Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Self-Compassion dan Fomo pada Mahasiswa Dewasa Awal Generasi Z Pengguna Media Sosial Lydia Stevani; Meiske Yunithree Suparman
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 19 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/6rybvr77

Abstract

Maraknya penggunaan media sosial di kalangan mahasiswa Generasi Z (Gen Z) memunculkan fenomena fear of missing out (FoMO), yaitu perasaan cemas ketika tertinggal dari berbagai aktivitas sosial daring. Berdasarkan teori self-compassion yang dikemukakan oleh Neff, individu yang memiliki belas kasih terhadap diri cenderung lebih mampu mengelola emosi negatif dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial daring. Oleh karena itu, self-compassion diduga berperan sebagai faktor protektif terhadap FoMO. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-compassion dan FoMO pada mahasiswa Gen Z dewasa awal pengguna media sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan melibatkan mahasiswa sebagai populasi, dan sampel ditentukan melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan Self-Compassion Scale dan Online Fear of Missing Out (ON-FoMO) Scale adaptasi Bahasa Indonesia, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara self-compassion dan FoMO, yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat self-compassion, semakin rendah kecenderungan FoMO. Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan kesadaran diri dan self-compassion sebagai strategi untuk mengurangi FoMO pada mahasiswa Gen Z pengguna media sosial.
Hubungan Antara Binge-Watching Terhadap Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa yang Sedang Menyusun Skripsi di Jakarta Stevani Stevani; Meiske Yunithree Suparman
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 5 No. 1 (2026): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, Januari 2026
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v5i1.5337

Abstract

Academic procrastination is the intentional delay of academic tasks or responsibilities until deadlines draw near, even when individuals are aware of the negative consequences of such postponement. For final-year university students working on their thesis, high academic pressure often triggers avoidance behaviors through leisure activities, one of which is binge-watching. This study examines the relationship between binge-watching habits and academic procrastination among university students. The purpose of this research is to determine whether there is a relationship between binge-watching activities and the level of academic procrastination. The participants in this study were final-year students who were actively working on their thesis at universities located in the Jakarta area. The research used a non-experimental correlational design. A total of 100 students from various universities in Jakarta were recruited using purposive sampling. The instruments used were the Binge-Watching Engagement Scale Questionnaire (BWESQ) and the Academic Procrastination Scale (APS). Data processing was carried out using SPSS version 25.0. The results of the Pearson Product-Moment correlation analysis showed a correlation coefficient of 0.086 with a significance value of 0.393 (p > 0.05). This indicates that there is no significant relationship between binge-watching and academic procrastination among final-year university students.
HUBUNGAN ANTARA SELF-COMPASSION DENGAN KECEMASAN DALAM PUBLIC SPEAKING PADA MAHASISWA S1 Selly Selly; Meiske Yunithree Suparman
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8149

Abstract

Anxiety in public speaking is often experienced by people aged 18 to 25 years. On the other hand, self-compassion is considered a form of defense to reduce anxiety. This study aims to determine the relationship between self-compassion and anxiety in public speaking in undergraduate students. The method used is a non-experimental quantitative with a correlational approach. The sampling technique used purposive sampling and finally obtained 396 student respondents aged 18–25 years. Data were collected through distributing questionnaires using Google Forms to students who have had public speaking experience within 1 year. The correlation test used is the nonparametric Spearman Rank test. The results of the analysis show a positive relationship between self-compassion and anxiety in public speaking in undergraduate students, evidenced by sig. <0.001 (sig. <0.05). The negative correlation coefficient (–0.447) indicates that higher levels of self-compassion are associated with lower scores of public speaking anxiety. On the other hand, the higher the anxiety in public speaking, the lower the self- compassion in students. The results of this study also found that students who are busy with social activities can reduce the risk of anxiety in public speaking. ABSTRAK Kecemasan dalam public speaking sering kali dialami oleh orang dengan rentang usia 18 hingga 25 tahun. Di sisi lain, self-compassion dianggap sebagai bentuk pertahanan untuk meredakan kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara self-compassion dengan kecemasan dalam public speaking pada mahasiswa S1. Metode yang digunakan adalah kuantitatif non eksperimen dengan pendekatan korelasional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan akhirnya didapatkan 396 responden mahasiswa berusia 18–25 tahun. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner menggunakan Google Form kepada mahasiswa yang pernah memiliki pengalaman public speaking dalam 1 tahun. Adapun uji korelasi yang digunakan adalah uji nonparametrik Spearman Rank. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif antara self-compassion dengan kecemasan dalam public speaking pada mahasiswa S1, dibuktikan dengan nilai sig. <0,001 (sig. < 0,05). Korelasi yang bernilai negatif (-0,447) dapat diartikan semakin tinggi self-compassion, maka hal tersebut akan menurunkan skor kecemasan dalam public speaking. Sebaliknya semakin tinggi kecemasan dalam public speaking maka semakin rendah self-compassion pada mahasiswa. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki kesibukan/ kegiatan sosial lebih dapat menurunkan risiko kecemasan dalam public speaking.
PENGARUH STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR YANG MENYUSUN SKRIPSI DI UNIVERSITAS SWASTA DAN NEGERI Angelina Regina Halim; Meiske Yunithree Suparman
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8322

Abstract

This study found that the type of educational institution, whether public or private university, does not significantly affect the academic stress levels of final-year students completing their thesis. Although students from public universities had higher academic stress scores (59.2) compared to those from private universities (57.3), the linear regression test showed no statistically significant difference (R² = 0.00668; p = 0.189). The study involved 260 students who completed the Educational Stress Scale for Adolescents (ESSA) questionnaire to measure academic stress levels. The results indicate that other factors, such as resilience and social support, play a more dominant role in influencing academic stress. These findings highlight the importance of psychological support programs and stress management in educational institutions to assist students in coping with academic challenges during the final stages of their studies. ABSTRAK Penelitian ini menemukan bahwa jenis institusi pendidikan, baik universitas negeri maupun swasta, tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat stres akademik mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi. Meskipun mahasiswa dari universitas negeri menunjukkan skor stres akademik yang lebih tinggi (59,2) dibandingkan mahasiswa dari universitas swasta (57,3), hasil uji regresi linear menunjukkan bahwa perbedaan ini tidak signifikan secara statistik (R² = 0,00668; p = 0,189). Penelitian ini melibatkan 260 mahasiswa yang mengisi kuesioner Educational Stress Scale for Adolescents (ESSA) untuk mengukur tingkat stres akademik. Hasil menunjukkan bahwa faktor lain, seperti resiliensi dan dukungan sosial, lebih dominan dalam mempengaruhi stres akademik. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya program dukungan psikologis dan manajemen stres di institusi pendidikan untuk membantu mahasiswa menghadapi tantangan akademik pada tahap akhir studi.
THE RELATIONSHIP BETWEEN SPIRITUAL WELL-BEING AND RESILIENCE IN STUDENTS FROM FATHERLESS BACKGROUNDS Debby Napouling; Meiske Yunithree Suparman
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8327

Abstract

This study aims to examine the relationship between spiritual well-being and resilience among university students with a fatherless background. The study uses a quantitative correlational approach with the Spiritual Well-Being Scale (SWBS) to measure spiritual well-being and the Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) to assess resilience. The sample consisted of 268 students aged 18–24 years, spanning from the 1st to the 7th semester. Data were collected using questionnaires measuring spiritual well-being, resilience, and the fatherless condition experienced by the respondents. The results show a strong positive relationship between spiritual well-being and resilience among fatherless students. Most respondents (90.3%) showed moderate levels of resilience, while 9.7% exhibited high resilience. Spiritual well-being was generally moderate among respondents. This study emphasizes the importance of strengthening spiritual well-being as a source of strength in building resilience among students from fatherless families. The findings also have implications for the development of psychological intervention programs that integrate spiritual aspects to enhance students' mental toughness. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kesejahteraan spiritual dan ketahanan diri di kalangan mahasiswa yang memiliki latar belakang tanpa ayah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan Skala Kesejahteraan Spiritual (SWBS) untuk mengukur kesejahteraan spiritual dan Skala Ketahanan Connor-Davidson (CD-RISC) untuk menilai ketahanan diri. Sampel penelitian terdiri dari 268 mahasiswa berusia 18–24 tahun, yang tersebar dari semester 1 hingga semester 7. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mengukur kesejahteraan spiritual, ketahanan diri, dan kondisi tanpa ayah yang dialami oleh responden. Hasil penelitian menunjukkan hubungan positif yang kuat antara kesejahteraan spiritual dan ketahanan diri di kalangan mahasiswa tanpa ayah. Sebagian besar responden (90,3%) menunjukkan tingkat ketahanan diri yang moderat, sementara 9,7% menunjukkan ketahanan diri yang tinggi. Kesejahteraan spiritual secara umum berada pada tingkat moderat di kalangan responden. Penelitian ini menekankan pentingnya penguatan kesejahteraan spiritual sebagai sumber kekuatan dalam membangun ketahanan diri di kalangan mahasiswa dari keluarga tanpa ayah. Temuan ini juga memiliki implikasi untuk pengembangan program intervensi psikologis yang mengintegrasikan aspek spiritual untuk meningkatkan ketangguhan mental mahasiswa.
The Role of School Counselors in Integrating Character Education to Develop the National Graduate Profile in Junior High Schools Naaria Natasha Mae Johar Irawan; Meiske Yunithree Suparman; Maqdalene Jean Marwin; Josette Eclesiana Elize
The Future of Education Journal Vol 5 No 2 (2026)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v5i2.1960

Abstract

This study aims to examine the strategic role of guidance and counseling (BK) teachers in integrating character education to make the National Graduate Profile at the Junior High School (SMP) level, that are aligned with the eight dimensions of Graduate Competency Standards (SKL) under Permendikdasmen Number 10, of 2025. Using a qualitative, descriptive approach, data were collected through semi-structured interviews with three BK teachers from two different junior high schools. The collected data were processed and analyzed using NVivo software. The findings reveal that BK teachers serve multifaceted roles as guides, facilitators, and mentors by transforming negative stigma, utilizing real-case handlings as moral reflection moments, and providing a safe space for students. However in the digital era, there are many obstacles to the implementation, such as student reliance on gadgets that cause instant mentality and lack of self-control, parents and students distant relation and permissive parenting styles, structural limitations like unequal teacher to student ratios, and lack of standardized character evaluation tools. As a result, character internalizations today are still episodic. In order to methodically reach the desired National Graduate Profile, this study emphasizes the requirement for programmatic restructuring, including clear defined job boundaries, official BK hour allocations, interactive module developments, and improved parent-school interactions.
Hambatan Finansial dalam Pemenuhan Terapi Tumbuh Kembang Anak Down Syndrome pada Keluarga dengan Ekonomi Berbeda: Studi Kasus Komparatif Dhia Lu’lu’ Luqyana; Ainniyah Khotimah Hentihu; Salma Faiza; Meiske Yunithree Suparman
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.1125

Abstract

Down Syndrome merupakan kondisi genetik akibat adanya kelainan pada kromosom 21 Down Syndrome merupakan kondisi genetik yang disebabkan oleh adanya salinan tambahan kromosom 21 yang dapat memengaruhi perkembangan fisik, intelektual, motorik, bahasa, dan sosial anak. Kondisi ini menyebabkan anak dengan Down Syndrome membutuhkan intervensi dan terapi tumbuh kembang secara berkelanjutan untuk meningkatkan kemampuan adaptif serta kualitas hidupnya. Namun, dalam pelaksanaannya, pemenuhan kebutuhan terapi sering menghadapi berbagai hambatan, salah satunya adalah keterbatasan finansial keluarga. Biaya terapi yang harus dilakukan secara rutin, biaya transportasi, serta kebutuhan pendukung lainnya dapat menjadi beban tambahan bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hambatan finansial dalam pemenuhan terapi tumbuh kembang anak Down Syndrome pada keluarga dengan latar belakang ekonomi berbeda serta melihat dampaknya terhadap perkembangan anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus komparatif. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi terhadap dua keluarga yang memiliki anak Down Syndrome di Sanggar Komunitas X. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi ekonomi keluarga memiliki pengaruh terhadap keberlangsungan terapi anak. Anak yang mendapatkan terapi secara rutin dengan dukungan keluarga yang konsisten menunjukkan perkembangan motorik, sosial, komunikasi, dan kesiapan sekolah yang lebih baik dibandingkan anak yang mengalami keterbatasan akses terapi akibat hambatan finansial. Hambatan biaya menyebabkan terapi menjadi tidak konsisten sehingga kesempatan anak memperoleh stimulasi perkembangan menjadi terbatas. Oleh karena itu, diperlukan dukungan pembiayaan, akses layanan terapi yang lebih terjangkau, serta dukungan keluarga dan komunitas untuk membantu optimalisasi perkembangan anak Down Syndrome.