Anggraini, Debie
(ORCID : 0000-0002-6180-7380, Scopus ID : 58198560800) - Universitas Baiturrahmah

Published : 21 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Correlation between Anthropometric Measurement and Kidney Function in the Elderly to Detection of Chronic Kidney Disease Debie Anggraini; Prima Adelin
INDONESIAN JOURNAL OF CLINICAL PATHOLOGY AND MEDICAL LABORATORY Vol. 29 No. 3 (2023)
Publisher : Indonesian Association of Clinical Pathologist and Medical laboratory

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24293/ijcpml.v29i3.2019

Abstract

Chronic Kidney Disease (CKD) is a very common clinical problem in elderly patients and is associated with increased morbidity and mortality. The proportion of the elderly is predicted to further rise to 20% by the year 2030 caused by the demographic change from a pattern of high birth rates and high mortality to low birth rates. Delayed mortality has contributed to the rise in the elderly population.  The aging process involves physiological and nutritional changes that will affect the nutritional status of the elderly, leading to malnutrition and overweight. Aging is associated with considerable changes in body composition, higher BMI is associated with improved survival in patients with CKD and very low BMI levels have been consistently associated with high all-cause mortality in the elderly. The changes in Body Fat Percentage (BFP) in the elderly will affect the estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR) in the elderly. This study aimed to determine the correlation between anthropometric measurement and kidney function in the elderly population. this research is an analytic observational study with a cross-sectional design, which involved 42 elderly people with age > 60 years in Guguak District, West Sumatera, Indonesia. Anthropometric measurement using the Waist-to-Height-Ratio (WHtR) method, Waist-to-Hip Ratio (WHR), Waist Circumference (WC), and Body Mass Index (BMI) and eGFR were calculated using the Cockcroft and Gault formula. The results of this study showed that the mean age of the elderly was 68±7.58 years, which consisted of 29.3% male and 70.7% female. The Pearson correlation test between WHR and eGFR obtained p<0.05 with r= 0.439 and the Pearson’s correlation test between BMI and eGFR obtained p<0.05 with r= 0.425. There was a moderate correlation between WHR with eGFR and BMI with eGFR in the elderly population.
Gambaran Tingkat Pengetahuan Tentang Pentingnya Konsumsi Serat Untuk Mencegah Konstipasi Pada Masyarakat Kelurahan Rengas Condong Kecamatan Muara Bulian /Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi Elsa Nadhia Amanda; Debie Anggraini; Dita Hasni; Sri Nani Jelmila
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol. 9 No. 2 (2022): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/jkk.v9i2.289

Abstract

Serat merupakan bagian pangan berupa karbohidrat lengkap yang terdapat pada dinding sel tumbuhan dan dapat dikonsumsi oleh tubuh. Orang yang konsumsi seratnya rendah akan memperlambat waktu transit makanan dalam usus yang akan menyebabkan konstipasi. Konstipasi adalah sensasi atau hasrat untuk buang air besar, perasaan tidak puas dengan buang air besar, nyeri, perlu tekanan ekstra atau buang air besar keras. Konstipasi juga dikatakan dalam keadaan sehari-hari bila buang air besar kurang dari 3 kali seminggu dan buang air besar yang diperlukan dengan mengejan secara berlebihan.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengetahuan masyarakat terhadap konsumsi serat .Penelitian deskriptif ini di Kelurahan Rengas Condong Kecamatan Muara Bulian Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi dengan mengikutsertakan 148 responden yang telah menandatangani inform concent. Data kategorik disajikan dalam bentuk frekuensi dan persentase. Pada penelitian ini diperoleh hasil paling banyak memiliki tingkat pengetahuan sedang mengenai konsumsi serat. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa masyarakat di Kelurahan Rengas Condong Kecamatan Muara Bulian Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi memiliki tingkat pengetahuan sedang mengenai konsumsi serat.
Hubungan Antara Anemia dan Fungsi Ginjal pada Pasien dengan Penyakit Ginjal Kronis Salsha Bila; Nidya Naysa Evra; Afni Mesna Putri; Debie Anggraini
Scientific Journal Vol. 4 No. 1 (2025): SCIENA Volume IV No 1, January 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i1.186

Abstract

Pendahuluan: Anemia menjadi komplikasi umum pada pasien yang menderita Penyakit Ginjal Kronis (PGK) dan memberikan dampak terhadap kualitas hidup pasien. Penurunan fungsi ginjal pada pasien PGK mengakibatkan berkurangnya produksi eritropoietin, peningkatan inflamasi sistemik, defisiensi besi, dan gangguan metabolisme yang berkontribusi pada terjadinya anemia.  Tujuan: menganalisis hubungan antara anemia dan fungsi ginjal pada pasien penyakit ginjal kronis berdasarkan data klinis dan laboratorium. Metode: Kajian ini menggunakan metode observasional dengan pendekatan cross-sectional melibatkan pasien PGK dari berbagai tahap penyakit. Parameter yang dianalisis meliputi kadar hemoglobin, estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR), kadar ferritin, indeks saturasi transferrin, dan penanda inflamasi C-reactive protein (CRP). Hasil: Adanya hubungan negatif antara kadar hemoglobin dan eGFR. penurunan fungsi ginjal berbanding lurus dengan tingkat anemia yang lebih berat. Selain itu, defisiensi besi dan inflamasi ditemukan sebagai faktor penting yang memperburuk kondisi anemia. Kesimpulan : Anemia pada pasien PGK memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan deteksi dini, manajemen nutrisi, dan intervensi medis yang tepat untuk memperbaiki kualitas hidup pasien dan mengurangi risiko komplikasi lebih lanjut. Penelitian ini memberikan wawasan penting untuk meningkatkan penanganan anemia pada populasi dengan penyakit ginjal kronis.
Peran Thyroid Stimulating Hormone pada Bayi Baru Lahir Debie Anggraini; Muhammad Fharel
Scientific Journal Vol. 4 No. 1 (2025): SCIENA Volume IV No 1, January 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i1.188

Abstract

Latar Belakang:Kelenjar tiroid berperan penting dalam perkembangan dan fungsi berbagai sistem organ, terutama otak, sejak masa neonatal. Fungsi tiroid yang optimal pada bayi baru lahir sangat krusial untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan normal. Disfungsi tiroid neonatal, seperti hipotiroid kongenital, dapat berdampak signifikan pada perkembangan neurologis dan metabolisme bayi. Oleh karena itu, pemahaman tentang fisiologi tiroid neonatal dan deteksi dini gangguan fungsi tiroid menjadi aspek penting dalam kesehatan anak. Tujuan: Kajian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran fisiologi kelenjar tiroid pada bayi baru lahir, mekanisme regulasi hormon tiroid, serta implikasi klinis dari gangguan fungsi tiroid neonatal. Selain itu, dibahas pula program skrining hipotiroid kongenital yang bertujuan untuk mendeteksi dini gangguan tiroid dan mengurangi dampak jangka panjang terhadap perkembangan anak. Metode: Artikel ini merupakan tinjauan literatur yang mengumpulkan dan menganalisis berbagai penelitian terkini mengenai anatomi, fisiologi, regulasi hormonal, serta gangguan tiroid pada bayi baru lahir. Sumber data diperoleh dari jurnal ilmiah, buku teks, dan pedoman kesehatan nasional dan internasional. Hasil: Kelenjar tiroid neonatal memiliki peran utama dalam mengatur metabolisme dan perkembangan otak melalui produksi hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3). Produksi hormon ini dikendalikan oleh mekanisme umpan balik yang melibatkan hipotalamus dan hipofisis. Hipotiroid kongenital merupakan gangguan metabolik yang paling umum pada bayi baru lahir dan dapat menyebabkan gangguan perkembangan jika tidak terdeteksi dan ditangani secara dini. Program Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) telah diimplementasikan di berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk mengidentifikasi dan mengobati gangguan tiroid neonatal secara cepat dan efektif. Kesimpulan: Fungsi tiroid yang optimal pada bayi baru lahir sangat penting untuk mendukung perkembangan neurologis dan metabolisme. Deteksi dini gangguan tiroid melalui program skrining neonatal menjadi langkah preventif yang krusial untuk mencegah komplikasi jangka panjang. Peningkatan kesadaran tenaga medis dan orang tua terhadap pentingnya fungsi tiroid neonatal dapat berkontribusi dalam meningkatkan kesehatan anak secara keseluruhan.
Korelasi antara Atherogenic Index of Plasma (AIP) dan Parameter Hematologi sebagai Marker Ateroinflamasi pada Pasien Stroke Iskemik Debie Anggraini; Yuri Haiga; Vina Tri Septiana; Soufni Morawati
Scientific Journal Vol. 4 No. 2 (2025): SCIENA Volume IV No 2, March 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i2.210

Abstract

Latar Belakang: Stroke iskemik merupakan kondisi neurologis akut yang banyak dipengaruhi oleh proses aterosklerosis dan inflamasi sistemik. Atherogenic Index of Plasma (AIP) adalah indikator yang mencerminkan dislipidemia aterogenik, sedangkan rasio monosit terhadap HDL (MHR) dan leukosit mencerminkan status inflamasi vaskular. Keterkaitan antara kedua parameter ini belum banyak diteliti secara komprehensif dalam konteks stroke iskemik, terutama di populasi Asia Tenggara. Tujuan: Menilai hubungan antara Atherogenic Index of Plasma (AIP) dan parameter hematologi, khususnya Monocyte-to-HDL Ratio (MHR), sebagai marker ateroinflamasi pada pasien stroke iskemik. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Subjek penelitian adalah 21 pasien stroke iskemik akut yang dirawat di RS Islam Siti Rahmah Padang. AIP dihitung dari log rasio trigliserida terhadap HDL-C, sedangkan MHR dan leukosit diperoleh dari data hematologi. Uji korelasi Spearman digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel. Hasil: Rerata AIP pada pasien adalah 0,15, dengan 42,9% pasien berada pada kategori risiko tinggi. Ditemukan korelasi signifikan antara AIP dan MHR (r = 0,484; p = 0,026), sedangkan korelasi dengan leukosit dan parameter hematologi lain tidak bermakna. Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara AIP dan MHR pada pasien stroke iskemik, yang mencerminkan kontribusi dislipidemia dan inflamasi dalam patogenesis stroke. Kombinasi AIP dan MHR berpotensi sebagai marker ateroinflamasi yang praktis dan dapat diintegrasikan dalam penilaian risiko klinis.
Karakteristik Pasien HIV/AIDS dengan Infeksi Oportunistik di RSUP Dr.M.Djamil Padang, Tahun 2021 Yuri Haiga; Debie Anggraini; Meta Zulyati Oktora; Puja Wanandri
Scientific Journal Vol. 4 No. 2 (2025): SCIENA Volume IV No 2, March 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i2.222

Abstract

Latar Belakang : Human Immunodefeciency Virus (HIV), merupakan virus penyebab Acquired Immune Defeciency Syndrome (AIDS) dengan sistem kerja menyerang darah putih sel CD 4 tergantung dari infeksi opertunistik yang menyertainya. Tujuan: Mengetahui gambaran karakteristik pasien HIV AIDS dengan infeksi opertunistik di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kategorik. Penelitian menggunakan rancangan total sampling menggunakan data sekunder dengan jumlah sampel sebanyak 31. Hasil : Dari 31 sampel pasien HIV AIDS dengan Infeksi Oportunistik, paling banyak berjenis kelamin laki-laki sebanyak 21 orang (93.5%), usia terbanyak pada dewasa yaitu 21 orang (67.7%), pekerjaan terbanyak adalah wiraswasta yaitu 11 orang (35.5%), pendidikan terbanyak adalah SMA yaitu 19 orang (61.3%) status pernikahan terbanyak adalah menikah yaitu 13 orang (41.9%) dan pasien terbanyak memiliki infeksi oportunistik adalah Infeksi Mycobacterium tuberculosis sebanyak 12 orang (38.7%). Kesimpulan: Pasien HIV AIDS banyak yang berjenis kelamin laki-laki ,usia 26-45 tahun, pekerjaan wiraswasta,Pendidikan SMA ,pasien sudah menikah dan dengan infeksi oportunisistik terbanyak yaitu infeksi Mycobacterium tuberculosis
Karakteristik Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Komplikasi Nefropati Diabetik di RSUP Dr. M. Djamil Padang Cindy Munawaroh Pratama Putri; Gangga Mahatma; Meta Zulyati Oktora; Debie Anggraini
Scientific Journal Vol. 4 No. 3 (2025): SCIENA Volume IV No 3, May 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i3.231

Abstract

Pendahuluan: Diabetes Melitus merupakan kondisi kronis yang terjadi akibat peningkatan kadar glukosa dalam darah (hiperglikemia), yang dapat menyebabkan komplikasi kronis baik makrovaskular maupun mikrovaskular. Salah satu komplikasi mikrovaskular yang dapat terjadi yaitu Nefropati Diabetik. Komplikasi ini sering dijumpai pada 20-40% penderita diabetes serta menjadi penyebab paling utama End Stage Renal Disease (ESRD) atau gagal ginjal stadium akhir. Prevalensi DM tipe 2 yang tinggi menyebabkan banyak penderita DM tipe 2 yang berakhir dengan gagal ginjal stadium akhir akibat nefropati diabetik. Tujuan: Untuk mengetahui karakteristik penderita diabetes melitus tipe 2 dengan komplikasi nefropati diabetik di RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2019-2020. Metode: Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif dengan desain cross sectional menggunakan data sekunder. Populasi terjangkau penelitian ini adalah pasien DM tipe 2 dengan komplikasi nefropati diabetik di RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2019-2020, dengan 50 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi menggunakan teknik total sampling. Hasil: Jenis kelamin terbanyak yaitu perempuan 31 orang (62,0%), penderita DM tipe 2 yang mengalami nefropati banyak pada kelompok usia 46-55 tahun (50,0%), dengan lama menderita DM terbanyak selama > 5-10 tahun (42,0%), stadium nefropati diabetik terbanyak yaitu stadium V (92,0%), kadar GDP dalam rentang normal(< 126 mg/dL) yaitu 29 orang (58,0%), nilai tengah kadar ureum yaitu 141,5 mg/dL dan nilai tengah kadar kreatinin yaitu 7,65 mg/dL, serta profil lipid yaitu 29 orang (58,0%) dengan kadar trigliserida tinggi (≥ 150 mg/dL) dan 41 orang (82,0%) dengan kadar HDL rendah( < 40 mg/dL). Kesimpulan: Karakteristik penderita DM tipe 2 dengan komplikasi nefropati diabetik pada penelitian ini didapatkan hasil yaitu paling banyak pada perempuan dengan kelompok usia 46-55 tahun dan telah mengalami ESRD serta adanya peningkatan kadar ureum dan kreatinin dan dislipidemia..
Edukasi dan Skrining Faktor Risiko Hipertensi pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya Padang Fidiariani Sjaaf; Debie Anggraini; Nesi Meldi Pratiwi
Abdika Sciena Vol 4 No 1 (2026): JURABDIKES Volume 4 No 1, Juni 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/jurabdikes.v4i1.351

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit degeneratif yang banyak ditemukan pada kelompok lansia dan menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Faktor risiko hipertensi pada lansia dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, indeks massa tubuh, konsumsi natrium, kebiasaan merokok, dan aktivitas fisik. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan lansia mengenai faktor risiko hipertensi melalui edukasi kesehatan dan skrining sederhana di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Buaya Padang. Metode kegiatan dilakukan melalui penyuluhan kesehatan menggunakan media leaflet dan banner, pemeriksaan tekanan darah, pengukuran indeks massa tubuh, serta wawancara faktor risiko hipertensi pada lansia. Kegiatan melibatkan 88 lansia hipertensi. Hasil skrining menunjukkan sebagian besar peserta berada pada kelompok usia lanjut (61,4%), berjenis kelamin perempuan (69,3%), memiliki riwayat keluarga hipertensi (61,4%), aktivitas fisik kurang baik (72,7%), serta konsumsi natrium kurang baik (77,3%). Kegiatan edukasi dan skrining ini meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pengendalian faktor risiko hipertensi sejak dini. Pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat menjadi langkah promotif dan preventif dalam pengendalian hipertensi pada lansia.
Pemberdayaan Lansia melalui Penyuluhan Gaya Hidup Sehat untuk Pencegahan Hipertensi di Puskesmas Lubuk Buaya Fidiariani Sjaaf; Debie Anggraini; Nesi Meldi Pratiwi; Chandra Adilla; Desi Alifia; Lismawati; Maryeti Marwazi; Nilas Warlem; Tati Khairina; Yanti Fitri Yasa
Abdika Sciena Vol 4 No 1 (2026): JURABDIKES Volume 4 No 1, Juni 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/jurabdikes.v4i1.352

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit degeneratif yang paling banyak ditemukan pada kelompok lanjut usia dan menjadi penyebab utama komplikasi kardiovaskular. Peningkatan kasus hipertensi pada lansia dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko seperti usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, pola konsumsi natrium, obesitas, aktivitas fisik, dan kebiasaan merokok. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan memberdayakan lansia melalui penyuluhan gaya hidup sehat sebagai upaya pencegahan hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Buaya Padang. Metode kegiatan dilakukan melalui edukasi kesehatan menggunakan media leaflet dan banner, pemeriksaan tekanan darah, pengukuran indeks massa tubuh, serta konseling terkait pola hidup sehat. Sasaran kegiatan adalah 88 lansia hipertensi yang mengikuti pemeriksaan kesehatan di Puskesmas Lubuk Buaya. Hasil kegiatan menunjukkan sebagian besar peserta berusia 60–74 tahun sebanyak 54 orang (61,4%), berjenis kelamin perempuan sebanyak 61 orang (69,3%), memiliki riwayat keluarga hipertensi sebanyak 54 orang (61,4%), aktivitas fisik kurang baik sebanyak 64 orang (72,7%), dan konsumsi natrium kurang baik sebanyak 68 orang (77,3%). Kegiatan penyuluhan berjalan baik dan peserta menunjukkan peningkatan pemahaman mengenai pentingnya pola hidup sehat untuk mengontrol tekanan darah. Penyuluhan gaya hidup sehat diharapkan menjadi langkah promotif dan preventif dalam menurunkan risiko hipertensi pada lansia.
DISTRIBUSI STATUS GIZI BERDASARKAN JENIS KELAMIN DAN USIA PADA POPULASI LANSIA DI RSI SITI RAHMAH Zikra Humaira; Debie Anggraini; Prima Adelin
Journal of Public Health Science Vol. 2 No. 3 (2025): September
Publisher : Yayasan Nuraini Ibrahim Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70248/jophs.v2i3.2873

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan distribusi status gizi lansia berdasarkan jenis kelamin dan usia di RSI Siti Rahmah Padang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional) menggunakan total sampling terhadap 38 pasien lansia yang memiliki data lengkap terkait usia, jenis kelamin, dan status gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas lansia memiliki status gizi normal (55,3%), diikuti oleh obesitas (23,7%), gemuk (18,4%), dan kurus (2,6%). Obesitas lebih banyak ditemukan pada perempuan dan kelompok usia 60–69 tahun, sementara status gizi normal dominan pada lansia usia ≥70 tahun. Namun, uji chi-square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan jenis kelamin (p = 0,690) maupun usia (p = 0,176). Simpulan penelitian ini adalah bahwa variasi status gizi lansia tidak dapat dijelaskan hanya berdasarkan jenis kelamin dan usia, sehingga diperlukan pendekatan komprehensif dalam intervensi gizi lansia. Kata Kunci: Lansia, Status Gizi, Jenis Kelamin, Usia, RSI Siti Rahmah