cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol 29, No 2 (2017): Agustus" : 22 Documents clear
Indeks PUFA pada ibu hamil yang datang ke Puskesmas Puter, Bandung, IndonesiaPUFA index of pregnant women who came to the Puter Community Health Center, Bandung, Indonesia Raynuary, Nury; Suwargiani, Anne Agustina; Suryanti, Netty
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.12 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i2.18572

Abstract

Pendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut yang buruk pada ibu hamil dapat memberikan dampak negatif pada perkembangan janin. Indeks yang digunakan untuk menilai akibat klinis dari karies yang tidak dirawat yaitu Indeks PUFA yang mencatat keparahan karies gigi dengan keterlibatan pulpa (P), ulser akibat trauma dari gigi (U), fistula (F) dan abses (A). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kriteria Indeks PUFA pada ibu hamil di Puskesmas Puter Bandung. Metode: Penelitian deskriptif dengan metode survei dan pengambilan sampel yang dilakukan dengan teknik simple random sampling. Jumlah sampel penelitian 96 ibu hamil yang datang memeriksakan kehamilan di Puskesmas Puter Bandung. Data diperoleh dengan cara pemeriksaan klinis terhadap rongga mulut ibu hamil dan dicatat pada formulir pemeriksaan untuk Indeks PUFA lalu diolah dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil: Sebanyak 90,95% hasil penelitian menunjukkan subjek dengan komponen P, sebanyak 6,38 komponen U, sebanyak 2,12% komponen F, dan sebanyak 0,53 komponen A. Simpulan: Mayoritas ibu hamil di Puskesmas Puter memiliki indeks PUFA dengan kategori buruk. ABSTRACTIntroduction: Poor oral and dental health in pregnant women can have a negative impact on fetal development. The index used to assess the clinical consequences of untreated caries is the PUFA Index which records the severity of dental caries with pulp involvement (P), ulcer due to trauma from the tooth (U), fistula (F) and abscess (A). This study aims to determine the PUFA Index criteria for pregnant women in Bandung Puter Health Center. Methods: Descriptive research with survey and sampling methods carried out by simple random sampling technique. The number of samples of the study were 96 pregnant women who came to have a pregnancy check up at the Bandung Puter Health Center. Data obtained by clinical examination of the oral cavity of pregnant women and recorded on the examination form for the PUFA Index then processed and presented in table form. Result: A total of 90.95% of the results showed subjects with component P, as many as 6.38 components of U, as much as 2.12% of component F, and as many as 0.53 components of A. Conclusion: The majority of pregnant women in Puter Health Center had a PUFA index with bad category.Keywords: PUFA index, untreated caries, pregnant women.
Pemanfaatan ekstrak etil asetat buah merah sebagai zat pengganti pewarna primer pada teknik pengecatan tunggal bakteri gram negatif batangUtilization of ethyl acetate extract of Pandanus conoideus lam. as substitution for simple staining techniques of gram-negative rods bacteria Rahayuningtyas, Achsanul Dzuriyati; Dewi, Warta; Sudjarwo, Indrati
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.009 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i2.18583

Abstract

Pendahuluan: Buah merah merupakan salah satu buah yang banyak terdapat di Indonesia, terutama di daerah Papua. Buah merah (Pandanus conoideus Lam) mengandung karoten dan betakaroten yang menyebabkan warna merah yang sangat pekat pada buah merah. Tujuan penelitian untuk memanfaatkan ekstrak etil asetat buah merah sebagai pengganti zat pewarna primer bakteri gram negatif batang pada teknik pengecatan tunggal. Metode: Penelitian dilakukan secara deskripstif dengan cara melakukan teknik pengecatan tunggal. Pertama, dibuat biofilm tipis Escherichia coli sebagai objek penelitian pada kaca preparat, kemudian ekstrak etil asetat buah merah diteteskan diatasnya sebagai penganti zat warna karbol fuchsin (pewarna primer). Hasil pengecatan tunggal dilihat di bawah mikroskop dan data hasil pengecatan di tabulasikan atau dicatat pada tabel. Hasil: Ekstrak etil asetat buah merah tidak dapat mewarnai bakteri gram negatif batang. Simpulan: Ekstrak etil asetat buah merah tidak dapat digunakan sebagai zat warna pengganti pewarna primer pada proses pengecatan tunggal bakteri gram negatif batang. ABSTRACTIntroduction: Red fruit is one of fruits in Indonesia, especially in the Papua region. Red fruit (Pandanus conoideus Lam) contains carotene and betacarotene which causes a very thick red color on the red fruit. The purpose of this study was to utilize ethyl acetate extract of red fruit as primary dye substitute for simple staining techniques of Gram-negative rod bacteria. Methods: The study was carried out descriptively by doing a simple staining technique. First, a thin biofilm of Escherichia coli as a study object was made on a object glass, then the ethyl acetate extract of red fruit was dripped over it as a substitute for fuchsin carbolic dye (primary dye). The results of a simple staining are seen under a microscope and the results are tabulated or recorded in the table. Result: Ethyl acetate extract of Red fruit cannot stain gram-negative rod bacteria. Conclusion: ethyl acetate extract of red fruit cannot be used as a dye substitute for primary dye in the process of simple staining gram-negative rod bacteria.Keywords: Pandanus conoideus Lam, Escherichia coli, simple staining.
Perbedaan pola rugae palatina sebelum dan sesudah perawatan dengan alat ortodonti lepasanDifferences in palatal rugae patterns before and after the removable orthodontic appliances treatment Saputra, Sintia; Mardiati, Endah; Pribadi, Indra Mustika Setia; Malinda, Yuti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.451 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i2.18573

Abstract

Pendahuluan: Pola rugae palatina memiliki karakteristik yang unik pada setiap individu, yang dapat dijadikan sarana identifikasi individu di bidang forensik kedokteran gigi, namun berbagai kontraversi muncul mengenai karakteristik rugae palatina secara kualitatif dan kuantitatif sesudah dilakukan perawatan ortodonti. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pola rugae palatina sebelum dan sesudah perawatan dengan alat ortodonti lepasan. Metode: Penelitian bersifat observasional dengan sampel penelitian terdiri dari 111 model studi sebelum dan sesudah dilakukan perawatan ortodonti. Teknik sampling adalah purposive sampling, dari pasien maloklusi dento-alveolar kelas I, usia 18-30 tahun di RSGM FKG Unpad. Data penelitian dideskripsikan dan dianalisis dengan uji statistik Wilcoxon (ɑ = 0,05) untuk mengetahui perbedaan pola rugae palatina sebelum dan sesudah perawatan ortodonti. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan, ukuran rugae palatina sebelum dilakukan perawatan terbanyak adalah rugae primer (85.2%), rugae sekunder (13.4%), rugae fragmen (1.37%), sesudah perawatan rugae primer (85.5%), rugae sekunder (13.2%), rugae fragmen (1.3%). Berdasarkan arah, rugae palatina sebelum perawatan arah postero-anterior (44.5%), antero-posterior (38.6%), sesudah perawatan arah posterior-anterior (44.9%), antero-posterior (38.3%). Arah perpendikular (8.7%) dan berbagai arah (8.2%) baik sebelum maupun sesudah perawatan. Uji beda menunjukan, tidak terdapat perbedaan signifikan sebelum dan sesudah perawatan ortodonti. Simpulan: Pola rugae palatina yang sering muncul sebelum dan sesudah perawatan ortodonti adalah rugae primer dengan arah postero-anterior, tidak terdapat perbedaan signifikan sebelum dan sesudah perawatan ortodonti. ABSTRACTIntroduction: Palatal rugae patterns have unique characteristics in each individual, which can be used as a means of identifying individuals in the field of dentistry forensics, but various contraceptives arise about the characteristics of palatal rugae qualitatively and quantitatively after orthodontic treatment. The purpose of this study was to determine the differences in palatal rugae patterns before and after treatment with removable orthodontic devices. Methods: The study was observational with a study sample consisting of 111 study models before and after orthodontic treatment. The sampling technique was purposive sampling, from class I dento-alveolar malocclusion patients, aged 18-30 years at FKG Unpad Hospital. The research data was described and analyzed by Wilcoxon statistical test (ɑ = 0.05) to determine differences in palatal rugae patterns before and after orthodontic treatment. Results: The results showed that the size of palatal rugae before treatment was the primary rugae (85.2%), secondary rugae (13.4%), fragment rugae (1.37%), after primary rugae treatment (85.5%), secondary rugae (13.2%) , rugae fragment (1.3%). Based on direction, palatal rugae prior to postero-anterior (44.5%), antero-posterior (38.6%) treatment, after posterior-anterior (44.9%), antero-posterior (38.3%) treatment. Perpendicular direction (8.7%) and various directions (8.2%) both before and after treatment. Different tests showed that there were no significant differences before and after orthodontic treatment. Conclusion: The palatal rugae pattern that often occurs before and after orthodontic treatment is the primary rugae with postero-anterior direction, there are no significant differences before and after orthodontic treatment.Keywords: Odontological forensics, orthodontic treatment, palatal rugae pattern.
Hubungan pengetahuan dengan sikap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut siswa Pesantren Salafiyah Al-MajidiyahRelationship of knowledge and attitude in maintaining oral health of the Salafiyah Al-Majidiyah Islamic Boarding School students Fitri, Aulia Bayu; Zubaedah, Cucu; Wardani, Riana
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.133 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i2.18587

Abstract

Pendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu tolak ukur dalam menilai kesehatan secara umum. Pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut harus diiringi dengan pengetahuan yang baik dan sikap yang tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara pengetahuan dengan sikap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut siswa pesantren Salafiyah Al- Majidiyah. Metode: Penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Hasil: Penelitian ini diperoleh nilai koefisien korelasi Spearman sebesar 0.91591 dengan pengujian hipotesis diperoleh nilai p sebesar 0.18155 atau p>0.05, menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan sikap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan sikap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut siswa Pesantren Salafiyah Al-Majidiyah. ABSTRACTIntroduction: Oral and dental health is one of the benchmarks in assessing general health. Maintenance of dental and oral health must be accompanied by good knowledge and the right attitude. The purpose of this study was to determine whether there was a relationship between knowledge and the attitude of maintaining dental and oral health of students of the Salafiyah Al-Majidiyah pesantren. Methods: The research used is descriptive correlation. Sampling using total sampling technique. Data was collected using a questionnaire. Results: This study obtained Spearman correlation coefficient value of 0.91591 with hypothesis testing obtained p value of 0.18155 or p> 0.05, indicating that there was no significant relationship between knowledge and dental and oral health maintenance attitudes. Conclusion: There is no relationship between knowledge and the attitude of maintaining dental and oral health of students of the Salafiyah Al-Majidiyah Islamic Boarding School.Keywords: Knowledge, attitude, dental and oral health maintenance, Islamic Boarding School.
Hubungan frekuensi asupan minuman manis dengan akumulasi plak pada anakThe relationship between the frequency of sugar-sweetened beverage intake and plaque accumulation in children K.P., G.A. Savitri; Primarti, Risti Saptarini; Gartika, Meirina
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.269 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i2.18553

Abstract

Pendahuluan: Derajat kesehatan gigi dan mulut dapat diukur berdasarkan akumulasi plak pada permukaan gigi. Faktor yang menyebabkan terbentuknya akumulasi plak adalah karbohidrat di makanan, salah satunya dalam bentuk minuman manis. Kandungan pemanis di dalam minuman terbagi menjadi dua jenis yaitu, pemanis alami dan buatan. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan antara frekuensi asupan minuman manis dengan akumulasi plak pada anak. Metode: Jenis penelitian deskriptif dengan studi korelatif, subjek penelitian adalah anak berusia 8-10 tahun yang bersekolah di delapan sekolah dasar negeri Kecamatan Coblong, Bandung. Teknik pengambilan sampel menggunakan multistage random sampling. Pengambilan data menggunakan food record quistionnaire untuk diisi pada satu hari libur dan masuk sekolah, kemudian anak dilakukan pemeriksaan dengan indeks plak O’Leary. Data yang terkumpul, ditabulasi dan diuji dengan korelasi Pearson. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa frekuensi rata-rata asupan minuman manis adalah dua dan akumulasi plak rata-rata adalah 81.17%. Hasil analisis hubungan frekuensi asupan minuman manis dengan akumulasi plak didapatkan korelasi koefisien (r) sebesar 0.364 dengan p=0.011 (p<0.05). Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi asupan minuman manis dengan akumulasi plak. ABSTRACTIntroduction: The degree of dental and oral health can be measured based on the accumulation of plaque on the surface of the tooth. Factors that cause the formation of plaque accumulation are carbohydrates in food, one of which is in the form of sugar-sweetend beverages. The sweetener content in drinks is divided into two types, natural and artificial sweeteners. The aim of the study was to determine the relationship between the frequency of intake of sugar-sweetend beverages and plaque accumulation in children. Methods: This type of research is descriptive with correlative studies, research subjects are children aged 8-10 years who attended eight public elementary schools in Coblong District, Bandung. The sampling technique uses multistage random sampling. Data collection uses a food record questionnaire to fill in one day off and go to school, then the child is examined by the OLeary plaque index. Data collected, tabulated and tested with Pearson correlation. Results: Research shows that the average frequency of intake of sugar-sweetend beverages is two and the average plaque accumulation is 81.17%. The results of the analysis of the relationship between the frequency of intake of sugar-sweetend beverages and plaque accumulation obtained correlation coefficient (r) of 0.364 with p = 0.011 (p <0.05). Conclusion: There is a significant relationship between the frequency of intake of sugar-sweetend beverages and plaque accumulation.Keywords: Frequency, intake, natural sweetener, artificial sweetener, plaque accumulation
Perilaku anak sekolah dasar daerah tertinggal tentang pemeliharaan kesehatan gigiUnderdeveloped area elementary school children’s behaviour towards dental health care Rama, Sonia; Suwargiani, Anne Agustina; Susilawati, Sri
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.664 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i2.18574

Abstract

Pendahuluan: Perilaku pemeliharaan kesehatan gigi merupakan kegiatan individu untuk mencegah terjadinya penyakit karies dan periodontal yang terbentuk dari pengetahuan, sikap dan tindakan. Usia sekolah merupakan usia yang tepat untuk membiasakan anak melakukan pemeliharaan kesehatan gigi sedini mungkin.  Penelitian ini bertujuan untuk menilai perilaku anak sekolah dasar mengenai pemeliharaan kesehatan gigi di daerah tertinggal di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Metode: Penelitian potong lintang dilakukan pada subpopulasi di daerah tertinggal, dengan pengambilan sampling total. Data diambil dari 76 anak sekolah dasar SDN Mekarjaya Kabupaten Bandung dengan menggunakan kuesioner terkalibrasi. Hasil: Perilaku anak  terbentuk dari tiga komponen yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan tentang pemeliharaan kesehatan gigi. Dari keseluruhan total responden, 52,63% memiliki pengetahuan kurang, 72,37% memiliki sikap yang kurang dan 72.37 % memiliki tindakan yang kurang. Simpulan: Perilaku anak sekolah dasar di daerah tertinggal menunjukkan pengetahuan, sikap dan tindakan yang kurang tentang pemeliharaan kesehatan gigi. ABSTRACTIntroduction: Dental health behaviour is activities undertaken by individu to prevent caries and periodontal diasese, comprises of knowledge, attitude and practice. Elementary school age is the golden time to teach children in early life how to perform dental health care. The purpose of this study was to assess the level of dental knowledge, attitude and practice among elementary school children in underdeveloped suburban region. Methods: A cross-sectional study was carried out in a subgroup of population, with total sampling. Data were collected from 76 children studying in SDN Mekarjaya Kabupaten Bandung. Guided interviewed and callibrated questionnaires were employed. Result: The study showed that the majority of children in this underdeveloped suburban area had knowledge, attitude, and practice of 52.63%, 72.37%, and 72.37%, respectively. Conclusion: Children at school age in underdeveloped area had poor dental health behaviour.Keywords: Behaviour, dental health care, children, elementary school, underdeveloped area.
Kondisi periodontal penderita Diabetes Mellitus Tipe IPeriodontal condition of type I Diabetes Mellitus patients Savira, Nevada Vijayanti; Hendiani, Ina; Komara, Ira
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.028 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i2.18588

Abstract

Pendahuluan: Diabetes Mellitus merupakan suatu penyakit gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan pada pankreas untuk menghasilkan insulin, terganggunya aktivitas insulin pada tubuh, atau keduanya. Diabetes Mellitus berhubungan dengan penyakit periodontal dan berperan sebagai faktor risiko dari gingivitis dan periodontitis. Risiko terjadinya gingivitis dan periodontitis meningkat pada penderita Diabetes Mellitus yang tidak terkontrol. Tujuan penelitian untuk mengetahui kondisi periodontal penderita Diabetes Mellitus tipe I di beberapa rumah sakit di Kota Bandung. Penelitian ini dilakukan pada 12 penderita Diabetes Mellitus tipe I yang berusia antara 21-48 tahun menggunakan indeks CPITN. Metode: Jenis penelitian deskriptif dengan metode survey dilakukan di tiga rumah sakit, yaitu RSUP Dr. Hasan Sadikin, RSUD Ujung Berung, dan RS Al Islam Bandung. Hasil: 50% penderita Diabetes Mellitus tipe I menderita gingivitis dan 50% lainnya menderita periodontitis. Simpulan:.Penderita Diabetes Mellitus tipe I pada penelitian ini seluruhnya menderita penyakit gingivitis dan periodontitis. ABSTRACTIntroduction: Diabetes Mellitus is a disease of metabolism of carbohydrates, fats, and proteins characterized by hyperglycemia due to disturbances in the pancreas to produce insulin, disruption of insulin activity in the body, or both. Diabetes Mellitus is associated with periodontal disease and acts as a risk factor for gingivitis and periodontitis. The risk of gingivitis and periodontitis increases in patients with uncontrolled Diabetes Mellitus. The aim of the study was to determine the periodontal condition of type I Diabetes Mellitus patients in several hospitals in Bandung City. Methods:This study was conducted on 12 patients with type I Diabetes Mellitus aged between 21-48 years using the CPITN index. The type of descriptive research with survey method was carried out in three hospitals, namely Dr. Hasan Sadikin Hospital, Ujung Berung Hospital, and Al Islam Hospital Bandung. Result: 50% of patients with Type I Diabetes Mellitus suffer from gingivitis and 50% suffer from periodontitis. Conclusion: Patients with type I Diabetes Mellitus in this study all suffered from gingivitis and periodontitis.Keywords: Periodontal condition, gingivitis, periodontitis, type I Diabetes Mellitus.
Indeks plak masyarakat suku Baduy sebelum dan sesudah menyikat gigi menggunakan sabut kelapaPlaque index of the Baduy tribe community before and after toothbrushing with coconut fibre Shabrina, Gracety; Wardani, Riana; Setiawan, Asty Samiaty
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.555 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i2.18568

Abstract

Pendahuluan: Menyikat gigi merupakan salah satu cara untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut yang dipengaruhi oleh alat dan tekhnik yang digunakan. Masyarakat Suku Baduy menyikat gigi menggunakan sabut kelapa. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perbedaan indeks plak Masyarakat Suku Baduy sebelum dan sesudah menyikat gigi menggunakan sabut kelapa. Metode: Metode penelitian yang dilakukan bersifat pre eksperimental, dengan rancangan one group pretest-posttest. Sampel terdiri dari 36 orang yang diperoleh secara purposive sampling. Metode penilaian plak yang digunakan adalah indeks plak O’Leary dan Addy dkk. Data yang diperoleh berupa indeks plak dan dianalisis secara statistik menggunakan uji statistik χ2 (chi Square). Hasil: Hasil uji statistik χ2 (chi Square) menunjukkan perubahan indeks plak O’Leary bahwa nilai χ-hitung yang diperoleh (10,060) > χ-tabel (7,815), sesuai dengan kriteria pengujian hipotesis bahwa H0 ditolak dan indeks plak Addy dkk. nilai χ-hitung yang diperoleh (2,455) > χ-tabel (5,991), sesuai dengan kriteria pengujian hipotesis bahwa H0 diterima. Simpulan: Terdapat perubahan bermakna pada indeks plak O’leary masyarakat Suku Baduy antara sebelum dengan sesudah menggosok gigi menggunakan sabut kelapa yang termasuk dalam kategori buruk, namun tidak terdapat perubahan yang bermakna pada indeks plak Addy dkk. yang termasuk dalam kategori baik. ABSTRACTIntroduction: Brushing your teeth is one way to maintain healthy teeth and mouth which is influenced by the tools and techniques used. The Baduy Tribe people brush their teeth using coconut fiber. The purpose of the study was to determine the differences in the Baduy Tribe Plaque Index before and after brushing teeth using coconut fiber. Methods: The research method was pre-experimental, with the design of one group pretest-posttest. The sample consisted of 36 people obtained by purposive sampling. The plaque assessment method used is the OLeary and Addy et al plaque index. Data obtained in the form of plaque index and analyzed statistically using statistical test χ2 (chi square). Results: The results of the statistical test χ2 (chi Square) showed the change in the OLeary plaque index that the χ-count value obtained (10.060) > χ-table (7.815), according to the hypothesis testing criteria that H0 was rejected and the Addy plaque index et al. χ-count value obtained (2.455) > χ-table (5.991), according to the hypothesis testing criteria that H0 is accepted. Conclusion: There was a significant change in the Baduy Tribe Oleary plaque index between before and after brushing teeth using a coconut fiber which was categorized as poor, but there were no significant changes in the Addy plaque index et al. which belongs to the good category. Keywords: Plaque index, Baduy, brushing teeth, coconut fibre.
Daya hambat ekstrak metanol nanas, belimbing wuluh, dan kemangi terhadap Streptococcus mutans ATCC 25175Inhibitory potential of methanolic extract of pineapple, wuluh starfruit, and basil towards Streptococcus mutans ATCC 25175 Budiani, Yona Ayumi; Satari, Mieke Hemiawati; Jasrin, Tadeus Arufan
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.548 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i2.18575

Abstract

Pendahuluan: Karies merupakan suatu penyakit infeksi dimana terjadi proses demineralisasi progresif pada jaringan keras gigi. Proses demineralisasi gigi dipengaruhi oleh pH asam pada mulut yang disebabkan oleh Streptococcus mutans. Tujuan peneltian adalah untuk menguji daya hambat dari ekstrak metanol nanas, belimbing wuluh, dan kemangi terhadap Streptococcus mutans sebagai bakteri yang berperan dalam proses pembentukan plak serta karies gigi. Metode: Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan cara meneteskan ekstrak metanol nanas, belimbing wuluh, dan kemangi, serta ekstrak kombinasi ketiganya yang telah diencerkan dengan pelarut Dimetil Sulfoksida (DMSO) ke dalam lubang sumuran pada lempeng agar Mueller Hinton yang telah ditanami Streptococcus mutans. Bakteri uji berupa Streptococcus mutans ATCC 25175 yang diperiksa secara mikroskopis, ditanam pada lempeng agar Muller Hinton dan inkubasi dalam suasana fakultatif anaerob pada suhu 37OC selama 24 jam. Konsentrasi ekstrak yang diuji adalah 20.000 ppm, 10.000 ppm. 5.000 ppm, dan 1.000 ppm. Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak metanol nanas, belimbing wuluh, dan kemangi memiliki daya hambat terhadap Streptococcus mutans ATCC 25175. Simpulan: Daya hambat yang terjadi pada bakteri disebabkan oleh kandungan zat aktif yang dimiliki nanas, belimbing wuluh, dan kemangi seperti enzim bromelain, flavonoid, tanin, alkaloid, triterpenoid, dan saponin. ABSTRACTIntroduction: Caries is an infectious disease in which there is a progressive demineralization process in hard teeth. The demineralization process of teeth is affected by acid pH in the mouth caused by Streptococcus mutans. The aim of the study was to examine the inhibitory potential of methanol extract of pineapple, starfruit and basil to Streptococcus mutans as bacteria that play a role in the process of plaque formation and dental caries. Methods: The study was carried out experimentally by dripping the methanol extract of pineapple, starfruit and basil, and the combination of the three extracts which had been diluted with Dimethyl Sulfoxide (DMSO) solvent into the well hole on the agar plate of Mueller Hinton which had been planted with Streptococcus mutans. Test bacteria in the form of ATCC 25175 Streptococcus mutans were examined microscopically, planted on Muller Hinton agar plate and incubated in anaerobic facultative atmosphere at 37OC for 24 hours. The concentration of extract tested was 20,000 ppm, 10,000 ppm. 5,000 ppm, and 1,000 ppm. Result: The results showed that the methanol extract of pineapple, starfruit and basil had inhibitory potential against Streptococcus mutans ATCC 25175. Conclusion: The inhibitory potential that occurs in bacteria is caused by the active substance possessed by pineapple, starfruit, and basil such as bromelain enzyme, flavonoids, tannins, alkaloids, triterpenoids, and saponins.Keywords: Streptococcus mutans, pineapple, Ananas comosus, starfruit, Averrhoa bilimbi, basil, Ocimum tenuiflorum, inhibitory test.
Hubungan indeks massa tubuh (IMT) dan laju aliran saliva pada mahasiswa preklinik angkatan 2014-2016 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas PadjadjaranRelationship between body mass index (BMI) and salivary flow rate amongst pre-clinical students of Faculty of Dentistry Universitas Padjadjaran batch 2014-2016 Muttaqien, Inviolita Annissa; Kintawati, Silvi; Rizali, Ervin
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.061 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i2.18571

Abstract

Pendahuluan: Saliva merupakan cairan yang sangat penting terkait dengan proses biologis di dalam rongga mulut. Laju aliran saliva merupakan salah satu indikator saliva yang berpengaruh terhadap pembentukan lesi karies maupun penyakit mulut. Laju aliran saliva dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, salah satunya yaitu gizi. Salah satu parameter status gizi yaitu Indeks Massa Tubuh (IMT). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan laju aliran saliva pada mahasiswa preklinik angkatan 2014-2016 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik. Pengambilan sampel penelitian menggunakan purposive random sampling. Sampel penelitian yang didapatkan berjumlah 90 individu yang terdiri dari 71 perempuan dan 19 laki-laki. Penelitian dilakukan dengan mengukur berat badan serta tinggi badan untuk mendapatkan nilai IMT, kemudian dilanjutkan pengukuran laju aliran saliva. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil: Hasil uji statistik menunjukkan tidak adanya relasi signifikan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan laju aliran saliva baik pada mahasiswa perempuan maupun laki-laki, dikarenakan adanya faktor-faktor penentu lainnya. Simpulan: Indeks Massa Tubuh (IMT) tidak memiliki pengaruh yang bermakna terhadap laju aliran saliva pada mahasiswa preklinik angkatan 2014-2016 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. ABSTRACTIntroduction: Saliva is a very important liquid related to biological processes in the oral cavity. Salivary flow rate is one indicator of saliva which affects the formation of caries lesions and oral diseases. Salivary flow rate is influenced by various factors, one of which is nutrition. One of the nutritional status parameters is the Body Mass Index (BMI). The purpose of this study was to determine whether there was a relationship between Body Mass Index (BMI) and salivary flow rate in 2014-2016 pre-clinical students at the Faculty of Dentistry, Padjadjaran University. Methods: The type of research used is descriptive analytic. The research sample was taken using purposive random sampling. The research sample obtained was 90 individuals consisting of 71 women and 19 men. The study was conducted by measuring body weight and height to obtain BMI values, then continued measurement of salivary flow rate. Data were analyzed using Pearson correlation test. Result: The results of statistical tests showed no significant relationship between Body Mass Index (BMI) and salivary flow rate in both male and female students, due to other determinants. Conclusion: Body Mass Index (BMI) does not have a significant effect on salivary flow rate in 2014-2016 pre-clinical students at the Faculty of Dentistry, Padjadjaran University.Keywords: Body Mass Index (BMI), salivary flow rate.

Page 1 of 3 | Total Record : 22