Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Profil Karakter Mahasiswa Politeknik Pelayaran Banten Berdasarkan Atribut Soft-Skill Pedoman Pengasuhan BPSDM Perhubungan Mokhammad Zulkarnain; Dedtri Anwar; Renta Novaliana Siahaan; Deny Adi Setyawan
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 7 No. 2 (2026): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v7i2.11743

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil karakter taruna Politeknik Pelayaran Banten dan mengidentifikasi tingkat keterampilan intrapersonal, interpersonal, dan organisasional yang dimiliki taruna sesuai indikator soft-skills BPSDM Perhubungan. Karakter taruna merupakan aspek fundamental dalam pembentukan sumber daya manusia pelaut yang unggul, berintegritas, disiplin, dan profesional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif verifikatif dengan instrumen kuesioner skala Likert 1–5 yang diberikan kepada taruna aktif sebanyak 150 responden. Data dianalisis menggunakan bantuan SPSS melalui uji validitas, reliabilitas, statistik deskriptif, uji asumsi klasik, uji t, uji F, dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil karakter taruna berada pada kategori Tinggi yang hasilnya Sangat Tinggi dengan nilai rata-rata 4.30 dan instrumen karakter terbukti valid serta reliabel (r = 0.557–0.811; α = 0.916). Keterampilan intrapersonal taruna berada pada kategori Tinggi dengan nilai rata-rata 4.21, yang mencakup kompetensi integritas, etos kerja, adaptasi, inisiatif, kreativitas, manajemen waktu, pengambilan keputusan, kemampuan analisis informasi, dan berpikir kritis. Keterampilan interpersonal dan organisasional juga berada pada kategori Tinggi–Sangat Tinggi dengan masing-masing rata-rata 4.18 dan 4.25. Hasil uji regresi linear menunjukkan bahwa ketiga variabel soft-skills intrapersonal (X₁), interpersonal (X₂), dan organisasional (X₃) berpengaruh signifikan terhadap karakter taruna (Y). Uji t menunjukkan bahwa masing-masing variabel memiliki pengaruh signifikan (Sig = 0.000), dengan variabel organisasional sebagai dimensi paling dominan (B = 0.312; t = 5.331). Uji F menghasilkan nilai F = 92.331 (Sig = 0.000) yang berarti seluruh variabel secara simultan berpengaruh signifikan terhadap karakter taruna. Koefisien determinasi R² sebesar 0.610 menunjukkan bahwa 61% karakter taruna dijelaskan oleh ketiga dimensi soft-skills tersebut. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa karakter taruna Politeknik Pelayaran Banten berada pada tingkat yang sangat baik dan dipengaruhi secara signifikan oleh keterampilan intrapersonal, interpersonal, dan organisasional. Temuan ini menegaskan pentingnya pembinaan soft-skills dalam proses pendidikan vokasi kepelautan untuk menghasilkan lulusan yang unggul, profesional, dan kompetitif di dunia maritim.
Bimbingan teknis keselamatan bernavigasi kepada operator kapal tradisional di lingkungan KUPP Kelas III Karangantu Banten Dapid Rikardo; Semuel Palembangan; Zainal Arifin; Soleh Uddin; Nursyamsu; Cholis Imam Nawawi; Hari Sunanto; Vidiana Anggeranika; Sandy Wahyu Purnomo; Dedtri Anwar; Amirullah; Antaris Fahrisani; Agus Widodo; Yollanda Octavitri; Djibril Tri Bayu Pamungkas; Arief Hidayat Tumanggor
Journal Marine Services Vol. 2 No. 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/jms.v2i1.247

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para operator kapal tradisional di lingkungan Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Kelas III Karangantu, Banten, mengenai keselamatan bernavigasi. Masyarakat nelayan dan operator kapal di wilayah ini umumnya mengoperasikan kapal berukuran 10-40 GT namun masih memiliki kesadaran dan pengetahuan yang terbatas mengenai prosedur keselamatan modern, karena lebih banyak bergantung pada pengalaman turun-temurun. Kurangnya pemahaman ini meningkatkan risiko kecelakaan laut, terutama saat menghadapi cuaca buruk atau kepadatan lalu lintas kapal. Metode yang digunakan dalam bimbingan teknis ini meliputi pendekatan multisensory (audio-visual), diskusi interaktif (sharing), studi kasus, serta praktik langsung (learning by doing) terkait penggunaan alat bantu navigasi dan keselamatan. Materi yang disampaikan mencakup identifikasi rambu laut, isyarat bunyi, peraturan pencegahan tubrukan di laut (COLREGs), serta pengenalan dasar permesinan kapal. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada aspek pengetahuan teoretis dan keterampilan praktis peserta, di mana para operator kini lebih siap dan waspada terhadap potensi bahaya selama pelayaran. Kolaborasi ini diharapkan dapat menciptakan budaya keselamatan maritim yang berkelanjutan di wilayah Karangantu.   This community service activity aims to increase the knowledge and understanding of traditional ship operators within the Class III Karangantu Port Authority (KUPP) environment, Banten, regarding navigation safety. The fishing community and ship operators in this region generally operate vessels of 10-40 GT but still have limited awareness and knowledge regarding modern safety procedures, as they rely more on hereditary experience. This lack of understanding increases the risk of maritime accidents, especially when facing bad weather or high ship traffic density. The methods used in this technical guidance include a multisensory approach (audio-visual), interactive discussions (sharing), case studies, and direct practice (learning by doing) related to the use of navigational and safety aids. The materials presented include identification of sea markers, sound signals, international regulations for preventing collisions at sea (COLREGs), and an introduction to basic ship machinery. The results of the activity show a significant increase in the participants' theoretical knowledge and practical skills, where operators are now better prepared and alert to potential hazards during voyages. This collaboration is expected to create a sustainable maritime safety culture in the Karangantu region.