Pembelajaran seni memiliki peran penting dalam memberikan pengalaman belajar yang melibatkan komunikasi, ekspresi, kreativitas, dan apresiasi siswa. Salah satu bentuk pembelajaran yang secara konseptual dapat mengintegrasikan aspek tersebut adalah monolog sastra karena melibatkan pemahaman teks, interpretasi karakter, kemampuan berbicara, serta ekspresi verbal dan nonverbal dalam sebuah performansi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara teoretis peran monolog sastra dalam pembelajaran seni, khususnya dalam kaitannya dengan potensi penguatan kemampuan berbicara, ekspresi, dan apresiasi siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi literatur. Data penelitian berupa sumber-sumber ilmiah yang relevan, terutama artikel jurnal, buku akademik, dan publikasi penelitian yang membahas pembelajaran seni, monolog, keterampilan berbicara, ekspresi, dan apresiasi sastra. Data dianalisis secara deskriptif-interpretatif melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, kategorisasi tematik, dan sintesis antarsumber. Hasil kajian menunjukkan bahwa monolog sastra memiliki potensi sebagai bentuk pembelajaran seni yang integratif karena menghubungkan pemahaman teks dengan praktik performatif. Berdasarkan sintesis literatur, aktivitas monolog berpotensi memberikan ruang bagi penguatan kemampuan berbicara melalui latihan artikulasi, intonasi, volume, tempo, dan kelancaran; mendukung pengembangan ekspresi melalui penggunaan vokal, mimik, gestur, dan penghayatan karakter; serta memperkaya apresiasi sastra melalui proses memahami, menafsirkan, menghayati, dan merespons karya. Secara konseptual, ketiga aspek tersebut menunjukkan keterkaitan antara pemahaman teks, interpretasi, penghayatan, performansi, dan komunikasi. Dengan demikian, kajian ini menempatkan monolog sastra sebagai alternatif pembelajaran yang secara teoretis berpotensi mempertemukan dimensi bahasa, seni, dan sastra secara terpadu.