Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Hubungan Pengetahuan dan Sikap terhadap Tindakan Mengenai Aktivitas Fisik pada Siswa SMA Negeri 1 Cikalong Wetan Dafa Abiyuhafizh; R. Rizky Suganda Prawiradilaga; Widhy Yudistira Nalapraya
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.5555

Abstract

Abstract Being physically inactive is the fourth-highest risk factor for death worldwide. According to the WHO, 85% to 90% of teenagers in Indonesia are not physically active. The KAP survey will be used in this study to identify the factors that lead to teenagers' lack of physical exercise. This study is an observational study with a cross-sectional approach. Samples were taken by purposive sampling of one hundred nine students of SHS 1 Cikalong Wetan with an age range of 16-18 years. KAP data is collected using google forms. Physical activity was measured using the WHO-issued PAQ-A questionnaire. The data analysis used is the Speraman correlation test. The findings of the correlation test revealed no association between knowledge and action (p-value = 0.536) and between knowledge and attitude (p-value = 0.312). The correlation between attitude and action was tested, and the results revealed that there was a relationship (p-value = 0), while it had a rather weak relationship strength (r = 0.399). The majority of students are knowledgeable about physical activity, but they struggle with attitudes and actions related to it. Researchers advise schools to organize an activity and implement policies that will improve time and motivation for physical activity. Abstrak. Ketidak-aktifan secara fisik adalah faktor risiko terbesar keempat untuk kematian secara global. Dilaporkan dari WHO, prevalensi remaja di Indonesia yang tidak aktif secara fisik sebanyak 85% - 90%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab ketidak-aktifan secara fisik pada remaja dengan menggunakan survei KAP. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan potong lintang. Sampel diambil secara purposive sampling sebanyak 109 siswa SMA Negeri 1 Cikalong Wetan dengan rentang umur 16 – 18 tahun. Data pengetahuan, sikap dan tindakan mengenai aktivias fisik diambil menggunakan google formulir. Aktivitas fisik diukur menggunkan kuesioner PAQ-A yang dikelluarkan WHO. Analisa data yang digunakan ialah uji korelasi Speraman. Hasil uji korelasi antara pengentahuan terhadap tindakan menunjukan tidak adanya hubungan (p = 0,536) dan antara pengetahuan dan sikap tidak terdapat adanya hubungan (p = 0,312). Hasil uji korelasi antara sikap dengan tindakan menunjukan terdapat adanya hubungan (p = 0) yang memiliki kekuatan hubungan yang cukup rendah(r = 0,399). Mayoritas siswa memiliki pengetahuan yang baik mengenai aktivitas fisik tetapi kurang baik dalam sikap dan tindakan terhadap aktivitas fisik. Peneliti menyarankan agar sekolah dapat mengadakan suatu acara dan membuat regulasi yang dapat meningkatkan motivasi serta waktu untuk melaksanaan aktivitas fisik.
Indeks Massa Tubuh dan Persentase Lemak Tubuh Berhubungan dengan Tingkat Aktivitas Fisik Namun Tidak dengan Kesiapan Melakukan Aktivitas Fisik pada Mahasiswa Fauzi Chandra Nugraha; Indri Budiarti; Rizky Suganda Prawiradilaga
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6646

Abstract

Abstract. The incidence of obesity is increasing every year. This can be caused by excessive food intake and lack of physical activity. To do physical activity requires readiness to do so. Readiness to engage in physical activity can be affected by poor mobility and health. This study aimed to analyze the relationship between body mass index (BMI) and body fat percentage with the level and readiness of physical activity in FK UNISBA students. The research respondent collection technique uses probability sampling which is disproportionate purposive sampling. Respondents in this study met the inclusion criteria for 2019, 2020, 2021 FK UNISBA students, healthy conditions, willing to fill informed consent and exclusion criteria, having chronic diseases, and incomplete questionnaire data. The variables measured were height and weight to determine BMI, body fat percentage, level of physical activity based on IPAQ questionnaire, and readiness for physical activity based on the PAR-Q questionnaire. The test used in this study is Spearman's correlation test. Results showed significant relationship between BMI and the level of physical activity or between the percentage of body fat and the level of physical activity (both P <0.01, r=-0.204, r=-0.197). However, there was no significant relationship between BMI or body fat percentage and readiness for physical activity (P=0.12 and P=0.82). These results, it can be concluded that the higher the BMI and body fat percentage, the lower the level of physical activity. Students are expected to be able to maintain their weight at an optimal state and continue to increase physical activity. Abstrak. Kejadian obesitas meningkat setiap tahunnya. Hal ini bisa disebabkan asupan makanan yang berlebihan dan kurangnya aktivitas fisik. Untuk melakukan aktivitas fisik diperlukan kesiapan untuk melakukannya. Kesiapan untuk melakukan aktivitas fisik dapat dipengaruhi oleh mobilitas dan kesehatan yang buruk. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan indeks massa tubuh (IMT) dan persentase lemak tubuh dengan tingkat dan kesiapan aktivitas fisik pada mahasiswa FK UNISBA. Teknik pengambilan responden penelitian menggunakan probability sampling yang disproportionate purposive sampling. Responden pada penelitian ini memenuhi kriteria inklusi mahasiswa FK UNISBA 2019,2020,2021, kondisi sehat, bersedia mengisi Iinformed consent dan kriteria ekslusi memiliki penyakit kronis, data kuisioner tidak lengkap. Variabel yang diukur adalah tinggi badan dan berat badan untuk menentukan IMT, persentase lemak tubuh, tingkat aktivitas fisik berdasarkan kuesioner IPAQ, dan kesiapan aktivitas fisik berdasarkan kuesioner PAR-Q. Uji yang digunakan pada penelitian ini adalah uji korelasi Spearman’s. Hasil menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dengan tingkat aktivitas fisik ataupun antara persentase lemak tubuh dengan tingkat aktivitas fisik (keduanya P < 0.01, r=-0.204, r=-0.197). Namun, tidak terdapat hubungan yang bermakna antara IMT ataupun persentase lemak tubuh dengan kesiapan aktivitas fisik (P=0,12 dan P=0.82). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi IMT dan persentase lemak tubuh maka semakin rendah tingkat aktivitas fisiknya. Mahasiswa diharapkan dapat menjaga berat badannya pada keadaan optimal dan terus meningkatkan aktivitas fisiknya.
Hubungan Self-Care Management dengan Kualitas Hidup Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 pada Masa Pandemi Covid-19 Tahun 2020-2021 di RS Abdoel Moeloek Bandar Lampung Muhammad Ramanda Pasha; Rizky Suganda Prawiradilaga; Nugraha Sutadipura
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.5978

Abstract

Abstract. Self-care is an action or behavior of a person that is carried out periodically and is rational. One of the self-care management is diabetes mellitus. Self-care in diabetes mellitus aims to treat and prevent complications by controlling blood sugar. This is especially important during the Covid 19 pandemic because a person becomes more easily infected, especially individuals with comorbid type 2 DM. The purpose of this study was to determine the relationship between self care management and the quality of life of type 2 DM patients at Abdoel Moeloek Hospital. The method used by this researcher uses a cross-sectional design method with consecutive sampling techniques and a favorable approach by asking questions and answers to respondents and respondents filling out the Diabetes Self-care Management Quisonare (DSMQ) and Diabetes Quality of Life (DQOL) questionnaires. Subjects in this study totaled 99 samples of patient medical records adjusted for the inclusion and exclusion criteria of the study. Processing of research data was carried out in a computerized manner including analysis using the Chi-square test. the researchers found that 46.5% of the respondents had sufficient self-care management, with a total of 41.4% of the patients' quality of life sufficient. The results of the chi square test obtained in this study were p = 0.23. This study shows that there is no relationship between self-care management and the quality of life of type 2 DM patients at Abdoel Moeloek Hospital Bandar Lampung. This is likely influenced by several factors such as level of education and system support. Abstrak. Self-care merupakan tindakan atau perilaku seseorang yang dilakukan secara berkala dan bersifat rasional, Salah satu manajemen self-care yaitu dalam penyakit diabetes mellitus. Self-caredalam diabetes mellitus bertujuan untuk mengendalikan serta mencegah terjadi komplikasi dengan melakukan kontrol gula darah. Hal ini merupakan hal yang penting terutama pada masa pandemi covid 19 karena seseorang menjadi lebih mudah terinfeksi terutama individu dengan komorbid DM tipe 2. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara manajemen self-care dengan kualitas hidup pasien DM tipe 2 di RSUD Abdoel Moeloek. Metode yang digunakan peneliti ini menggunakan design metode cross sectional dengan teknik consecutive sampling pendekatan favorable dengan cara tanya jawab kepada responden dan responden melakukan pengisian kuesioner Diabetes Self-care Management quisonare (DSMQ) dan Diabetes Quality of Life (DQOL). Subjek pada penelitian ini berjumlah 99 sampel rekam medis pasien yang disesuaikan dengan kriteria inklusi dan ekslusi penelitian. Pengolahan data penilitian dilakukan secara komputerisasi meliputi analisis dengan menggunakan Chi-square test. peneliti mendapatkan hasil sebanyak 46,5% responden memiliki manajemen self-care yang cukup, dengan total 41,4% kualitas hidup pasien yang cukup. Hasil uji chi square yang didapatkan pada penelitian ini sebesar p = 0,23. Penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan antara manajemen self-care dengan kualitas hidup pasien DM tipe 2 di RSUD Abdoel Moeloek Bandar Lampung. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti tingkat pendidikan dan sistem pendukung
Hubungan Pengetahuan dan Sikap terhadap Tindakan Mengenai Aktivitas Fisik pada Siswa SMA Negeri 1 Cikalong Wetan Dafa Abiyuhafizh; R. Rizky Suganda Prawiradilaga; Widhy Yudistira Nalapraya
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.5737

Abstract

Abstract Being physically inactive is the fourth-highest risk factor for death worldwide. According to the WHO, 85% to 90% of teenagers in Indonesia are not physically active. The KAP survey will be used in this study to identify the factors that lead to teenagers' lack of physical exercise. This study is an observational study with a cross-sectional approach. Samples were taken by purposive sampling of one hundred nine students of SHS 1 Cikalong Wetan with an age range of 16-18 years. KAP data is collected using google forms. Physical activity was measured using the WHO-issued PAQ-A questionnaire. The data analysis used is the Speraman correlation test. The findings of the correlation test revealed no association between knowledge and action (p-value = 0.536) and between knowledge and attitude (p-value = 0.312). The correlation between attitude and action was tested, and the results revealed that there was a relationship (p-value = 0), while it had a rather weak relationship strength (r = 0.399). The majority of students are knowledgeable about physical activity, but they struggle with attitudes and actions related to it. Researchers advise schools to organize an activity and implement policies that will improve time and motivation for physical activity. Abstrak. Ketidak-aktifan secara fisik adalah faktor risiko terbesar keempat untuk kematian secara global. Dilaporkan dari WHO, prevalensi remaja di Indonesia yang tidak aktif secara fisik sebanyak 85% - 90%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab ketidak-aktifan secara fisik pada remaja dengan menggunakan survei KAP. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan potong lintang. Sampel diambil secara purposive sampling sebanyak 109 siswa SMA Negeri 1 Cikalong Wetan dengan rentang umur 16 – 18 tahun. Data pengetahuan, sikap dan tindakan mengenai aktivias fisik diambil menggunakan google formulir. Aktivitas fisik diukur menggunkan kuesioner PAQ-A yang dikelluarkan WHO. Analisa data yang digunakan ialah uji korelasi Speraman. Hasil uji korelasi antara pengentahuan terhadap tindakan menunjukan tidak adanya hubungan (p = 0,536) dan antara pengetahuan dan sikap tidak terdapat adanya hubungan (p = 0,312). Hasil uji korelasi antara sikap dengan tindakan menunjukan terdapat adanya hubungan (p = 0) yang memiliki kekuatan hubungan yang cukup rendah(r = 0,399). Mayoritas siswa memiliki pengetahuan yang baik mengenai aktivitas fisik tetapi kurang baik dalam sikap dan tindakan terhadap aktivitas fisik. Peneliti menyarankan agar sekolah dapat mengadakan suatu acara dan membuat regulasi yang dapat meningkatkan motivasi serta waktu untuk melaksanaan aktivitas fisik.
PKM MANAJEMEN LAKTASI DALAM UPAYA PENURUNAN STUNTING DI KABUPATEN BANDUNG BARAT Putri, Mirasari; Iskandar, Wedi; Maharani, Winni; Afif, Mochammad Faisal; Prawiradilaga, Rizky Suganda
DHARMAKARYA: Jurnal Aplikasi Ipteks untuk Masyarakat Vol 12, No 4 (2023): Desember, 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v12i4.42528

Abstract

Stunting saat ini masih termasuk sebagai masalah nasional di Indonesia, begitu juga dengan di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Laktasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi stunting. kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan teknik pelaksanaan manajemen laktasi yang baik para ibu kader pemberdayaan dan kesehatan keluarga (PKK) di KBB. Metode PKM ini dilakukan dengan cara memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada kader PKK berjumlah 173 orang, serta pendampingan dengan pemberian bahan ajar dan membuat grup daring yang beranggotakan tim pengabdi beserta para kader PKK dengan aplikasi whatsapp. Acara PKM ini diadakan di Bale Gempungan lantai 4, Kompleks Pemda KBB pada tanggal 15 - 16 September 2022. Dari segi karakteristik, para kader semua berjenis kelamin perempuan, 97,69% peserta masuk dalam golongan umur dewasa (26-45 tahun) dan pendidikan terakhir peserta umumnya adalah SMA/SMK (70,93 %) walau terdapat satu peserta yang tidak tamat SD. Sebagian besar peserta (84,3 %) merupakan ibu rumah tangga, dan 83,33% memiliki pendapatan di bawah UMR. Kegiatan pengabdian ini telah memberikan pengetahuan dan keterampilan para ibu kader dalam upaya edukasi ibu menyusui sehingga diharapkan pengetahuan dan keterampilan manajemen laktasi para ibu kader akan meningkat demi meningkatkan kesehatan ibu dan anak untuk menuju zero stunting di daerah Kabupaten Bandung Barat. 
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT EDUKASI KESEHATAN REPRODUKSI DAN PELATIHAN EDUKATOR SEBAYA PADA SISWA MTS AL-MUHAJIRIN DALAM RANGKA UPAYA PENURUNAN ANGKA PERNIKAHAN DINI DI KABUPATEN BANDUNG BARAT Prawiradilaga, Rizky Suganda; Yulianti, Arief Budi; Makaginsar, Caecielia; Yuniarti, Yuniarti; Putri, Mirasari
DHARMAKARYA: Jurnal Aplikasi Ipteks untuk Masyarakat Vol 12, No 4 (2023): Desember, 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v12i4.42457

Abstract

Kejadian pernikahan dini atau perkawinan anak di Indonesia masih cukup banyak. Di Kabupaten Bandung Barat sendiri, kejadian ini terus meningkat. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi dalam rangka menurunkan angka pernikahan dini. Dua puluh orang siswa MTs menjadi peserta pada program ini. Pengabdian dilakukan dengan cara memberikan edukasi dengan media audio visual, pelatihan teknik presentasi beserta prakteknya bersama tutor, pemberian buku bahan ajar serta membuat grup daring dengan aplikasi whatsapp. Peningkatan pengetahuan dilakukan dengan menggunakan kuisioner pre dan post pengabdian, lalu dianalisis secara statistik. Pre-test siswa pada kelas 7, 8 dan 9 adalah adalah 14.2, 13.2, dan 11. 1 sedangkan nilai post-test pada kelas 7, 8 dan 9 adalah 15.8, 14.5 dan 14.8, ini menunjukkan adanya perubahan nilai pre-test dan post test kelas 7, 8 dan 9 sebesar 11.5%, 10.9% dan 24. 2 %. Pada hasil post test ditemukan penurunan jumlah siswa yang masuk kategori kurang dibandingkan dengan pre-test. Secara keseluruhan, skor pre-test dan post-test pada kelas 7 dan 8 menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan sedangkan pada kelas 9 terdapat perbedaan signifikan dengan nilai probabilitas sebesar 0,002 (p<0,05). Hasil pengujian menunjukkan bahwa skor pengetahuan antara ketiga kelas tidak ada perbedaan signifikan. Mitra pengabdian dalam hal ini siswa MTs diharapkan mampu menjadi edukator sebaya yang dapat memberikan edukasi mengenai kesehatan reproduksi bagi teman-teman sebayanya, sehingga nantinya diharapkan angka pernikahan dini di Kabupaten Bandung Barat dapat menurun.
Hubungan Status Gizi dengan Tingkat Kebugaran Berdasarkan 6 Minute Walk Test M. Azhari Hakim; Rizky Suganda Prawiradilaga; Sadiah Achmad
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.11254

Abstract

Abstract. Physical fitness is a person's ability to carry out their daily activities efficiently without producing significant fatigue. Physical fitness is important for medical students to carry out their daily activities that have a busy schedule. This study aims to determine the relationship between nutritional status with fitness level. This study used observational analytic quantitative research with a cross-sectional design. The subjects in this study were active students of the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung in the academic year 2022-2023 as many as 87 people aged 20 to 29 years. Nutritional status data were obtained from anthropometric measurements in the form of body mass indeks and measuring fitness levels using the six minute walk test. Statistical tests used the Spearman correlation test. The results showed that there was a statistically significant relationship between body mass index and fitness level (p=0.013). This result may be due to many other factors that can affect fitness levels such as adequate rest, smoking status, health status, and so on. Abstrak. Kebugaran jasmani ialah kemampuan seseorang dalam melaksanakan aktivitas hariannya dengan efisien tanpa menghasilkan kelelahan yang berarti. Kebugaran jasmani penting bagi mahasiswa kedokteran untuk menjalankan aktivitas hariannya yang memiliki jadwal yang padat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan tingkat kebugaran. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif analitik observasional dengan desain cross-sectional. Subjek pada penelitian ini mahasiswa aktif Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun ajaran 2022-2023 sebanyak 87 orang berusia 20 sampai 29 tahun. Data status gizi diperoleh dari pengukuran antropometri berupa indeks massa tubuh dan pengukuran tingkat kebugaran menggunakan six minute walk test. Uji statistik menggunakan uji spearman correlation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara indeks massa tubuh dengan tingkat kebugaran (p=0.013). Hasil ini dapat disebabkan karena banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi tingkat kebugaran seperti kecukupan istirahat, status merokok, status kesehatan, dan sebagainya.
Hubungan Obesitas dengan Body Dissatisfaction pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Deandra Chitraenrieta Ramdhanoviella; Prawiradilaga, Rizky Suganda; Surialaga, Samsudin
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.12018

Abstract

Abstract. The problem of obesity is a health problem that is growing globally in both developed and developing countries. Obesity can cause many health problems, including psychological problems, one of which is body dissatisfaction. This study aims to assess body dissatisfaction and analyze the relationship between obesity and body dissatisfaction in students who are obese at the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University. This research uses quantitative analytical methods with a cross-sectional approach. The research subjects were 60 people taken using purposive sampling technique. Subjects were allocated into 2 groups, namely 30 people with obese Body Mass Index (BMI) and 30 people with normal BMI). Statistical analysis used SPSS version 26 software. The Spearman correlation test was used in this study to analyze the correlation between obesity and body dissatisfaction scores. The research results show that there is a significant relationship (p-value=0.012) between obesity and body dissatisfaction with a positive correlation with low correlation strength (r=0.321). It is hoped that someone will pay more attention to physical activity and diet so as not to become obese which can increase body dissatisfaction. Abstrak. Obesitas menjadi masalah kesehatan yang berkembang secara global baik di negara yang maju maupun negara berkembang. Obesitas dapat mengakibatkan banyak masalah pada kesehatan termasuk masalah psikologis salah satunya body dissatisfaction. Penelitian ini bertujuan untuk menilai body dissatisfaction dan menganalisis hubungan antara obesitas dengan body dissatisfaction pada dewasa muda yang mengalami obesitas. Penelitian ini menggunakan metode analitik kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian berjumlah 60 orang diambil dengan teknik purposive sampling. Subjek dialokasikan kedalam 2 kelompok yaitu 30 orang dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) obesitas dan 30 orang dengan IMT normal. Analisis statistik menggunakan software SPSS versi 26. Uji korelasi Spearman digunakan pada penelitian ini untuk menganalisis korelasi antara obesitas dengan skor body dissatisfaction. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan yang signifikan (p-value=0.012) antara obesitas dengan body dissatisfaction dengan korelasi positif dengan kekuatan korelasi rendah (r=0,321). Dari hasil tersebut, diharapkan seseorang lebih memperhatikan aktivitas fisik dan pola makan agar tidak mengalami obesitas yang dapat meningkatkan body dissatisfaction.
Hubungan Antara Status Gizi dengan Tingkat Fleksibilitas Tubuh pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unisba Hannia Azzahra Zahlevi; Rizky Suganda Prawiradilaga; Siti Annisa Devi Trusda
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.12405

Abstract

Abstract. Flexibility is the ability to move body parts through a range of motion, such as joints, tendons and tissues. A person's flexibility can be influenced by several factors, one of which can be influenced by fat accumulation which can make it difficult for a person to move flexibly. This study aims to see the relationship between nutritional status and body clotting levels in UNISBA Medical Faculty students. This research uses quantitative analytical observational research with a cross-sectional design. The sampling technique in this research used non-probability sampling with purposive sampling. The subjects of this research were 84 students with inclusion criteria including being registered as active students at the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University for the 2022-2023 academic year and being students aged >20 years. Exclusion criteria included students with a history of injury to the lower back or hamstring muscles and students with joint deformities or a history of joint disease. Level of flexibility was measured using the sit-and-reach test and nutritional status was measured by calculating Body Mass Index and physical activity was measured using the IPAQ questionnaire. Statistical tests use the Gamma correlation test. The research results showed that there was no relationship (p=0.212, r=0.177) between nutritional status and level of welfare. Even though there is no relationship between nutritional status and the level of cold, a person still needs to have good taste to live their daily life. Abstrak. Fleksibilitas merupakan kemampuan untuk menggerakkan bagian tubuh melalui rentang gerak, seperti persendian, tendon dan jaringan. Fleksibilitas seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya dapat dipengaruhi oleh penumpukan lemak yang dapat membuat seseorang sulit untuk bergerak fleksibel. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara status gizi dengan tingkat fleksibilitas tubuh pada mahasiswa Fakultas Kedokteran UNISBA. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif analitik observasional dengan desain cross-sectional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan non-probability sampling dengan jenis purposive sampling. Subjek penelitian ini sebesar 84 mahasiswa dengan kriteria inklusi meliputi terdaftar sebagai mahasiswa aktif Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun ajaran 2022-2023 dan merupakan mahasiswa dengan usia >20 tahun. Kriteria eksklusi meliputi mahasiswa dengan riwayat cedera pada punggung bagian bawah atau otot hamstring dan mahasiswa dengan kelainan bentuk sendi atau riwayat penyakit sendi. Tingkat fleksibilitas diukur menggunakan sit-and-reach test dan status gizi diukur dengan menghitung Indeks Massa Tubuh. Uji statistik menggunakan uji korelasi Gamma. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan (p=0,212, r=0,177) antara status gizi dengan tingkat fleksibilitas. Meskipun tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan tingkat fleksibilitas, namun seseorang tetap harus memiliki fleksibilitas yang baik untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Hubungan antara Kebiasaan Olahraga, Pola Makan, dan Stres Kerja dengan Obesitas Pekerja Teddy Lestady; Rizky Suganda Prawiradilaga; Yudi Feriandi
Jurnal Riset Kedokteran Volume 4, No.2, Desember 2024, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v4i2.5222

Abstract

Abstract. Obesity is an increasing global problem that negatively affects the health and productivity of individuals, especially at work. The main cause of obesity is the imbalance between physical activity and food intake. Work stress can also affect a person's intake. This study aims to determine the relationship between exercise habits, diet, and work stress with obesity in one of the work units of the Ministry of Energy and Mineral Resources in Bandung City. This analytical quantitative study used a cross-sectional approach on 70 workers selected through simple random sampling technique. Univariate data was analysed descriptively and buvariate analysis using Chi-Square test. The results showed that of the 70 respondents, (54%) had regular exercise habits, (90%) often consumed rice, (41.4%) often consumed noodles and sweet drinks, (51.4%) often consumed eggs, (93%) rarely consumed offal, and (77%) did not often consume fast food, (61.4%) often ate vegetables, (77%) often ate fruit, and (44.3%) were in the non-stressed category. Chi-Square test showed that there was no significant association between exercise habits, diet, and work stress with obesity (p-value > 0.05). This indicates that other factors such as genetics, individual metabolism, or other environmental factors may be more dominant in influencing obesity in this population. Abstrak. Obesitas merupakan masalah global yang semakin meningkat saat ini dan berdampak negatif pada kesehatan serta produktivitas individu, khususnya dalam pekerjaan. Penyebab utama obesitas adalah ketidakseimbangan antara aktivitas fisik yang dilakukan dengan asupan makanan. Stres kerja juga dapat mempengaruhi asupan seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan olahraga, pola makan, dan stres kerja dengan obesitas di salah satu unit kerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di Kota Bandung. Penelitian kuantitatif analitik ini menggunakan pendekatan cross-sectional pada 70 orang pekerja yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Data univariat dianalisis secara deskriptif dan analisis buvariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 70 responden, (54%) memiliki kebiasaan olahraga rutin, (90%) sering mengonsumsi nasi, (41.4%) sering mengonsumsi mie dan minuman manis, (51.4%) sering mengonsumsi telur, (93%) jarang mengonsumsi jeroan, dan (77%) tidak sering mengonsumsi fast food, (61.4%) sering makan sayur, (77%) sering makan buah, dan (44.3%) berada dalam kategori tidak stres. Uji Chi-Square menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara kebiasaan berolahraga, pola makan, dan stres kerja dengan obesitas (p-value > 0.05). Hal ini mengindikasikan bahwa faktor lain seperti genetika, metabolisme individu, atau faktor lingkungan lainnya mungkin lebih dominan dalam mempengaruhi obesitas pada populasi ini.