Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : the commercium

Komunikasi Internal dalam Menumbuhkan Loyalitas Karyawan Generasi Z: Studi Kasus Kopi Kelana Maulana Hafiizh; Teguh Dwi Putranto
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.80770

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya loyalitas kerja karyawan Generasi Z yang ditandai dengan meningkatnya fenomena job hopping akibat perbedaan karakteristik dan ekspektasi terhadap dunia kerja, di mana Generasi Z cenderung mengutamakan makna kerja, fleksibilitas, serta keterbukaan komunikasi, sehingga menuntut perusahaan mengelola komunikasi internal secara lebih adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana komunikasi internal yang diterapkan oleh Kopi Kelana dalam menumbuhkan loyalitas karyawan Generasi Z. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan karyawan Generasi Z sebagai informan, serta dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan uji keabsahan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi internal di Kopi Kelana berperan penting dalam membentuk loyalitas karyawan Generasi Z, yang tercermin melalui komunikasi dua arah, kejelasan informasi, pemberian feedback terbuka, serta keterbukaan komunikasi yang membangun hubungan kerja positif, meskipun masih terdapat kendala dalam konsistensi informasi dan perbedaan gaya komunikasi. Dengan demikian, komunikasi internal yang efektif, terbuka, dan partisipatif mampu meningkatkan keterikatan serta loyalitas karyawan Generasi Z, sehingga perusahaan perlu mengembangkan strategi komunikasi yang lebih terstruktur dan adaptif guna mempertahankan karyawan dalam jangka panjang.  
Analisis Retorika Visual Iklan Skintific Melalui Alyssa Daguise di Akun TikTok @skintific_id Anisa Fauziah Aminy; Teguh Dwi Putranto
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81334

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis retorika visual yang diterapkan dalam iklan Skintific Velvet Matte Cushion di akun TikTok @skintific_id melalui Alyssa Daguise pada periode April–Mei 2024. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan mengacu pada teori retorika visual Sonja K. Foss yang meliputi nature of image, function of image, dan evaluation of image. Analisis dilakukan terhadap delapan adegan utama untuk mengidentifikasi bagaimana unsur-unsur visual dikonstruksi sehingga menghasilkan makna yang bersifat persuasif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap elemen visual dirancang secara strategis untuk memengaruhi audiens melalui pemenuhan tiga standar evaluasi citra. Aspek symbolic action tercermin pada representasi Alyssa Daguise sebagai simbol kecantikan dan gaya hidup modern. Aspek human intervention diwujudkan melalui penggunaan pencahayaan profesional, tata rias, teknik zoom-in, serta konsistensi warna biru-turkuis yang memperkuat identitas merek. Sementara itu, aspek presence of audience tampak pada penyesuaian pesan visual terhadap karakteristik pengguna TikTok berusia 15–30 tahun sebagai sasaran utama. Retorika visual juga dibangun melalui proses otentikasi dengan menampilkan behind-the-scenes, pembentukan citra kemewahan publik melalui konsep paparazzi look, pembuktian klaim teknis produk seperti Full Coverage, Oil Control, No Dullness, Smooth Finish, dan Poreless & Natural Mattifying, pemodelan ritual kecantikan privat melalui konsep quiet luxury, hingga pemanfaatan booth interaktif yang mendorong audiens bertransformasi dari sekadar penonton menjadi partisipan. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa retorika visual pada iklan Skintific tidak hanya menciptakan daya tarik estetis, tetapi juga menjadi strategi komunikasi pemasaran digital yang efektif dalam membangun kepercayaan terhadap merek serta mendorong minat konsumsi.  
Komunikasi Pemasaran Taste-Me PT. Sumber Tirta Hakiki dalam Menumbuhkan Brand Awareness di Pasar Product Condiments Muhammad Putra; Teguh Dwi Putranto
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81346

Abstract

Persaingan pada pasar saus tiram di Indonesia menempatkan Taste-Me sebagai merek kondimen impor yang harus berhadapan dengan merek-merek yang lebih dahulu dikenal konsumen. Penelitian ini bertujuan mengetahui pelaksanaan komunikasi pemasaran offline PT. Sumber Tirta Hakiki dalam menumbuhkan brand awareness Taste-Me pada konsumen rumah tangga. Penelitian menggunakan paradigma konstruktivisme, pendekatan kualitatif, dan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan dua informan internal perusahaan dan enam konsumen ibu rumah tangga berusia 25-35 tahun, observasi aktivitas promosi, serta dokumentasi. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, sedangkan analisis dilakukan menggunakan teknik pattern matching dengan menghubungkan dimensi brand awareness David A. Aaker dan teori Stimulus-Organism-Response. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi pemasaran offline dilaksanakan melalui sales promotion, events and experiences, dan personal selling berupa sampling, demo memasak, promosi harga, bundling, hadiah, pameran, kolaborasi mitra, serta penjelasan langsung oleh technical chef dan tenaga promosi. Pesan utama yang disampaikan meliputi kepastian halal, rasa lebih umami dan tekstur lebih pekat, serta kegunaan produk untuk berbagai masakan. Pengalaman mencicipi dan komunikasi interpersonal membantu konsumen memahami produk, tetapi pesan utama belum diterima secara merata. Brand awareness Taste-Me pada informan berada pada rentang belum mengenal secara kuat, brand recognition, hingga brand recall. Secara umum, kesadaran merek berada pada tahap brand recognition menuju brand recall dan belum menunjukkan posisi top of mind yang konsisten. Penguatan kesadaran merek memerlukan keselarasan pesan, integrasi promosi dengan pengalaman produk, evaluasi awareness yang terpisah dari penjualan, dan ketersediaan produk yang berkelanjutan.
Customer Experience dalam Personalisasi Avatar: Studi Generasi Z Pengguna Roblox Nur Rahma Izzati Salsabilla; Teguh Dwi Putranto
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81385

Abstract

Personalisasi avatar merupakan salah satu fitur yang banyak digunakan oleh pengguna game online Roblox, khususnya Generasi Z, sebagai bentuk ekspresi diri dan sarana interaksi sosial di dalam ruang virtual. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana bentuk customer experience dalam personalisasi avatar dialami oleh pengguna Roblox Generasi Z. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi hermeneutik Hans-Georg Gadamer dan bersifat eksploratif. Data penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap enam informan pengguna Roblox Generasi Z yang pernah membeli item avatar berbayar. Data tersebut dikelompokkan menggunakan konsep customer experience Schmitt (1999), kemudian dianalisis menggunakan teori interaksi simbolik (interactionism symbolic theory) Herbert Blumer (1969). Hasil penelitian menunjukkan bahwa personalisasi avatar tidak hanya dipahami sebagai aktivitas mengubah tampilan karakter virtual, tetapi sebagai proses pembentukan makna melalui interpretasi terhadap simbol visual dan respon sosial yang diterima pengguna selama berinteraksi di ruang virtual Roblox. Item berbayar dalam fitur personalisasi avatar ditemukan mampu memberikan pengalaman yang lebih mendalam, baik secara visual, emosional, kognitif, perilaku, dan sosial, yang memengaruhi cara pengguna mengekspresikan diri, membentuk konsep diri, hingga membangun interaksi sosial dengan pengguna lain. Avatar juga dipahami sebagai simbol visual yang merepresentasikan identitas diri, sekaligus memiliki nilai sosial tertentu di dalam ruang virtual. Penelitian ini menunjukkan bahwa customer experience dalam personalisasi avatar bersifat subjektif, dinamis, dan terbentuk melalui proses pemaknaan simbolik yang berlangsung secara berulang dalam interaksi antar-pengguna. dan merupakan hasil dari proses pemaknaan simbol visual oleh pengguna.
Komunikasi Krisis MAN 1 Lamongan dalam Penanganan Kasus Pendaftaran Siswa Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi Fauzia Naswa Aprita; Teguh Dwi Putranto
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81398

Abstract

Kasus yang terjadi pada sekolah MAN 1 Lamongan yaitu kegagalan pendaftaran siswa seleksi nasional berdasarkan prestasi menjadi krisis bagi 22 siswa yang terdampak dan hal ini tentu menimbulkan rasa kecewa, sedih, frustasi pada siswa yang terdampak karena merasa kehilangan kesempatan emas untuk melanjutkan Pendidikan Perguruan Tinggi Negeri melalui Jalur berdasarkan prestasi. Pada kondisi tersebut tidak hanya mempengaruhi semangat belajar, melainkan juga menurunkan kredibilitas diri mereka dengan sistem pendidikan yang seharusnya mendukung perkembangan akademik peserta didik. Kondisi ini menuntut pihak MAN 1 Lamongan melakukan komunikasi krisis guna menangani krisis yang terjadi dan memulihkan kepercayaan publik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunikasi krisis MAN 1 Lamongan dalam penanganan krisis pendaftaran siswa seleksi nasional berdasarkan prestasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan yaitu melalui Observasi, wawancara serta dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa MAN 1 Lamongan menerapkan Komunikasi Krisis berdasarkan Teori SCCT (Situational Communication Crisis) yaitu Deny (penyangkalan), Diminish (Pengurangan Dampak), Rebuild (Membangun Kembali), Bolstering (Penguatan). Implementasi ini tercermin melalui pengalihan kesalahan pada sistem, penekanan konsekuensi terhadap siswa penyebar video, Klarifikasi Pihak Madrasah terhadap Situasi Sistem Pendaftaran SNBP, Klarifikasi Pihak Madrasah Terhadap Guru yang Bersangkutan, Permohonan maaf dari pihak Madrasah, Pendampingan Siswa dan Pemberian Harapan, Apresiasi Pihak Madrasah Terhadap Murid dan Wali Murid Terdampak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa MAN 1 Lamongan telah mengimplementasikan komunikasi krisis sesuai dengan teori SCCT dengan berbagai upaya komunikasi yang dilakukan guna mengurangi dampak negatif krisis.
PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL OLEH CORPORATE COMMUNICATION GAPURA ANGKASA DALAM MENGHADAPI DIGITAL PRESENCE DISPARITY DI EKOSISTEM BANDAR UDARA Aliffifo Reksa Ryzqyh Nesa; Teguh Dwi Putranto
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81886

Abstract

Penelitian berjudul “Penggunaan Media Sosial oleh Corporate Communication Gapura Angkasa dalam Menghadapi DigitalPresence Disparity di Ekosistem Bandar Udara” ini menyoroti fenomena kesenjangan eksistensi digital (digital presence disparity). Di era digital, peran penting perusahaan ground handling seperti PT Gapura Angkasa sering kali tenggelam di bawah dominasi informasi publik milik maskapai penerbangan maupun stakeholder utama lainnya di lingkup bandara. Penelitian kualitatif dengan metode studi kasus deskriptif ini bertujuan untuk menganalisis strategi penggunaan media sosial Instagram oleh divisi Corporate Communication PT Gapura Angkasa dalam menjembatani kesenjangan eksposur tersebut sekaligus mengokohkan kehadirannya. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara mendalam dengan praktisi komunikasi kantor cabang, observasi konten, serta pengujian keabsahan data melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT Gapura Angkasa memanfaatkan Instagram untuk komunikasi Business-to-Business (B2B) yang dikemas secara edukatif menggunakan pendekatan soft-selling. Langkah ini sekaligus membangun brand awareness di kalangan konsumen umum (B2C), khususnya Generasi Z, melalui konten adaptif seperti kuis aviasi, polling, dan dokumentasi operasional harian (daily operations). Untuk mengatasi digital presence disparity, perusahaan mengintegrasikan komunikasi bersama stakeholderssaat situasi khusus (seperti pemberlakuan NOTAM) guna memastikan konsistensi informasi. Penanganan keluhan krisis digital pun telah direspon cepat sesuai standar SOP yang ketat. Namun, fungsi Instagram saat ini masih terbatas pada pemenuhan tugas operasional harian dan belum dioptimalkan secara terstruktur melalui rencana konten (content planner) tertulis maupun target indikator kinerja (KPI) jangka panjang. Studi ini menyimpulkan bahwa penguatan identitas korporat di bawah naungan Garuda Indonesia Group menjadi kunci utama dalam menjaga eksistensi digital perusahaan di tengah ketatnya arus informasi bandar udara.
Integrated Marketing Communication dalam Pembentukan Brand awareness pada Brand Coffee shop Delapan Meter Mojokerto Nadya Fitrah Budiarti; Teguh Dwi Putranto
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.82136

Abstract

Pertumbuhan usaha kedai kopi di Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan. Peningkatan tersebut mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap usaha kedai kopi. Pertumbuhan yang pesat di berbagai wilayah turut mendorong munculnya banyak kedai kopi yang beroperasi dalam jarak yang relatif berdekatan. Kondisi tersebut pada akhirnya menciptakan persaingan yang semakin ketat karena pelaku usaha menawarkan produk serta pengalaman konsumsi yang relatif serupa kepada segmen pasar yang sama. Kondisi tersebut menuntut pelaku usaha untuk membangun kesadaran merek (brand awareness) yang kuat agar mereknya dapat dikenal dan diingat oleh konsumen di tengah banyaknya pilihan yang tersedia. Salah satu strategi yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah Integrated Marketing Communication (IMC) yang memungkinkan penyampaian pesan merek secara konsisten melalui berbagai saluran komunikasi. Berdasarkan fenomena tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran IMC dalam pembentukan brand awareness pada Coffee shop Delapan Meter Mojokerto. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Informan penelitian terdiri atas pihak internal Delapan Meter yang terlibat dalam aktivitas komunikasi pemasaran serta pelanggan sebagai informan eksternal. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik pencocokan pola. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran IMC dalam pembentukan kesadaran merek Delapan Meter Mojokerto di dominasi oleh periklanan digital, hubungan masyarakat berbasis komunitas, dan penjualan personal. Ketiga aktivitas tersebut dijalankan secara konsisten sehingga mampu meningkatkan pengenalan dan ingatan konsumen terhadap merek Delapan Meter
KOMUNIKASI ORGANISASI DALAM MENINGKATKAN KINERJA KARYAWAN HOTEL SHANGRI-LA SURABAYA Angelica Widya Sugiarto; Teguh Dwi Putranto
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.82429

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana komunikasi organisasi yang diterapkan oleh Hotel Shangri-La Surabaya berperan dalam meningkatkan kinerja karyawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, serta teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap enam narasumber dari berbagai divisi hotel dan observasi mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hotel Shangri-La Surabaya mengimplementasikan berbagai bentuk komunikasi organisasi, baik vertikal, horizontal, maupun diagonal, dengan memanfaatkan jalur formal maupun informal. Beragam media komunikasi seperti briefing, WhatsApp Group, HT, sistem Opera, dan aplikasi internal digunakan untuk mempercepat alur informasi serta mendukung efektivitas kerja karyawan. Komunikasi vertikal dijalankan secara dua arah melalui instruksi, evaluasi, dan pemberian umpan balik, sedangkan komunikasi horizontal dan diagonal berperan dalam memperkuat koordinasi antar divisi, khususnya dalam penyelenggaraan event dan pelayanan kepada tamu. Sementara itu, komunikasi informal menciptakan kedekatan interpersonal yang membantu membangun lingkungan kerja yang kondusif. Praktik ini sejalan dengan pendekatan human relation, yang menekankan pentingnya perhatian pada hubungan sosial dan emosional karyawan, sekaligus mendukung perspektif human resources, yang melihat karyawan sebagai sumber daya berharga yang perlu diberdayakan dan dilibatkan secara aktif. Temuan penelitian ini membuktikan bahwa komunikasi organisasi yang efektif tidak hanya meningkatkan kinerja karyawan, tetapi juga memperkuat loyalitas dan menjaga eksistensi Hotel Shangri-La Surabaya di tengah persaingan industri perhotelan yang semakin kompetitif