Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DESIGNING A COLLABORATIVE MULTILINGUAL DIGITAL STORYBOOK FOR INTERCULTURAL LEARNING THROUGH INDONESIAN AND JAPANESE FOLKTALES Nurrahma Restia Fatkhiyati; Rizdika Mardiana; Muhammad Ali Hamdi; David Moeljadi; Tesaannisa Tesaannisa; Diyantari Diyantari; Eva Leiliyanti; Sauqi Maisan; Rafi Afzal Nawfal
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 13 No. 1 (2026): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v13i1.7904

Abstract

In the globalization era, the qualified education requires literacy mastery, intercultural competence, and foreign language skills as essential 21st‑century competencies. However, the persistence of low reading competence and limited intercultural awareness remains a significant challenge in both Indonesia and Japan. In response to those challenges, this research aims to develop a multilingual digital storybook based on multimodality as a learning medium to enhance intercultural competence through the Indonesian and Japanese folktales. The study employs a creative-based research methodology approach through the ADDIE development model, which consists of the stages of analysis, design, development, implementation, and evaluation. The resulting product is an interactive digital e-book entitled Indonesia–Japan Folktales: Timun Mas & Momotaro, presented in three languages, Indonesian, English, and Japanese, combining textual content, visual illustrations, and audio narration. The experiment of the product was conducted with Japanese students from Kanda University of International Studies (KUIS) enrolled in an intermediate-level Indonesian language course, involving such activities as interactive reading, discussion, reflection, and questionnaires. The findings indicate that the multimodal digital storybook effectively fosters student engagement, promotes reading motivation, and strengthens cross‑cultural understanding. Such effectiveness is reinforced by the integration of visual and audio elements that alleviate linguistic cognitive load, while the cross‑cultural narrative content fosters reflection and critical cultural awareness. Consequently, the multilingual and multimodal digital storybook serves as an effective medium for intercultural learning and contributes to the advancement of cultural literacy and the orientation of global education in the digital age.
Penerapan Corpus Linguistics dalam Penulisan Akademik Bertema Lingkungan: Kolaborasi Pengabdian kepada Masyarakat Internasional Universitas Negeri Jakarta dan Kanda University Siti Drivoka Sulistyaningrum; Ifan Iskandar; Ratna Dewanti; David Moeljadi; Asti Ramadhani Endah Lestari; Muhammad Ali Hamdi; Rohana Jelita; Kholisha Amalia; Zahra Syifaun Nisa
Abdi Cendekia : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 3 (2026): September
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/abdicendekia.v5i3.1187

Abstract

Pembelajaran Bahasa Inggris di perguruan tinggi yang mengangkat isu lingkungan global masih cenderung bersifat antroposentris, sementara mahasiswa pascasarjana yang terlibat dalam pertukaran akademik internasional kerap belum memiliki literasi corpus linguistics yang memadai untuk menyusun tulisan akademik berbasis data, khususnya pada bagian introduction. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan menjawab kesenjangan tersebut bagi mahasiswa Kanda University of International Studies (KUIS), Jepang, melalui lokakarya daring kolaboratif bersama Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Indonesia. Lokakarya yang diselenggarakan melalui aplikasi Zoom pada 23 Juni 2026 memperkenalkan konsep corpus linguistics (frequency, concordance, collocation) beserta perangkat SkELL (Sketch Engine for Language Learning) kepada peserta, yang selanjutnya diterapkan dalam penyusunan bagian introduction melalui sembilan latihan menulis bertema lingkungan, antara lain pemantauan emisi karbon, energi terbarukan, konservasi mangrove, dan deforestasi. Kuesioner pascakegiatan (n = 7; skala Likert 1–5 dan skala kepuasan 1–10) digunakan untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan. Peserta menilai peningkatan pemahaman dalam menggunakan alat korpus untuk menulis akademik dengan skor rata-rata 4,29 dari 5; konten dan tujuan lokakarya 4,40 dari 5; serta kualitas fasilitasi 4,43 dari 5, dengan tingkat kepuasan keseluruhan mencapai 8,71 dari 10. Temuan ini mengindikasikan bahwa lokakarya singkat berbasis korpus dan bertema lingkungan mampu menghasilkan peningkatan awal yang terukur pada literasi menulis akademik peserta, sekaligus memperkuat kesadaran lingkungan mereka. Kegiatan ini direncanakan berlanjut melalui lokakarya tambahan, pendampingan berkala, dan penyusunan modul ajar digital yang tervalidasi.