Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Narasi Perempuan dalam Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah: Analisis Feminisme Kritis dan Implikasinya bagi Pendidikan Agama Kristen Susana Rarsina
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8010

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis narasi perempuan dalam film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah dengan menggunakan pendekatan feminisme kritis serta mengkaji implikasinya bagi Pendidikan Agama Kristen. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis hermeneutika terhadap dialog, alur cerita, dan representasi karakter perempuan dalam film tersebut. Berdasrkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan dalam film ini digambarkan berada dalam relasi kuasa yang tidak seimbang, di mana mereka sering mengalami subordinasi, marginalisasi, serta tekanan sosial yang berasal dari konstruksi budaya patriarki. Selain itu, tokoh perempuan juga memperlihatkan bentuk resistensi terhadap dominasi tersebut, meskipun masih berada dalam batasan struktur sosial yang ada. Pendekatan feminisme kritis mengungkap bahwa narasi yang dibangun tidak hanya merefleksikan realitas sosial, tetapi juga mengkritisi struktur ketidakadilan gender yang masih berlangsung dalam kehidupan masyarakat. Pada konteks Pendidikan Agama Kristen, temuan ini menjadi sumbangsih penting dalam membangun kesadaran kritis terhadap isu keadilan gender serta mendorong pembelajaran yang lebih inklusif, reflektif, dan kontekstual. Pendidikan Agama Kristen diharapkan tidak hanya berfokus pada aspek normatif, tetapi juga mampu menjadi ruang transformasi yang meneguhkan nilai kesetaraan, keadilan, dan penghargaan terhadap martabat perempuan sebagai ciptaan Allah. Dengan demikian, film ini dapat menjadi media pembelajaran yang relevan dalam mengintegrasikan nilai iman dengan realitas sosial yang dihadapi serta memperkaya perspektif teologis dalam pendidikan.
Interpretasi Makna Lirik Lagu “Sesi Potret” Karya Ari Lesmana melalui Pendekatan Hermeneutik Friedrich Schleiermacher Susana Rarsina; Andre Layan; Elka Anakotta
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8560

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menginterpretasikan makna lirik lagu “Sesi Potret” karya Ari Lesmana melalui pendekatan hermeneutik Friedrich Schleiermacher. Di tengah perkembangan musik populer, lagu dipahami sebagai teks budaya yang tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai representasi pengalaman eksistensial manusia yang mengandung makna simbolik serta reflektif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif interpretatif dengan menitikberatkan pada dua dimensi utama hermeneutika Schleiermacher, yaitu interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologis, serta konsep lingkaran hermeneutik sebagai kerangka analisis utama. Data penelitian berupa lirik lagu yang dianalisis secara mendalam untuk memahami hubungan antara teks, pengarang, dan pengalaman pendengar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara gramatikal simbol “potret” merepresentasikan memori yang terfragmentasi, sedangkan istilah “sesi” menegaskan keterbatasan waktu dalam kehidupan manusia. Pemilihan diksi dalam lagu membangun suasana reflektif yang menampilkan hubungan erat antara kenangan, kehilangan, dan pencarian identitas diri. Secara psikologis, lagu ini merefleksikan dunia batin pengarang yang bergulat dengan kesadaran akan waktu, kerinduan terhadap masa lalu, dan upaya memahami makna hidup di tengah perubahan. Melalui lingkaran hermeneutik, makna lagu dipahami sebagai sesuatu yang dinamis dan terbuka karena dipengaruhi oleh interaksi antara teks dan pengalaman subjektif pendengar. Secara kritis, lagu ini juga merefleksikan kehidupan modern yang cenderung dangkal, ketika manusia lebih fokus mengabadikan momen daripada menghayati pengalaman hidup itu sendiri. Dengan demikian, lagu “Sesi Potret” memiliki nilai estetis sekaligus reflektif dalam memahami relasi kompleks antara waktu, kenangan, dan eksistensi manusia di era kontemporer.
STRATEGI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL MELALUI KEBERAGAMAN USIA ANAK SEKOLAH MINGGU JEMAAT REHOBOT MALANU SORONG Meldy Berhitu; Felani Soplanit; Susana Rarsina; Gricebeth Sopamena; Frangklin Pormes; Andarias Momot; Anna Lilipory; Meike Nenete; Novembry Patty; Claudia Sahertian; Demisius Momot; Samel Sopakua
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 4 (2026): Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v7i4.62396

Abstract

Pembelajaran Sekolah Minggu di Jemaat Rehobot Malanu Sorong menghadapi permasalahan keberagaman usia anak, keterbatasan tenaga pengajar, serta belum optimalnya penerapan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Kondisi tersebut menyebabkan penyampaian Firman Tuhan kurang mampu mengakomodasi perbedaan kemampuan, pengalaman, dan kebutuhan belajar anak. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan menerapkan strategi pembelajaran kontekstual yang dapat mengakomodasi keberagaman usia anak Sekolah Minggu. Metode pelaksanaan meliputi survei awal melalui Zoom, persiapan, pelaksanaan kegiatan, praktik mengajar secara langsung berdasarkan jenjang usia, evaluasi, dan pelaporan. Kegiatan dilaksanakan pada 2 Agustus 2026 di Gereja Kristen Oikumene Jemaat Rehobot Malanu Sorong dengan melibatkan pengasuh, orang tua, majelis jemaat, pemuda, dan anak-anak Sekolah Minggu. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pengelompokan anak berdasarkan jenjang usia dan penerapan aktivitas kontekstual melalui cerita, permainan, bermain peran, menggambar, diskusi, refleksi, serta kegiatan Pohon Harapan dapat meningkatkan keterlibatan anak dan membantu mereka menghubungkan Firman Tuhan dengan pengalaman kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini juga memberikan pengalaman praktis bagi pengasuh dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih sesuai dengan karakteristik usia anak. Dengan demikian, strategi pembelajaran kontekstual dapat menjadi pendekatan yang relevan untuk menciptakan pembelajaran Sekolah Minggu yang inklusif, partisipatif, dan bermakna di tengah keberagaman usia.
Transformasi Kepemimpinan Pelayan (Servant Leadership) dalam Meningkatkan Kinerja Guru SD Negeri Se-Kecamatan Taniwel Timur Ry Valen Papilaya; Susana Rarsina; Novembri Patty; Mey Wawalayo; S L Souissa
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 3 No. 3 (2026): September-Desember In Progress
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/gnpfzk03

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak model servant leadership (kepemimpinan pelayan) kepala sekolah terhadap kinerja guru Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Taniwel Timur, di mana rendahnya motivasi kerja dan tantangan geografis sering menghambat kinerja guru. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif asosiatif kausal, dengan populasi seluruh guru Sekolah Dasar Negeri di kecamatan tersebut (30 orang) melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, didukung oleh observasi dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif, uji prasyarat (normalitas dan linearitas), serta regresi linear sederhana dan uji t pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan pelayan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru, dengan nilai t hitung sebesar 12,273 (p < 0,001) dan R² sebesar 0,843 (84,3%), serta dimensi pelayanan, pertumbuhan, dan komunitas memperoleh skor tertinggi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan kepemimpinan pelayan oleh kepala sekolah merupakan strategi efektif dalam meningkatkan dedikasi dan profesionalisme guru, khususnya di wilayah rural dan terpencil seperti Kecamatan Taniwel Timur
Peace Education From The Perspective of The Face of God In The Midst of Suffering: Reinterpretation of Levinas and Ricoeur's Thought in The Context of Persistent Conflict Susana Rarsina; Semel Sopacua; Claudia Sahertian; Frangklin Pormes; Andre Layan; Selderika Patty; Ry Valen Papilaya
Journal of Educational Studies Vol. 4 No. 2 (2026): July
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/jes.v4i2.3678

Abstract

The conflict between Masihulan and Sawai villages on April 3, 2025, caused significant social, economic, psychological, and spiritual impacts on the affected community. This study aims to explore how the people of Masihulan interpret the presence of God amid post-conflict suffering by employing Emmanuel Levinas's concept of the Face of the Other and Paul Ricoeur's narrative hermeneutics. This research uses a qualitative approach through fieldwork, including in-depth interviews with displaced persons, church council members, congregants, security personnel, and a key informant, namely the pastor. The findings reveal that suffering is understood not merely as a social tragedy but as a locus theologicus, a space of encounter with God who is present relationally through social solidarity, protection, resilience, and efforts to rebuild life. Interreligious solidarity, particularly assistance from Muslim communities and other external parties, becomes a concrete manifestation of God's presence beyond religious boundaries. The study also shows that suffering is reinterpreted as a narrative of transformation that shapes a new collective identity characterized by resilience, hope, and renewed faith. Furthermore, reconciliation is understood not only as a social process but as a spiritual journey rooted in inner transformation and faith. The church plays a significant role as an agent of recovery and a mediator in interpreting the meaning of suffering. This study proposes a theological model, namely "The Face of God in Transformative Solidarity," which emphasizes that God's presence is manifested in three dimensions: suffering, relational solidarity, and transformation. This research contributes to the development of Indonesian contextual theology, particularly in understanding suffering and divine presence in post-conflict contexts.