Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Using Thermography Infrared to Detect Diabetic Foot Ulcers in Asia Pacific Countries: Scoping Review Haryanto, Haryanto; Surtikanti, Surtikanti; Ramadhaniyati, Ramadhaniyati; Junaidi, Junaidi; Ervita, Ledy; Magdalena, Maria; Oe, Makoto
Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia Vol 10, No 1 (2024): Volume 10, Nomor 1, Juni 2024
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v10i1.71110

Abstract

Introduction: Diabetes Mellitus (DM) is a growing global health concern, particularly in Indonesia, where the prevalence is projected to rise significantly. Diabetic Foot Ulcer (DFU) is a severe complication of DM that escalates the risk of amputations. Early detection of DFUs plays a crucial role in preventing associated complications Objective: This review aimed to assess the efficacy of infrared thermography in detecting DFUs in the Asia-Pacific region. Methods: A scoping review methodology adhering to PRISMA guidelines was employed. Databases were searched from 2011-2021. PICO strategy used keyword Diabetic foot ulcer, Skin ulcer, Leg ulcer, Foot ulcer, Diabetic neuropathic, Thermography, Temperature mapping, and Detection from PubMed, Scopus, Google Scholar, and Science Direct. Quality of article assessed by JBI. Results: Four (4) studies meeting the inclusion criteria were identified, primarily cross-sectional in design. The results indicated promising sensitivity and specificity of infrared thermography in detecting DFUs among DM patients. The technology's ability to capture thermal images revealing temperature variations associated with tissue inflammation, a common DFU indicator, underscores its efficacy. This non-invasive technique allows for early detection and monitoring of DFUs, facilitating timely interventions and improving patient outcomes. Additionally, infrared thermography provides a quantitative and objective assessment of tissue health, complementing traditional visual inspection and palpation methods. Its effectiveness lies in detecting subtle skin temperature changes, aiding in early identification and management of DFUs before they progress to more severe stages. Conclusion: Infrared thermography shows significant potential in detecting DFUs early, which is vital for effective management and prevention of severe complications. Despite the promising results, broader and more rigorous studies are necessary to validate these findings across different populations and healthcare settings. Further research across diverse settings and study designs is essential to reinforce these findings.
PEMANFAATAN LINGKUNGAN SEKITAR SEBAGAI SUMBER BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN IPAS TEMA HEWAN DAN ENERGI DI SDN PASIR GADUNG 01 Setiani, Nurul; Fathun Najah, Adelia; Purwaningrum, Dinda; Puspita, Ita; Hapittiatu Rahmi, Rila; Ramadhaniyati, Ramadhaniyati; Mudrikah Mukaromah, Siti
Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) Vol 6 No 2 (2026): Vol. 6 No. 2 Edisi Mei 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Bahasa Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/jipdas.v6i2.4561

Abstract

Masalah utama dalam penelitian ini berangkat dari pemahaman bahwa pendidikan di tingkat Sekolah Dasar merupakan tahap awal yang sangat menentukan perkembangan pengetahuan serta keterampilan peserta didik. Salah satu mata pelajaran yang memiliki peranan penting di jenjang ini adalah Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS), yang mempelajari fenomena alam dan kehidupan sosial sehingga membutuhkan model pembelajaran yang relevan dengan lingkungan nyata dan pengalaman siswa. Penelitian ini dilakukan untuk menggali secara mendalam bagaimana lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung maupun menghambat pemanfaatan tersebut dalam pembelajaran IPAS. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa area sekolah memiliki potensi besar sebagai sumber belajar IPAS, khususnya pada materi bagian tubuh tumbuhan dan fungsinya. Fasilitas seperti taman sekolah, kebun mini, dan apotek hidup sebenarnya dapat dimanfaatkan dalam kegiatan belajar. Namun dalam praktiknya, guru IPAS baru menggunakan taman dan kebun mini, sementara apotek hidup belum dimaksimalkan. Selain itu, proses pembelajaran masih lebih banyak dilakukan di ruang kelas, padahal kegiatan luar kelas dapat memberi peluang lebih besar bagi siswa untuk melakukan pengamatan langsung terhadap tumbuhan. Beberapa kendala yang ditemukan dalam penerapan pembelajaran berbasis lingkungan antara lain keterbatasan waktu, kondisi cuaca, serta perubahan keadaan siswa. Solusi yang diharapkan adalah guru dapat lebih optimal memanfaatkan potensi lingkungan sekolah sebagai sumber belajar dan meningkatkan kreativitas dalam mengelola fasilitas yang tersedia.