Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

PERANCANGAN DESAIN MODUL HIJAU DI RUANG PUBLIK TERPADU RAMAH ANAK SATRIA JELAMBAR JAKARTA BARAT Agustin, Laura Tri; Irene Syona Darmady; Theresia Budi Jayanti; Agnatasya Listianti Mustaram
Jurnal Serina Abdimas Vol 3 No 2 (2025): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v3i2.35115

Abstract

DKI Jakarta serves as a central hub for governance and economic activities, attracting a significant number of migrants seeking improved quality of life. However, this rapid urbanization has intensified environmental issues, especially in urban waste management. One of the pressing concerns is the increasing volume of plastic waste, which poses threats to both environmental and public health. Addressing this issue requires collaborative and sustainable efforts from various segments of society. In response, this program focuses on developing a plastic waste recycling initiative at RPTRA Satria Jelambar. The initiative aims to repurpose plastic waste into innovative and functional modules that support the expansion of green public spaces. More than just converting waste into environmentally friendly products, the program encourages active participation from community members across all age groups through discussions and hands-on workshops. The program is implemented in several phases: starting with surveys and data collection to assess local waste conditions, followed by community discussions and the design of recycling modules. The PKM team will then develop conceptual designs based on these inputs. The final outcome is a prototype of a recycling module, which will be handed over to the RPTRA management for continued development and implementation. By promoting sustainable practices, this program aspires to create a long-term, adaptable plastic waste management model that can inspire similar initiatives throughout DKI Jakarta. ABSTRAK DKI Jakarta merupakan salah satu pusat pemerintahan dan perekonomian di Indonesia. Kondisi ini menjadikan Jakarta sebagai tujuan banyak orang untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Namun, tingginya angka migrasi dan urbanisasi membawa dampak negatif, salah satunya adalah permasalahan sampah kota. Masalah sampah, terutama sampah plastik, menjadi tantangan serius yang perlu diselesaikan bersama oleh seluruh elemen masyarakat. Melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini, diangkat topik perancangan desain untuk mendaur ulang sampah plastik di RPTRA Satria Jelambar. Sampah plastik akan dimanfaatkan dan diubah menjadi modul-modul menarik yang dapat digunakan untuk memperluas area yang hijau di RPTRA. Selain mengolah sampah menjadi produk ramah lingkungan, kegiatan ini juga mendorong keterlibatan aktif warga dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, melalui kegiatan diskusi dan workshop yang interaktif. Pelaksanaan PKM dilakukan melalui beberapa tahap, dimulai dari survei dan pengumpulan data, dilanjutkan dengan diskusi bersama warga untuk merancang ide modul, dan diakhiri dengan proses pembuatan desain prototype oleh tim PKM. Desain prototype modul hasil kegiatan ini akan diserahkan kepada pihak pengelola RPTRA untuk dikembangkan lebih lanjut bersama warga. Diharapkan, kegiatan ini dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah plastik yang berkelanjutan dan menjadi inspirasi bagi lingkungan lain di wilayah DKI Jakarta.
MEMBACA KERUANGAN KAWASAN DENGAN DRONE DAN VISUAL MAPPING DI KENDRAN, BULELENG, BALI Irene Syona Darmady; Veronica Gandha; Agustinus Susanto
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/mv18rr91

Abstract

Seiring dengan perkembangan teknologi kini pengamatan kawasan, survey lokasi, dan pemetaan populer dengan menggunakan bantuan Unmanned Aerial Vehicle (UAV)/ Drone. Pengamatan kawasan dengan menggunakan drone pun kini kerap kali digunakan karena dapat memberikan gambaran keruangan kawasan yang lebih luas dengan waktu yang relatif lebih singkat. Kelurahan Kendran, Buleleng, Bali merupakan salah satu dari 11 kelurahan/ desa yang menjadi fokus pengembangan program Ruang Bersama Indonesia (RBI). Program RBI sendiri merupakan program yang diinisiasi oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenP3A) dalam rangka mewujudkan Kota Ramah Anak dan Perempuan. Untuk mendesain RBI sebagai wadah kegiatan dan kolaborasi terlebih dahulu dibutuhkan pemahaman atas keruangan fisik dan sosial Kelurahan Kendran. Melalui hasil fotogrametri drone, studi ini diharapkan menemukan pola keruangan fisik dan sosial Kelurahan Kendran guna menemukan lokasi tapak potensial yang dapat menjadi tempat diwujudkannya RBI. Metode survey, observasi lapangan digunakan untuk menjaring data primer terkait Kelurahan Kendran. Sedangkan metode mapping, overlaying digunakan untuk mengolah dan menganalisis temuan dan mencapai kesimpulan. Hasil studi salah satunya berupa informasi keruangan fisik Kelurahan Kendran yang memberikan kontribusi kelengkapan arsip bagi satuan administratif Kelurahan Kendran. Lebih lanjut, hasil studi berupa sebuah rekomendasi tapak yang diperlukan untuk proyek perancangan Ruang Bersama Indonesia (RBI).
PENDEKATAN KONSEP “MENYAMA BRAYA” RUANG BERSAMA INDONESIA KELURAHAN KENDRAN, BULELENG, BALI Gandha, Maria Veronica; Darmady, Irene Syona; Sutanto, Agustinus
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/84z59171

Abstract

Pendekatan Arsitektur keseharian sering dilakukan sebagai pendekatan sebuah desain. Arsitektur keseharian pada perancangan 2 dimensi keruangan Ruang Bersama Indonesia memakai pendekatan konsep “Menyama Braya” yang merujuk pada kehidupan keseharian lokal masyarakat Kendran di Buleleng, Bali. Masyarakat Bali secara turun temurun telah memiliki penghayatan budaya keseharian yang kuat. Penghayatan budaya masyarakat Bali membangun keharmonisan sosial dan kebersamaan yang terintegrasi pada semua aspek kehidupan masyarakat Bali menjadi fokus pendekatan Ruang Bersama Indonesia di Kendran. Ruang Bersama Indonesia (RBI) yang digagas oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenP3A) mempunyai tujuan untuk mewujudkan kota – kota di Indonesia yang ramah anak dan perempuan. Tujuan dari RBI Kendran melalui ruang keseharian masyarakat kelurahan Kendran dengan pendekatan konsep “Menyama Braya” adalah untuk dapat mewujudkan ruang bersama yang mempunyai keharmonisan sosial dan kebersamaan baik antara manusia dengan sesama, manusia dengan alam maupun manusia dengan Tuhan. Konsep “Menyama Braya” dipakai untuk mewujudkan perancangan ruang 2 dimensi di RBI Kendran yang dapat menampung kegiatan sosial, interaksi, edukasi, seni dan budaya yang sesuai dengan kriteria RBI dari KemenP3A. Pendekatan konsep ini dilakukan dengan metode survei, pengamatan aktivitas, pengamatan keruangan dan wawancara kepada semua unsur masyarakat dan aktivitas di Kelurahan Kendran pada waktu yang berbeda. Hasil analisis dari metode ini diharapkan dapat menghasilkan perancangan ruang 2 dimensi RBI yang ramah anak dan perempuan dapat diwujudkan sesuai dengan karakter keseharian dan kelokalan masyarakatnya yaitu “Menyama Braya”.
MEMBACA KERUANGAN KAWASAN DENGAN DRONE DAN VISUAL MAPPING DI KENDRAN, BULELENG, BALI Darmady, Irene Syona; Gandha, Veronica; Susanto, Agustinus
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/mv18rr91

Abstract

Seiring dengan perkembangan teknologi kini pengamatan kawasan, survey lokasi, dan pemetaan populer dengan menggunakan bantuan Unmanned Aerial Vehicle (UAV)/ Drone. Pengamatan kawasan dengan menggunakan drone pun kini kerap kali digunakan karena dapat memberikan gambaran keruangan kawasan yang lebih luas dengan waktu yang relatif lebih singkat. Kelurahan Kendran, Buleleng, Bali merupakan salah satu dari 11 kelurahan/ desa yang menjadi fokus pengembangan program Ruang Bersama Indonesia (RBI). Program RBI sendiri merupakan program yang diinisiasi oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenP3A) dalam rangka mewujudkan Kota Ramah Anak dan Perempuan. Untuk mendesain RBI sebagai wadah kegiatan dan kolaborasi terlebih dahulu dibutuhkan pemahaman atas keruangan fisik dan sosial Kelurahan Kendran. Melalui hasil fotogrametri drone, studi ini diharapkan menemukan pola keruangan fisik dan sosial Kelurahan Kendran guna menemukan lokasi tapak potensial yang dapat menjadi tempat diwujudkannya RBI. Metode survey, observasi lapangan digunakan untuk menjaring data primer terkait Kelurahan Kendran. Sedangkan metode mapping, overlaying digunakan untuk mengolah dan menganalisis temuan dan mencapai kesimpulan. Hasil studi salah satunya berupa informasi keruangan fisik Kelurahan Kendran yang memberikan kontribusi kelengkapan arsip bagi satuan administratif Kelurahan Kendran. Lebih lanjut, hasil studi berupa sebuah rekomendasi tapak yang diperlukan untuk proyek perancangan Ruang Bersama Indonesia (RBI).
MONTASE DAN KOLASE SEBAGAI STRATEGI VISUALISASI GAGASAN ARSITEKTURAL RUANG BERSAMA INDONESIA DI KELURAHAN KENDRAN Djarot, Adelia Andani; Darmady, Irene Syona
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (IN PRESS)
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/m7g97766

Abstract

Ruang Bersama Indonesia di Kendran, Buleleng adalah proyek kolaborasi antara Universitas Tarumanagara (Untar), STIE Satyadharma, dan Kementerian Pemerbedaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). Pada proyek ini, Prodi S1 Arsitektur Untar bertugas mengajukan gagasan awal implementasi Ruang Bersama Indonesia dalam perencanaan ruang di skala kelurahan atau desa. Di tahap awal pengajuan gagasan, tim perencana menggunakan gambar montase dan kolase sebagai sebuah strategi dalam memvisualisasikan ide-ide kerungan. Strategi ini bertujuan untuk menyampaikan gagasan keruangan berupa impresi yang belum memiliki bentuk, sehingga masih ada ruang gerak yang luas untuk pengembangan desain di tahap selanjutnya. Untuk merumuskan strategi, penulis melakukan analisis studi kasus pada gambar-gambar arsitektural karya dua biro arsitek: kolase karya Tatiana Bilbao Estudio, serta montase karya Fala Atelier; keduanya memanfaatkan montase dan kolase dalam tahap awal proyek, sebagaimana kondisi pada proyek RBI. Melalui analisis ini, penulis menemukan kualitas-kualitas yang dapat menjadi strategi untuk mengkomunikasikan gagasan awal melalui gambar, antara lain respon formasi terhadap konteks, abstraksi elemen pembentuk karakter ruang, serta impresi suasana dan aktivitas. Pada gambar gagasan awal RBI, tim perencana menggunakan gabungan antara kolase dan montase untuk menunjukkan ketiga kualitas ini.
PENERAPAN INFILL ARCHITECTURE SEBAGAI STRATEGI DESAIN PENGOLAHAN LIMBAH IKAN DAN AIR DI KAWASAN PESISIR MUARA ANGKE Lie, Ferdinansius; Darmady, Irene Syona
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.35545

Abstract

Muara Angke, located in North Jakarta, is a coastal area with intensive fishing activities that generate a significant amount of fish waste estimated at hundreds of kilograms per day. This condition has a direct impact on environmental pollution and the quality of life of the surrounding community. This journal explores the application of infill architecture as a design strategy for developing a fish waste and water treatment facility within limited and densely populated urban spaces. The infill method is used to occupy residual spaces within the existing urban fabric, allowing solutions to be implemented without displacing settlements or altering the macrostructure of the area. Through a context-based design and case study approach, the project integrates organic waste treatment, water recycling systems, and multifunctional public spaces such as community fishing areas and educational hubs. The design focuses on ecological regeneration through a closed-loop system and aims to empower coastal communities socially and environmentally. The study concludes that infill architecture not only provides an adaptive spatial solution, but also supports the development of sustainable, environmentally responsive, and community-oriented infrastructure. Keywords: infill architecture; Muara Angke; waste treatment; water filtration Abstrak Muara Angke, Jakarta Utara, merupakan kawasan pesisir dengan aktivitas perikanan intensif yang menghasilkan limbah ikan dalam jumlah besar, diperkirakan mencapai ratusan kilogram per hari. Kondisi ini berdampak langsung pada pencemaran lingkungan dan kualitas hidup masyarakat sekitar. Artikel ini mengeksplorasi penerapan Infill Architecture sebagai strategi desain untuk merancang fasilitas pengolahan limbah ikan dan air pada area terbatas dan padat penduduk. Metode infill digunakan untuk mengisi ruang-ruang residual di kawasan eksisting, sehingga solusi dapat diterapkan tanpa menggusur permukiman atau mengubah struktur makro kawasan. Melalui pendekatan studi kasus dan perancangan berbasis konteks, proyek ini mengintegrasikan sistem pengolahan limbah organik, daur ulang air, serta ruang publik seperti tempat edukasi dan pemancingan komunitas. Desain difokuskan pada regenerasi ekologis melalui sistem tertutup (closed-loop system) dan pemberdayaan sosial masyarakat pesisir. Hasil kajian menunjukkan bahwa Infill Architecture tidak hanya menawarkan solusi spasial adaptif, tetapi juga mampu menciptakan bangunan fungsional yang berkelanjutan, responsif terhadap lingkungan, dan memberdayakan komunitas lokal.
STUDI IDENTIFIKASI USER DAN PROGRAM ARSITEKTUR PADA PERENCANAAN FASILITAS PENGOLAHAN LIMBAH TEKSTIL DI JAKARTA BARAT Lika, Andrew William Philip; Darmady, Irene Syona
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37053

Abstract

The growth of the textile industry in West Jakarta has shown a significant increase along with the expansion of fast fashion trends and the ease of distribution through e-commerce platforms. This rise in production has directly contributed to an increasing volume of textile waste, particularly within small- and medium-scale industries that generally lack adequate waste management systems. This condition creates environmental challenges as well as the need for facilities capable of managing and optimizing textile waste through sustainable approaches. This study aims to identify user characteristics and formulate appropriate architectural programs for the planning of a textile waste processing facility in West Jakarta. The research employs a qualitative approach through literature studies and field observations to understand existing conditions and actual needs within the study area. The findings indicate that the primary users of the facility include textile industry actors, waste processing technicians, creative communities, educational institutions, and the general public. User activities are categorized into three main groups: technical, educational, and creative activities, each requiring spaces with distinct characteristics while remaining functionally integrated. The synthesis of the findings emphasizes that the architectural program should integrate industrial, educational, and upcycling-based creative functions within an adaptive spatial system. The application of a regenerative architectural approach is expected to produce a facility that not only functions technically but also generates positive environmental, social, and economic impacts on the surrounding area. Keywords: facility; program; regenerative; user; waste Abstrak Pertumbuhan industri tekstil di Jakarta Barat menunjukkan peningkatan signifikan seiring berkembangnya tren fast fashion dan kemudahan distribusi melalui platform e-commerce. Peningkatan produksi tersebut berdampak langsung pada bertambahnya volume limbah tekstil, terutama pada industri skala kecil dan menengah yang umumnya belum memiliki sistem pengolahan limbah yang memadai. Kondisi ini menimbulkan permasalahan lingkungan sekaligus kebutuhan akan fasilitas yang mampu mengelola dan mengoptimalkan limbah tekstil secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik pengguna serta merumuskan program arsitektur yang tepat dalam perencanaan fasilitas pengolahan limbah tekstil di Jakarta Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode studi literatur dan observasi lapangan untuk memahami kondisi eksisting dan kebutuhan nyata di kawasan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengguna utama fasilitas meliputi pelaku industri tekstil, tenaga teknis pengolahan limbah, komunitas kreatif, lembaga pendidikan, serta masyarakat umum. Aktivitas pengguna terbagi ke dalam tiga kelompok utama, yaitu aktivitas teknis, edukatif, dan kreatif, yang masing-masing membutuhkan ruang dengan karakteristik berbeda namun saling terintegrasi. Sintesis hasil studi menegaskan bahwa program arsitektur perlu menggabungkan fungsi industri, edukasi, dan aktivitas kreatif berbasis upcycling dalam satu sistem ruang yang adaptif. Penerapan pendekatan arsitektur regeneratif diharapkan mampu menciptakan fasilitas yang tidak hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan, sosial, dan ekonomi kawasan.
IMPLEMENTASI KONSEP ARSITEKTUR REGENERATIF PADA PERANCANGAN PLASTIC LEARNING AND RECYCLING CENTER DI KAWASAN PINTU AIR MANGGARAI, JAKARTA Rahmatunissa, Shevira Zahra; Darmady, Irene Syona
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37054

Abstract

The plastic waste crisis has become an increasingly urgent environmental phenomenon, not only causing water and soil pollution but also impacting public health through microplastics and hazardous emissions. This condition is highly visible in Jakarta, particularly in the Manggarai Sluice Gate area, which during the rainy season receives 600 to 700 tons of waste per day, 30% to 35% of which consists of single-use plastics. A crucial spatial issue is the lack of integrated local waste processing in densely populated areas, such that waste is only transported to landfills without providing added value or restoration for the river ecosystem. The objective of this research and design is to formulate a regenerative architecture-based solution through the development of the Plastic Learning and Recycling Center (PLRC) as a facility that functions for processing, education, and community empowerment. For the sub-study, the focus is placed on the principles of regenerative architecture and circular economy which emphasize a closed-loop system in the form of a plastic-to-energy-to-material process. The research method uses a qualitative approach with field observations, interviews, literature review, site analysis, precedent studies, and the synthesis of massing concepts. The research results formulate a design with a vertical zoning system that separates technical areas and education zones. The novelty of the results shows innovation in combining technical, educational, social, and ecological functionalities within a single regenerative architecture facility. Thus, the PLRC in Manggarai becomes a design prototype that not only suppresses plastic pollution but also contributes to the restoration of urban ecosystems as well as strengthening community capacity toward sustainability. Keywords: ecosystem; gasification; plastic; pyrolysis; regenerative Abstrak Krisis sampah plastik telah menjadi fenomena lingkungan yang semakin mendesak, tidak hanya menyebabkan pencemaran air dan tanah, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat melalui mikroplastik dan emisi berbahaya. Kondisi ini sangat terlihat di Jakarta, khususnya di area Pintu Air Manggarai, yang selama musim hujan menerima 600 hingga 700 ton sampah/hari, 30% hingga 35% di antaranya merupakan plastik sekali pakai. Masalah ruang yang krusial adalah ketiadaan pengolahan sampah lokal yang terintegrasi di kawasan padat penduduk, sehingga sampah hanya diangkut ke TPA tanpa memberikan nilai tambah atau pemulihan bagi ekosistem sungai. Tujuan dari penelitian dan perancangan ini adalah merumuskan solusi berbasis arsitektur regeneratif melalui pembangunan Plastic Learning dan Recycling Center (PLRC) sebagai fasilitas yang berfungsi untuk pengolahan, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat. Untuk sub-kajian, fokus dilakukan pada prinsip arsitektur regeneratif serta ekonomi sirkular yang menekankan sistem tertutup (closed loop) berupa proses dari plastic-to-energy-to-material. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan observasi lapangan, wawancara, kajian literatur, analisis pada tapak, studi preseden, dan sintesis konsep gubahan massa. Hasil penelitian merumuskan desain dengan sistem zonasi vertikal yang memisahkan area teknis dan zona edukasi. Kebaruan hasil menunjukkan inovasi dalam menggabungkan fungsionalitas teknis, edukatif, sosial, dan ekologis dalam satu fasilitas arsitektur regeneratif. Dengan demikian, PLRC di Manggarai menjadi prototipe desain yang tidak hanya menekan pencemaran plastik, tetapi juga berkontribusi dalam pemulihan ekosistem perkotaan serta memperkuat kapasitas masyarakat menuju keberlanjutan.