Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HUBUNGAN INTENSITAS DOOMSCROLLING PADA MEDIA SOSIAL DENGAN KUALITAS TIDUR MAHASISWA AKTIF STIKES HAKLI SEMARANG Nur Arifatus Sholihah; Siti Sakinah
Jurnal Riset Kajian Teknologi dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Riset Kajian Teknologi dan Lingkungan
Publisher : LPPM Universitas Samawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58406/jrktl.v9i1.2409

Abstract

Doomscrolling pada media sosial menjadi perilaku digital yang semakin sering dilakukan mahasiswa dan berpotensi menurunkan kualitas tidur akibat paparan informasi negatif secara terus-menerus, terutama sebelum tidur. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan fisik, mental, konsentrasi belajar, dan produktivitas akademik mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas doomscrolling pada media sosial dengan kualitas tidur mahasiswa aktif STIKES HAKLI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif analitik dengan desain cross sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei–Juni 2026 dengan jumlah responden sebanyak 50 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner berbasis Google Form mengenai intensitas doomscrolling dan kualitas tidur mahasiswa. Data dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki tingkat doomscrolling kategori sedang hingga tinggi serta kualitas tidur yang buruk. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan antara intensitas doomscrolling dengan kualitas tidur mahasiswa dengan nilai p-value < 0,05. Semakin tinggi intensitas doomscrolling, maka semakin buruk kualitas tidur mahasiswa. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat memengaruhi kualitas tidur mahasiswa sehingga diperlukan edukasi mengenai penggunaan media sosial yang lebih bijak dan penerapan pola tidur sehat.
Strategi Promosi Kesehatan untuk Pencegahan Tuberkulosis Di Desa Berare Nur Arifatus Sholihah; Asri Reni Handayani; Asih Prasetyowati; Roro Kushartanti; Siti Sakinah
Jurnal Cendekia Mengabdi Berinovasi dan Berkarya Vol 4 No 2 (2026): Februari - Mei
Publisher : Universitas Madako Tolitoli

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56630/jenaka.v4i2.1323

Abstract

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada wilayah pedesaan dengan keterbatasan akses informasi kesehatan. Rendahnya pemahaman masyarakat mengenai gejala, penularan, dan pencegahan TBC di Desa Berare menjadi dasar pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini. Kegiatan bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terkait deteksi dini serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat sebagai upaya pencegahan TBC. Sasaran kegiatan sebanyak 45 masyarakat usia 20–60 tahun yang dipilih berdasarkan hasil observasi awal terhadap kebutuhan edukasi kesehatan masyarakat. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan pembagian leaflet edukatif. Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen kuesioner pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta serta observasi partisipasi selama kegiatan berlangsung. Hasil menunjukkan rata-rata skor pengetahuan peserta meningkat dari 52,4 pada pre-test menjadi 82,6 pada post-test atau meningkat sebesar 57,6%. Selain itu, 90% peserta menunjukkan komitmen menjaga ventilasi rumah, 85% menerapkan etika batuk, dan 70% bersedia memanfaatkan layanan kesehatan apabila mengalami gejala TBC. Pendekatan partisipatif berbasis diskusi kelompok menjadi nilai tambah kegiatan karena mampu meningkatkan keterlibatan aktif masyarakat dan menyesuaikan materi edukasi dengan kondisi lokal. Kegiatan ini menunjukkan bahwa promosi kesehatan berbasis komunitas efektif mendukung upaya pencegahan TBC dan dapat menjadi model edukasi kesehatan masyarakat di wilayah pedesaan.
Legal Responsibility and Regulatory Framework for the Prevention and Management of Violence Against Healthcare Workers Asri Reni Handayani; Ana Lestari; Nur Arifatus Sholihah; Rafi'ah Rafi'ah; Galuh Permatasari; Hamidatun Rabayya Yusuf
Dalihan Na Tolu: Jurnal Hukum, Politik dan Komunikasi Indonesia Vol. 4 No. 02 (2026): Dalihan Na Tolu: Jurnal Hukum, Politik dan Komunikasi Indonesia
Publisher : SEAN Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Violence against healthcare workers in healthcare facilities is a serious issue that affects both the safety of healthcare personnel and the quality of healthcare services. Such violence may take the form of verbal, psychological, or physical abuse triggered by dissatisfaction with healthcare services, limited facilities, heavy workloads, and ineffective communication. Although the legal protection of healthcare workers has been regulated under various laws and regulations, its implementation in practice remains suboptimal. This study aims to analyse the forms of violence experienced by healthcare workers, the legal responsibilities related to their protection, and the barriers to the implementation of legal protection within healthcare facilities. This study employed a normative-empirical legal research method using statutory, conceptual, and sociological approaches. The research was conducted at Sumbawa Public Health Center, West Nusa Tenggara Province, Indonesia, with healthcare workers serving as the research subjects. Data were collected through interviews, observations, and document studies and were analysed qualitatively. The findings indicate that verbal violence and psychological pressure were the most dominant forms of violence experienced by healthcare workers. The implementation of legal protection for healthcare workers has not been optimal due to the absence of specific standard operating procedures (SOPs) for handling violence, weak security systems, low reporting rates, and a culture of informal conflict resolution. Legal protection remains largely normative and tends to be more repressive than preventive. Therefore, stronger and more operational regulations, the establishment of national SOPs, improved security systems in healthcare facilities, and the implementation of a zero-tolerance policy toward violence in healthcare settings are urgently needed.