Umi Yuniarni
Prodi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Sains, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Efektivitas Analgesik dalam Manajemen Nyeri Tingkat Sedang Pasca Operasi Sectio Caesarea Silviya Nur Hasanah; Fetri Lestari; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy 717 - 726
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25640

Abstract

Abstract. Postoperative pain following Caesarean section (CS) requires effective analgesic management to promote optimal recovery. This study aimed to identify the analgesic utilization profile and evaluate the effectiveness of analgesic combinations for postoperative pain management in patients undergoing CS at a regional public hospital in Bandung, Indonesia. An analytical observational study with a retrospective design was conducted using medical records of patients who met the inclusion criteria. Analgesic effectiveness was assessed by changes in the Numeric Rating Scale (NRS) score during the first 24 hours after surgery. Data were analyzed using the Kolmogorov–Smirnov and Kruskal–Wallis tests. The results showed that the paracetamol–ketorolac combination was the most frequently prescribed regimen (110 patients; 81.5%), followed by paracetamol–tramadol (16 patients; 11.9%) and paracetamol–dexketoprofen (9 patients; 6.7%). Among patients with moderate pain, the paracetamol–dexketoprofen combination produced the greatest mean reduction in NRS score (Δ = 1.44). However, the Kruskal–Wallis test demonstrated no statistically significant difference in analgesic effectiveness among the three combinations in the moderate pain group (p > 0.05). These findings indicate that paracetamol–ketorolac, paracetamol–dexketoprofen, and paracetamol–tramadol provide comparable effectiveness for postoperative pain management after Caesarean section and may be selected according to patients' clinical conditions. Abstrak. Nyeri pasca operasi Sectio Caesarea (SC) merupakan komplikasi yang memerlukan penatalaksanaan analgesik yang efektif untuk mendukung proses pemulihan pasien. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi profil penggunaan analgesik serta mengevaluasi efektivitas kombinasi analgesik dalam manajemen nyeri pasca operasi SC di salah satu RSUD Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan retrospektif terhadap data rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Efektivitas analgesik dievaluasi berdasarkan perubahan skor Numeric Rating Scale (NRS) selama 24 jam pertama pasca operasi dan dianalisis menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov serta uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi paracetamol-ketorolac merupakan regimen yang paling banyak digunakan yaitu sebanyak 110 pasien (81,5%), diikuti paracetamol-tramadol sebanyak 16 pasien (11,9%) dan paracetamol-dexketoprofen sebanyak 9 pasien (6,7%). Pada kelompok nyeri sedang kombinasi paracetamol-dexketoprofen memberikan rerata penurunan skor NRS tertinggi (Δ=1,44). Namun, uji Kruskal–Wallis menunjukkan tidak terdapat perbedaan efektivitas yang bermakna antar ketiga kombinasi analgesik baik pada kelompok nyeri sedang (p>0,05). Sehingga dapat disimpulkan kombinasi paracetamol-ketorolac, paracetamol-dexketoprofen, dan paracetamol-tramadol memiliki efektivitas yang relatif setara dalam manajemen nyeri pasca operasi Sectio Caesarea dan dapat digunakan sebagai pilihan terapi sesuai kondisi klinis pasien
Profil Penggunaan Obat-Antituberkulosis dan Anti-Retroviral pada Pasien Tuberkulosis-HIV Periode 2024-2025 Dinda Shafa Nabila; Bambang Tri Laksono; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy 779 - 788
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25723

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) is an opportunistic infection that frequently occurs in patients with Human Immunodeficiency Virus (HIV), requiring concurrent treatment with antituberculosis drugs (OAT) and antiretroviral drugs (ARV). This study aims to describe the characteristics of patients as well as the usage profiles of OAT, ARVs, and supportive medications among TB-HIV patients at Hospital X during the 2024–2025 period. The study employed a descriptive observational method with a retrospective approach based on medical record data. The sample was obtained using total sampling and included 75 patients who met the study criteria. Descriptive analysis was performed using frequency distributions and percentages. The results showed that the majority of patients were male (73.33%), aged 18–59 years (98.67%), and had extrapulmonary TB (61.33%). All patients received fixed-dose combination anti-tuberculosis therapy (2RHZE/4RH). The most commonly used ARV regimen was Tenofovir/Lamivudine/Efavirenz (TLE) (65.33%), followed by Tenofovir/Lamivudine/Dolutegravir (TLD) (29.33%). The most frequently administered adjunctive medications were vitamin B6 (74.67%) and co-trimoxazole (72.00%). The study results indicate that the use of OAT and ARVs was in accordance with national guidelines, with vitamin B6 and co-trimoxazole being the most commonly used adjunctive therapies. Abstrak. Tuberkulosis (TB) merupakan infeksi oportunistik yang sering terjadi pada pasien Human Immunodeficiency Virus (HIV), sehingga memerlukan terapi obat anti-tuberkulosis (OAT) dan antiretroviral (ARV) secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan menggambarkan karakteristik pasien serta profil penggunaan OAT, ARV, dan obat pendukung pada pasien TB-HIV di Rumah Sakit X periode 2024–2025. Penelitian menggunakan metode observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif berdasarkan data rekam medis. Sampel diperoleh menggunakan metode total sampling dan melibatkan 75 pasien yang memenuhi kriteria penelitian. Analisis dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien berjenis kelamin laki-laki (73,33%), berusia 18–59 tahun (98,67%), dan mengalami TB ekstraparu (61,33%). Seluruh pasien menerima OAT kombinasi dosis tetap (2RHZE/4RH). Regimen ARV yang paling banyak digunakan adalah Tenofovir/Lamivudin/Efavirenz (TLE) (65,33%), diikuti Tenofovir/Lamivudin/Dolutegravir (TLD) (29,33%). Obat pendukung yang paling sering diberikan adalah vitamin B6 (74,67%) dan kotrimoksazol (72,00%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan OAT dan ARV telah sesuai dengan pedoman nasional, dengan vitamin B6 dan kotrimoksazol sebagai terapi pendukung yang paling banyak digunakan.
Kajian Potensi ROTD Pasien TB-HIV di RS X Periode 2024-2025 Annisa Nur Hasna Fauziyah; Bambang Tri Laksono; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy 843 - 852
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25853

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) and HIV co-infection increases the complexity of therapy because patients receive antituberculosis drugs (OAT) concurrently with antiretroviral therapy (ART) over a long period, thereby increasing the risk of Adverse Drug Reactions (ADR). This study aimed to determine the types and prevalence of potential ADR during therapy in TB-HIV patients. The study used a descriptive observational design with a cross-sectional approach, with data collected retrospectively from electronic medical records at Hospital X for the period 2024–2025, using a total sampling method based on inclusion and exclusion criteria. A total of 75 patients met the criteria, predominantly male (73.33%) and aged 18–59 years (98.67%), with pulmonary tuberculosis as the most com mon diagnosis (38.67%). All patients received first-line Fixed-Dose Combination (FDC) category-1 OAT, while the most commonly used ART regimen was TDF/3TC/EFV (65.33%). Of the 212 recorded ROTD events, the most frequently occurring were gastrointestinal disorders in the form of nausea and vomiting (20.57%), respiratory disorders in the form of cough (12.44%), and skin disorders in the form of itching (8.61%). These findings indicate that gastrointestinal, respiratory, and skin reactions are the most common adverse effects and require regular monitoring throughout combined TB-HIV therapy. Abstrak. Ko-infeksi tuberkulosis (TB) dan HIV meningkatkan kompleksitas terapi karena pasien mendapatkan obat antituberkulosis (OAT) secara bersamaan dengan terapi antiretroviral (ART) dalam jangka waktu panjang, sehingga meningkatkan risiko terjadinya Reaksi Obat Tidak Diinginkan (ROTD). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis dan prevalensi potensi ROTD selama terapi pada pasien TB-HIV. Penelitian menggunakan desain observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional, data diambil secara retrospektif melalui e-rekam medis di RS X periode 2024–2025, dengan metode total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Diperoleh 75 pasien yang memenuhi kriteria, didominasi laki-laki (73,33%) dan berusia 18–59 tahun (98,67%), dengan diagnosis terbanyak tuberkulosis paru (38,67%). Seluruh pasien menggunakan OAT Kombinasi Dosis Tetap (KDT) kategori-1, sedangkan regimen ART yang paling banyak digunakan adalah TDF/3TC/EFV (65,33%). Dari 212 kejadian ROTD yang tercatat, yang paling sering muncul adalah gangguan gastrointestinal berupa mual muntah (20,57%), gangguan pernapasan berupa batuk (12,44%), dan gangguan kulit berupa gatal (8,61%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa reaksi gastrointestinal, pernapasan, dan kulit merupakan efek samping yang paling sering muncul dan perlu dipantau secara berkala selama terapi kombinasi TB-HIV berlangsung.