Anggraini, Debie
(ORCID : 0000-0002-6180-7380, Scopus ID : 58198560800) - Universitas Baiturrahmah

Published : 21 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

KARAKTERISTIK KARDIOMETABOLIK LANSIA DALAM SKRINING KOMUNITAS : PERAN INDEKS MASSA TUBUH TERHADAP RISIKO DISLIPIDEMIA Debie Anggraini; Prima Adelin; Muhamad Ivan
Journal of Public Health Science Vol. 2 No. 3 (2025): September
Publisher : Yayasan Nuraini Ibrahim Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70248/jophs.v2i3.2890

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi karakteristik kardiometabolik lansia dalam skrining komunitas dengan fokus pada peran Indeks Massa Tubuh (IMT) terhadap risiko dislipidemia. Metode penelitian yang digunakan adalah desain potong lintang (cross-sectional) dengan total sampling pada 40 lansia berusia ≥60 tahun yang mengikuti skrining kesehatan komunitas di Padang Panjang tahun 2024. Data yang dikumpulkan meliputi pengukuran antropometri, profil lipid, dan tekanan darah, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square dan korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi dislipidemia sebesar 77,5% pada lansia, dengan prevalensi tertinggi pada kelompok kelebihan berat badan (93,3%) dan obesitas (83,3%), meskipun perbedaan antar kategori IMT tidak signifikan secara statistik (p = 0,105). Nilai IMT berkorelasi positif signifikan dengan kadar trigliserida (r = 0,43; p = 0,005) dan LDL-C (r = 0,34; p = 0,034). Simpulan dari penelitian ini adalah kenaikan IMT berhubungan erat dengan peningkatan risiko dislipidemia, sehingga pengukuran IMT dapat digunakan sebagai alat skrining awal yang efektif untuk mengidentifikasi lansia berisiko tinggi dan memandu intervensi pencegahan sekunder di tingkat komunitas. Kata Kunci: Lansia, Indeks Massa Tubuh, Dislipidemia, Skrining Komunitas, Risiko Kardiometabolik
KARAKTERISTIK PARAMETER FUNGSI GINJAL PADA PESERTA MEDICAL CHECK-UP HAJI DI RSU AISYIYAH PADANG Melia Roza Linda; Debie Anggraini
Journal of Public Health Science Vol. 2 No. 3 (2025): September
Publisher : Yayasan Nuraini Ibrahim Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70248/jophs.v2i3.2987

Abstract

Latar Belakang: Ibadah haji melibatkan aktivitas fisik tinggi dan paparan panas yang berpotensi memperburuk fungsi ginjal, khususnya pada jamaah berusia lanjut. Data lokal mengenai profil parameter fungsi ginjal pada peserta medical check-up (MCU) haji masih terbatas. Tujuan: Mendeskripsikan karakteristik ureum, kreatinin, dan laju filtrasi glomerulus terseragam (eGFR) padacalon jamaah haji (CJH) di RSU Aisyiyah Padang. Metode: Studi deskriptif potong lintang menggunakan data MCU CJH periode Januari–Maret 2025. Variabel yang dikaji meliputi umur, jenis kelamin, ureum, kreatinin, dan eGFR. Hasil: Tercatat 34 peserta; usia rata-rata 58,0±12,9 tahun; perempuan 73,5%. Rerata ureum 22,3±8,0 mg/dL, kreatinin 0,8±0,3 mg/dL, dan eGFR 93,1±22,0 mL/menit/1,73 m². Distribusi stadium eGFR: G1 70,6%, G2 20,6%, G3a 5,9%, G3b 0%, G4 2,9%, G5 0%; secara keseluruhan 8,8% memiliki eGFR <60 mL/menit/1,73 m² (G3–G5). Kesimpulan: Mayoritas CJH menunjukkan fungsi ginjal yang terpelihara (G1–G2), namun terdapat subkelompok kecil (≈9%) dengan penurunan fungsi ginjal yang memerlukan konseling hidrasi, peninjauan obat, dan rencana pemantauan pra-keberangkatan. Implementasi eGFR CKD-EPI 2021 bermanfaat untuk stratifikasi risiko pada program pembinaan haji.
PROFIL KADAR SERUM TNF-Α PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU TERKONFIRMASI XPERT MTB/RIF Debie Anggraini; Yessi Ekawati
Journal of Public Health Science Vol. 2 No. 3 (2025): September
Publisher : Yayasan Nuraini Ibrahim Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70248/jophs.v2i3.2988

Abstract

Latar belakang: TNF-α berperan sentral dalam patogenesis tuberkulosis (TB) paru, namun data deskriptif lokal mengenai kadar serum pada pasien terkonfirmasi molekular masih terbatas. Tujuan: Mendeskripsikan profil kadar serum TNF-α pada pasien TB paru terkonfirmasi Xpert MTB/RIF di RS Paru Sumatera Barat. Metode: Studi potong lintang deskriptif pada pasien poliklinik. Darah vena diproses menjadi serum dan kadar TNF-α diukur dengan ELISA sesuai protokol pabrikan. Analisis terbatas pada statistik deskriptif—rerata±SD. Hasil: Sebanyak 40 pasien dianalisis; usia 45,5 ± 15,7 tahun (rentang 18–75). Kadar serum TNF-α 150,84 ± 96,61 pg/mL, median 121,72 pg/mL, rentang 79,63–517,36 pg/mL; sebaran cenderung menceng ke kanan dengan heterogenitas antarindividu yang nyata. Kesimpulan: Pada pasien TB paru terkonfirmasi Xpert, kadar serum TNF-α menunjukkan nilai rerata yang tinggi dengan variasi luas, mencerminkan heterogenitas respons inflamasi sistemik. Temuan ini menyediakan data dasar bagi populasi setempat dan dapat menjadi acuan untuk studi longitudinal dan panel biomarker multimarker ke depan.
PROFIL GLIKEMIK CALON JEMAAH HAJI 2025 DI RSU AISYIYAH PADANG Melia Roza Linda; Debie Anggraini
Journal of Public Health Science Vol. 2 No. 3 (2025): September
Publisher : Yayasan Nuraini Ibrahim Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70248/jophs.v2i3.2989

Abstract

Latar Belakang: Ibadah haji menuntut aktivitas fisik tinggi, paparan panas, dan perubahan pola makan/obat yang dapat memicu disglikemia. Pemetaan profil glikemik pra-keberangkatan diperlukan untuk perencanaan pembinaan klinis calon jemaah haji (CJH). Tujuan : Menilai profil glikemik CJH 2025 di RSU Aisyiyah Padang menggunakan glukosa puasa (FPG), glukosa 2 jam post-prandial (2JPP), dan HbA1c; serta menggambarkan karakteristik dasar dan keterkaitan antarmarker. Metode : Studi potong lintang pada CJH yang menjalani pemeriksaan rutin tahun 2025. Dikumpulkan data demografi, FPG, 2JPP, dan HbA1c. dievaluasi dengan Spearman.Hasil: Sebanyak 30 peserta (usia rata-rata 57,9±13,6 tahun; perempuan 70%). Rerata (±SD) FPG 102,9±34,2 mg/dL; 2JPP 142,3±50,7 mg/dL; HbA1c 6,1±1,4%. Kategori FPG: normal 56,7%, prediabetes 23,3%, diabetes 20,0%. Kategori 2JPP: normal 63,3%, prediabetes 30,0%, diabetes 6,7%. Kategori HbA1c: normal 43,3%, prediabetes 36,7%, diabetes 20,0%; HbA1c ≥7% pada 13,3%. Kesimpulan: Beban gangguan glikemik pra-keberangkatan pada CJH cukup bermakna, dengan proporsi prediabetes tinggi dan sepertiga respon “diabetes” menurut sebagian marker. Penilaian kesiapan medis sebaiknya mengintegrasikan multi-parameter (FPG, 2JPP/OGTT, HbA1c), disertai edukasi dan optimasi terapi. Ketidaksesuaian antarmarker perlu konfirmasi diagnostik, khususnya karena 2JPP klinik tidak ekuivalen dengan OGTT terstandar.
Pemeriksaan Hematologi Rutin dan LED pada Lansia sebagai Upaya Deteksi Dini Gangguan Kesehatan Debie Anggraini; Prima Adelin; Soufni Morawati; Efriza
Abdika Sciena Vol 3 No 1 (2025): JURABDIKES Volume 3 No 1, Juni 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/jurabdikes.v3i1.213

Abstract

Latar belakang : Lansia merupakan kelompok usia yang rentan terhadap berbagai gangguan kesehatan, terutama gangguan hematologis seperti anemia dan proses inflamasi kronik. Penurunan fungsi hematopoietik dan imunitas pada lansia sering kali tidak terdeteksi secara dini, sehingga dibutuhkan skrining laboratorium sederhana yang bersifat preventif. Tujuan : Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan deteksi dini gangguan hematologis dan inflamasi pada lansia melalui pemeriksaan hematologi rutin dan laju endap darah (LED) di wilayah kerja RSU Aisyiyah Padang. Metode : Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk skrining laboratorium terhadap 30 orang lansia dengan pengambilan sampel darah vena untuk pemeriksaan hemoglobin, hematokrit, leukosit, trombosit, dan LED. Kegiatan ini juga dilengkapi dengan edukasi dan konseling kesehatan individu dan kelompok. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil : Sebanyak 6 orang (20%) lansia terdeteksi mengalami anemia, dan mayoritas menunjukkan nilai LED yang melebihi batas normal, dengan rerata LED sebesar 24,8 mm/jam dan maksimum mencapai 95 mm/jam. Nilai-nilai tersebut mengindikasikan kemungkinan adanya proses inflamasi kronik subklinis. Parameter hematologi lainnya berada dalam rentang normal, meskipun ditemukan variasi individu yang patut dimonitor secara berkala. Kesimpulan : Pemeriksaan hematologi rutin dan LED terbukti efektif sebagai langkah awal deteksi dini gangguan kesehatan pada lansia. Kegiatan ini bermanfaat dalam mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pemantauan kondisi darah secara berkala, serta dapat menjadi dasar pengembangan program kesehatan lansia berbasis komunitas.
Deteksi Dini Kesehatan Melalui Aktivitas Fisik dan Pemeriksaan Kesehatan pada Lansia di Nagari Sungai Gayo Lumpo Meta Zulyati Oktora; Debie Anggraini; Yuri Haiga
Abdika Sciena Vol 3 No 1 (2025): JURABDIKES Volume 3 No 1, Juni 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/jurabdikes.v3i1.215

Abstract

Latar Belakang: Penuaan populasi di Indonesia disertai dengan meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi dan diabetes mellitus. Upaya deteksi dini dan promosi aktivitas fisik merupakan langkah preventif yang penting, terutama di daerah perdesaan dengan keterbatasan akses layanan kesehatan. Tujuan: Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mendeteksi risiko kesehatan pada lansia melalui pemeriksaan kesehatan dan evaluasi aktivitas fisik di Nagari Sungai Gayo Lumpo, Kabupaten Pesisir Selatan. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada Agustus 2024 dengan pendekatan survei deskriptif. Pemeriksaan meliputi pengukuran tekanan darah, kadar glukosa darah, berat badan dan tinggi badan, serta pengisian kuesioner aktivitas fisik oleh 50 lansia. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil: Hasil menunjukkan 40% lansia mengalami hipertensi dan 30% mengalami hiperglikemia. Sebanyak 50% memiliki indeks massa tubuh normal, sementara 30% mengalami overweight/obesitas. Aktivitas fisik harian didominasi oleh aktivitas ringan (60%) dan sedang (30%). Kesimpulan: Deteksi dini risiko kesehatan melalui kegiatan pemeriksaan terpadu dan penilaian aktivitas fisik bermanfaat untuk identifikasi awal PTM pada lansia. Edukasi dan intervensi berkelanjutan perlu dilakukan untuk mendorong gaya hidup sehat di komunitas lansia.
Skrining Tekanan Darah, Gula Darah, dan Status Gizi sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Kronis di Masyarakat Meta Zulyati Oktora; Debie Anggraini; Yuri Haiga; Nana Liana; Nurwiyeni; Anandia Putriyuni; Desi Aliefia
Abdika Sciena Vol 3 No 1 (2025): JURABDIKES Volume 3 No 1, Juni 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/jurabdikes.v3i1.219

Abstract

Latar Belakang: Penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes mellitus, dan dislipidemia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di Indonesia. Deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan komunitas merupakan langkah strategis untuk mencegah komplikasi jangka panjang dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gaya hidup sehat. Tujuan: Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk melakukan deteksi dini faktor risiko PTM dan memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat Nagari Sagalo, Kabupaten Pesisir Selatan. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Agustus 2024 dalam bentuk pemeriksaan kesehatan massal oleh tim KKN terpadu. Parameter yang diperiksa meliputi tekanan darah, kadar gula darah, berat badan, tinggi badan, dan status lansia. Edukasi mengenai pencegahan PTM dan gaya hidup sehat diberikan secara langsung melalui penyuluhan dan media cetak. Data hasil pemeriksaan dianalisis secara deskriptif. Hasil: Rata-rata berat badan peserta adalah 54,9 kg dengan kisaran 29,5–85,2 kg. Tinggi badan rata-rata 148,9 cm. Rata-rata tekanan darah sistolik sebesar 129,4 mmHg dan diastolik 76,8 mmHg. Kadar gula darah rata-rata 110,8 mg/dL dengan nilai tertinggi mencapai 162 mg/dL. Ditemukan beberapa peserta dengan tekanan darah dan kadar gula di atas ambang normal, yang belum menyadari status kesehatannya sebelumnya. Kesimpulan: Kegiatan deteksi dini ini berhasil mengidentifikasi individu dengan faktor risiko PTM yang belum terdiagnosis. Pemeriksaan komunitas dan edukasi kesehatan terbukti penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit kronis. Disarankan dilakukan tindak lanjut berupa pembinaan dan pemantauan kesehatan secara berkala.
Pemeriksaan Status Kardiometabolik dan Edukasi Gaya Hidup Sehat pada Pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Lubuk Buaya Padang Nabila Jihan Zakiyah; Debie Anggraini; Muhamad Ivan
Abdika Sciena Vol 3 No 1 (2025): JURABDIKES Volume 3 No 1, Juni 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/jurabdikes.v3i1.221

Abstract

Pendahuluan : Pasien diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) berisiko tinggi mengalami komplikasi kardiovaskular akibat adanya faktor risiko penyerta seperti obesitas, hipertensi, dislipidemia, dan kebiasaan merokok. Pemeriksaan kardiometabolik secara berkala dan edukasi gaya hidup sehat sangat penting dalam upaya pencegahan komplikasi tersebut. Tujuan : Menilai status kardiometabolik dan memberikan edukasi gaya hidup sehat kepada pasien DM tipe 2 usia ≥45 tahun di Puskesmas Lubuk Buaya Padang. Metode : Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk skrining satu kali terhadap 80 pasien DM tipe 2. Pemeriksaan meliputi indeks massa tubuh (IMT), tekanan darah, status merokok, dan riwayat dislipidemia. Setelah pemeriksaan, dilakukan edukasi kelompok mengenai manajemen gaya hidup sehat. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil: Sebanyak 55% peserta mengalami obesitas, 57,5% mengalami hipertensi, dan 43,8% memiliki dislipidemia. Selain itu, 18,8% peserta masih aktif merokok. Mayoritas peserta memiliki lebih dari satu faktor risiko kardiometabolik yang saling memperberat kondisi metabolik dan meningkatkan risiko komplikasi vaskular. Kesimpulan : Skrining status kardiometabolik dan edukasi gaya hidup sehat pada pasien DM tipe 2 memberikan manfaat dalam deteksi dini risiko serta meningkatkan kesadaran pasien akan pentingnya pengendalian faktor risiko secara terintegrasi. Kegiatan ini relevan untuk dikembangkan secara rutin di fasilitas pelayanan kesehatan primer
Deteksi Dini Faktor Risiko Kanker Serviks berbasis Data Klinis Pasien di RSUP. Dr. M.Djamil Padang Meta Zulyati Oktora; Debie Anggraini; Nadia Purnama Dewi
Abdika Sciena Vol 3 No 1 (2025): JURABDIKES Volume 3 No 1, Juni 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/jurabdikes.v3i1.269

Abstract

Latar Belakang : Kanker serviks merupakan salah satu kanker terbanyak pada perempuan di Indonesia dan sering terdiagnosis pada stadium lanjut. Deteksi dini dan edukasi faktor risiko sangat penting dalam menurunkan angka kejadian dan mortalitas. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko kanker serviks pada wanita usia subur berbasis data klinis pasien serta mengintegrasikannya dalam kegiatan edukasi masyarakat. Metode: Kegiatan dilaksanakan di RSUP Dr. M. Djamil Padang pada September 2020–April 2021 dengan desain deskriptif analitik cross sectional. Populasi penelitian adalah 70 pasien kanker serviks yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Data yang dikumpulkan meliputi usia menikah, jumlah paritas, serta lama penggunaan kontrasepsi hormonal. Kegiatan pengabdian meliputi penyuluhan, diskusi kelompok, distribusi leaflet, dan informasi mengenai skrining deteksi dini (Pap smear/IVA). Hasil: Sebanyak 42,9% pasien menikah pada usia <20 tahun, dan 80% pasien adalah multipara. Lama penggunaan kontrasepsi hormonal terbanyak <5 tahun (55,7%) dengan jenis terbanyak kontrasepsi suntik (62,9%). Sebagian besar pasien terdiagnosis pada stadium lanjut: stadium III (47,1%) dan stadium II (30%). Edukasi melalui penyuluhan dan distribusi media informasi berhasil meningkatkan pemahaman peserta mengenai faktor risiko dan pentingnya deteksi dini. Kesimpulan: Faktor risiko yang dominan pada pasien kanker serviks adalah usia menikah muda, multiparitas, serta penggunaan kontrasepsi hormonal jangka panjang. Edukasi kesehatan berbasis data klinis pasien efektif meningkatkan kesadaran wanita usia subur terhadap pencegahan dan deteksi dini kanker serviks.
Kenali Aktivitas Fisik untuk Kendalikan Obesitas pada Lansia Yuri Haiga; Debie Anggraini; Meta Zulyati Oktora
Abdika Sciena Vol 3 No 2 (2025): JURABDIKES Volume 3 No 2, Desember 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/jurabdikes.v3i2.305

Abstract

Obesitas pada lansia merupakan masalah kesehatan yang semakin meningkat dan berkontribusi terhadap penurunan fungsi fisik, peningkatan risiko penyakit tidak menular, serta berkurangnya kemandirian. Aktivitas fisik yang aman dan teratur merupakan intervensi nonfarmakologis utama dalam pengendalian obesitas pada lansia, namun pemahaman dan praktik aktivitas fisik di tingkat komunitas masih terbatas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman lansia mengenai aktivitas fisik yang aman dan aplikatif sebagai upaya pengendalian obesitas di Nagari Sungai Gayo Lumpo, Kabupaten Pesisir Selatan. Metode yang digunakan adalah edukasi kesehatan di lapangan melalui penyuluhan interaktif yang disertai demonstrasi gerakan aktivitas fisik aman bagi lansia. Kegiatan dilaksanakan secara tatap muka selama satu hari dengan melibatkan masyarakat dan kader komunitas. Materi mencakup obesitas pada lansia, manfaat aktivitas fisik, prinsip keselamatan beraktivitas, serta jenis latihan yang sesuai, meliputi aktivitas aerobik ringan, latihan kekuatan, fleksibilitas, dan keseimbangan. Kegiatan diikuti oleh 37 peserta dengan rentang usia 24–88 tahun, mayoritas perempuan. Peserta menyatakan materi mudah dipahami dan praktik gerakan bermanfaat untuk diterapkan di rumah. Hambatan utama yang masih dirasakan adalah nyeri sendi, kekhawatiran jatuh, dan konsistensi motivasi. Peserta mengusulkan agar kegiatan aktivitas fisik lansia dilakukan secara rutin melalui posyandu lansia dengan pendampingan kader. Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi lapangan berbasis komunitas dapat menjadi langkah awal yang efektif untuk meningkatkan literasi kesehatan dan kesiapan perilaku aktivitas fisik pada lansia dalam rangka pengendalian obesitas.