Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Evaluasi Program Bus Wisata Heritage Bandar Grissee Dalam Mendukung Pengembangan Wisata Heritage Gresik Nurhayati Nurhayati; Ahmad Zaki; Oktavia Kurnia Ramadhani; Nia Nur Qur’any Agustin; Tauran Tauran; Wilda Sumarsyah
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 2 (2026): Maret - Juni
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i2.9212

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi Program Bus Wisata Heritage Bandar Grissee dalam mendukung pengembangan destinasi wisata warisan di Kabupaten Gresik. Program ini disusun sebagai inovasi dalam layanan publik untuk meningkatkan aksesibilitas di antara destinasi wisata heritage yang terdapat di wilayah Bandar Grissee. Penelitian ini menggunakan pendekatan evaluasi resmi dengan jenis evaluasi formatif serta merujuk pada enam kriteria evaluasi kebijakan yang diajukan oleh William N. Dunn, yaitu efektivitas, efisiensi, kecukupan, pemerataan, responsivitas, dan akurasi. Metode penelitian yang diterapkan adalah kualitatif deskriptif dengan menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa program tersebut telah membawa dampak positif terhadap kenaikan jumlah pengunjung dan kemudahan akses layanan wisata. Namun, pelaksanaan program masih mengalami berbagai tantangan, seperti jumlah armada yang terbatas, digitalisasi layanan yang belum maksimal, efisiensi operasional yang rendah, serta aksesibilitas yang belum merata untuk kelompok rentan dan lokasi dengan infrastruktur jalan yang sempit. Secara keseluruhan, Program Bus Wisata Heritage Bandar Grissee dianggap efektif dan relevan sebagai solusi transportasi wisata heritage, namun masih membutuhkan pengembangan dalam aspek integrasi layanan, peningkatan kapasitas armada, penerapan sistem digital, dan penguatan konsep mobilitas wisata yang inklusif serta berkelanjutan agar tujuan pengembangan pariwisata lokal dapat dicapai secara optimal.  
Implementasi Kebijakan RIPPARDA Dalam Pengembangan Kawasan Eduwisata Kampung Inggris Pare Emilda Putri Sania; Evana Clairina Heriyanto; Nia Nur Qur’any Agustin; Oktavia Kurnia Ramadhani; Sagita Happy Arida; Tjitjik Rahaju; Ardiyansah Ardiyansah
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.781

Abstract

Kampung Inggris Pare merupakan kawasan eduwisata berbasis pendidikan bahasa Inggris yang telah ditetapkan sebagai kawasan strategis pariwisata daerah melalui Peraturan Daerah Kabupaten Kediri Nomor 2 Tahun 2020 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPPARDA) Kabupaten Kediri Tahun 2019–2034. Meskipun kebijakan tersebut telah dirumuskan, terdapat kesenjangan antara target kebijakan dan kondisi di lapangan, terutama terkait infrastruktur, sosialisasi kebijakan, dan koordinasi antar pemangku kepentingan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi kebijakan RIPPARDA dalam pengembangan kawasan eduwisata Kampung Inggris Pare serta dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal di Kabupaten Kediri. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, sedangkan kerangka analisis implementasi mengacu pada model Van Meter dan Van Horn yang mencakup enam variabel, yaitu standar dan tujuan kebijakan, sumber daya, karakteristik badan pelaksana, sikap pelaksana, komunikasi antar organisasi, serta kondisi sosial, ekonomi, dan politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi RIPPARDA belum berjalan secara optimal karena minimnya sosialisasi kebijakan kepada pemangku kepentingan lokal, keterbatasan fasilitas publik, ketiadaan unit pelaksana teknis di lapangan, serta lemahnya koordinasi antara pemerintah daerah dengan Forum Kampung Bahasa dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Meskipun demikian, pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal tetap berkembang signifikan melalui inisiatif mandiri warga dalam sektor jasa dan perdagangan.