Claim Missing Document
Check
Articles

Collaboration between Government and Palm Oil Industry to Achieve Sustainability Development Goals in Indonesia Handoko Limaho; Rudy Pramono; Rio Christiawan
Jurnal Mulawarman Law Review VOLUME 7 ISSUE 1 JUNE 2022
Publisher : Faculty of Law, Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/mulrev.v7i1.757

Abstract

Palm oil plantation businesses have always been the subject of heavy scrutiny and are accused of causing the most environmental and social mishaps in Indonesia. Such condemnation comes from within the country and outside as well. Even though the palm oil industry is one of Indonesia’s biggest GDP contributors, the opposition in the past decade outweighs the support, and many attempts at reasoning fall on deaf ears. This article will argue that the need for transformation of the industry in order to support the nations’ sustainability development goals is an effort that involves all constituents. The relationship that is built upon the palm oil companies and its stakeholders must be met with certain legalities and support from the government in order to foster a green growth relationship that will sustain the economy and the environment, which will ultimately support Indonesia’s sustainable development goals.
The Urgency Of Establishing Sharia Economic Law (Omnibus Law) In Increasing Sharia Economic Development In Indonesia Hardi Fardiansyah; Rio Christiawan; Tuti Widyaningrum
Jurnal Hukum dan Kenotariatan Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Hukum dan Kenotariatan
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/hukeno.v7i1.20058

Abstract

The non-maximum development of Indonesia's shari'ah economy has become a joint work for the Government, KNEKS, and Muslims in Indonesia. Based on data quoted from GIEI (Global Indicator Economic Islam), Indonesia is in sixth place in the finance sector under Kuwait and the United Arab Emirates, second in the halal food sector under Malaysia, not in the top 10 in the travel sector, third in the fashion sector, not in the top ten in the pharma & cosmetics sector, and not in the world's top 10 in the media and leisure sector. Even though Indonesia is a country that has the largest Muslim population in the world, it means that this country has great potential to develop more rapidly. In the opinion of researchers, the most fundamental problem is the not-yet optimal development of the shari'ah economy in Indonesia, namely because there are still many regulations that overlap with each other, and many sectors still need to be appropriately covered. The findings of the authors, currently Indonesia only has four rules at the level of laws governing the Islamic economic sector, namely the Islamic banking law, the Islamic capital market law, halal food and beverages, and ZISWAF (Zakat Infaq Shodaqoh Wakaf). Many sectors have yet to be well covered, such as Sharia financing, export financing, and pensions. Accordingly, the function of the CIPTAKER law is to harmonize one regulation with another and cover sectors that need to be appropriately regulated. The formation of the Sharia Economic Law using the omnibus law concept is believed to enhance the development of the Sharia economy in Indonesia. The results of this study indicate that the presence of a shari'ah economic law using the omnibus law concept has a critical urgency in increasing the shari'ah economy in Indonesia, particularly in aligning the shari'ah econnomic sector, which has not been integrated and comprehensively regulating the shari'ah economic sector which has not been completely held.; Omnibus Law. Keywords: Urgency, Sharia, Economic, Omnibus Law
Unraveling The Bottleneck: A Technolegal Approach To Trademark Disputes In The Era Of Technological Disruption Ricky Thio; Rio Christiawan
Jurnal Pamator : Jurnal Ilmiah Universitas Trunojoyo Vol 16, No 3: July - September 2023
Publisher : LPPM Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/pamator.v16i3.20293

Abstract

Especially in the era of technological disruption where massive changes occur, or refer to considerable changes in how businesses are run caused by technological advances. These changes are accelerating and impacting all aspects of the business, from how products are designed, manufactured, and marketed to how customer service is provided. All businesses have intellectual property, especially new inventors who have emerged in the era of technological disruption. We may not own a patent for our inventions, but we all own a trademark for our business. Trademarks can be images, logos, or terms used to advertise and represent our products. A trademark is a kind of intellectual property right known as a trademark. Therefore legal protection in Indonesia for Mark must be realized. Because globally, the issue of Intellectual Property Rights (IPR) has received serious attention in terms of economic relations or domestic and international trade. Especially countries that have traded products based on Intellectual Property Rights because Intellectual Property Rights are essential because goods and services as trade products are permanently attached to a specific name or entity that differentiates one product from another. There is a "bottleneck" of intellectual property law against trademarks because there are still many trademark disputes. The same trademark or a trademark that resembles the same class with different owners can be a disaster for companies that cannot compete. A bottleneck in intellectual property law can become various legal issues, including trademark disputes. This will be counter-productive in the era of technological disruption, so it becomes an urgent need to make improvements starting with registering trademarks using technological assistance. This legal phenomenon is studied and analyzed using a technological approach known as technolegal. Technolegal, which etymologically comes from combining the words "technology" and "law." In technolegal studies, technology is used to increase legal effectiveness and efficiency. By combining technology and law, the expected output from technolegal studies is the development of a new and more effective model of legal regulation.
EKSEKUSI HUKUMAN KEBIRI KIMIA PADA PELAKU TINDAK PIDANA KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP ANAK Etta Natasha Ritonga; Rio Christiawan
JURNAL HUKUM STAATRECHTS Vol 5, No 2 (2022): JURNAL STAATRECHTS
Publisher : Fakultas Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/sr.v5i2.6713

Abstract

Tujuan penelitian ini menguraikan pertama: Bagaimanakah pengaturan pelaksanaan eksekusi hukuman kebiri pada pelaku tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak dalam Peraturan Perundang-undangan di Indonesia? Kedua: Apakah dokter dapat dikenakan sanksi apabila menolak untuk menjadi eksekutor hukuman kebiri kimia pada pelaku tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak? Penelitian menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan data sekunder. Teknik pengumpulan data dengan studi kepustakaan. Hasil penelitian sebagai berikut, pertama:pengaturan pelaksanaan eksekusi hukuman kebiri kimia pada pelaku tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak dilakukan oleh dokter atas perintah Jaksa. Kedua : Apabila Dokter menolak untuk menjadi eksekutor hukuman kebiri kimia tidak dapat dikenakan sanksi karena bukan termasuk tindakan malapraktik.Kata Kunci: Eksekusi, Hukuman Kebiri Kimia, Kekerasan Seksual Terhadap Anak.
KEDUDUKAN DAN TANGGUNG JAWAB PERUSAHAAN INDUK/ HOLDING COMPANY ATAS KERUGIAN PADA ANAK PERUSAHAAN BUMN Carol Rosalyn Manoi; Rio Christiawan
JURNAL HUKUM STAATRECHTS Vol 6, No 1 (2023): JURNAL STAATRECHTS
Publisher : Fakultas Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/sr.v6i1.7041

Abstract

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan judul “Kedudukan dan Tanggung Jawab Perusahaan Induk/Holding Company atas Kerugian pada Anak Perusahaan BUMN”. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui, mengkaji dan menganalisa: kedudukan hukum perusahaan induk/holding company dan konsekuensi yang timbul atas Aksi Korporasi Anak Perusahaan BUMN dan tanggung jawab perusahaan induk/holding company atas kerugian yang timbul pada Anak Perusahaan BUMN.Berdasarkan hasil analisa dan pengkajian yang dilakukan dalam penelitian ini, penulis menyatakan bahwa Pembentukan perusahaan induk BUMN merupakan aksi korporasi yang dilakukan oleh perusahaan BUMN, penambahan modal dari kekayaan Negara telah bertransformasi menjadi kekayaan BUMN. Perusahaan Induk BUMN tetap wajib memiliki saham dengan hak istimewa pada anak perusahaan, sehingga tetap memiliki kontrol dan pengendalian terhadap hal-hal atau keputusan strategis pada anak perusahaan BUMN. Tanggung jawab hukum dalam konstruksi holding company hanya dapat dibebankan kepada perusahaan induk BUMN yang terbukti memberikan instruksi kepada anak perusahaan BUMN dengan pertanggugjawaban bisnis atas pengelolaan kekayaan BUMN sehingga tidak menjadi kerugian Negara selama aksi korporasinya berdasarkan iktikad baik.
Pertimbangan Hakim Dalam Memutuskan Hak Asuh Anak Pada Perkara Perceraian Tanpa Dimohonkan Thalia Thalia; Rio Christiawan
JURNAL HUKUM STAATRECHTS Vol 3, No 1 (2020): JURNAL STAATRECHTS
Publisher : Fakultas Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/sr.v2i2.4870

Abstract

Perceraian adalah putusnya suatu perkawinan yang sah didepan pengadilan berdasarkan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh Undang-Undang. Dengan putusnya suatu perkawinan karena perceraian, maka akan ada akibat hukum yang mengikutinya, yaitu mengenai hak asuh atas anak yang lahir dari perkawinan tersebut sedangkan didalam kehidupan masyarakat tidak semua hak asuh diputus bersamaan dengan putusnya perkawinan. Yang ingin penulis analisis adalah apakah hak asuh anak adalah objek perkara yang sama dengan perkara perceraian apa dasar pertimbangan Hakim pada perkara perceraian sehingga memutus hak asuh anak yang tidak dimohonkan dalam gugatannya. Metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode penelitian yuridis normatif. Penelitian yuridis normatif merupakan penelitian yang ditujukan dan dilakukan dengan menggunakan kajian terhadap peraturan perundang-undangan dan bahan-bahan hukum tertulis lainnya yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini. Jenis data yang digunakan adalah bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan yaitu melalui penelitian putusan hakim serta penelitian kepustakaan, baik bukubuku, peraturan perundang-undangan, dokumen-dokumen, dan sebagainya. Analisis data yang digunakan teknik analisis data sekunder. Hasil penelitian putusan didapati bahwa hak asuh anak merupakan satu objek perkara yang sama dengan perkawinan maka apabila perkawinan diputuskan dalam perceraian maka hak asuh anak harus diputus bersamaan dengan perkawinan tersebut dan dasar pertimbangan Hakim yang memutus hak asuh anak dalam perkara perceraian meskipun tidak dimohonkan yaitu dengan dasar pertimbangan untuk memberikan kemanfaatan kepada si anak sehingga menjamin kepada siapa ia akan diasuh, memberikan keadilan bagi kedua belah pihak maupun si anak untuk meminimalisasi masalah yang akan timbul dikemudian hari dalam hal ini gugatan tentang hak asuhKata Kunci : Pernikahan, Perceraian, Anak.
PENYELESAIAN PERKARA WANPRESTASI TERHADAP PERJANJIAN UTANG PIUTANG DENGAN JAMINAN ( STUDI KASUS PUTUSAN MA NOMOR 657 K/PDT/2017 ) Nur Sukma Indri Yanti; Rio Christiawan
JURNAL HUKUM STAATRECHTS Vol 4, No 1 (2021): JURNAL STAATRECHTS
Publisher : Fakultas Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/sr.v3i2.4893

Abstract

Utang piutang merupakan perjanjian antara pihak yang satu dengan pihak yang lainnya dan objekyang diperjanjikan pada umumnya adalah uang. Kedudukan pihak yang satu sebagai pihak yangmemberikan pinjaman (kreditur), sedang pihak yang lain adalah pihak yang menerimapinjaman uang tersebut (debitur). Inti dari perjanjian utang-piutang adalah kreditur memberikanpinjaman uang kepada debitur, dan debitur wajib mengembalikannya dalam waktu yang telahditentukan disertai dengan bunganya. Pengembalian utang dilakukan dengan cara mengangsursetiap bulan. Peristiwa yang banyak terjadi pengembalian utang yang wajib dibayar oleh debituracapkali tidak sebagaimana yang telah diperjanjikan. apabila debitur tidak melakukan apa yangdijanjikannya maka dapat dikatakan ia melakukan wanprestasi atau ingkar janji. Namun terdapatperbedaan pada faktanya, dimana pihak kreditur yang melakukan ingkar janji. Sehingga jaminanhak tanggungan debitur terancam.Kata Kunci: Perjanjian utang-piutang, Jaminan, Wanprestasi, Hak Tanggunga
JAMINAN PEMERINTAH UNTUK TENAGA KESEHATAN YANG TERLIBAT DALAM PENANGANAN COVID-19 Sephin Fitriah; Rio Christiawan
JURNAL HUKUM STAATRECHTS Vol 6, No 1 (2023): JURNAL STAATRECHTS
Publisher : Fakultas Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/sr.v6i1.7042

Abstract

Pada awal tahun 2020 dunia menghadapi krisis kesehatan global dan sosial ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini dikarenakan munculnya Virus Corona yang menimbulkan Penyakit Infeksi Emerging Baru yang dikenal dengan Corona Virus Disease 2019 atau COVID-19. Kelangkaan Alat Pelindung Diri (APD) pada saat awal pandemi dan faktor kelelahan ditengarai menjadi faktor penyebab para tenaga kesehatan terjangkit COVID-19, dikarenakan seluruh tenaga kesehatan dikerahkan secara serentak untuk melayani ribuan pasien COVID-19. Untuk itu perlu diteliti terkait jaminan perlindungan terhadap tenaga kesehatan yang terlibat dalam penanganan COVID-19. Apakah kebijakan hukum yang dikeluarkan oleh Pemerintah telah sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dan bagaimana implementasinya pada saat pandemi berlangsung. Sehingga dapat diketahui kebijakan seperti apa yang tepat dalam memberikan perlindungan bagi para tenaga kesehatan di masa pandemi. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian hukum normatif dengan metode penelitian kepustakaan yang dilakukan dengan mengkaji peraturan-peraturan tertulis maupun dokumen lainnya. Dari hasil kajian yang dilakukan dapat ditemukan dan disimpulkan ; Pertama, Kebijakan perlindungan hukum bagi tenaga kesehatan dalam penanganan COVID-19 yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia dalam tataran substansi setidaknya telah terpenuhi namun perlu diperkuat lagi dalam tataran implementasi. Kedua, jaminan perlindungan hukum bagi tenaga kesehatan dari sisi kesehatan dan keselamatan kerja telah diatur dipelbagai kebijakan pemerintah, dengan membuat keseimbangan antara hak dan kewajiban melalui upaya preventif dan represif guna mengeliminasi terpaparnya tenaga kesehatan dari virus tersebut.
Implementasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan di Bidang Pelayanan Kesehatan Rio Christiawan
Binamulia Hukum Vol. 8 No. 1 (2019): Binamulia Hukum
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37893/jbh.v8i1.340

Abstract

Implementasi tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan dalam bentuk pelayanan kesehatan sangat diperlukan, sebab perusahaan memiliki kewajiban untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan. Hal ini sesuai dengan Pasal 74 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas juncto Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 53/PUU-VI/2008 yang menentukan bahwa setiap perusahaan yang bergerak di bidang sumber daya alam atau terkait dengan sumber daya alam, di mana biasanya mayoritas komunitas lokal bekerja pada perusahaan tersebut. Efek berantai yang diharapkan dari implementasi tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan dalam bentuk pelayanan kesehatan adalah dengan beroperasinya setiap perusahaan yang bergerak dibidang sumber daya alam atau terkait dengan sumber daya alam dapat dirasakan oleh komunitas lokal salah satunya dalam bidang pelayanan kesehatan yang optimal. Dengan tercapainya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya oleh komunitas lokal, maka komunitas lokal beserta keluarganya dapat memberikan produktivitas yang tinggi baik sosial maupun ekonomi.
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI NASABAH PEMILIK ANJUNGAN TUNAI MANDIRI(ATM) SEBAGAI KORBAN TINDAK PIDANA SKIMMIN Siregar, Desy Yurita; Christiawan, Rio; Saputera, Januar Agung
Jurnal Hukum Kaidah: Media Komunikasi dan Informasi Hukum dan Masyarakat Vol 23, No 3 (2024): Edisi Mei 2024
Publisher : Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jhk.v23i3.9228

Abstract

As a business practice, banks play an important role in collecting money from the public in the form of deposits, and channeling it into the form of credit or other forms, so that, banks aim to improve the standard of living of the people or the economy of a country. . Automated Teller Machines (ATMs) are one of the items that have emerged from technology in the banking sector that can facilitate transaction activities without the need to visit bank tellers due to advances in the times and technology. The development of a technology can have a positive impact and a detrimental impact, one of which is the emergence of cybercrime (Cyber Crime) in the banking world which is commonly referred to as skimmingcrimes. The type of normative legal research is used as research on the rule of law, the level of norms, principles, philosophies, theories and the rule of law itself, with an approach to legislation (Statute Approach). Then the purpose of this study is to find out how to protect the law for customers who own automated teller machines (ATMs) who experience skimming crimes and how to apply sanctions against perpetrators for skimming crimes on automated teller machines (ATMs), so that it can be concluded that every criminal act in skimming crimes may be sentenced to criminal sanctions and administrative sanctions for those who are proven to have done so.therefore the application of criminal sanctions used in the crime of skimming is contained in article 30 paragraph (2) jo 46 paragraph (2) of Law Number 11 of 2008 which has been amended into Law No. 19 of 2016 jo article 55 paragraph (1) 1 of the Criminal Code jo article 363 of the Criminal Code Keywords: Skimming, Legal Protection, Application of Criminal Sanctions