruhi keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Keywords: academic achievement; challenges; perception; peer assisted instruction; sport science
What Type of Curriculum Development Models Do We Follow? An Indonesia’s 2013 Curriculum Case Palupi, Dyah Tri
Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies Vol 6 No 2 (2018): November 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcets.v6i2.26954

Abstract

This article identifying the Indonesi’s 2013 curriculum policy from several types of curriculum development models such as Tyler, Taba, Wheeler, Nicholls & Nicholls, Tanner & Tanner, Stenhause, Cornbleth and Doll. By analyzing carefully the ofcial curriculum policy the author conclude that the 2013 curriculum could be classifed as a “new” type of curriculum which is more eclectic by following the idea curriculum as praxis. The eclectic mode of the curriculum could be trace from its orientation to accommodate lots of idea from various curriculum development models from Tyler to Doll, for instance 2013 curriculum still has a tendency to control the standard of the learning outcome, content and process, but in other hand this curriculum encourages to develop a more contextual curriculum design for all of the schools throughout Indonesia. The 2013 curriculum also makes a compromise between outcome/competency-based and process-based curriculum design in which sometimes make the assessment process become a little bit difcult for the teachers at schools. Abstrak Artikel ini mengkaji Kurikulum 2013 dari berbagai jenis model-model pengembangan kurikulum, seperti model Tyler, Taba, Wheeler, Nicholls & Nicholls, Tanner & Tanner, Stenhause, Cornbleth, dan Doll. Dengan mengkaji secara teliti dokumen-dokumen resmi kebijakan Kurikulum 2013 penulis menyimpulkan bahwa Kurikulum 2013 dapat dikategorisasikan sebagai bertipe “baru” yang lebih bersifat eklektik dengan mengikuti gagasan kurikulum sebagai praksis. Kecenderungan eklektik dari kurikulum ini dapat dilihat dari orientasinya yang mencoba untuk mengakmodasi banyak gagasan dari beberapa model pengembangan kurikulum dari Tyler hingga Doll. Misalnya, Kurikulum 2013 masih menggunakan perspektif standardisasi sebagai mekanisme control terhadap mutu lulusan, muatan kurikulum, dan proses pembelajaran, tapi di sisi lain Kurikulum 2013 juga mengarahkan sekolah-sekolah untuk mengembangkan kurikulum yang sifatnya kontekstual. Kurikulum 2013 juga mengkompromikan antara desain kurikulum berbasis luaran/kompetensi dan berbasis proses yang terkadang justru menyulitkan para guru dalam melakukan penilaian hasil belajar siswa di sekolah. Keywords: Contextual curriculum; curriculum as praxis; curriculum development; eclectic model; the Indonesia’s 2013 national curriculum
Teachers’ Perception Related to the Implementation of Curriculum 2013 Mitra, Delsi; Purnawarman, Pupung
Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies Vol 7 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcets.v7i1.27564

Abstract

The curriculum 2013 is the latest Indonesia curriculum that requires students to have 4 C’s learning (Critical thinking, Collaboration, Creativity and Communica-tion) as demanding of 21st century need. Especially for vocational school students, they have to be mastered in English as one of requirement for them to be involved in workforce. In the curriculum 2013 includes three main aspects that need to be measured; the implementation of core competence, the implementation the process of teaching and learning process and the implementation of assessment process. This study employed open-ended and close-ended questionnaires that analyzed statistically and descriptively. The finding of this study revealed the three aspects of the curriculum 2013 is well implemented yet the training and teacher development program are needed for the teachers to master the whole aspects this curriculum. Further, any attention from the students to the demands of this curriculum is also needed. Thus, it is recommended an effective and efficient trainings or in-house training of the 2013 curriculum for English teachers. Abstrak Kurikulum 2013 merupakan kurikulum nasional terbaru di Indonesia yang menuntut siswa untuk menguasai empat kecakapan Abad 21, yaitu berpikir kritis, kolaborasi, kreativitas, dan komunikasi. Terutama bagi sekolah kejuruan, siswa harus menguasai Bahasa Inggris sebagai salah satu tuntutan dunia kerja. Dalam Kurikulum 2013 terdapat tiga aspek yang perlu diukur, yaitu (1) implementasi kompetensi inti, (2) implementasi proses pengajaran dan pembelajaran, dan (3) implementasi proses penilaian hasil belajar. Penelitian ini menggunakan kuesioner terbuka dan tertutup yang hasilnya kemudian dianalisis menggunakan statistic deskriptif. Penelitian ini menemukan bahwa tiga aspek dari Kurikulum 2013 telah diterapkan dengan baik, namun tetap memerlukan program pelatihan dan pengembangan guru untuk menguasai keseluruhan aspek kurikulum. Kedepannya, perhatian dari siswa terhadap tuntutan dari kurikulum ini juga diperlukan. Oleh karena itu, in-house training Kurikulum 2013 yang efektif dan efisien direkomendasikan untuk guru Bahasa Inggris. Keywords: core competence English teacher; perception; the 2013 curriculum; vocational school
Pengembangan Desain Kurikulum Maritim di Jepara Farchan, Achmad; Muhtadi, Ali
Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies Vol 7 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcets.v7i1.27973

Abstract

This research aims to develop maritime curriculum design in accordance with the needs of the maritime community on the coast of Jepara. The curriculum model used in this research was the D.K. Wheeler by employing several steps including selecting the goals, selecting the learning experiences, selecting the content, organizing the learning experiences and evaluating the process. The techniques of data collection in this research were observations and interviews. Data were analyzed using descriptive-qualitative. Based on the results of the study, curriculum design based on maritime consist of five indicators that need to be considered, the curriculum design should (1) aiming to develop marine potential; (2) based the content on the reality of people’s lives; (3) using a problem solving approach; (4) developing students’ life skills and (5) encouraging community participation. The learning experinces that need of the maritime community are technology-based fishing techniques, processing of catches, catching preservation techniques, management of salt ponds, ship engine engineering and fishing gear innovations. Abstrak Penelitian ini bertujuan mengembangkan desain kurikulum bidang kemaritiman yang relevan dengan kebutuhan masyarakat maritim di pesisir pantai Jepara. Model pengembangan desain kurikulum yang digunakan adalah model D.K Wheeler. Langkah penelitian pengembangan ini meliputi seleksi tujuan, seleksi pengalaman belajar, seleksi konten, pengorganisasian pengalaman belajar, dan evaluasi. Teknik pengumpulan data berupa observasi dan wawancara. Analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian, setidaknya desain kurikulum bidang kemaritiman memuat lima indikator yaitu; (1) bertujuan mengembangkan potensi kelautan; (2) konten kurikulum berdasarkan pada realitas kehidupan masyarakat; (3) menggunakan pendekatan pemecahan masalah; (4) mengembangkan keterampilan hidup peserta didik; dan (5) mendorong partisipasi masyarakat. Sedangkan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan masyarakat maritim diantaranya teknik melaut berbasis teknologi, pengolahan hasil tangkap, teknik pengawetan hasil tangkap, pengolahan tambak garam, teknik mesin kapal, dan inovasi alat tangkap. Keywords: curriculum deisgn; maritime community; coast of Jepara
Need Assessment of Developing Android Application for English Learning in Digital Era Purbasari, Rosalinda Ayu; Suryani, Nunuk; Ardianto, Deni Tri
Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies Vol 7 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcets.v7i1.29146

Abstract

This changing era demanded innovative strategy in all aspect, especially in education. This research was a need assessment which aimed to analyze the need of An-droid application for English learning in Senior High School in Magelang Regency, Central Java. To collect the data, interviewing English teachers and distributing the questionnaire to the students were conducted. Based on the result of the interview, as a facilitator, teachers needed assistants to assist the students in learning English. In this case, technology was needed. It was supported by the data that there were 82,5% students owned smartphone and 95% of them agreed that using Android application was more interesting. There was 63% of the students spent their time more than 6 hours per day with their smartphone. Thus , it could be concluded that nowadays, it is urgently needed to develop Android application to support English self assessed learning in this digital era. Abstrak Perubahan era menuntut adanya strategi yang inovatif di segala aspek kehidupan, terutama pendidikan. Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan yang bertujuan untuk menganalisa kebutuhan aplikasi Android untuk mendukung pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Untuk mengumpulkan data, metode yang dilakukan adalah wawancara dengan guru Bahasa Inggris dan membagikan kuesioner kepada siswa. Dari hasil wawancara, disebutkan bahwa, sebagai fasilitator, guru membutuhkan asisten untuk memantau siswa dalam belajar secara mandiri. Oleh karena itu, peran teknologi dibutuhkan dalam hal ini. Data menunjukkan bahwa siswa yang memiliki smartphone berjumlah 82,5% dan 95% dari mereka setuju bahwa kegiatan belajar mandiri menggunakan aplikasi Android lebih menarik. Hal ini didukung dengan intensitas siswa dengan smartphone yaitu 63% dari mereka menghabiskan waktu lebih dari 6 jam sehari untuk berinteraksi menggunakan smartphone. Maka dari itu, di era digital seperti sekarang ini, aplikasi Android penting untuk dikembangkan guna mendukung pembelajaran Bahasa Inggris secara mandiri. Keywords: android application; educational technology, English learning, need assessment; self-assessed learning
The Development of Gamelan Learning Media for Android Operating System Yudana, Nisa Puspaningtyas; Wahyono, Sugeng Bayu
Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies Vol 7 No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcets.v7i2.29443

Abstract

Gamelan is one of the most important traditional music instruments of Javanese culture, but it is too expensive for schools to have it. In order to enhance student awareness, sense of belonging and skills on playing Gamelan, this research tried to develop a learning media for Android operating system. By employing research and development (R & D) approach the development process of this research refers to Alessi & Trollip (2001). Adobe flash has been used as a basis of the media development and after several process (planning, design, and development) the learning media is ready to use, because the post-test indicated an increased student score on their understanding and beginner skills on playing Gamelan. At least, this learning media become an alternative way to learn Gamelan traditional music instrument by using Android. Abstrak Gamelan merupakan salah satu instrumen musik tradisional yang paling penting dari budaya Jawa, tetapi terlalu mahal bagi sekolah untuk memilikinya. Untuk meningkatkan kesadaran siswa, rasa memiliki dan keterampilan bermain Gamelan, penelitian ini mencoba mengembangkan media pembelajaran untuk sistem operasi Android. Dengan menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan (R&D) proses pengembangan penelitian ini mengacu pada metode yang dikembangkan oleh Alessi & Trollip (2001). Berikutnya, Adobe Flash telah digunakan sebagai dasar pengembangan media dan setelah beberapa proses (perencanaan, desain, dan pengembangan) media pembelajaran ini siap untuk digunakan, hal itu karena hasil post-test menunjukkan peningkatan skor siswa pada pemahaman dan keterampilan mereka sebagai pemain pemula dalam memainkan Gamelan. Setidaknya, media pembelajaran ini menjadi cara alternatif untuk mempelajari alat musik tradisional Gamelan dengan menggunakan Android.
Sosiologi Kurikulum Membuka Mata Mengenai Relasi Pengetahuan dan Kekuasaan Subkhan, Edi
Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies Vol 6 No 2 (2018): November 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcets.v6i2.29577

Abstract

Kaitan antara kurikulum dan berbagai kepentingan yang berasal dari masyarakat, dunia kerja, dan negara yang menimbulkan beberapa masalah dan kontroversi tersebut sejatinya menunjukkan bahwa kurikulum tidak dapat hanya dipahami sebagai hal teknis belaka. Terdapat dimensi lain, yakni dimensi sosial yang akan lebih memberikan gambaran utuh mengenai kurikulum sebagai ruang pertarungan banyak kepentingan. Di titik inilah, kehadiran perspektif sosial terhadap kurikulum sangat penting. Buku karya Rakhmat Hidayat (2011) berjudul “Pengantar Sosiologi Kurikulum” terbitan RajaGrafndo Persada jadi relevan kehadirannya. Buku yang diberi pengantar oleh dua sosiolog dan pedagog kritis, yakni Jean Louis Derouet dan Peter McLaren ini terhitung lengkap membahas pengertian dasar dan tema-tema sosiologi kurikulum bagi pembaca pemula.
Index & Acknowledgement Team, Editorial
Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies Vol 6 No 2 (2018): November 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcets.v6i2.29739

Abstract

Using Smartphone to Enhance Student’s Digital Art Literacy Paramitha, Ega Shintia Gaya
Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies Vol 7 No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcets.v7i2.31655

Abstract

Digital native students need digital art literacy to deal with the contemporary development of art and technology. This article illustrates how smartphone can be used as a powerful tool for that purpose. When student get bored with textual learning approach to study art, simply using smartphone could make learning practice more fun and meaningful. In this article, students in junior public high school 8 in Pare, East Java, grade 8, are directed to create a simple illustration using Sketchbook application on smartphone. It is quite simple, but the process behind the product was made student really enjoy and could express their artistic taste and expression. Thus, smartphone optimazion can be one way among others to encourage student’s digital art literacy which are more enjoyful and meaningful. Abstrak Siswa yang lahir di era digital membutuhkan literasi seni digital untuk menghadapi perkembangan seni dan teknologi kontemporer. Artikel ini menggambarkan bagaimana telepon pintar dapat diguankan sebagai media yang cukup kuat untuk menunjang tujuan tersebut. Ketika banyak siswa bosan dengan pembelajaran seni yang tekstual saja, cukup dengan menggunakan telepon pintar ternyata dapat membuat pembelajaran lebih menyenangkan dan bermakna. Pada artikel ini, siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 di Pare, Jawa Timur, kelas 8, diarahkan untuk membuat karya seni berupa ilustrasi sederhana menggunakan aplikasi Sketchbook di telepon pintar. Hal ini cukup sederhana sebenarnya, namun proses di balik hasil akhir berupa produk ilustrasi tersebut telah benar-benar membuat siswa menikmati dan dapat mengekspresikan ekspresi dan selera seni masing-masing. Oleh karena itu, optimalisasi telepon pintar dapat menjadi salah satu di antara banyak cara lain untuk mendorong peningkatan literasi seni digital siswa yang lebih menyenangkan dan bermakna.