Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sopi sebagai Simbol Persaudaraan dan Rekonsiliasi: Dialog Hermeneutika Paul Ricoeur dengan Perspektif Biblika dalam Tradisi Maluku Claudia Sahertian; Elka Anakotta
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8003

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolik sopi dalam budaya Maluku serta mendialogkannya dengan simbol anggur dalam tradisi Yahudi dan Kekristenan melalui pendekatan hermeneutika simbolik Paul Ricoeur. Dalam masyarakat Maluku, sopi tidak hanya dipahami sebagai minuman tradisional, tetapi juga sebagai simbol budaya yang merepresentasikan nilai persaudaraan, solidaritas, rekonsiliasi, dan komitmen sosial. Namun, keberadaan sopi juga menghadirkan ambivalensi karena sering dikaitkan dengan penyalahgunaan alkohol dan konflik sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka. Data primer diperoleh dari teks Alkitab dan sumber etnografis mengenai praktik budaya sopi, sedangkan data sekunder berasal dari buku, jurnal ilmiah, dan kajian teologi kontekstual. Analisis dilakukan melalui identifikasi simbol budaya sopi, interpretasi hermeneutis, pembacaan simbol anggur dalam tradisi biblika, serta dialog kontekstual antara budaya lokal dan teologi Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sopi memiliki fungsi simbolik sebagai medium pengesahan relasi sosial, pemelihara memori kolektif, dan pembentuk etika persaudaraan dalam masyarakat Maluku. Sementara itu, anggur dalam tradisi Yahudi-Kristen dimaknai sebagai simbol sukacita, berkat, persekutuan, dan kasih karunia Allah, terutama dalam Perjamuan Kudus. Dialog teologis antara sopi dan anggur memperlihatkan adanya titik temu pada nilai persaudaraan, rekonsiliasi, dan tanggung jawab bersama tanpa menyamakan horizon makna keduanya. Penelitian ini menegaskan bahwa budaya lokal dan iman Kristen dapat saling memperkaya dalam membangun kehidupan bersama yang damai, adil, dan bermartabat.
STRATEGI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL MELALUI KEBERAGAMAN USIA ANAK SEKOLAH MINGGU JEMAAT REHOBOT MALANU SORONG Meldy Berhitu; Felani Soplanit; Susana Rarsina; Gricebeth Sopamena; Frangklin Pormes; Andarias Momot; Anna Lilipory; Meike Nenete; Novembry Patty; Claudia Sahertian; Demisius Momot; Samel Sopakua
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 4 (2026): Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v7i4.62396

Abstract

Pembelajaran Sekolah Minggu di Jemaat Rehobot Malanu Sorong menghadapi permasalahan keberagaman usia anak, keterbatasan tenaga pengajar, serta belum optimalnya penerapan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Kondisi tersebut menyebabkan penyampaian Firman Tuhan kurang mampu mengakomodasi perbedaan kemampuan, pengalaman, dan kebutuhan belajar anak. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan menerapkan strategi pembelajaran kontekstual yang dapat mengakomodasi keberagaman usia anak Sekolah Minggu. Metode pelaksanaan meliputi survei awal melalui Zoom, persiapan, pelaksanaan kegiatan, praktik mengajar secara langsung berdasarkan jenjang usia, evaluasi, dan pelaporan. Kegiatan dilaksanakan pada 2 Agustus 2026 di Gereja Kristen Oikumene Jemaat Rehobot Malanu Sorong dengan melibatkan pengasuh, orang tua, majelis jemaat, pemuda, dan anak-anak Sekolah Minggu. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pengelompokan anak berdasarkan jenjang usia dan penerapan aktivitas kontekstual melalui cerita, permainan, bermain peran, menggambar, diskusi, refleksi, serta kegiatan Pohon Harapan dapat meningkatkan keterlibatan anak dan membantu mereka menghubungkan Firman Tuhan dengan pengalaman kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini juga memberikan pengalaman praktis bagi pengasuh dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih sesuai dengan karakteristik usia anak. Dengan demikian, strategi pembelajaran kontekstual dapat menjadi pendekatan yang relevan untuk menciptakan pembelajaran Sekolah Minggu yang inklusif, partisipatif, dan bermakna di tengah keberagaman usia.