Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : MANUSKRIPTA

Lontar Yusup Banyuwangi: Warna Lokal dan Variasi Teks dalam Manuskrip Pegon di Ujung Timur Jawa Indiarti, Wiwin; Hasibin, Nur
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.100

Abstract

Lontar Yusup Banyuwangi (LYB), copied in a Pegon script and still actively read in Banyuwangi, contains the life-story of the Prophet Yoseph from the age of twelve, when he dreamed of the sun, moon and eleven stars bowing to him, until he ascended the throne in Egypt, after his prophecy about King Pharaoh’s dream. The oldest manuscript of LYB, which is found in Kemiren - Banyuwangi and becomes Adi Purwadi’s collection, dates to 1829 in Javanese calendar, presumably derived from an Islamic source, and absorbs various local elements in its textual content. LYB, read with tunes that are intrinsically connected with stanzaic metrical patterns, consists of twelve pupuh (cantos) and four pupuh forms (Kasmaran, Durma, Pangkur, and Sinom) with a total of nearly 600 stanzas. This paper unveils local elements and text variations in LYB which include types of vocabulary usage, forms of tembang variations, and the modification of Perso-Arabic text that makes it different from commons. This shows the high power of local creativity in the writing and copying of manuscripts in the past. === Lontar Yusup Banyuwangi (LYB), disalin dalam aksara pegon dan masih aktif didendangkan di Banyuwangi, menghantarkan kisah Nabi Yusuf dari usia dua belas tahun, saat ia memimpikan matahari, bulan dan sebelas bintang yang bersujud kepadanya, sampai ia naik takhta di Mesir, seusai nubuatnya tentang mimpi Raja Firaun. Naskah tertua LYB berangka tahun Jawa 1829, (koleksi Adi Purwadi dari desa Kemiren, Banyuwangi) diduga berasal dari sumber Islam, dan menyerap berbagai unsur lokal dalam kandungan tekstualnya. LYB berwujud tembang, didendangkan dengan melodi yang secara intrinsik terkait dengan bentuk-bentuk pupuh (serangkaian bait dalam satu episode cerita) - terdiri dari dua belas pupuh, berisi empat bentuk pupuh (Kasmaran, Durma, Pangkur, dan Sinom) dengan total hampir 600 bait. Tulisan ini memaparkan warna lokal dan variasi teks dalam LYB yang meliputi ragam kosakata, bentuk variasi tembang, dan modifikasi teks pegon yang berbeda bentuk penulisannya dengan teks pegon pada umumnya. Hal ini menunjukkan elan kreatifitas lokal yang tinggi dalam penulisan dan penyalinan naskah di masa lalu.
Lontar Sri Tanjung: Narasi, Simbol, dan Ingatan Indiarti, Wiwin
Manuskripta Vol 15 No 1 (2025): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v15i1.176

Abstract

Lontar Sri Tanjung is a classical Nusantara manuscript that weaves narrative, moral teachings, and symbolism, serving as a vital repository of cultural memory for the Banyuwangi region and Osing community. Its recognition as an Indonesian National Collective Memory (IKON) in 2024 affirms its significance in preserving intangible heritage. The text recounts the legendary origin of Banyuwangi through the symbol of fragrant water, embodying values of loyalty, sacrifice, and the honor restoration. Central to the story is an idealized female figure who reflects traditional moral ideals while anchoring local cultural identity. Viewed through the lens of collective memory studies, Lontar Sri Tanjung is not a static relic but a living cultural space that continually shapes and transmits shared meanings across generations. Contemporary critical readings open possibilities for reinterpretation, including discussions of gender and power. Today, the manuscript remains relevant for character education, cultural literacy, reinforcing local identity, and advancing cultural diplomacy. === Lontar Sri Tanjung merupakan naskah sastra klasik Nusantara yang memadukan narasi, nilai moral, dan simbolisme, sekaligus berfungsi sebagai memori budaya masyarakat Banyuwangi dan Osing. Penetapannya sebagai naskah Ingatan Kolektif Nasional (IKON) 2024 menegaskan perannya sebagai naskah penting dalam pelestarian warisan budaya. Kisah Sri Tanjung memuat legenda asal-usul Banyuwangi melalui simbol air harum, serta nilai kesetiaan, pengorbanan, dan pemulihan kehormatan. Narasi ini menghadirkan figur perempuan ideal dalam bingkai moral tradisional, sekaligus merefleksikan identitas kultural masyarakat setempat. Dalam kajian ingatan kolektif, Lontar Sri Tanjung bukan sekadar arsip masa lalu, melainkan ruang hidup yang membentuk dan mereproduksi ingatan lintas generasi. Pembacaan kritis memungkinkan penafsiran ulang dalam konteks kontemporer, termasuk isu gender dan relasi kuasa. Di masa kini, naskah ini relevan untuk pendidikan karakter, literasi budaya, penguatan identitas lokal, dan diplomasi budaya.