Iswandaru
Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Bangka Belitung

Published : 38 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Pengaruh Bidang Diskontinu Terhadap Potensi Longsoran Baji pada Lereng Tambang Terbuka di PT Indocement Tunggal Prakarsa Desa Palimanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat Muhammad Rois Daeng Abdullah; Yuliadi; Iswandaru
Bandung Conference Series: Mining Engineering Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Mining Engineering
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsme.v3i2.8222

Abstract

Abstract. PT Indocement is a company engaged in the mining sector with limestone as a commodity commodity. The mining method at the company uses an open pit mining method with a quarry system. Mining geotechnical is mining technical management which includes investigation, sample testing, and management of geotechnical data as well as application of recommendations on the geometry and dimensions of mine openings, as well as monitoring the stability of mine openings (Kepmen ESDM No. 1827 K/30/MEM, 2018). The stability of open pit slopes is an important factor to support continuity of production, worker safety and mining equipment. The type and potential for landslides on a slope can be determined by the position of the slope and the geological structure. Geological structure data is obtained from the results of measuring the structure directly on the face of the slope combined with the position of the slope to analyze the condition of the slope with kinematic analysis. The purpose of this study is to determine the effect of discontinuous planes on the potential for wedge avalanches in open pit mines in the study area. From the results of research on the potential for landslides that commonly occur in the quarry in the study area, namely the type of wedge avalanche. Abstrak. PT Indocement adalah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan dengan komoditas bahan galian batugamping. Metode penambangan pada perusahaan tersebut menggunakan metode tambang terbuka dengan sistem kuari. Geoteknik tambang adalah pengelolaan teknis pertambangan yang meliputi penyelidikan, pengujian conto, dan pengelolaan data geoteknik serta penerapan rekomendasi geometri dan dimensi bukaan tambang, serta pemantauan kestabilan bukaan tambang (Kepmen ESDM No. 1827 K/30/MEM, 2018). Kestabilan lereng tambang terbuka merupakan salah satu faktor penting untuk menunjang kelangsungan produksi, keselamatan pekerja dan peralatan tambang. Jenis dan potensi longsoran pada lereng dapat ditentukan oleh kedudukan lereng dan struktur geologi. Data struktur geologi diperoleh dari hasil pengukuran struktur secara langsung di muka lereng yang dikombinasi dengan kedudukan lereng untuk menganalisis kondisi lereng dengan analisis kinematik. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh bidang diskontinu terhadap potensi longsoran baji pada tambang terbuka pada daerah penelitian. Dari hasil penelitian potensi longsoran yang umum terjadi pada kuari daerah penelitian yaitu jenis longsoran baji.
Analisis Kestabilan Lereng Andesit Menggunakan Metode FEM pada PT. X Ruslan Loilatu; Iswandaru
Jurnal Riset Teknik Pertambangan Volume 2, No. 1, Juli 2022, Jurnal Riset Teknik Pertambangan (JRTP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrtp.v2i1.782

Abstract

Abstract. Geotechnical study data collection includes geotechnical mapping, observations of landslide models that can occur, and sampling for testing physical and mechanical properties. The geotechnical study carried out is by analyzing slides on production slopes, the analytical method used in the analysis of landslides on slopes is the kinematic method, analysis with this method uses rock mass parameters, discontinuity planes, and production slope geometry as input. The overall slope stability analysis using the Finite Element Method (FEM) shows the overall slope is in a stable condition seen from the value of the Safety Factor (FK) which is 1.26. For single slope stability analysis, the slope is modeled with three variations of slope and three variations of height to determine the minimum limit of optimal slope geometry. For slopes with optimal conditions compared to the other two variations of angles, namely slopes with a slope of 50° and a maximum height of 10 m with an SRF of > 1.25 which is used as an optimal slope recommendation, the slope with that slope if modeled with several variations in height, namely 5 m has an SRF of 2.02, a height of 10 m has an SRF of 1.48, and a height of 15 m has an SRF of 1.28, which shows the three variations in height using a slope of 50° have an FK value > 1.25, whereas if the height is made to exceed the limit a height of 15 m, the slope has the potential for landslides. Abstrak. Pengumpulan data studi geoteknik meliputi pemetaan geoteknik, pengamatan model longsoran yang dapat terjadi, dan melakukan sampling untuk pengujian sifat fisik dan sifat mekanik. Kajian geoteknik yang dilakukan adalah dengan menganalisis kelongsoran pada lereng produksi, metode analisis yang digunakan dalam analisis longsoran pada lereng adalah metode kinematik, analisis dengan metode ini menggunakan input parameter massa batuan, bidang diskontinuitas, dan geometri lereng produksi. Analisis kestabilan lereng keseluruhan menggunakan Finite Element Method (FEM) menunjukan lereng keseluruhan dalam kondisi stabil dilihat dari nilai Faktor Keamanan (FK) yang didapatkan sebesar 1,26. Untuk analisis kestabilan lereng tunggal lereng dimodelkan dengan tiga variasi kemiringan dan tiga variasi ketinggian untuk mengetahui batas minimum geometri lereng yang optimal. Untuk lereng dengan kondisi yang optimal dibandingkan dua variasi sudut yang lain adalah lereng dengan kemiringan 50° dan tinggi maksimum 10 m dengan SRF sebesar >1,25 yang dijadikan sebagai rekomendasi lereng yang optimal, lereng dengan kemiringan tersebut jika dimodelkan dengan beberapa variasi ketinggian yaitu 5 m memiliki SRF sebesar 2,02 , ketinggian 10 m memiliki SRF 1,48, dan ketinggian 15 m memiliki SRF sebesar 1,28, yang menunjukan ketiga variasi ketinggian dengan menggunakan kemiringan 50° memiliki nilai FK >1,25, sedangkan jika ketinggian dibuat melebihi batas ketinggian 15 m maka lereng berpotensi longsor.
Kajian Pengaruh Geometri Jalan Terhadap Konsumsi Bahan Bakar Alat Angkut pada Penambangan Andesit Vidy Bayu Laksana; Iswandaru
Jurnal Riset Teknik Pertambangan Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Teknik Pertambangan (JRTP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrtp.v2i2.1421

Abstract

Abstract. The excavation, loading and transportation activities are one of the activities that consume the largest mining operational costs. At least, the operational costs that must be spent only for fuel can reach ± 40% of the total expenditure of all operational costs. Based on this, direct observations were made and carried out data collection such as road geometry, fuel consumption, CycleTime, Fill Factor, Swell Factor, and others. Furthermore, simulations were also carried out using the help of Talpac software in order to get the recommended speed values for each segment and cycle time. Based on observations, the actual average production in front A is 93.52 tons/hour with an average fuel consumption of 4.31 liters/hour. The actual average production gain in Front A is 103.92 tons/hour with an average fuel consumption of 4.15 liters/hour for transportation equipment. The actual value of the fuel ratio on front A for excavators is 0.80 liters/BCM and for dump trucks is 0.11 liters/BCM. The actual value of the fuel ratio on front B for excavators is 0.67 liters/BCM and for dump trucks is 0.10 liters/BCM. The actual value of Fuel Cost on Front A for excavator is Rp. 91,072,500,- and for dumptruck is Rp. 15,427,500. The actual value of Fuel Cost on Front B for excavator is Rp. 90,192,500,- and for dumptruck is Rp. 15,592,500. Abstrak. Kegiatan penggalian, pemuatan dan pengangkutan ini menjadi salah satu kegiatan yang menghabiskan biaya operasional penambangan paling besar. Setidaknya, biaya operasional yang harus dikeluarkan hanya untuk bahan bakar bisa mencapai ± 40% dari total pengeluaran seluruh biaya operasional. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan observasi langsung dan melakukan pengambilan data seperti geometri jalan, konsumsi bahan bakar, CycleTime, Fill Factor, Swell Factor, dan lain-lain. Selanjutnya juga dilakukan simulasi menggunakan bantuan software Talpac agar mendapat nilai rekomendasi kecepatan setiap segmen dan cycle time. Berdasarkan hasil pengamatan, rata-rata produksi di front A aktual adalah 93,52 ton/jam dengan rata-rata konsumsi bahan bakar alat angkut sebesar 4,31 liter/jam. Besar perolehan rata-rata produksi di Front A aktual adalah 103,92 ton/jam dengan rata-rata konsumsi bahan bakar alat angkut sebesar 4,15 liter/jam. Nilai fuel ratio secara aktual pada front A untuk excavator adalah sebesar 0,80 liter/BCM dan untuk dumptruck adalah sebesar 0,11 liter/BCM. Nilai fuel ratio secara aktual pada front B untuk excavator adalah sebesar 0,67 liter/BCM dan untuk dumptruck adalah sebesar 0,10 liter/BCM. Nilai Fuel Cost secara aktual pada Front A untuk excavator adalah sebesar Rp91.072.500,- dan untuk dumptruck adalah sebesar Rp15.427.500,-. Nilai Fuel Cost secara aktual pada Front B untuk excavator adalah sebesar Rp90.192.500,- dan untuk dumptruck adalah sebesar Rp15.592.500,-.
Penentuan Jenis Longsoran berdasarkan Arah Struktur di Kuari A Desa Palimanan Cirebon Haikal Fatwa Nugraha; Yuliadi; Iswandaru
Jurnal Riset Teknik Pertambangan Volume 3, No. 2, Desember 2023, Jurnal Riset Teknik Pertambangan (JRTP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrtp.v3i2.2774

Abstract

Abstract. To support mining activities, geotechnical studies are essential. Mining geotechnics involves technical management covering investigations, sample testing, geotechnical data management, and the implementation of recommendations for mine opening geometry and dimensions, as well as monitoring mine opening stability (Ministerial Decree ESDM No. 1827 K/30/MEM, 2018). One factor influencing slope stability is the presence of weak planes. In slope assessment, kinematic analysis is a crucial method, focusing on understanding the stability based on the type of material movement without analyzing the forces causing the slope material to move (Gurocak et al., 2008). The research aims to determine the general direction of structures and potential landslide types in the study area. Field mapping revealed the general structure directions: for scanline 1, it is N305°E/69° and N208°E/61°, scanline 2 is N5°E/74°, and scanline 3 is N334°E/62° and N264°E/77°. The potential landslides were identified using stereographic projection: scanline 1 exhibited a slide-type landslide with an N340°E direction, scanline 2 did not meet landslide criteria due to perpendicular slope and dominant structure directions, and scanline 3 showed a slide-type landslide with an N58°E direction. Abstrak. Untuk mendukung kegiatan pertambangan, kajian geoteknik menjadi sangat penting. Geoteknik pertambangan melibatkan manajemen teknis yang mencakup penyelidikan, pengujian sampel, pengelolaan data geoteknik, dan implementasi rekomendasi geometri dan dimensi bukaan tambang, serta pemantauan stabilitas bukaan tambang [1], [2]. Salah satu faktor yang mempengaruhi stabilitas lereng adalah adanya bidang lemah. Dalam penilaian lereng, analisis kinematika menjadi metode penting, dengan fokus memahami stabilitas berdasarkan jenis pergerakan material lereng tanpa menganalisis gaya yang menyebabkan pergerakan material lereng tersebut (Gurocak dkk., 2008). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan arah umum struktur dan jenis potensi longsoran yang mungkin terjadi di daerah penelitian. Pemetaan lapangan mengungkapkan arah umum struktur, yaitu untuk scanline 1, N305°E/69° dan N208°E/61°, scanline 2 N5°E/74°, dan scanline 3 N334°E/62° dan N264°E/77°. Potensi longsoran diidentifikasi menggunakan proyeksi stereografis: scanline 1 menunjukkan jenis longsoran baji dengan arah N340°E, scanline 2 tidak memenuhi kriteria longsoran karena lereng dan arah struktur dominan yang saling tegak lurus, dan scanline 3 menunjukkan jenis longsoran baji dengan arah N58°E.
Pengaruh Penambahan Fly Ash Batubara terhadap Parameter Geomekanik Tanah Randa Rahmattullah Ginara; Iswandaru; Indra Karna Wijaksana
Jurnal Riset Teknik Pertambangan Volume 3, No. 2, Desember 2023, Jurnal Riset Teknik Pertambangan (JRTP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrtp.v3i2.2847

Abstract

Abstract. Soil is the result of the natural accumulation of organic and inorganic materials in the Earth's crust. The crucial strength of soil lies in its ability to support the load above and prevent subsidence. Over time, soil strength diminishes, impacting its stability. Direct Shear Tests are employed to measure soil strength. This research focuses on enhancing soil strength by incorporating fly ash as an additive material. The study involves literature review, sample collection, and laboratory tests to monitor changes in the physical and mechanical properties of clayey soil with the addition of fly ash. The results indicate that the clayey soil falls into the category of low plasticity clay, with Atterberg limits revealing a liquid limit of 40.20% and a plastic limit of 17.39%. In density tests with fly ash percentages ranging from 5% to 15%, the 11% mixture achieves the highest density at 1.150 g/cm3. Mechanical properties, such as cohesion (c) and internal friction angle (Ф), are measured at 15.2 KPa and 15.220, respectively. The findings of this research offer insights into the use of fly ash to improve soil strength, with the 11% mixture emerging as the optimal option. Abstrak. Tanah adalah hasil akumulasi material organik dan anorganik secara alami di kerak bumi. Kekuatan tanah krusial untuk menopang beban di atasnya dan mencegah penurunan. Seiring waktu, kekuatannya berkurang, mempengaruhi stabilitasnya. Uji Geser Langsung digunakan untuk mengukur kekuatan tanah. Penelitian ini fokus pada peningkatan kekuatan tanah dengan menambahkan fly ash sebagai material sisipan. Penelitian melibatkan studi literatur, pengambilan sampel, dan uji laboratorium untuk memantau perubahan sifat fisik dan mekanik tanah lempung dengan tambahan fly ash. Hasil menunjukkan bahwa tanah lempung klasifikasi lempung plastisitas rendah. Uji Atterberg limit menghasilkan batas cair 40,20% dan batas plastis 17,39%. Pada pengujian densitas dengan persentase fly ash 5% hingga 15%, campuran 11% mencapai densitas tertinggi, yaitu 1,150 g/cm3. Sifat mekanik, seperti kohesi (c) dan sudut geser dalam (Ф), diukur masing-masing sebesar 15,2 KPa dan 15,220. Hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan tentang penggunaan fly ash untuk meningkatkan kekuatan tanah, dengan campuran 11% menjadi opsi optimal.
Pengaruh Geometri Jalan Terhadap Produktivitas Alat Angkut Rizky Noor Fitriadi; Iswandaru; Elfida Moralista
Jurnal Riset Teknik Pertambangan Volume 4, No. 1, Juli 2024, Jurnal Riset Teknik Pertambangan (JRTP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrtp.v4i1.3821

Abstract

Abstract. Based on the actual conditions in the field, there are several road geometries that are not in accordance with the standards resulting in high traffic density. This causes the actual productivity of the HD 785 conveyance at the KGU South front of 108.2 BCM / Hour / Tool to not reach the conveyance productivity target of 115.23 BCM / Hour / Tool. Therefore, it is necessary to conduct this research to increase the productivity of hauling equipment by improving road geometry. The research was conducted on road geometry focusing on the standardization of Jalan Pandawa. Analysis using the comparative method was carried out with reference to KEPMEN ESDM No. 1827 of 2018 and the American Association of State Highways and Transportation Officials (AASHTO) on road geometry, Rolling Resistance and traffic density, so as to achieve the planned hauling equipment productivity target.  Based on the research results, recommendations are obtained to achieve the HD 785 conveyance productivity target, namely by standardizing road geometry with a road grade of no more than 8%, Rolling Resistance of 2.11% with a subsidence state of 2.5 cm, and traffic density of no more than 80% of the maximum density of Jalan Pandawa with a total of 27 units in loaded conditions and 22 units in empty conditions. The productivity of the conveyance increased by 19.55% from 108.2 BCM/Hour/Tool to 129.36 BCM/Hour/Tool so that the productivity target of the conveyance was achieved. Abstrak. Berdasarkan pada kondisi aktual di lapangan terdapat beberapa geometri jalan yang tidak sesuai dengan standar sehingga terjadi traffic density yang tinggi. Hal tersebut menyebabkan produktivitas aktual alat angkut HD 785 di front KGU Selatan sebesar 108,2 BCM/Jam/Alat tidak mencapai target produktivitas alat angkut yaitu sebesar 115,23 BCM/Jam/Alat. Oleh sebab itu maka perlu dilakukan penelitian ini untuk meningkatkan produktivitas alat angkut dengan perbaikan geometri jalan. Penelitian dilakukan terhadap geometri jalan yang berfokus pada standarisasi Jalan Pandawa. Analisis menggunakan metode komparatif dilakukan dengan mengacu pada KEPMEN ESDM No. 1827 tahun 2018 dan American Association of State Highways and Transportation Officials (AASHTO) terhadap geometri jalan, Rolling Resistance serta traffic density, sehingga tercapai target produktivitas alat angkut yang sudah direncanakan.  Berdasarkan hasil penelitian didapatkan rekomendasi untuk mencapai target produktivitas alat angkut HD 785 yaitu dengan melakukan standarisasi geometri jalan dengan grade jalan tidak lebih dari 8%, Rolling Resistance sebesar 2,11% dengan keadaan subsidensi 2,5 cm, serta traffic density tidak lebih dari 80% dari maksimum density Jalan Pandawa dengan total 27 unit pada kondisi muatan serta 22 unit pada kondisi kosongan. Produktivitas alat angkut meningkat 19,55% dari 108,2 BCM/Jam/Alat sampai ke 129,36 BCM/Jam/Alat sehingga target produktivitas alat angkut tercapai.
Analisis Kestabilan Lereng untuk Rencana Pit Tambang Batubara PT. XYZ Muhammad Dhafin Razaqa; Iswandaru; Zaenal
Jurnal Riset Teknik Pertambangan Volume 4, No. 2, Desember 2024, Jurnal Riset Teknik Pertambangan (JRTP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrtp.v4i2.5217

Abstract

Abstrak. Penambangan terbuka memiliki risiko ketidakstabilan massa batuan, sehingga analisis kestabilan lereng menjadi krusial. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis serta sifat fisik dan mekanik batuan penyusun lereng, sekaligus merekomendasikan geometri lereng yang stabil berdasarkan faktor keamanan dan probabilitas kelongsoran. Data sifat fisik (densitas natural dan saturated) dan sifat mekanik (kohesi dan sudut gesek dalam) dianalisis menggunakan Limit Equilibrium Method (LEM) dan Monte Carlo untuk probabilitas kelongsoran. Analisis dilakukan pada lereng tunggal dengan tinggi 5, 8, dan 10-meter serta kemiringan 40-60°, sedangkan lereng keseluruhan menggunakan sudut 20-50° pada berbagai elevasi. Untuk lereng timbunan, analisis mencakup tinggi 10-40 meter dengan kemiringan 19, 21, dan 23°. Hasilnya, geometri lereng tunggal yang direkomendasikan adalah sandstone (tinggi 8 m, sudut 55°), siltstone dan claystone (tinggi 10 m, sudut 45°), serta carbonaceous claystone dan coal (tinggi 10 m, sudut 60°). Geometri lereng keseluruhan yang disarankan meliputi sudut 35° untuk high wall dan low wall pit Selatan (elevasi 0 mdpl), 28° untuk high wall pit Utara (elevasi -30 mdpl), dan 32° untuk low wall pit Utara (elevasi -20 mdpl). Untuk lereng timbunan, direkomendasikan geometri dengan tinggi 40 meter dan sudut 21°. Analisis ini memberikan acuan penting bagi perencanaan tambang yang aman dan efisien. Abstract. Open-pit coal mining poses risks of rock mass instability, necessitating slope stability analysis. This study aimed to evaluate rock types, physical and mechanical properties, and recommend slope geometries based on safety factors and failure probabilities. Data included rock densities, shear strength (cohesion and friction angle), and analyses using the Limit Equilibrium Method (LEM) and Monte Carlo Method. Single slope stability was analyzed for heights of 5, 8, and 10 meters with angles of 40-60°, while overall slope stability considered angles of 20-50° at varying elevations and heights. Disposal slope stability was examined for heights of 10-40 meters with slopes of 19, 21, and 23°. Recommendations include single slope geometries for sandstone (8 m height, 55° angle), siltstone and claystone (10 m height, 45° angle), and carbonaceous claystone and coal (10 m height, 60° angle). Overall slope recommendations are 35° for South pit high and low walls at 0 mdpl, 28° for North pit high wall at -30 mdpl, and 32° for North pit low wall at -20 mdpl. For disposal slopes, a geometry of 40 m height with a 21° angle is suggested.
Pengaruh Geometri Jalan terhadap Konsumsi Bahan Bakar Alat Angkut pada Penambangan Batubara Nabilla Amellia Putri; Iswandaru; Elfida Moralista
Jurnal Riset Teknik Pertambangan Volume 5, No. 1, Juli 2025, Jurnal Riset Teknik Pertambangan (JRTP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrtp.v5i1.6470

Abstract

Abstract. PT Bara Selaras Resources is a coal mining company with an open-pit mining system and a production target of 250,000 tons/month. However, production in May and June 2024 only reached 178,236 tons and 177,498 tons. In addition, the fuel ratio exceeded the maximum limit of 0.22 liters/BCM, reaching 0.29 liters/BCM in May and 0.27 liters/BCM in June. This issue is suspected to be due to the road geometry not complying with the standards of the Minister of Energy and Mineral Resources Decree No. 1827K/30/MEM/2018 and the AASHTO standards.This study aims to analyze the influence of road geometry on fuel consumption and transport equipment productivity. The study was conducted on a 1.96 km coal transport road divided into 33 segments, with an evaluation of road width, grade, cross slope, and superelevation based on the standards of the Minister of Energy and Mineral Resources Decree No. 1827K/30/MEM/2018 and AASTHO.The research results show that after the repairs, the productivity of the transport equipment increased by 18.32% from 67.76 BCM/hour/unit to 82.96 BCM/hour/unit. The fuel ratio decreased by 43.75% from 0.23 liters/BCM to 0.16 liters/BCM. Production increased by 22.53% from 221,825.49 tons to 271,584.20 tons, thus achieving the production target. Abstrak. PT Bara Selaras Resources merupakan perusahaan tambang batubara dengan sistem tambang terbuka dan target produksi 250.000 ton/bulan. Namun, produksi pada Mei dan Juni 2024 hanya mencapai 178.236 ton dan 177.498 ton. Selain itu, fuel ratio melebihi batas maksimum 0,22 liter/BCM, yaitu 0,29 liter/BCM pada Mei dan 0,27 liter/BCM pada Juni. Masalah ini diduga akibat geometri jalan yang tidak sesuai dengan standar Keputusan Menteri ESDM No. 1827K/30/MEM/2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan yang Baik dan standar American Association of State Highways and Transportation Officials (AASTHO). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh geometri jalan terhadap konsumsi bahan bakar dan produktivitas alat angkut. Studi dilakukan pada jalan angkut batubara sepanjang 1,96 km yang terbagi dalam 33 segmen, dengan evaluasi terhadap lebar jalan, grade, cross slope, dan superelevasi berdasarkan standar Keputusan Menteri ESDM No. 1827K/30/MEM/2018 dan AASTHO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah perbaikan, produktivitas alat angkut meningkat 18,32% dari 67,76 BCM/jam/alat menjadi 82,96 BCM/jam/alat. Fuel ratio menurun 43,75% dari 0,23 liter/BCM menjadi 0,16 liter/BCM. Produksi meningkat 22,53% dari 221.825,49 ton menjadi 271.584,20 ton, sehingga target produksi tercapai.