Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Analisis Semiotika Roland Barthes Pada Film Home Sweet Loan Sanda Amelia Teska; Rifa’atussalwa Hayati; Ina Ina
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.990

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna denotatif, konotatif, dan mitos yang terdapat dalam film Home Sweet Loan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Fokus penelitian ini terdapat pada tanda-tanda visual dan verbal yang muncul dalam adegan, dialog, ekspresi tokoh, serta simbol- simbol yang berkaitan dengan fenomena generasi sandwich dan stabilitas finansial. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotika Roland Barthes. Sumber data penelitian berupa film Home Sweet Loan yang disutradarai oleh Sabrina Rochelle Kalangie. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak dan teknik catat terhadap adegan-adegan yang mengandung unsur denotasi, konotasi, dan mitos. Data dianalisis dengan mengidentifikasi tanda, menganalisis makna tingkat pertama (denotasi), (konotasi), serta mengungkap mitos yang berkembang dalam masyarakat melalui representasi film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Home Sweet Loan terdapat 10 data denotasi, 10 data konotasi, dan 10 mitos. Analisis dilakukan untuk mengungkap bagaimana film merepresentasikan realitas kehidupan generasi sandwich melalui berbagai tanda yang membangun makna sosial. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa rumah tidak hanya dimaknai sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai simbol keamanan, kemandirian, dan keberhasilan hidup. Selain itu, film merepresentasikan tekanan ekonomi, tanggung jawab keluarga, serta perjuangan generasi muda dalam mencapai stabilitas finansial yang kemudian membentuk mitos sosial mengenai pentingnya kerja keras sebagai jalan menuju kesuksesan.
Alih Wahana Cerpen ke Pementasan Drama: Proses Kreatif dan Strategi Adaptasi dalam Pembelajaran Diardana Prima Sintasari; Ina Ina; Pramisdi Winanto Saputro; Indra Rasyid Julianto; Hasnah Setiani
Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya Vol. 11 No. 2 (2026): JPSB (Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya) Edisi Agustus-Desember 2026
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/2hjjs504

Abstract

Alih wahana cerpen ke pementasan drama merupakan proses kreatif yang tidak hanya berkaitan dengan perubahan bentuk karya, tetapi juga melibatkan interpretasi, transformasi, dan pengembangan unsur cerita sesuai dengan karakteristik seni pertunjukan. Dalam konteks pembelajaran, proses tersebut berpotensi menjadi ruang untuk mengintegrasikan apresiasi sastra, keterampilan berbahasa, kreativitas, dan pengalaman artistik murid. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses kreatif dan strategi adaptasi dalam alih wahana cerpen ke pementasan drama serta mengkaji potensi relevansinya dalam pembelajaran Seni dan Budaya dan Bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur. Sumber kajian berupa berbagai literatur ilmiah yang relevan dengan alih wahana, adaptasi karya sastra, proses kreatif, drama, dan pembelajaran. Analisis dilakukan melalui identifikasi, kategorisasi, interpretasi, dan sintesis teoretis. Hasil kajian menunjukkan bahwa alih wahana berlangsung melalui rangkaian proses membaca, menafsirkan, mentransformasikan, menulis, melatih, mempertunjukkan, dan merevisi. Strategi adaptasi meliputi penciutan, penambahan, dan perubahan untuk menyesuaikan unsur naratif menjadi dialog, tindakan, karakterisasi, dan adegan dramatik. Proses pementasan selanjutnya memperluas adaptasi melalui pemeranan, ekspresi, vokal, gerak, dan kolaborasi. Berdasarkan sintesis literatur tersebut, alih wahana cerpen ke pementasan drama berpotensi diposisikan sebagai alternatif pembelajaran berbasis proses kreatif yang mempertemukan literasi sastra, keterampilan berbahasa, kreativitas, kolaborasi, dan pengalaman seni pertunjukan. Temuan ini merupakan sintesis konseptual dan belum dimaksudkan sebagai bukti empiris mengenai efektivitas penerapannya dalam pembelajaran.
Monolog Sastra dalam Pembelajaran Seni: Pengembangan Kemampuan Berbicara, Ekspresi, dan Apresiasi Ina Ina; Pramisdi Winanto Saputro; Diardana Prima Sintasari; Hasnah Setiani; Indra Rasyid Julianto
Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya Vol. 11 No. 2 (2026): JPSB (Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya) Edisi Agustus-Desember 2026
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/g5t19p28

Abstract

Pembelajaran seni memiliki peran penting dalam memberikan pengalaman belajar yang melibatkan komunikasi, ekspresi, kreativitas, dan apresiasi siswa. Salah satu bentuk pembelajaran yang secara konseptual dapat mengintegrasikan aspek tersebut adalah monolog sastra karena melibatkan pemahaman teks, interpretasi karakter, kemampuan berbicara, serta ekspresi verbal dan nonverbal dalam sebuah performansi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara teoretis peran monolog sastra dalam pembelajaran seni, khususnya dalam kaitannya dengan potensi penguatan kemampuan berbicara, ekspresi, dan apresiasi siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi literatur. Data penelitian berupa sumber-sumber ilmiah yang relevan, terutama artikel jurnal, buku akademik, dan publikasi penelitian yang membahas pembelajaran seni, monolog, keterampilan berbicara, ekspresi, dan apresiasi sastra. Data dianalisis secara deskriptif-interpretatif melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, kategorisasi tematik, dan sintesis antarsumber. Hasil kajian menunjukkan bahwa monolog sastra memiliki potensi sebagai bentuk pembelajaran seni yang integratif karena menghubungkan pemahaman teks dengan praktik performatif. Berdasarkan sintesis literatur, aktivitas monolog berpotensi memberikan ruang bagi penguatan kemampuan berbicara melalui latihan artikulasi, intonasi, volume, tempo, dan kelancaran; mendukung pengembangan ekspresi melalui penggunaan vokal, mimik, gestur, dan penghayatan karakter; serta memperkaya apresiasi sastra melalui proses memahami, menafsirkan, menghayati, dan merespons karya. Secara konseptual, ketiga aspek tersebut menunjukkan keterkaitan antara pemahaman teks, interpretasi, penghayatan, performansi, dan komunikasi. Dengan demikian, kajian ini menempatkan monolog sastra sebagai alternatif pembelajaran yang secara teoretis berpotensi mempertemukan dimensi bahasa, seni, dan sastra secara terpadu.  
Integrasi Seni Musik dan Sastra dalam Pembelajaran Musikalisasi Puisi Pramisdi Winanto Saputro; Diardana Prima Sintasari; Ina Ina; Hasnah Setiani; Indra Rasyid Julianto
Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya Vol. 11 No. 2 (2026): JPSB (Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya) Edisi Agustus-Desember 2026
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/04m8b694

Abstract

Integrasi seni musik dan sastra dalam pembelajaran dapat menjadi strategi untuk menciptakan pengalaman belajar yang kreatif, estetis, dan interdisipliner. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan integrasi unsur musik dan sastra dalam pembelajaran musikalisasi puisi serta mengidentifikasi kontribusinya terhadap pengembangan kemampuan apresiasi, kreativitas, ekspresi, dan kolaborasi peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Data diperoleh melalui penelusuran, pemilihan, pembacaan, dan analisis berbagai sumber ilmiah yang relevan dengan seni musik, sastra, puisi, musikalisasi puisi, dan pembelajaran seni serta bahasa. Analisis dilakukan secara deskriptif-interpretatif dengan mengidentifikasi keterkaitan antara unsur sastra dan unsur musikal dalam proses pembelajaran. Hasil kajian menunjukkan bahwa musikalisasi puisi merupakan bentuk integrasi seni yang menempatkan puisi sebagai sumber interpretasi yang kemudian diterjemahkan ke dalam melodi, ritme, tempo, dinamika, vokal, dan instrumen. Proses tersebut tidak hanya memperkuat pemahaman terhadap makna dan suasana puisi, tetapi juga mengembangkan kreativitas, apresiasi sastra, kemampuan musikal, ekspresi, komunikasi, dan kerja sama peserta didik. Dengan demikian, musikalisasi puisi dapat dikembangkan sebagai pembelajaran multimodal yang mempertemukan literasi sastra dan literasi musikal melalui pengalaman kreatif dan estetik.